Laman

Rabu, 02 September 2015

Penyaliban Yesus Menurut Islam

“…Padahal mereka tidak membunuhnya, dan tidak menyalibnya, tetapi dibuat tampak demikian bagi mereka. Sesungguhnya mereka yang berselisih pendapat tentang (pembunuhan) ‘Isa, selalu diliputi keraguan tentang yang dibunuh itu. Mereka benar-benar tidak tahu, melainkan hanya mengikuti persangkaan belaka, karena sesungguhnya mereka tidak membunuhnya.”(al-Qur’an, an-Nisa, 4:157)


Bani Israel mengkhianati Agama Ibrahim (‘alayhi salam) dan perilaku saleh sehingga Allah Maha Tinggi mengusir mereka dari Tanah Suci.

Dalam pengusiran yang kedua kalinya, Allah mengusir Bani Israel dari Tanah Suci karena (sebagian dari) mereka membunuh para Nabi Allah (lihat al-Qur’an, al-Baqarah, 2:61). Mereka membunuh Zakaria (‘alayhi salam) dan anaknya, Yahya (John The Baptis) (‘alayhi salam).

Bahkan Yesus Sendiri mengutuk kejahatan yang bengis ini:

"Rasul-rasul dan sebagian dari antara Nabi-nabi dan Rasul-rasul itu akan mereka bunuh dan mereka aniaya, supaya dari angkatan ini dituntut darah semua Nabi yang telah tertumpah sejak dunia dijadikan, mulai dari darah Habil sampai kepada darah Zakariah yang telahdibunuh di antara mezbah dan Rumah Allah. Bahkan, Aku berkata kepadamu: Semuanya itu akan dituntut dari angkatanini.”(Lukas [Luke], 11:49-51)"

The Messias - Isa Almasih a.s (Yesus Kristus) 
Taurat, Injil (bukan Bibble) dan Al Quran memberi keterangan kepada Bani Israel bahwa Tuhan berjanji untuk mengutus kepada mereka seseorang yang akan menjadi Nabi mereka, yang akan dikenal sebagai al-Masih, dan yang akan memerintah dunia dari tahta Raja Daud (‘alayhi salam).
Pada intinya, hal ini sama dengan nubuat kembalinya Masa Kejayaan Sulaiman (‘alayhi salam).

I Tawarikh (I Chronicles), 17:11-15, Nabi Natan berkata kepada Raja Daud tentang al-Masih dan menyebutnya Putra Daud: “Apabila umurmu sudah genap untuk pergi mengikuti nenek moyangmu, maka Aku akan membangkitkan keturunanmu yang kemudian, salah seorang anakmu sendiri, dan Aku akan mengokohkan kerajaannya. Dialah yang akan mendirikan rumah bagi-Ku dan Aku akan mengokohkan takhtanya untuk selama-lamanya. Aku akan menjadi Bapanya, dan ia akan menjadi anak-Ku. Tetapi kasih setia-Ku tidak akan Kuhilangkan dari padanya seperti yang Kuhilangkan dari pada orang yang mendahului engkau. Dan Aku akan menegakkan dia dalam rumah-Ku dan dalam kerajaan-Ku untuk selama-lamanya dan takhtanya akan kokoh untuk selama-lamanya.” Tepat seperti perkataan ini dan tepat seperti penglihatan ini Natan berbicara kepada Daud.”( I Tawarikh [I Chronicles], 17:11-15)

Umat Yahudi merasa gembira menerima berita tentang al-Masih yang dijanjikan. Tetapi mereka kebingungan tentang adanya dua gambaran yang menggambarkan dua potret yang berlawanan dari dia dan misinya. Yang pertama adalah Raja Penakluk yang akan merestorasi kerajaan ‘Umat Pilihan Allah’ (yang pada saat itu adalah umat Yahudi) di Tanah Suci dan akan memerintah dunia dengan kedamaian.

Dua ribu tahun lalu saat Allah Maha Tinggi menepati janjinya dan mengutus al-Masih, ‘Isa (Jesus) Putra Maryam, kepada Bani Israel, dia mendapati mereka berpegang pada bentuk ‘luaran’ agama sementara dengan sangat menyedihkan mengabaikan ‘hakikat internal’. Bahkan bentuk ‘eksternal’ pun dirusak karena mereka mengubah Taurat dan menulisnya ulang untuk memenuhi kepentingan mereka.

Namun Mereka Menolak Yesus sebagai "The Messiah" karena mereka menuduh bahwa Yesus adalah anak haram (Naudzubilah) karena kelahiranya yang tampa Ayah Biologis.

Selama Yesus menyampaikan ajaranya, selalu mendapat pertentangan dari para Rabbi (ulama Yahudi). Mereka selalu meminta Yesus memberikan tanda (memperlihatkan Mukjizat), jika tidak, maka mereka mengatakan Yesus adalah nabi palsu. Namun sebaliknya, jika Yesus memperlihatkan mukjizat, para Rabbi (ulama Yahudi) akan menuduh Yesus menggunakan ilmu Sihir & bekerja sama dengan Setan.

Puncak dari kekesalan para Rabbi adalah ketika Yesus dihadapan orang banyak menyampaikan kemarahanya kepada para Rabbi. Yesus mengutuk keras perbuatan para Rabbi yang melakukan Riba dengan menggunakan uang perbendaharaan kuil, untuk memperoleh keuntungan dari penduduk yang meminjam uang karena mereka dalam keadaan susah. Bahkan Yesus sampai mengacak-acak dan menjungkirbalikan meja. Inilah yang membuat Para Rabbi menjadi sakit hati. Mereka bekerjasama dengan pihak Romawi yang saat itu berkuasa, agar menyalib & menghukum mati Yesus.

Tetapi Allah Maha Tinggi telah menyatakan bahwa umat Yahudi ditipu untuk percaya bahwa ‘Isa (Jesus)(‘alayhi salam) telah dibunuh atau disalib:

“…Padahal mereka tidak membunuhnya, dan tidak menyalibnya, tetapi dibuat tampak demikian bagi mereka. Sesungguhnya mereka yang berselisih pendapat tentang (pembunuhan) ‘Isa, selalu diliputi keraguan tentang yang dibunuh itu. Mereka benar-benar tidak tahu, melainkan hanya mengikuti persangkaan belaka, karena sesungguhnya mereka tidak membunuhnya.”(al-Qur’an, an-Nisa, 4:157)

Al-Qur’an menyatakan bahwa Allah Maha Kuasa mengambilnya (mengambil jiwanya).

pernyataan tersebut dalam al-Qur’an:

“(Ingatlah), ketika Allah berfirman: wahai ‘Isa, Aku mengambilmu kembali (mengambil jiwamu -- kata yang digunakan adalah Waffa), dan mengangkatmu kepada-Ku dan menyucikanmu (dari kesalahan) orang-orang kafir…”(al-Qur’an, Ali Imran, 3:55)

Allah Maha Tinggi mengambil jiwa ‘Isa(‘alayhi salam) dan tidak mengembalikannya, maka kejadian. Kalau begitu, apa yang Allah Maha Tinggi lakukan dengan jiwa seseorang setelah dia mengambilnya? Mungkinkah Dia mengembalikan jiwa tersebut pada tubuhnya?

Al-Qur’an menegaskan bahwa Allah Maha Tinggi mengembalikan beberapajiwa setelah mengambilnya dari tubuh:“Allah mengambil jiwa-jiwa pada (saat)kematiannya dan orang-orang yang tidak mati Dia mengambil (jiwa-jiwa mereka) selama mereka tidur (jiwa orang-orang tidak diambil saat mereka terbangun, tetapi mereka akan mengalami hal itu saat tidur).

Kemudian untuk orang-orang yang Dia tentukan kematian (Maut), Dia mencegahnya kembali (jiwanya tidak dibolehkan kembali ke tubuhnya): tetapi sisanya Dia kembalikan (pada tubuh mereka) sampai suatu waktu yang telah ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berpikir.”(al-Qur’an, az-Zumar, 39:42)

Apakah hal ini terjadi pada kasus ‘Isa (‘alayhi salam)? Jawabannya dapat ditemukan pada dua pernyataan berikutnya dari al-Qur’an.Keempat, al-Qur’an menyatakan bahwa Allah Maha Kuasa membuatnya ‘tampak’ bahwa ‘Isa(‘alayhi salam) dibunuh.

Kemudian orang-orang yang mengamati peristiwa itu diyakinkan bahwa ‘Isa (Jesus)(‘alayhi salam)benar-benar mati (Maut):“…tetapi begitulah dibuat tampak bagi mereka…”(al-Qur’an, an-Nisa, 4: 157)

Sekarang mungkin bagi kita menjawab pertanyaan: Kalau begitu, apa yang Allah Maha Tinggi lakukan terhadap jiwa itu setelah Dia mengambilnya?

Hal yang sama juga terjadi ketika kita sedang dalam keadaan tidur.

Allah Maha Tinggi mengambil jiwa ‘Isa (Jesus) (‘alayhi salam) saat dia masih di tiang salib, Allah Maha Tinggi kemudian meyakinkan orang-orang yang mengamati peristiwa itu bahwa ‘Isa (‘alayhi salam) telah mati.


Allah Maha Tinggi kemudian mengembalikan jiwa ‘Isa (‘alayhi salam) setelah dia diturunkan dari tiang salib dan saat tidak ada orang di sekitar yang dapat mengamatinya. Kemudian dia diangkat ke langit di mana dia akan turun kembali untuk membunuh Dajjal, kemudian ‘Isa (‘alayhi salam) akan menjadi raja, untuk memimpin dunia dari Jarusalem dengan adil.


Baca Juga :


Reverensi: