Laman

Selasa, 01 September 2015

"Bom Kotor (Dirty Bomb)" - Penggunaan Virus, Bakteri & Kuman Sebagai Senjata Perang

Pada Perang Dunia I, sejumlah negara ketahuan sudah mulai mencoba menggunakan senjata kuman, gas, dan racun untuk memusnahkan lawan.

Senjata kimia, biologi, dan nuklir bisa dibilang berawal dari senjata pembakar yang telah digunakan sejak zaman Kerajaan Kristen Bizantium di beberapa Peperangan, seperti Perang Salib.


Karena efek api yang mematikan, selanjutnya diramulah campuran unsur kimia dan komponen aditif lain dengan efek yang lebih dahsyat. Senjata ini dirancang sebagai wahana pengantar bibit penyakit atau kuman dalam jumlah banyak. Kumannya pun dipilih dari jenis yag mematikan dari sulit diobati. Meskipun sejumlah badan dunia telah melarang penelitian di bidang persenjataan yang satu ini, sejumlah negara bergeming.

Berdasarkan temuan ilustrasi kuno, terungkap bahwa perang kuman telah dilakukan sejak abad pertengahan. Teknik yang dilakukan amat sederhana. Kuda yang diketahui mati karena menderita penyakit aneh, dilontarkan dengan ketapel ke wilayah musuh.Harapannya, penyakit hewan ini menular ke penduduk setempat. Kemungkinan penyakit ini adalah tetanus, yang disebabkan bakteri anerob Clostridium tetani.

Material biologi (kuman) biasanya disiapkan dalam bentuk aerosol. Dalam kaitan ini, berarti ada bagian padat, cair, dan gas. Untuk itu cara pengiriman paling efektif adalah dengan menggunakan kontainer.Kontainer bisa dilontarkan ke wilayah sasaran dengan menggunakan peluru. Sedangkan jenis kuman yang biasanya digunakan dalam senjata ini ada empat jenis yaitu bakteri, rickettsiae, virus, dan jamur.

Bom Kotor - Dirty Bomb
Tak seorang pun mau mati dalam keadaan menderita, sekali pun dia adalah seorang tentara yang sedang bertempur. Boleh jadi inilah semangat yang menjiwai Protokol untuk Larangan Penggunaan Zat Penghambat Pernafasan, Racun, atau Gas lainnya. Serta Peperangan dengan Metoda Bakteriologi dalam Perang yang dikeluarkan tahun 1925.

Di antara yang digunakan adalah fosfor sebagai pemantik, magnesium sebagai komponen metal, thermite sebagai pecampur piroteknik, dan napalm sebagai penebar api. Setelah itu, barulah ahli kimia dan fisika mencoba nuklir.

Sejak dasawarsa 1990-an. sejumlah perkembangan menarik bahkan telah terjadi di sejumlah negara di mana senjata semacam ini bisa dan telah disusupkan kedalam tas atau bungkusan eksplosif ke sasaran-sasaran tertentu dengan cara yang amat sederhana untuk tujuan teror.

 
Meski material yang ditaruh di dalamnya hanya berupa sampah kimia, biologi, dan nuklir, senjata yang biasa disebut "dirty bomb" (bom kotor) ini tak kurang mematikan dibanding senjata-senjata serupa yang dikemas dengan perangkat teknologi tinggi.



Sumber:
Majalah Angkasa edisi History of Deadly Weapons