Laman

Kamis, 03 September 2015

Israel Sedang Menuju Kehancuran

Inilah hukuman yang Allah berikan kepada (sebagian) Bani Israel karena dahulu mereka mengkhianati & mengolok-olok Nabi Musa a.s, merubah isi Taurat, membunuh Nabi Zakaria a.s beserta putranya Nabi Yahya a.s (John The Baptis) juga menyalib Nabi Isa a.s/Jesus

Tanah Suci (dengan Jerusalem di Palestina pernah diberikan Allah Maha Tinggi kepada umat Yahudi pada saat Musa (‘alayhi salam) membawa Bani Israel keluar dari perbudakan di Mesir, dan mereka telah mengalami mukjizat melewati lautan dan mencapai Sinai. Musa (‘alayhi salam) menyeru dan memerintahkan mereka untuk berjuang menguasai Tanah Suci.

“Dan Kami Wariskan kepada kaum yang tertindas itu bagian Timur dan Barat dari Tanah (Suci) yang Kami berkahi. Dan (dengan demikian) janji yang adil dari Tuhanmu kepada Bani Israel telah ditepati, karena mereka memiliki kesabaran dan tetap tabah dalam penderitaan. Sedangkan Kami Hancurkan semua yang telah dibuat Fir’aun dan kaumnya dan semua yang telah mereka bangun (dengan kesombongan).”
Al-Qur’an, al-‘Araf, 7:137

Dan ingatlah pada saat itu Musa berkata: Wahai kaumku (bani Israel), masuklah ke Tanah Suci yang telah Allah berikan kepada kalian, dan janganlah kalian berpaling ke belakang dengan tercela (karena takut kepada musuh), karena dengan begitu kalian menjadi orang-orang yang merugi (akan dijatuhkan pada keruntuhan kalian).”
Al-Qur’an, al-Maidah, 5:20-21

Namun, apa yang terjadi ketika Nabi Musa memukulkan tongkatnya, untuk membelah laut sehingga mereka berhasil diselamatkan dari kejaran Bala Tentara Fir'Aun ?

Mereka berkhianat terhadap Musa a.s ketika Nabi Musa a.s yang sebenarnya mengajak mereka untuk memasuki Tanah
Suci, Jarusalem. Dengan sombongnya mereka mengolok-olok dan berkata kepada Nabi Musa a.s :

“Wahai Musa! Sampai kapan pun kami tidak akan pernah memasukinya (Tanah Suci) selama mereka masih ada di dalamnya. Maka pergilah engkau bersama Tuhanmu, dan berperanglah kalian berdua! Biarlah kami tetap duduk (menanti) di sini saja.”

(lihat juga Perjanjian Lama,Pasal Bilangan [Numbers], 13:32-33).

Nabi Musa a.s kecewa & bersedih
melihat kelakuan umatnya:
“Dia (Musa) berkata, “Ya Tuhanku! Aku tidak memiliki kendali pada siapapun kecuali pada saudaraku dan diriku sendirimaka pisahkan kami dari orang-orang yang Fasiq (durhaka dan penuh dosa) itu.”

“(Allah) berfirman,”(Dengan demikian, karena perbuatan khianat mereka,) maka Tanah itu (Tanah Suci) terlarang bagi mereka selama empat puluh tahun. Mereka akan mengembara di gurun pasir (disekitar gunung Sinai) dengan kebingungan. Maka janganlah engkau (Musa) bersedih hati terhadap orang-orang yang Fasiq (durhaka dan penuh dosa) itu.”
Al-Qur’an, al-Maidah, 5:24-26


Syarat-syarat yang Ditetapkan Tuhan bagi Pewaris Tanah Suci

“Dan Sungguh telah Kami nyatakan dalam Zabur (Mazmur) setelah (pernyataan kami dalam) al-Zikr (Taurat) bahwa (hanya) hamba-hamba-Ku yang saleh yang mewarisi Tanah (Suci).”
(al-Qur’an, al-Anbiyah, 21: 105)

Allah Maha Tinggi mengingatkan bahwa hak Bani Israel memiliki Jerusalem dan Tanah Suci adalah dengan ‘bersyaratkan’ iman dan beramal saleh. Iman, tentu saja, berarti ketaatan dengan penuh keyakinan pada agama Ibrahim.

“Dan Sungguh telah Kami nyatakan dalam Zabur (Mazmur) setelah (pernyataan kami dalam) al-Zikr (Taurat) bahwa (hanya) hamba-hamba-Ku yang saleh yang mewarisi Tanah (Suci).”
(al-Qur’an, al-Anbiyah, 21: 105)

Al-Qur’an menggunakan kata ‘Bumi’ atau ‘Tanah’ seperti di atas, tidak bermaksud seluruh bumi. Jika begitu, maka akan menjadi pernyataan yang sangat salah.

Firman Allah Maha Tinggi selalu Benar. Dengan demikian, kata ‘Bumi’ atau ‘Tanah’ dalam ayat tersebut tidak menunjuk ke seluruh Bumi. Kalau begitu, ayat itu menujuk ke ‘Tanah’ yang mana? Jawabannya jelas ada di Taurat dan Mazmur (Zabur).

Bahkan ada di Bibble (bukan injil)perjanjian baru" juga. Jawabannya adalah ‘Tanah Suci’ tetapi semua terjemahan menggunakan kata ‘Bumi’.

“Siapakah orang yang takut akan TUHAN?Kepadanya TUHAN menunjukkan jalan yang harus dipilihnya. Orang itu sendiri akan menetap dalam kebahagiaan dan anak cucunya akan mewarisi Bumi (Tanah Suci). TUHAN bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia, dan perjanjian-Nya diberitahukan-Nya kepadamereka.”
(Mazmur [Psalms] 25:12-14)

“Tetapi orang-orang yang rendah hati akan mewarisi Bumi (Tanah Suci) dan bergembira karena kesejahteraan yang berlimpah-limpah.”
(Mazmur [Psalms], 37:11)

“Orang-orang benar (saleh) akan mewarisi Bumi (Tanah Suci) dan tinggal di sana senantiasa (dengan syarat mereka tetap saleh).”
(Mazmur [Psalms], 37:29)

“Berbahagialah orang yang lemah lembut,karena mereka akan mewarisi Bumi (Tanah Suci).”(Matius [Matthew], 5:5)

Bukti bahwa kata ‘Bumi’ atau ‘Tanah’ dalam konteks ini menunjuk pada Tanah Suci ditemukan dalam teks al-Qur’an yang menyatakan bahwa Bani Israel akan melakukanFasad (penindasan dan kelicikan) di ‘Bumi’ atau ‘Tanah’ dua kali:

“Dan Kami sampaikan peringatan (yang jelas) kepada Bani Israel dalam Kitab (al-Qur’an) bahwa mereka akan melakukan Fasad dua kali di ‘Tanah’ dan berbangga diri dengan kesombongan yang besar (dan dua kali mereka akan dihukum)!”
(Al-Qur’an, Surah Al Isra/Bani Israel, 17:4)

Dan al-Kitab pun menyerukan satu suara, bahwa keimanan dan kelakuan yang saleh adalah syarat-syarat bagi umat Yahudi agar dapat mewarisi Tanah Suci dan tinggal di sana. Seseorang menulis ulang Taurat untuk menghilangkan syarat-syarat ini.Dia menulis:

“Jadi ketahuilah, bahwa bukan karena jasa-jasamu (kesalehanmu) TUHAN, Allahmu, memberikan kepadamu Negeri (Tanah Suci) yang baik itu untuk dimiliki. Sesungguhnya engkau bangsa yang tegar tengkuk (keras kepala)!”
(Ulangan [Deuteronomy], 9: 6)

Para oknum Rabbi (ulama Yahudi) tidak mempertahankan kebohongan besar yang dilakukan terhadap Allah Maha Tinggi dan agama Ibrahim(‘alayhi salam)ini. Tetapi bukan hal yang sulit, dalam istilah perasaan umum (common sense), kebijaksanaan etis, dan pengetahuan spiritual, untuk mengenali bahwa pernyataan di atas adalah salah. Hal itu tidak cocok dengan standard keadilan sempurna yang pasti datang dari Tuhan Maha Sempurna. Pada kenyataannya, hal itu adalah dusta! Dan itu memang sengaja dibuat untuk menghapuskan persyaratan yang ditentukan Tuhan untukumat Yahudi agar mereka dapat mewarisi Tanah Suci.

Jika Tanah khusus ini dipilih oleh Allah Maha Tinggi dan secara khusus diberkahi oleh-Nya, kemudian mengapa Dia memberikannya tanpa syarat kepada‘orang-orang yang tegar tengkuk’ tanpa mempertimbangkan apakah mereka berperilaku saleh atau dengan keras kepala menolak kebenaran.

Sejarah yang tercatat di Kitab-kitab di atas mengkonfirmasi bahwa atas Ketetapan Tuhan, umat Yahudi pernah diusir dua kali dari Jerusalem dan Tanah Suci. Hal itu terjadi saat mereka melanggar risalah para Nabi & melanggar syarat-syarat yang telah ditetapkan Tuhan. Dengan kata lain, mereka tidak mendapatkan atau mewarisinya karena kesalehan mereka sendiri.Argumen tersebut tidak meniadakan implikasi dari ayat itu, bahwa Tanah itu diberikan kepada mereka tanpa syarat. Dan al-Qur’an menyatakan bahwa hal itu salah.

Pernyataan al-Qur’an jelas. Tanah yang diberikan kepada Bani Israel dengan syarat. Syaratnya adalah keimanan dan ketundukan pada Allah serta perilaku saleh. (al-Qur’an, al-Anbiyah, 21:105).

Tuhan Mengusir Umat Yahudi dari Tanah Suci Karena Melanggar Persyaratan, maka sejak hari itu Bani Israel sudah tidak dapat memiki klaim atas Tanah itu, tanah yang dulunya pernah diberikan Allah kepada mereka.

“Jika kalian tetap berbuat baik (maka) itu untuk kebaikan kalian sendiri. Sedangkan jika kalian berbuat jahat, (maka) kalian (sendiri) yang akan menerima akibatnya. Dan dengan begitu, ketika (periodeFasad) yang kedua menjadi nyata. (Kami mengangkat musuh baru melawan kalian dan membolehkan mereka) menghinakankalian sepenuhnya, dan memasuki Tempat Ibadah (Masjid al-Aqsa) seperti (pendahulu mereka) sebelumnya telah memasukinya, dan menghancurkan semua yang telah mereka kuasai.”
(al-Qur’an, Bani Israel, 17: 4-7)

Umat Yahudi berargumen bahwa Ibrahim(‘alayhi salam) adalah orang saleh dan akibat kesalehannya, Tanah itu diberikan kepadanya dan kepada keturunannya! Dengan begitu, jikaperilaku umat Yahudi tidak saleh pun tidak akan menghilangkan hak mereka untuk mewarisi Tanah Suci. Selain itu, Taurat sangat langsung dan jelas dalam hal ini:

“Tetapi kamu harus menaruh perkataanku ini dalam hatimu dan dalam jiwamu; kamu harus mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu. Kamu harus mengajarkannya kepada anak-anakmu dengan membicarakannya, apabila engkau duduk di rumahmu dan apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabilaengkau berbaring dan apabila engkau bangun; engkau harus menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu, supaya panjang umurmu dan umur anak-anakmu di Tanah (Suci) yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu untuk memberikannya kepada mereka, selama ada langit di atas bumi. Sebab jika kamu sungguh-sungguh berpegang pada perintah yang kusampaikan kepadamu untuk dilakukan, dengan mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan hidup menurut segala jalan yang ditunjukkan-Nya dan dengan berpaut pada-Nya, maka TUHAN akan menghalau segala bangsa ini dari hadapanmu, sehingga kamu menduduki daerah bangsa-bangsa yang lebih besar dan lebih kuat dari padamu. Setiap tempat yang diinjak oleh telapak kakimu, kamulah yang akan memilikinya: mulai dari padang gurun sampai gunung Libanon, dan dari Sungai Mesir sampai Sungai Eufrat, akan menjadi daerahmu. Tidak ada yang akan dapat bertahan menghadapi kamu: TUHAN, Allahmu, akan membuat seluruh negeri yang kau injak itu menjadi gemetar dan takut kepadamu, seperti yang dijanjikan TUHANkepadamu.”
(Ulangan [Deuteronomy], 11:18-25)

Bani Israel mengkhianati Agama Ibrahim (‘alayhi salam) dan perilaku saleh sehingga Allah Maha Tinggi mengusir mereka dari Tanah Suci.

Pengusiran pertama terjadi pada tahun 587 sebelum masehi, pasukan Babilonia yang dipimpin Nebukadnezar mengepung Jerusalem, kemudian membakar kota itu, membunuh penduduknya, menghancurkan Masjid yang dibangun Sulaiman(‘alayhi salam), dan membawa orang-orang terbaik dari umat Yahudi untuk dijadikan budak di Babilonia. Nabi Yeremia(‘alayhi salam) telah memperingatkan mereka bahwa hal itu akan terjadi (Yeremia, [Jeremiah] 32:36),

Pengusiran Pertama ini karena mereka mengubah Taurat untuk menjadikan halal(diijinkan) yang Allah Maha Kuasa telah menjadikannya haram (terlarang). Mereka mengedit isi Kitab Taurat sehingga menjadikannya mengijinkan mereka memberikan pinjaman uang dengan bunga kepada orang-orang non-Yahudi sementara tetap melarang hal tersebut dalam transaksi sesama umat Yahudi:

“Janganlah engkau meminjamkan dengan bunga kepada saudaramu (sesama Yahudi), baik uang maupun bahan makanan atau apa pun yang dapat dibungakan. Dari orang asing (bukan Yahudi) boleh engkau memungut bunga, tetapi dari saudaramu janganlah engkau memungut bunga ….”(Ulangan [Deuteronomy], 23:19-20)

Untuk kedua kalinya Allah mengusir mereka dari Tanah Suci karena mereka membunuh para Nabi Allah (sebagai contoh, lihat al-Qur’an, al-Baqarah, 2:61). Mereka membunuh Zakariah (‘alayhi salam) di Masjid, dan anaknya, Yahya (John) (‘alayhi salam), dibunuh dengan tipu daya. ‘Isa (Jesus)(‘alayhi salam) menyebutkan pembunuhan para Nabi dan mengutuk kejahatan yang bengis ini:

Rasul-rasul dan sebagian dari antara Nabi-nabi dan Rasul-rasul itu akan mereka bunuh dan mereka aniaya, supaya dari angkatan ini dituntut darah semua Nabi yang telah tertumpah sejak dunia dijadikan, mulai dari darah Habil sampai kepada darah Zakariah yang telahdibunuh di antara mezbah dan Rumah Allah. Bahkan, Aku berkata kepadamu: Semuanya itu akan dituntut dari angkatanini.”(Lukas [Luke], 11:49-51)

Apakah undangan untuk menetap di Tanah Suci adalah tanpa syarat? Akankah undangan itu tetap sah jika keturunan mereka meninggalkan agama Ibrahim (‘alayhi salam) dan menjadi ateis, atau melakukan pelacuran, atau penindasan? Akankah itu tetap sah jika di Tanah Suci, umat Yahudi mendirikan negara sekuler yang menyatakan ‘Kekuasaan Tertinggi’ dimiliki oleh negara, bukan oleh Tuhan-nya Ibrahim, dan bahwa hukum tertinggi adalah hukum negara, bukan hukum Allah? Akankah hal itu tetap sah jika negara tersebut menyatakan Halal (mengijinkan) hal-hal yang Allah Maha Tinggi telah menjadikannya Haram (terlarang)

Jawaban mereka berasal dari lidah mereka sendiri, dari mulut mereka sendiri.

Intinya adalah suatu kaum berhak melawan penindas yang mengusir mereka keluar dari rumah dan wilayah tempat tinggal mereka. Sementara hal itu benar untuk semua wilayah, hal itu secarakhusus benar untuk Tanah Suci. Kemudian bagaimana mungkin Negara Israel yang dibentuk dengan mengusir penduduk Palestina keluar dari rumah dan wilayah mereka (penduduk yang menyembah Tuhan-nya Ibrahim) lalu dengan keras kepala menolak hak merekaselama lebih dari lima puluh tahun untuk kembali ke tempat tinggal mereka.

Sesungguhnya di antara manusia, orang-orang yang paling dekat dengan Ibrahim (terdekat dengannya dalam arti mengikuti agamanya), adalah orang-orang yang mengikutinya, juga Nabi ini (Muhammad) dan orang-orang yang beriman (beriman padanya dan pada kitab yang diturunkan kepadanya); dan Allah adalah Teman Pelindung bagi orang-orang beriman.”(al-Qur’an, Ali Imran, 3:68)

The Messiah
Taurat, Injil (bukan Bibble) dan Al Quran memberi keterangan kepada Bani Israel bahwa Tuhan berjanji untuk mengutus kepada mereka seseorang yang akan menjadi Nabi mereka, yang akan dikenal sebagai al-Masih, dan yang akan memerintah dunia dari tahta Raja Daud (‘alayhi salam).
Pada intinya, hal ini sama dengan nubuat kembalinya Masa Kejayaan Sulaiman (‘alayhi salam).

I Tawarikh (I Chronicles), 17:11-15, Nabi Natan berkata kepada Raja Daud tentang al-Masih dan menyebutnya Putra Daud:
“Apabila umurmu sudah genap untuk pergi mengikuti nenek moyangmu, maka Aku akan membangkitkan keturunanmu yang kemudian, salah seorang anakmu sendiri, dan Aku akan mengokohkan kerajaannya. Dialah yang akan mendirikanrumah bagi-Ku dan Aku akan mengokohkan takhtanya untuk selama-lamanya. Aku akan menjadi Bapanya, dan ia akan menjadi anak-Ku. Tetapi kasih setia-Ku tidak akan Kuhilangkan dari padanya seperti yang Kuhilangkan dari pada orang yang mendahului engkau. Dan Aku akan menegakkan dia dalam rumah-Ku dan dalam kerajaan-Ku untuk selama-lamanya dan takhtanya akan kokoh untuk selama-lamanya.” Tepat seperti perkataan ini dan tepat seperti penglihatan ini Natan berbicara kepada Daud.”( I Tawarikh [I Chronicles], 17:11-15)

(Yesaya [Isaiah], 9:5-6) Lebih jauh lagi Yesaya menuliskan tentangnya bahwa:“Lihat, itu hamba-Ku yang Kupegang, orang pilihan-Ku, yang kepadanya Aku berkenan. Aku telah menaruh Roh-Ku ke atasnya, supaya ia menyatakan hukum kepada bangsa-bangsa. Ia tidak akan berteriak atau menyaringkan suara atau memperdengarkan suaranya di jalan. Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya, tetapi dengan setia ia akan menyatakan hukum. Ia sendiri tidak akan menjadi pudar dan tidak akan patah terkulai, sampai ia menegakkan hukum di bumi; segala pulau mengharapkan pengajarannya.”(Yesaya [Isaiah], 42:1-4)“… Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa supaya keselamatan yang dari pada-Ku sampai ke ujung bumi.”(Yesaya [Isaiah], 49:6)

Umat Yahudi merasa gembira menerima berita tentang al-Masih yang dijanjikan. Tetapi mereka kebingungan tentang adanya dua gambaran yang menggambarkan dua potret yang berlawanan dari dia dan misinya. Yang pertama adalah Raja Penakluk yang akan merestorasi kerajaan ‘Umat Pilihan Allah’ (yang pada saat itu adalah umat Yahudi) di Tanah Suci dan akan memerintah dunia dengan kedamaian.

Yang kedua adalah seorang al-Masih yang rendah hati dan menderita. Dua potret yang tampak berlawanan tersebut dengan jelas digambarkan dalam Yesaya yang menjelaskan al-Masih sebagai ‘Hamba Tuhan’ yang akan sejahtera, diangkat, dan sangat dimuliakan:

“Sesungguhnya, hamba-Ku akan berhasil, ia akan ditinggikan, disanjung, dan dimuliakan.”
(Yesaya [Isaiah], 52:13)

Kemudian dia menjelaskan ‘Hamba’ sebagai seseorang yang direndahkan sampai pada keadaan dia hampir tidak dianggap sebagai manusia, dan seseorang yang akan mengalami baik pemuliaan maupun penghinaan:

“Seperti banyak orang akan tertegun melihatnya -- begitu buruk rupanya, bukan seperti manusia lagi, dan tampaknya bukan seperti anak manusia lagi”(Yesaya [Isaiah], 52:14)

Seperti tidak dapat terpikirkan, Yesaya membuat nubuat bahwa ‘Hamba’ tersebut akan dipukul dari belakang dan dari depan. Dia akan dihina dengan diludahi mukanya (Yesaya [Isaiah], 50:4-11).

Hal ini tepat seperti yang terjadipada ‘Isa (Jesus). Seorang penulis Kristen, Hal Lindsey, mengomentari peristiwa tersebut dan menyatakan bahwa hal itu mengonfirmasi nubuat Yesaya 52:13 dan 53:12, sebagai berikut:“
Hal itu diketahui sebagai jenis perlakuan terhadap ‘Isa (Jesus) selama enam kali percobaan ilegal, dia dijadikan sebagai sasaran. Petugas penjaga di kuil Herod meludahi muka ‘Isa setelah Sanhedrin menghukumnya. Kemudian mereka menutup matanya dengan kain dan memukul mukanya. Helm yang bergerigi dilekatkan di kepalanya dan dia dengan kejam dicambuk dengan cambuk Romawi. Cambuk itu terbuat dari banyak gulungan kulit yang dilekatkan dengan kepingan-kepingan tulang atau logam yang bergerigi untuk membuat hasil yang lebih menyakitkan.”
(Hal Lindsey ,The Messiah (al-Masih),Harvest House Publishers,Oregon, 1982, hal.108-109)

Yesaya kemudian mengidentifikasi umat Yahudi sebagai orang-orang yang menyiksa ‘Hamba Tuhan’ (al-Masih). Dia menjelaskan hamba al-Masih sebagai“seseorang yang dihina, seseorang yang dibenci oleh bangsa” (Yesaya [Isaiah], 49:7).

Hal Lindsey menunjukkan bahwa kata ‘bangsa’ tersebut dalam bentuk tunggal, bukan jamak, dan dia memprotes penerjemahan ayat yang tidak jujur:“Hal yang paling disayangkan (dan tidak jujur) adalah versi standar Revisi al-Kitab dan Penafsiran Soncino Yahudi menerjemahkan bagian ini, ”dialah yang dibenci oleh bangsa-bangsa.”

Dengan menerjemahkan bangsa dalam bentuk jamak, hal itu memperlihatkan umat-umatkafir (yang selalu disebut sebagai bangsa-bangsa) adalah orang-orang yang menghina dan membenci sang Hamba. Ide tersebut sengaja dibentuk di sini bahwa sang Hamba adalah Israel dan dia dibenci oleh umat-umat kafir. Sementara hal tersebut memang manjadi kenyataan dalam sejarah Yahudi yang telah berlalu, kenyataan tersebut tidak bisa dibuktikan dengan bagian ayat al-Kitab yang ini karena kata yang digunakan dalam bahasa Ibrani untuk ‘bangsa’ adalah ‘goi’, dan itu adalah bentuk tunggal dan hanya dapat diterjemahkan dengan jujur sebagai ‘bangsa’ yang dalam konteks ini menunjuk pada Israel sendiri.”
(Lindsey, hal.109)

Soncino – seorang Israel, Nathan B. Samuel berpindah ke Soncino, sebuah kota kecil di wilayah Milan. Di sana, dia mendirikan sebuah percetakan untuk anaknya, dan ini adalah permulaan perusahaan besar Joshua Solomon Soncino dan keponakan-keponakannya, Moses dan Gershom. Mengajak Abraham B. Hayyim dari Bologna, mereka memproduksi al-Kitab lengkap yang pertama, yaitu al-Kitab Soncino pada 1488, dengan tanda vokal dan tanda tekanan, tetapi tanpa penafsiran, sebagaimana biasanya Soncino. Soncino bersaudara juga bertanggung jawab dalam produksi al-Kitab Naples 1491-1493 dengan tanda vokal dan tanda tekanan ditempatkan dengan lebih baik dari sebelumnya.

Gershom Soncino berpindah ke Brescia, di mana dia memproduksi al-Kitab Brescia pada 1495, sebuah edisi perbaikan dari al-Kitab Soncino 1488, tetapi yang lebih penting dalam format oktavo yang kecil, menjadikannya edisi buku saku yang khusus diproduksi untuk orang-orang Yahudi yang dianiaya, yang terus-menerus berpindah dari satu tempat ke tempat lain, mendapat kesulitan membawa al-Kitab ukuran folio yang besar dan mahal. Edisi itulah yang digunakan Martin Luther saat dia menerjemahkan al-Kitab ke dalam bahasa Jerman).(Jewish Encyclopedia, “Ensiklopedia Yahudi”)

Bahkan jauh ke belakang pada masa turunnya wahyu Kitab Kejadian (Genesis),ada nubuat tentang seseorang yang akanmenjadi ‘penguasa’ dunia, yang melanjutkan kekuasaan yang pertama kali didirikan oleh Daud(‘alayhi salam) dan Sulaiman (‘alayhi salam).Dia disebut sebagai Shiloh:
“Tongkat kerajaan tidak akan beranjak dari (keturunan) Yehuda (Judah) ataupunlambang pemerintahan dari antara kakinya, sampaiShiloh datang yang berhak atasnya, maka kepadanya akan takluk bangsa-bangsa.”
(Kejadian [Genesis], 49:10)

Nubuat ini ditafsirkan bukan hanya menyatakan suku asal kemunculan al-Masih, tetapi juga menandakan Yehuda (Judah) sebagai garis keturunan raja masa depan. Penafsiran Rabi dari waktu dulu mengenali ‘Shiloh’ adalah al-Masih dan dari sinilah diprediksi bahwa dia lahir dari suku Yehuda. (Pandangan sarjana Muslim adalah bahwa Shiloh merupakan Nabi Muhammad shollallahu ‘alayhi wassalam).

Yang membingungkan adalah pengaburan makna karena seorang penulis yang tidak diketahui mengubah naskah Yesaya menjadi menyatakan bahwa al-Masih bukan hanya dilahirkan sebagai seorang anak (dan dengan demikian seorang manusia), yang pada akhirnya akan memimpin dunia, tetapi dia juga menjadi Tuhan Maha Perkasa. Teks yang diubah kemudian menggambarkan al-Masih sebagai manusia dan Tuhan:
“Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang:Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapayang Kekal, Raja Damai.”(Yesaya [Isaiah], 9:15)

Dua ribu tahun lalu saat Allah Maha Tinggi menepati janjinya dan mengutus al-Masih, ‘Isa (Jesus) Putra Maryam, kepada Bani Israel, dia mendapati mereka berpegang pada bentuk ‘luaran’ agama sementara dengan sangat menyedihkan mengabaikan ‘hakikat internal’. Bahkan bentuk ‘eksternal’ pun dirusak karena mereka mengubah Taurat dan menulisnya ulang untuk memenuhi kepentingan mereka.

Mereka tetap menolaknya sebagai al-Masih sampai hari ini. Al-Qur’an menyatakan bahwa mereka meyombongkan diri (pada saat itu) telah membunuhnya (dengan penyaliban): “Mereka berkata (dengan kesombongan): Kami membunuh al-Masih, ‘Isa Putra Maryam, Rasul Allah…”(al-Qur’an, an-Nisa, 4:157)Saat mereka melihat dia ‘mati’ di tiang salib di depan mata mereka, hal itu disimpulkan oleh mereka bahwa dia adalah al-Masih palsu. Mereka yakin bahwa dia tidak dapat menjadi al-Masih karena Taurat sendiri telah menyatakan siapa pun yang mati digantung (di salib) adalah orang yang ‘dikutuk’ Allah Maha Tinggi (Ulangan [Deuteronomy], 21:23). Kemudian, dia tidak dapat menjadi al-Masih karena dia mati tanpa membebaskan Tanah Suci dari kekuasaan Romawi pagan, dan dia tidak memimpin dunia dari tahta Nabi Daud (‘alayhi salam).Dan dengan begitu, mereka masih menunggu kedatangan al-Masih. Setiap pemeluk Yahudi menolak ‘Isa(‘alayhi salam) sebagai al-Masih dan karenanya masih menunggu kedatangan al-Masih berarti secara tidak langsung berusaha menyalib dia. Karena penolakan mereka terhadap klaimnya sebagai al-Masih berkaitan dengan kematiannya yang mereka percaya telah dialaminya.Tetapi Allah Maha Tinggi telah menyatakan bahwa umat Yahudi ditipu untuk percaya bahwa ‘Isa (Jesus)(‘alayhi salam) telah dibunuh atau disalib:

“…Padahal mereka tidak membunuhnya, dan tidak menyalibnya, tetapi dibuat tampak demikian bagi mereka. Sesungguhnya mereka yang berselisih pendapat tentang (pembunuhan) ‘Isa, selalu diliputi keraguan tentang yang dibunuh itu. Mereka benar-benar tidak tahu, melainkan hanya mengikuti persangkaan belaka, karena sesungguhnya mereka tidak membunuhnya.”(al-Qur’an, an-Nisa, 4:157)

Kalau begitu apa yang terjadi pada ‘Isa(‘alayhi salam)? 

Penjelasan Al Quran Tentang  ‘Isa(‘alayhi salam)


Pertama, al-Qur’an menyatakan bahwa umat Yahudi tidak membunuh ‘Isa:“…padahal mereka tidak membunuhnya…”(al-Qur’an, an-Nisa, 4:157)

Kedua, al-Qur’an menyatakan bahwa mereka tidak menyalibnya:“…mereka juga tidak menyalibnya…”(al-Qur’an, an-Nisa, 4:157)Ketiga, al-Qur’an menyatakan bahwa Allah Maha Kuasa mengambilnya (mengambil jiwanya). Kenyataannya, ada 2 pernyataan tersebut dalam al-Qur’an:

“(Ingatlah), ketika Allah berfirman: wahai ‘Isa, Aku mengambilmu kembali (mengambil jiwamu -- kata yang digunakan adalah Waffa), dan mengangkatmu kepada-Ku dan menyucikanmu (dari kesalahan) orang-orang kafir…”(al-Qur’an, Ali Imran, 3:55)

“Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman (pada Hari Penghakiman), “Wahai ‘Isa (Jesus), Putra Maryam, apakah engkau mengatakan kepada manusia, ‘sembahlah aku dan ibuku sebagai Tuhan-Tuhan selain Allah?’” Dia (‘Isa) akan menjawab, “Maha Suci Engkau, tidak patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya tentulah Engkau telah Mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada padadiriku, dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada-Mu, sungguh Engkaulah Yang Maha Mengetahui segala yang gaib.”“Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku untuk mengatakannya, (yaitu) “Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhan kalian,” dan aku menyaksikan mereka selama aku tinggal di tengah-tengah mereka, tetapi setelah Engkau mengambilku kembali (mengambil jiwaku – kata yang digunakan lagi-lagi adalah Waffa) Engkaulah yang mengawasi mereka. Dan Engkaulah Yang Maha Menyaksikan segala sesuatu.”
(al-Qur’an, al-Maidah, 5: 116-117)


Al-Qur’an menyatakan bahwa Allah Maha Kuasa mengambilnya (mengambil jiwanya).

pernyataan tersebut dalam al-Qur’an:

“(Ingatlah), ketika Allah berfirman: wahai ‘Isa, Aku mengambilmu kembali (mengambil jiwamu -- kata yang digunakan adalah Waffa), dan mengangkatmu kepada-Ku dan menyucikanmu (dari kesalahan) orang-orang kafir…”(al-Qur’an, Ali Imran, 3:55)

Allah Maha Tinggi mengambil jiwa ‘Isa(‘alayhi salam) dan tidak mengembalikannya, maka kejadian. Kalau begitu, apa yang Allah Maha Tinggi lakukan dengan jiwa seseorang setelah dia mengambilnya? Mungkinkah Dia mengembalikan jiwa tersebut pada tubuhnya?

Al-Qur’an menegaskan bahwa Allah Maha Tinggi mengembalikan beberapajiwa setelah mengambilnya dari tubuh:“Allah mengambil jiwa-jiwa pada (saat)kematiannya dan orang-orang yang tidak mati Dia mengambil (jiwa-jiwa mereka) selama mereka tidur (jiwa orang-orang tidak diambil saat mereka terbangun, tetapi mereka akan mengalami hal itu saat tidur).

Kemudian untuk orang-orang yang Dia tentukan kematian (Maut), Dia mencegahnya kembali (jiwanya tidak dibolehkan kembali ke tubuhnya): tetapi sisanya Dia kembalikan (pada tubuh mereka) sampai suatu waktu yang telah ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berpikir.”(al-Qur’an, az-Zumar, 39:42)

Apakah hal ini terjadi pada kasus ‘Isa (‘alayhi salam)? Jawabannya dapat ditemukan pada dua pernyataan berikutnya dari al-Qur’an.Keempat, al-Qur’an menyatakan bahwa Allah Maha Kuasa membuatnya ‘tampak’ bahwa ‘Isa(‘alayhi salam) dibunuh.

Kemudian orang-orang yang mengamati peristiwa itu diyakinkan bahwa ‘Isa (Jesus)(‘alayhi salam)benar-benar mati (Maut):“…tetapi begitulah dibuat tampak bagi mereka…”(al-Qur’an, an-Nisa, 4: 157)

Sekarang mungkin bagi kita menjawab pertanyaan: Kalau begitu, apa yang Allah Maha Tinggi lakukan terhadap jiwa itu setelah Dia mengambilnya?

Hal yang sama juga terjadi ketika kita sedang dalam keadaan tidur.

Allah Maha Tinggi mengambil jiwa ‘Isa (Jesus) (‘alayhi salam) saat dia masih di tiang salib, Allah Maha Tinggi kemudian meyakinkan orang-orang yang mengamati peristiwa itu bahwa ‘Isa (‘alayhi salam) telah mati.


Allah Maha Tinggi kemudian mengembalikan jiwa ‘Isa (‘alayhi salam) setelah dia diturunkan dari tiang salib dan saat tidak ada orang di sekitar yang dapat mengamatinya. Kemudian dia diangkat ke langit di mana dia akan turun kembali untuk membunuh Dajjal, kemudian ‘Isa (‘alayhi salam) akan menjadi raja, untuk memimpin dunia dari Jarusalem dengan adil.

Hingga Detik ini mereka masih menunggu Kedatangan "The Messiah". Padahal yang mereka tungu itu sebenarnya adalah:
Al Masih Ad-Dajjal "The Messiah Palsu"

Nabi Muhammad (shollallahu ‘alayhi wassalam) mengungkapkan kejadian ini sebelum kembalinya ‘Isa(‘alayhisalam), Allah Maha Tinggi akan melepaskan seorang al-Masih Palsu (al-Masih ad-Dajjal) ke dunia pada Akhir Zaman.

Baca Juga :


Reverensi: