Laman

Senin, 07 September 2015

SEJARAH KRISTENISASI DI INDONESIA


Salah satu pernyataan Deedat adalah, agama Katolik yang mencapai 5 milyar di Indonesia menganggap kunjungan Paulus ke Indonesia merupakan sebuahkesempatan besar untuk merayakan ‘Perkumpulan Gereja Indonesia‘ pada tanggal 31 September 1979. Dalam kesempatan itu, umat Kristen menandatangani satu kesepakatan: yang menggambarkan satu strategi yang ingin merubah Indonesia sampai tahun 2029 menjadi Kristen seluruhnya.Gerakan ini mereka sebut dengan ‘Amaliyah al-Isti'shâl (Operasi Pembasmian).

Muhammad ‘Abd al-Halîm ‘Abdal-Fattâh, mengatakan:
"bukan rahasia bahwa negara terbesar berpenduduk muslim di dunia, Indonesia –190.000.000—lebih dari 90% muslimin –sekarang ini menjadi sasaran ‘invasi Kristenisasi’....Dua pandangan di atas berasal dari luar (outsider) di atas, mengindikasikan bahwa Indonesia benar-benar dalam kondisi ‘bahaya’. Pandangan dari dalam (insider) tidak perlu disebutkan, karena sudah jelas dan konkret. Berbagai buku, koran, majalah, berita, dsb."

sudah banyak yang berbicara tentang Kristenisasi. Bukankah itu merupakan bukti konkret dari gerakan Kristenisasi di sana?





Dalam bukunya Sejarah Gereja, seperti yang dikutip oleh Hussein Umar, Dr. Berkhof menggambarkan Indonesia sebagai berikut:"Boleh kita simpulkan, bahwa Indonesia adalah suatu daerah Pekabaran Injil yang diberkati Tuhan dengan hasil yang indah dan besar atas penaburan bibit Firman Tuhan. Jumlah orang Kristen Protestan sudah 13 juta lebih, akan tetapi jangan kita lupa....di tengah-tengah 150 juta penduduk! Jadi tugas zending gereja-gereja muda di benua inimasih amat luas dan berat. Bukan saja sisa kaum kafir yang tidak seberapa banyak itu, yang perlu mendengar kabar kesukaan, tetapi juga kaum muslimin yang besar, yang merupakan benteng agama yang sukar sekali dikalahkan oleh pahlawan-pahlawan Injil. Apalagi bukan saja rakyat jelata, palisan bawah, yang harus ditaklukkan untuk Kristus, tetapi juga dan terutama para pemimpinmasyarakat, kaum cendikiawan, golongan atas dan tengah."

alam deskripsi Dr. Berkhof. Ia merupakan ‘sasaran empuk’ para Evanglist (‘Penginjil’): tempat ‘berjuang’ para pahlawan Injil dalam menanamkan Injil di tengah-tengah umat Islam. Misi Kristenisasi di Indonesi bukan hanya ‘isapan jempol’ belaka. Ia sudah berjalan sejak kedatangan Belanda.Mengutip Encyclopaedie van Nederlandsche Indie I, hal. 67, Deliar Noer mencatat, sebagai pihak yang ingin berkuasa di Indonesia, ada dua pandangan yang dapat diungkapkan untuk melestarikan kekuasaan kolonial.

Masyarakat Misi Belanda (Dutch Mission Society) yang berdiri tahun 1847 memprioritaskan kerja missionariske Indonesia, karena negara yang masyarakatnya sangat bersahabat itu terbukti sulit "ditembus" misi Kristen. Faktor Islam dituding sebagai penyebabkesulitan masuknya misi Injil ke Indonesia.



Hendrik Kraemer, seorang missionaris yang ditugaskan Masyarkat Al Kitab Belanda (Dutch Biblical Society) untuk bekerja di Indonesia tahun 1921, menggambarkan kesulitan mengkristenkan kaum muslim, melalui ungkapannya:"Islam sebagai masalah misi: tidak ada agama yang untuk (mengkonversi)-nya misi harus membanting tulang dengan hasil yang minimal, dan untuk menghadapinya misi harus mengais-ngaiskan jemarinya hingga berdarah dan terluka, selain Islam. (Dia lanjutkan lagi) Yang menjadi dari Islam adalah: meskipun sebagai agama kandungannya sangat dangkal dan miskin, Islam melampaui semua agama di dunia dalam hal kekuasaan yang dimiliki, yang dengan itu agama tersebut mencengkeram erat semua yang memeluknya."

Hendrik Kraemer, seorang missionaris yang ditugaskan Masyarkat Al Kitab Belanda (Dutch Biblical Society) untuk bekerja di Indonesia tahun 1921, menggambarkan kesulitan mengkristenkan kaum muslim, melalui ungkapannya:"Islam sebagai masalah misi: tidak ada agama yang untuk (mengkonversi)-nya misi harus membanting tulang dengan hasil yang minimal, dan untuk menghadapinya misi harus mengais-ngaiskan jemarinya hingga berdarah dan terluka, selain Islam. (Dia lanjutkan lagi) Yang menjadi dari Islam adalah: meskipun sebagai agama kandungannya sangat dangkal dan miskin, Islam melampaui semua agama di dunia dalam hal kekuasaan yang dimiliki, yang dengan itu agama tersebut mencengkeram erat semua yang memeluknya."



Samuel M. Zwemmer dalam bukunya The Law of Apostasy in Islam, memandang bahwa alasan terpenting sulitnya mengkonversi seorang muslim menjadi Kristen adalah adanya hukum murtad (riddah). Islam, katanya, adalah"seperti sebuah jebakan yang licik, mempermudah siapa saja yang masuk ke dalam persaudaraan kaum muslim, dan sangat sulit bagi siapa saja yang sudah menyatakan memeluknya untuk menemukan jalan keluar.
Oleh sebab itu, upaya pengkristenan itu dilakukan dengan dua cara, yaitu 
1. memasukkan orang ke agama Kristen.
2.mengeluarkan orang Islam dari agamanya, walaupun dia menjadi atheis. ‘
‘Tujuan kita tidak langsung mengkristenkan umat Islam, karena hal ini tidak akan sanggup kita laksanakan. Tetapi tujuan kita adalah menjauhkan kaum muslimin dari ajaran Islam. Ini yang harus kita capai walaupun mereka tidak bergabung dengan kita,’’ kata Zwemmer.

Pesan Paulus untuk Kristenisasi DuniaPaus John Paul II, merupakan Paulus yang cukup benci terhadap Islam. Dalam sebuah imbauan bertajuk: "POPE CALLS ON CATHOLICS TO SPREAD CHRISTIANITY", ia mengeluarkan fatwa gerejani agar kaum Katolik mengambil tindakan untuk menyerbarkan ajaran Katolik. Ia menegaskan pentingnya melakukan Kristenisasi terhadap semuabagian dunia (to evangelise in all parts of the world), termasuk negeri-negeri dimana hukum Islam melarang perpindahan agama. Sri Paus menekankan agar negeri-negeri Islam, demikian juga negara-negara lainnya, segera mencabut peraturan-peraturan yang melarang orang Islam memeluk agama lain. Tanpa menyebut nama negara secara langsung, Sri Paus menyinggung negara-negara di kawasan Timur 



Tengah, Afrika dan Asia dimana para missionaris ditolak kehadirannya. Kepada mereka Paus menyerukan: "Bukalah pintu untuk Kristus!" (Open the doors to Christ!).

Paulus beralasan bahwa gereja Katolik merupakan satu-satunya yang dapat memimpin seluruh bangsa. Hal ini ia sampaikan dalam sebuah imbauan Rasuli-nya yang berjudul ‘Tuhan Yesus’ yang dikeluarkan pada 6 Agustus 2000 ia menyatakan: "Universalitas Yesus merupakan sebuah kemestian dan hanya Gereja Katolik yang dapat memimpin seluruh bangsa."

Oleh karena itu, dalam imbauan keenamnya untuk para uskup Perancis pada tanggal 7 Februari 2004, dia menyatakan: "Merupakan satu kewajiban bagi setiap jemaah keuskupan untuk melakukan misi Kristenisasi dengan Injil dan dengan berbagai rutinitas ritual dalam melayaninya – Kristenisasi."

Peran politik yang dimainkan oleh Paus John Palulus II merupakan rahasia umum. Tidak seorangpun yang tidak mengetahui hal ini. Bahkan sebagian orang menggambarkannya sebagai ‘politik khusus Gereja Katolik’ yang perangkatnya adalah ‘‘Taktik Rasuli’’ yang diringkas oleh Paus dalam satu kata singkat: ‘La Reevangelisation du Monde’, (‘Rekristenisansi Dunia’). Inilah yang dia proklamirkan pada tahun 1982 di Camp Steel, di kota Shant Jacob, di Barat Laut Spanyol.

Metode Kristenisasi

Metode Kristenisasi di Indonesia 

Bahaya yang sedang ‘merongrong’ umat Islam di berbagai penjuru dunia, termasuk memang masalah murtad ini.



Berbagai aksi dan operasi Kristenisasi dilakukan di mana-mana. Umat Kristen sangat berambisi untuk ‘menyebarkan Injil’ kepada umat Islam. Umat Islam menurut mereka adalah ‘domba-domba yang hilang dan tersesat’, maka ia harus dicari dan dikembalikan kepada ‘kandangnya’: Kristen. Sehingga, untuk menangkap para ‘domba tersesat’ itu, mereka menggunakan dan menghalalkan segala cara. 

Prinsip mereka adalah al-ghâyah tubarrir al-wasîlah. Hemat penulis, umat Islam harus waspada dengan cara-cara Kristenisasi, agar tidak ‘terjebak’ dan ‘tertipu’. Sekarang, cara-cara mereka sangat ‘canggih dan berbahaya’. Mereka tidak lagi menggunakan iming-iming ‘satu bungkus Supermie atau satu kilo beras plus ikan asin dan minyak goreng’. Tidak! 

Janganlah sekali-kali kamu terperdaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di dalam negeri. Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka ialah Jahannam; dan Jahannam itu adalah tempat yang seburuk-buruknya.(QS. Ali Imran 196-197).

Cara mereka sekarang semakin canggih. Di bawah ini, penulis hanya memaparkan beberapa contoh secara ringkas dan sederhana. Diantara metode Kristenisasi itu adalah sebagai berikut:

1.Membangun Berbagai Proyek Kristenisasi
Di Indonesia sendiri, proyek Kristenisasisejak lama sudah berjalan secara diam-diam, seperti Yayasan Doulos. Lama-kelamaan, kedok yayasan yang bergerak dalam aksi Kristenisasi ini pun terbongkar. 


Karena penduduk merasa resah dengan aktivitasnya, akhirnya diserbu dan dihancurkan.Pada tataran dunia, organisasi Kristenisasi Dunia memiliki satu proyek yang disebut dengan Joshua Project 2000.Joshua Project 2000 ini ditenggarai sebagai induk dari Doulos Project 2000, umat Islam wajib mewaspadainya.

Doulos 2000 Project = 10 Missionary Project =
• The Jericho 2000 Project – West Java
• The Karapan 2000 (Race 2000) Project– East Java
• The Mandau 2000 Project – West Borneo
• The Bajau-Bungku 2000 Project – South East Celebes
• The Cendrawasih 200 (Bird of Paradise) Project–West New Guinea
• The Andalas 2000 Project – North Sumatra
• The Sriwijaya 2000 Project – Riau, Sumatera
• The Construction Project for House of Worship inthe rural areas
• The Provision of Bibles Project –in the triballanguage

2. Mengobrak-abrik, mengubah tafsir Kandungan Al-Qur’ân, Sunah & Hadist
Cara ini sangat ampuh digunakan oleh para missionaris dan evangelist (penginjil). Hatta, di negara Arab sendiri, yang nota-bene berbahasa Arab, mereka menggunakan cara ini. Kasus terakhir adalah apa yang dilakukan oleh Dr. Anis Shorrosh lewat Al-Qur’ân ‘palsunya’, The True Furqan (al-Furqân al-Haqq). Itu dari segi pembuatan Al-Qur’ân. 
Dari sisi yang lain, berbagai bentuk ‘penyelewengan’ ayat-ayat Al-Qur’ân dan penafsirannya banyak juga dilakukan oleh umat Kristen. Saat ini, termasuk di Indonesia, istilah-istilah Al-Qur’ân dan teologi Islam sudah mulai disinkronkan dengan istilah-istilah Kristen, seperti Kalimah Allâh (‘Firman Allah’), Rûh Allâh (‘Roh Allah’) , tajassud,dsb. 



Tetapi, tujuan mereka adalah untuk mendukung ketuhanan Yesus Kristus. Menurut mereka, Al-Qur’ân sendiri menyebut Kristus Kalimah Allâh, Firman Allah dan ‘Roh-Nya’ (rûhun minhu). Tentu saja itu benar. Tetapi, konsep Kalimah (Firman) dalam Islam, berbeda dengan konsep Kristen. Dalam Islam, Kristus tercipta lewat Kalimah (Firman) Allah, ‘kun’, untuk menggambarkan satukebesaran dan kekuasaan Allah. Juga, kata rûh dalam Islam, artinya: Yesus tercipta dari roh yang berasal dari Allah Swt. yang ditiupkan oleh malaikat Jibril ke dalam rahim Maryam.

Upaya merusak kandungan Al-Qur’ân memang sudah lama dilakukan. Sebelumnya sudah dikenal nama Hamran Ambrie. Lewat bukunya "Allah Sudah Pilih Saya" ia berusaha menyelewengkan penafsiran ayat-ayat Al-Qur’ân untuk mendukung dogma Kristen. Sebagai contoh, dalam bukunya tersebut, halaman 3 baris 9 dari atas mengatakan:
"Qul ya ahlal kitabi lastum ‘ala syai-in hatta tuqiemut taurate wal injil wa ma unzila ilaikum min rabbikum"
"Katakanlah! Hai Ahli Kitab, kamu tidak pada agama yang sebenarnya, kecuali apabila kamu turuti Turat dan Injil, dan apa yang diturunkan kepadamu daripada Tuhamu!"

Ayat ini, bukanlah untuk pertam kali itu saya baca, melainkan sudah ratusan kali. Tetapi pada kali terakhir itu, Allah telah membisikkan dalam roh –jiwa saya, bahwa yang dimaksud Taurat dan Injil dalam Qur'an itu, adalah Taurat-Injil yang ada terdapat dalam Alkitab atau Bibel sekarang.Proyek Amran Hambrie – setelah dia wafat – diteruskan kembali oleh para pengikutnya, seperti pendeta Rivai Burhanuddin dan yang lainnya. Pendeta Rivai Burhanuddin, dari gereja Advent dalam bukunya ‘Persahabatan Ummat Allah’ juga memutar balikkan ayat-ayat Al-Qur’ân.



Contohnya, dalam bukunya tersebut, halaman I, dia menyatakan:"......kitab Perjanjian Baru membuktikan kebenaran kitab Perjanjian Lama dan Quran membuktikan kebenaran kitab Perjanjian Lama dan kitab Perjanjian Baru itu."

Beberapa tahun terakhir juga muncul buku terjemahan Robert A. Morey yang mencoba mengacak-acak Al-Qur’ân. Lewat bukunya The Islamic Invasion (Islam Yang Dihujat), Morey menulis tentang ‘Al-Qur’ân dan Kekerasan’. Ia menyatakan:

"Jangan sampai ada yang heran jika mengetahui agama Islam tidak saja mengesahkan dan mengabsahkan tindak kekerasan akan tetapi justru dalam keadaan tertentu malah memerintahkan tindak kekerasaan. Di dalam Al-Quran, Qs 9:5 kaum muslimin diperintahkan sebagai berikut:

"Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu dimana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian. Jika mereka bertaubat dan mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." 

Dan apa yang harus dilakukan oleh kaum muslimin terhadap orang-orang yang menolak agama Islam?

Dalam Kebudayaan Barat, hukuman-hukuman seperti memotong tangan dankaki seseorang hanya gara-gara tidak mau menerima agama Islam, merupakan sesuatu yang tidak dapat dimengerti sama sekali.



Ungkapan Morey, menunjukkan kebodohannya tentang isi Al-Qur’ân"Surat at-Tawbah yang dikutipnya jelas tidak memiliki makna seperti yang diklaimnya. 

Begitu juga dengan surat al-Mâidah [5]: 33. Padahal, umat Islam memiliki buku-buku tafsir yang menjelaskan tentang ayat tersebut. Khusus ayat kedua, itu berkaitan dengan ayat tentang qatl al-murtadd (hukum bunuh bagi yang keluar dari agama Islam).

Dr. ‘ImâdAs-Sayyid asy-Syarbaeny menjelaskan bahwa ‘memerangi’ Allah dan Rasul-Nya itu dilakukan dengan dua cara: pertama, lewat tangan dan kedua, lewat lisan. Orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya ‘dengan lisan’ terkadang ditafsirkan sebagai orang yang memerangi dengan cara ‘memotong jalan’ –dalam merampas harat orang lain– ini dikuatkan oleh hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud di dalam Sunan-nya sebagai penafsiran dari sabda Nabi Saw.:

at-Târiku lidînihî al-mufâriq li al-jamâ‘ah."Analogi Morey sangat ‘jauh panggang daripada api’ jika diplintir sampai ke Barat. 

Di Barat Islam tidak memaksa masyarakatnya untuk memeluk agama Islam. Apa yang diinginkan oleh Morey adalah merusak citra Islam. Seolah-olah Islam itu agama ‘Barbar’, hobi membunuh dan menyiksa orang.


Hipnotis dan Penyembuhan.Modus operandi Kristenisasi lewat ‘hipnotis’ mungkin cara yang paling keji –di samping Germil dan pelaksanaan rutinitas ritual umat Islam –, yang dilakukan oleh para penginjil dan missionaris.

Ternyata, cara seperti ini telah dicanangkan sejak Konferensi Colorado, Amerika Serikat pada tahun 1987.Cara keji seperti ini ditujukan kepada para wanita Muslimah, agar mereka memeluk agama Kristen. Fenomena ini sekarang bukan hal yang aneh alias asing. Berbagai peristiwa menjadi bukti bahwa cara keji ini benar-benar dipraktekan secara nyata. 

Di Indonesia, tidak sedikit wanita Muslimah yang –tiba-tiba– kesurupan, sampai menyebut-nyebut nama ‘Yesus Kristus’.Padahal, itu merupakan kesengajaan yang dibuat oleh para Pendeta, Penginjil dan aktivis Kristenisasi untuk mengelabui umat Islam. Ketika itu terjadi, mereka menawarkan ‘terapi lewat nama Yesus’. "Jika dia ingin sembuh, dia harus menyebut nama Yesus, mengakui Yesus sebagai Tuhan." Karena, menurut para penginjil yang melakukan hal tersebut, Yesus mampu mengusir ‘roh jahat’. Padahal itu merupakan tipu muslihat mereka. Itu merupakan cara mereka, agar umat Islam mengakui ‘ketuhanan Kristus’.Fenomena yang lain, adalah apa yang dikenal dengan ‘Penyembuhan Atas Nama Yesus’. 
Fenomena ini sempat terjadi di beberapa daerah, seperti Jakarta dan Bandung. Pengaruh pengobatan dengan cara demikian ternyata memiliki pengaruh yang sangat besar sekali. 

Sehingga, menurut Dr. Sanihu Munir, apapun yang dikatakan oleh Pastor, Pendeta dan penginjil seakan-akan semuanya bisa terjadi. Kegiatan penyembuhan ini merupakan salah satu otoritas Gereja yang berusaha untuk tetap dipertahankan, walaupun lama-kelamaan kebohongannya terungkap, malah menjadi aib yang sangat memalukan bagi para Pastor. Akting mereka harusnya mendapat anugrah penghargaan aktor sandiwara sekelas Hollywood. 

Contoh yang paling memalukan seperti yang terungkap di salah satu Gereja di salah satu Kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Ternyata motif penyembuhan ini tidak hanya sekedar misi pembaptisan & kristenisasi semata, tetapi ternyata juga berkedok penipuan uang untuk meraup keuntungan. Para pasien sang Pastor yang sadar telah tertipu juataan rupiah tak kuasa menahan kemarahanya. Alhasil Pastor tersebut jadi bulan-bulanan dan sasaran amuk masa, sebelum akhirnya diamankan dikantor Polisi. Tak hanya melakukan penipuan & pemerasan, belakangan terungkap saat sesi penyembuhan, sang Pastor juga melakukan Pelecehan Seksual.


Tinjauan Dalam Penyembuhan atas nama Yesus:

1) Penemuan Bakteri, virus dan jamur serta senyawa kimia/fisik sebagai penyebab penyakit membuat orang sadar bahwa penyakit-penyakit seperti malaria, kusta, dan keracunan kimia bukan urusan para Pastor, Pendeta ataupun penginjil untuk disembuhkan atas nama Yesus. Apalagi orang-orang yang buta karena penyakit kusta atau lumpuh karena penyakit polio. Walaupun disebut-sebut nama Yesus 7 hari 7 malam, mereka yang buta tidak akan melihat dan orang yang lumpuh tersebut tidak akan dapat berjalan. Bidang ini merupakan otoritas para dokter, dimana para Pastor, Pendeta dan penginjil tidak punya peran. Namun bagi orang-orang yang masih berpikir primitif, yang masih percaya kepada tahayul, masih mudah terpengaruh propaganda mereka.

2) Para ahli kedokteran jiwa sejak lama sudah mengungkapkan adanya hubungan antara jiwa seseorang dengan fisiknya. Dalam ilmu kedokteran dikenal istilah Psychophysiologic Disorder, yang oleh James C. Coleman, James N. Butcher dan Robert C. Carson, dalam buku merekai "Abnormal Psychology and Modern Life, 1984, didefinisikan sebagai "physical disorder in which psychological factors play major causative role". (Penyakit fisik, dimana faktor-faktor kejiwaan berperan sebagai penyebab utamanya.Perananan kejiwaaan ini selanjutnya dijelaskan:"An emotional upset may lower resistance to physical disease...the overall life situatuion of an individual has much to do with the onset of a disorder, it forms, duration and prognosis"(Perasaan yang kalut dapat menurunkandaya tahan tubuh terhadap penyakit....situasi kehidupan seseorang secara keseluruhan sangat berkaitan erat dengan kejadian, jenis, lamanya maupun berkembangnya suatu penyakit).

Bagaimana langkah-langkah terjadinya penyakit fisik akibat gangguan psikologidiambarkan sebagai berikut:
a. Timbulnya kekalutan perasaan sebagai dampak dari situasi stres yang berlarut-larut;
b. Ketidakmampuan menanggulangi kekalutan perasaan ini;
c. Respon berbagai sistem orang tubuh terhadap gangguan perasaan yang berakibat rusaknya organ-organ tubuh tertentu, atau secara umum merobah dan melemahkan sistem pertahanan tubuh.Sudah dapat dipastikan bahwa penyakit kejiwaan seperti itu, tidak membutuhkan nama Yesus. 

Bahkan, penyakit seperti itu dapat disembuhkan sendiri oleh otaksi 
penderita berkata kesabaran hati dan kesediaannya bekerjasama untuk sembuh. Proses penyembuhan seperti ini dijelaskan oleh Mark R. Rosenzweig dan Arnold L. Leiman dalam buku mereka Physicological Psychology, halaman 6-7:"Various regins of the brain do indeed contain naturally produced chemical that are now called endorphine, short of"endogenous morphine". Such compounds can relieve pain and in some case the are more effective than morphine."(Di berbagai lokasi dalam otak ternyata mengandung zat kimia yang dihasilkan secara alami yang saat ini disebut endorphine, singkatan dari"endogenous morphine". Senyawa ini dapat menghilangkan rasa sakit dan dalam beberapa hal jauh leibh kuat dari morphin).Ternyata para Pendeta, Pastor dan penginjil itu menipu masyarakat untuk melancarkan misi mereka.Demikian pemaparan singkat seputar misi Kristenisasi ini, khususnya di Indonesia. Tentunya, pemaparan pemakalan masih sangat sederhana sekali. Sehingga masih membutuhkan tindak lanjut, agar lebih maksimal dan mendalam.

Arus Kristenisasi akan ‘semakin besar’ dan semakin membuat dakwah Islam di Tanah Air semakin berat. Bukan hanya Indonesia, dunia Islam secara keseluruhan sedangn menghadapi fenomena yang sama: Kristenisasi. Sebut saja, misalnya, Afrika, Sudan, Teluk (Gulf), dan yang lainnya.

Untuk membendung arus Kristenisasi ini ada beberapa cara yang harus dilakukan kaum muslimin adalah:

Pertama, memperdalam ilmu-ilmu keislaman, terutama Tauhid, Al-Qur’ân, ‘Ulûm Al-Qur’ân dan dan tafsirnya, hadits dan ‘Ulûm al-Hadîts, dan Sirah Nabawiyah. 

Kedua, mempelajari kristologi secara intens dan mendalam, meskipun ia bukan fardhu ‘ain. Karena tidak dapat dipungkiri, pengetahuan terhadap dogma dan doktrin agama lain –khususnya Yahudi-Kristen–, dapat memberikan nilai plus bagi keyakinan agama sendiri. Karena, kebobrokan dan ketidakbenaran agama Yahudi-Kristen, hanya dapat diungkap secara komprehensif lewat kristologi. Selain itu,mendalami Kristologi, berarti umat Islam telah ‘mewarisi’ khazanah keilmuan para da‘i dan ulama salaf kita.

Jika umat Muslim di Indonesia tidak membekali diri dengan Al Quran & hadist untuk menegakan Syariat Tauhid, maka tinggal tunggu tunggu saja tanggal mainya, bagaimana cara Paus Fransiskus akan menjalankan misi gereja kepada kaum Muslim di Indonesia.