Laman

Jumat, 30 November 2018

Yajuj dan Majuj - Gog and Magog


Mereka berkata; “Hai Dzulkarnain, sesungguhnya Ya-juj dan Ma-juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka ?”

QS. Al-Anbiya: 96 “Hingga apabila dibukakan (tembok) Ya-juj dan Ma-juj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi. Dan telah dekatlah kedatangan janji yang benar (Hari berbangkit), maka tiba-tiba terbelalaklah mata orang-orang yang kafir. (Mereka berkata); “Aduhai celakalah kami, sesungguhnya kami adalah dalam kelalaian tentang ini, bahkan kami adalah orang-orang yang zhalim.”


Dalam hadist shahih, diriwayatkan dari Zainab Binti Jahsh -isteri Nabi SAW, berkata;
Nabi SAW bangun dari tidurnya dengan wajah memerah, kemudian bersabda; “Tiada Tuhan selain Allah, celakalah bagi Arab dari kejahatan yang telah dekat pada hari kiamat, (yaitu) Telah dibukanya penutup Ya-juj dan Ma-juj seperti ini !” beliau melingkarkan jari tangannya. (Dalam riwayat lain tangannya membentuk isyarat 70 atau 90), Aku bertanya; “Ya Rasulullah SAW, apakah kita akan dihancurkan walaupun ada orang-orang shalih ?” Beliau menjawab; “Ya, Jika banyak kejelekan.” 
(HR. Ahmad, Al-Bukhari dan Muslim)


Yajuj dan Majuj adalah (akar kata dari bahasa Arab) berasal dari AJAJA AN-NAR artinya jilatan api. Atau dari AL-AJJAH (bercampur/sangat panas), al-Ajju (cepat bermusuhan), Al-Ijajah (air yang memancar keras) dengan wazan MAF’UL dan YAF’UL / FA’UL. Menurut Abu Hatim, Ma-juj berasal dari MAJA yaitu kekacauan. 

Ma-juj berasal dari Mu-juj yaitu Malaja. Namun, menurut pendapat yang shahih, Ya-juj dan Ma-juj bukan isim musytaq tapi merupakan isim ‘Ajam dan Laqab (julukan). Para ulama sepakat, bahwa Ya-juj dan Ma-juj termasuk spesies manusia atau keturunan Nabi Adam as.

Kerajaan Dzulkarnain a. s adalah pemerintahan adikuasa yang tak terkalahkan dengan teknologi yang tak terbatas (innaa makkanna lahuu fil ardi wa aataynahu min kulli shay’in sababaa, Al-Qur’an, Al-Kahfi, 18:84). 


Kerajaannya disebut At-Tababi’ah. Dijuluki Dzulkarnain (Pemilik dua tanduk), karena kekuasaannya yang sangat luas, mulai ujung tanduk matahari di Barat sampai Timur. Menurut Ibnu Abbas, ia adalah seorang raja yang shalih.


Dia mengalahkan semua bangsa yang ada saat itu, dari ujung Barat sampai ujung Timur, dimana ia menghargai mereka-mereka yang shaleh dan menghukum mereka-mereka yang menindas (tidak adil) dan tidak bermoral (Al-Qur’an, Al-Kahfi, 18:85-91). Ketika dia sampai di suatu tempat, di sebuah celah di barisan gunung tinggi yang membatasi dua wilayah bumi ( assaddain, Al-Qur’an, Al-Kahfi, 18:93), penduduk di daerah itu meminta dia untuk menolong mereka.

“Mereka berkata, ‘Wahai Dzulkarnain, [bangsa] Ya’juj dan Ma’juj adalah pelaku kerusakan di bumi [atau pelaku perusakan global, mufsiduuna fil ard ]. Apakah kami harus menetapkan pajak untuk kamu agar kamu merubah ( taj’ala ) apa yang kini berada diantara kami dan mereka [barisan gunung tinggi , assaddain , yang memiliki celah diantara keduanya, sehingga tidak menjadikan barisan gunung itu satu kesatuan penghalang] menjadi sebuah penghalang [ saddan, satu penghalang tanpa celah]?”
(Al-Qur’an, Al-Kahfi, 18:94)


Al-Radm: penghalang Ya’juj dan Ma’juj yang terdiri dari barisan gunung dan celah diantaranya yang ditambal oleh Dzulkarnain

Dzulkarnain a. s tidak menyerang Ya’juj dan Ma’juj dan menaklukan mereka seperti apa yang ia lakukan terhadap para penindas lainnya yang telah ia taklukan. Tetapi, dia tidak melakukannya dan menyetujui permintaan untuk merubah barisan gunung itu menjadi penghalang untuk Ya’juj dan Ma’juj dengan menambal celah yang terdapat di barisan gunung itu (Al-Qur’an, Al-Kahfi, 18:95). Ini berarti bahwa Dzulkarnain a. s mengetahui bahwa Ya’juj dan Ma’juj tidak dapat dikalahkan oleh manusia, walaupun oleh dirinya sendiri sebagai adikuasa dunia yang memiliki teknologi unggul yang tak terbatas. Ini juga berarti bahwa Ya’juj dan Ma’juj memiliki kapasitas dan kemampuan untuk menjadi satu-satunya penguasa dunia di kemudian hari.

Zulkarnain memenuhi permintaan penduduk setempat untuk membuatkan tembok pembatas. Dia meminta bijih besi dicurahkan ke lembah antara dua bukit. Lalu minta api dinyalakan sampai besi mencair. Maka jadilah tembok logam yang licin tidak bisa dipanjat.


Dzulkarnain mengambil jalan yang lain kemudian beliau mendapati dua buah pegunungan. Maka pegunungan yang terletak antara laut hitam dan laut kaspia hanya ada pegunungan Kaukasus. Dan beliau mendapati sebuah kaum yang bahasanya susah dimengerti oleh bangsa lain. Maka kaum yang ada dibalik pegunungan itu dan susah dimengerti pembicaraanya adalah bangsa georgia. Kemudian bangsa ini meminta tolong kepada Dzulkarnain.



Ya’juj dan Ma’juj hanya dapat bergerak keluar dari lingkungan mereka melalui celah yang berada diantara dua barisan gunung yang tinggi dan berbentuk seperti tembok penghalang (assaddain , Al-Qur’an, Al-Kahfi 18:93) dan menyerang tetangga mereka yang terletak di bagian lain dari dua barisan gunung penghalang itu.



Masyarakat yang menjadi korban ya’juj dan Ma’juj meminta Dhul Qarnain untuk merubah (taj’ala ) celah memisahkan mereka dengan Ya’juj dan Ma’juj (baynana wa baynahum , barisan gunung yang memiliki celah sebagai jalan tembus) menjadi sebuah penghalang ( saddan , Al-Qur’an, Al-Kahfi, 18:94). Dia menjawab: “a j’al baynakum wa baynahum radman,” saya akan menambal celah diantara kalian dan mereka (Al-Qur’an, Al-Kahfi, 18:95). Dzulkarnain a.s menutup celah di barisan pegunungan itu dengan besi yang dipanaskan dan dicairkan yang kemudian sesudah mengering dilapisi dengan perunggu yang dipanaskan dan dicairkan. 

Penghalang bagi Yajuj dan Majuj terdiri dari barisan gunung dan tambalan celah yang dibuat oleh Dzulkarnain a. s ( Al-Radm ).


Tata bahasa yang keliru telah mengakibatkan banyak ulama dan peneliti mengambil kesimpulan yang salah. Jika seseorang menggunakan sepatu yang ada tambalannya, kita mengatakan bahwa dia memakai radman (sesuatu yang ditambal). Karena kalimat, “aj’al baynakum wa baynahum radman” (apa-apa yang berada diantara kalian dengan mereka menjadi sesuatu yang ditambal), akan sangat keliru jika kita menganggap radman adalah tambalannya saja.

Lokasi Keluarnya Ya’juj dan Ma’juj

Berdasarkan ta’wil dari Al-Quran, Surah Al Kahfi, 18:93-97, letak geografi lokasi dari radman ini. Barisan gunung bercelah itu terletak dibagian Timur dan Barat,  Pegunungan Kaukasus , yang dipisahkan oleh celah sempit yang disebut Daryal Gorge . Barisan Pegunungan Kaukasus membentang dari Laut Hitam di Barat dan Laut Kaspia di Timur.



Allah menjanjikan kepada setiap Nabi yang diutusNya bahwa Nabi yang terakhir diutusNya akan membawa Hukum terakhir (Al-Qur’an). Di dalam Taurat, hal ini disebut sebagai, ‘Janji Allah’ . Janji Allah yang disebutkan oleh Dzulkarnain a. s adalah Dar Al-Islam. Sebelum era kerasulan Nabi Muhammad SAW, telah tercipta lubang besar – sebuah celah lebar terbentuk akibat dari merosotnya ujung pegunungan itu ke dalam Laut Kaspia.

Beberapa dekade sebelum lahirnya Nabi terakhir, yaitu Muhammad (s.a.w), sekitar 550 Masehi, ujung dari Pegunungan Kaukasus, yaitu di bagian Timur, merosot ke dalam Laut Kaspia sehingga terjadilah celah besar di sana. Yajuj dan Majuj menggunakan celah ini untuk menyerang Persia sebelum Islam. Khalifah Umar bin Khattab (r. a) melancarkan invasi militer terhadap Ya’juj dan Ma’juj melalui celah ini juga.



Para arkeolog menemukan benteng tersebut pada awal abad ke-15 M, di belakang Jeihun dalam ekspedisi Balkh dan disebut sebagai “Babul Hadid” (Pintu Besi) di dekat Tarmidz. Timurleng pernah melewatinya, juga Syah Rukh dan ilmuwan German Slade Verger. Arkeolog Spanyol Klapigeo pada tahun 1403 H.

Konfirmasi dari ‘Janji Allah’ adalah Islam terdapat di banyak Hadist, dimana disebutkan bahwa Islam dan khususnya Bangsa Arab akan menjadi target ( wailun lil ‘arab ) karena telah tercipta celah di radm (penghalang bertambal). Yang membuat takut Rasulullah (s. a. w) adalah besarnya lubang ini.

“Dan pada saat itu [ketika penghalang terbuka], Kami akan membuat mereka (Yajuj Majuj), bertabrakan satu sama lain seperti ombak di lautan ( wa taraknaa ba’dahum yawma idhin yamuuju fii ba’d , Al-Qur’an, Al-Kahfi, 18:99).

Dalam ayat lain, Ya’juj dan Ma’juj dijelaskan, “keluar dari segala bukit/ ketinggian’ (min kulli hadabin yansiluun , Al-Qur’an, Al-Anbiya, 21:96). Penggunaan kata bukit (hadabin ) dalam kontek ini sangat pas sekali dengan makna dari dakkaa’ = reruntuhan bukit.

Celah besar di pinggir laut ini terus membuat tambalan Dzulkarnain a. s, menjadi semakin rapuh. Tambalan ini akhirnya runtuh di kemudian hari dan celah sempit Daryal Gorge akhirnya terbuka. Ya’juj dan Ma’juj telah lepas untuk melakukan kehancuran dan kejahatan massal kepada umat manusia di akhir zaman ini.

Era (waktu) Yajuj dan Majuj

Ketika Allah menyatakan, “dan pada hari itu, Kami akan membuat mereka bertabrakan satu sama lain seperti ombak di lautan ( wa taraknaa ba’dahum yawma idhin wamuuju fii ba’ad, Al-Qur’an, Al-Kahfi, 18:99), apa yang dimaksud Allah sebagai “hari itu”?

Satu ‘hari’ ( yaum) dari waktu Allah-Hari Ilahiah-bukanlah 24 jam, namun sebuah masa yang berlalu selama seribu tahun kalender bulan atau lebih. Hari-hari suci memiliki tempo yang berbeda-beda, namun dalam pengertian umum, satu hari suci berlangsung 1000 tahun kalender bulan, satu millenium (wa inna yauman ‘inda rabbika ka alfi sanatin mimmaa ta’udduun , Al-Qur’an, Al-Hajj, 22:47).

Klasifikasi hari-hari suci. Al-Qur’an sendiri mengklasifikasikan dalam 3 hari suci, yaitu:

1. Hari suci yang berlangsung selama 50.000 tahun kalender bulan dimana malaikat-malaikat naik ke hadapan Allah (Al-Qur’an, Al-Ma’aarij, 70:4). Surah Al-Ma’aarij menjelaskan apa yang terjadi di masa yang lama ini. Diantaranya adalah, orang-orang mereka bangkitkan dan mereka masukkan ke dalam neraka. Beberapa Mufassirun menyebutnya sebagai Yaumul Qiyamah , atau Hari Pembangkitan.

2. Siklus manajemen suci yang terdiri dari dua hari suci: sebuah manajemen millenium dimana Allah mengatur dan menjalankan perintahNya, dari tempatNya ke bumi, yang diikuti dengan
akuntansi millenium dimana malaikat-malaikat menghadapNya untuk melaporkan mengenai perintah-perintah yang telah mereka jalankan sehingga manusia dapat dinilai dengan benar (yudabbiru al-amra minas samaa’I ilal ardi thumma ya’ruju ilayhi fii yaumin kaana migdaruhu alfa sanatin mimmaa ta’udduun , Al-Qur’an, As-Sadjah, 32:5).

Dengan diutusnya Sang Nabi & Rasul terakhir; Nabi Muhammad SAW, serta dan dilepaskannya Ya’juj dan Ma’juj ke dunia (sekitar 550 SM), keduanya terjadi di terbitnya satu hari suci. Dengan demikian, dapat diartikan sebagai satu manajemen millenium. Maka, millenium ini telah berakhir lima abad yang lalu dan saat ini kita berada di masa perhitungan/akuntansi millenium yang selalu mengikuti setiap manajemen millenium. 



Manajemen millenium telah di mulai 1.460 tahun kalender matahari atau 1.505 tahun kalender bulan yang lalu. Hanya Allah yang tahu kapan ‘jam terakhir ’ (tahun-tahun akhir) akan datang. Mungkin pada saat perhitungan millenium, mungkin juga setelahnya.

Sejak dilepaskan seperti ombak di lautan 1.500 tahun yang lalu, Ya’juj dan Ma’juj berbaur dengan manusia hingga kini. Umat manusia saat ini ada yang mengadosi cara hidup mereka atau sekedar mengikuti mereka seperti hanyut di ombak yang deras. 



Saat ini sangatlah sulit untuk mengetahui siapa yang menjadi Ya’juj dan Ma’juj asli atau siapa yang sudah bergabung dengan mereka. Inilah dasar dari Hadist 999 dari setiap 1000 manusia di neraka adalah golongannya Ya’juj dan Ma’juj.

Bukhari meriwayatkan dari Abu Sa’id bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Allah subhanahu wa ta’ala akan berfirman kepada Adam, ‘Wahai Adam!” Adam menjawab, ‘Aku mendengar panggilan-Mu, aku patuh kepada perintah-perintah-Mu, dan semua kebaikan ada di tangan-Mu.’ Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan Adam ‘Sisihkan para penghuni neraka?’ Adam bertanya, ‘Berapa banyaknya para penghuni neraka?’ Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, ‘Dari setiap 1.000 orang, ambil 999 orang.’ Pada saat itu, rambut anak-anak berubah menjadi uban dan setiap wanita hamil akan keguguran secara spontan, dan engkau akan melihat orang-orang seolah-olah mabuk padahal mereka tidak mabuk, tetapi azab Allah sangat pedih.” Ucapan ini sanat menyedihkan para Sahabat, dan mereka berkata, “Ya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam, siapa di antara kita yang akan menjadi yang seorang (di antara seribu) itu?” Beliau bersabda, “Bergembiralah, yang seribu orang itu adalah dari Ya’juj dan Ma’juj, sedangkan yang satu orang itu dari kalian.” Kemudian beliau bersabda, “Demi Yang jiwaku berada di tangan-Nya, aku berharap agar jumlah kamu adalah sepertiga dari penduduk surga.” Para Sahabat memuji dan mengagungkan allah subhanahu wa ta’ala. Kemudian beliau bersabda, “Demi Yang jiwaku berada di tangan-Nya, aku berharap seperdua penduduk surga adalah kalian, karena kalian dibanding umat-umat lain adalah seperti sehelai bulu putih di tengah-tengah bulu hitam seekor banteng, atau seperti bulatan tanpa bulu di kaki depan seekor keledai.

Mereka (Yajuj dan Majuj) sekarang adalah adikuasa di bumi. Adikuasa ini dibalik penampilannya adalah peradaban yang zalim (qaryatin zaalimatin ), dan seperti peradaban yang zalim lainnya, akan dihancurkan menjelang datangnya jam ‘j’ atau tahun-tahun mendekati peralihan manajemen millenium (Al-hajj, 22:45-48).

Dalam bahasa Arab Ya’juuj wa Ma’juuj. Kata-kata ini adalah bentuk aktif dan pasif dari akar kata “ hamza jiim jiim ” (suara dari “a j j”). Satu-satunya kontek yang sama di dalam Al-Qur’an yang sesuai dengan akar kata ini, adalah penggunaan kata ujaaj yang berarti rasa dari asinnya air yang terbakar. Sehingga Yajuj dan Majuj adalah mereka yang membakar yang lainnya ( Ya’juuj ) dan mereka sendiri terbakar ( Ma’juuj ).

Mengapa Allah mengutuk Ya’juj dan Ma’juj dan juga seluruh umat manusia yang mengikuti gaya hidup mereka-yaitu untuk terbakar di neraka? Bagaimana seseorang mengenali gaya hidup Yajuj dan Majuj?

Ya’juj dan Ma’juj digambarkan sebagai mufsidun fil ard (Qur’an, Al-Kahfi 18:94). Bisa dikatakan mereka para pelaku atau pembuat Fasad (kerusakan) di muka Bumi. Mufsidun adalah kata jamak dari bentuk pelaku aktif, mufsid . Ini berarti “kaum yang secara kolektif melakukan sesuatu.” 



Dalam konteks ini, berarti kaum yang memiliki profesi atau gaya hidup kolektif yang menyebabkan kerusakan jenis tertentu yang disebut fasad. Kedua istilah itu, fasad dan mufsidun, berasal dari akar kata “fa sin dal ” (bunyinya “f s d”).

Jadi, fasad itu kerusakan jenis apa?

Allah menggunakan istilah-istilah yang berasal dari akar ini (yufsiduna, yufsidu, yufsida, tufsidu, al-mufsidin, dan lain sebagainya) dalam banyak ayat Al- Qur’an bersama dengan jenis perilaku tertentu. Di bawah ini adalah beberapa contoh ayat yang menggunakan rumus fasad. Tolong perhatikan bahwa kata kerja bentuk jamak menunjukkan aktivitas sosial atau kolektif. Juga, sandangan al dan struktur tata bahasa tertentu menunjukkan bentuk komprehensif atau totalitas. Ini mirip dengan “semuanya” atau “seluruhnya.”

Fasad Akidah.

Pelanggaran dengan terang-terangan seluruh Perjanjian Tuhan oleh suatu kaum yang telah bersungguh-sungguh melaksanakan perjanjian itu (yanquduna ‘ahda Allaahi min ba’di mitsaaqihi . . . wayufsiduna fil ard , Qur’an, al-Baqarah 2:27). 



Ketika suatu sekte yang memiliki disiplin ketat atau agama ortodoks secara sistematis melanggar hukum dalam kitab suci mereka sendiri, ini disebut fasad. Perilaku ini menghancurkan kehidupan Akhirat kaum tersebut.

Fasad ekonomi. 

Suatu sistem perdagangan yang membolehkan pihak yang kuat dapat membayar orang-orang pekerja di bawah harga yang pantas atau menolak hak-hak mereka (fa awful kayla wal mizaana wa la tabkhasu an- naasa ashya’ahum wa la tufsidu fil ardi ba’da islaahiha , Qur’an, al-A’raaf 7:85).


Fasad genosida. 

Pembunuhan massal (yufsidu fiha wa yasfikud-dimaa’ , secara harfiah berarti, “menumpahkan seluruh darah,” Qur’an, al-Baqarah 2:30).



Fasad hubungan keluarga. 

Pemisahan secara sistematis seluruh hubungan keluarga (yaqta’una ma amara Allahu bihi an yusala wa yufsiduna fil ard , Qur’an, al-Baqarah 2:27)



Ini berarti memisahkan istri dari suami, anak dari orang tua, saudara dari saudara lainnya, dan sebagainya.

Fasad pertanian. 

Perusakan atau peracunan sistematis seluruh hasil panen (li yufsida fiha wa yuhlika al-harts , Qur’an, al-Baqarah 2:205). 



Ini termasuk, misalnya, merusak seluruh sistem pertanian atau rekayasa genetik dan memasukkan racun ke dalam benih.

Fasad kepada keturunan (nasl).

Perusakan sistematis seluruh reproduksi manusia atau pembunuhan massal seluruh anak (li yufsida fiha . . . wa yuhlika . . . an-nasl , Qur’an, al-Baqarah 2:205).




Fasad Sexual.

Fasad lesbian, gay, bisexual, transgender dan sebagainya. Penerimaan praktik penyimpangan sexual secara sosial ( ta’tuna ar-rijaala . . . al-mufsidin , Qur’an, al-‘Ankabut 29:29-30). 



Ini mencapai puncak dengan “pernikahan gay” dan meruntuhkan sistem pernikahan yang sebenarnya.

Maka, Fasad berarti perusakan kehidupan manusia secara sengaja dan sistematis dengan pembunuhan massal atau dengan perusakan kunci unsur kehidupan, termasuk kehidupan akhirat .

Ya’juj dan Ma’juj disebut mufsidun , namun tidak ditentukan jenis fasad secara khusus. Maka, mereka adalah suatu kaum dengan profesi atau gaya hidup kolektif menciptakan dan mempraktikkan semua jenis fasad . Mereka sungguh mendapat murka Allah dan layak dibakar di dalam Neraka. Mereka adalah jenis masyarakat yang disebut sebagai almaghdubi ‘alayhim (orang-orang yang mendapat murka Allah) dalam surat al-Fatiha.

Siapa Yang Beraliansi Dengan Yajuj dan Majuj 

Pada permulaan Al-Qur’an Surat al-Baqarah, Allah melukiskan sekelompok masyarakat yang secara kolektif melakukan fasad. Dia menggambarkan pernyataan misi palsu, keyakinan aneh, modus operandi, struktur organisasi, dan Dia bahkan menamakan dalang rahasia mereka. Pada akhirnya, ayat-ayat ini menggambarkan Ya’juj dan Ma’juj dan kelompok fasad lain yang bekerja untuk mereka.

Baca juga: Peran Arab Saudi dan Turki dibalik Berdirinya Negara Zionis Israel

Front agama palsu. 
Kelompok ini dengan tipu daya berpura-pura beriman kepada Allah dan Hari Akhir (wa minan naasi man yaqoolu aamanna billahi wa bilyawmil aakhiri wamahum bi mu’minin, yukhaadi’una Allaha walladzina aamanu . . . Qur’an, al-Baqarah, 2:8-9, 14).


Fanatisme yang tidak biasa. Kelompok ini terlalu sombong untuk berbagi keimanan dengan orang-orang biasa yang mereka anggap “bodoh” (wa idza qila lahum aaminu kamaa aamanan naasu qaalu anu’minu kamaa aamanas sufahaa’ , Qur’an, al-Baqarah 2:13).

Gangguan secara mental. 

Anggota kelompok ini memiliki penyakit mental dan spiritual (penyakit hati) yang dibuat Allah menjadi lebih parah (fi qulubihim maradun fazaadahumu Allahu maradaa , Qur’an, al-Baqarah 2:10). 



Ini mungkin termasuk logika bengkok, ritual-ritual aneh, dan perilaku seksual yang tidak wajar.

Pernyataan misi positif. 

Kelompok ini dengan sesat mengklaim memiliki misi positif, konstruktif untuk masyarakat (wa idzaa qila lahum la tufsiduna fil ardi qaalu innamaa nahnu muslihun . . . Qur’an, al-Baqarah 2:11-12).



Pertemuan-pertemuan rahasia, konspirasi. 

Pemimpin-pemimpin kelompok ini secara rutin mengadakan pertemuan rahasia dengan pimpinan atas untuk memperbarui aliansi dan membahas berbagai kegiatan.



(wa idza khalaw ilaa shayaatinihim qaalu innaa ma’akum . . . Qur’an, al-Baqarah 2:14, lihat juga 2:76 dan Ali ‘Imraan 3:119-120).

Pimpinan atas mereka adalah “para setan”. Pemimpin-pemimpin kelompok melapor kepada pimpinan atas yang diidentifikasi sebagai para setan (wa idza khalaw ilaa shayaatinihim . . . Qur’an, al-Baqarah, 2:14). 



Ini adalah penyebutan pertama istilah “setan” dalam Al-Qur’an. Hal itu terjadi dalam bentuk jamak. Dalam dua bagian selanjutnya, saya akan membahas siapa para setan ini dan bagaimana mereka merekrut, memotivasi, dan memimpin kelompok-kelompok fasad yang bekerja untuk Ya’juj dan Ma’juj.

Selain Setan (Iblis, leluhur bangsa jin), penipu hebat ( al-gharur ), Allah menunjuk para setan dari bangsa manusia dan jin sebagai dalang yang menentang para nabi (wa laqad ja’alnaa likulli nabiyyin ‘aduw-wan shayatina al-insi wal- jinn , Qur’an, al-An’am 6:112). 



Para setan ini menginspirasi (yuhi , berbicara secara rahasia atau secara tidak langsung) satu sama lain dengan bahasa emas ( zukhrufal qawli ) yang digunakan sebagai alat penipuan (ghurura). Hati dan pikiran (qulub) orang-orang yang tidak beriman kepada Akhirat (al-aakhirah) akan mendengarkan bahasa tersebut, menerimanya, dan sebagai akibatnya melakukan dosa apapun yang mereka lakukan (Qur’an, al-An’aam 6:113).

Siapa Pelaku Fasad ?


Pimpinan atas Ya’juj dan Ma’juj dan kelompok-kelompok aliansi fasad berasal dari Sebagian Bani Israel Dalam deskripsi lain pertemuan-pertemuan rahasia kelompok fasad, para pemimpin kelompok dan pimpinan atas (para setan) diidentifikasi milik kelompok yang sama (“saat mereka mengadakan pertemuan rahasia dengan satu sama lain,” wa idzaa khalaa ba’duhum ilaa ba’d qaalu atuhadditsunahum bimaa fataha Allahu alaikum . . . Qur’an, al-Baqarah 2:76).



Konteks di sini adalah suatu kelompok yang berkonspirasi menolak Islam meskipun Taurat mendeskripsikan dengan tepat tentang nabinya. Kelompok ini diidentifikasi sebagai Bani Israel yang perilaku fasad nya tidak berubah sepanjang zaman (Qur’an, al-Baqarah 2:40-73) dan tidak akan berubah hingga masa yang akan datang (hati telah manjadi batu, tidak akan pernah beriman kepada Qur’an, al-Baqarah 2:74-75). 

Perilaku konspirasi mereka dicirikan dengan insiden sapi (Qur’an, al-Baqarah 2:67-73): Allah memerintah mereka untuk menyembelih seekor sapi lalu memukul tubuh korban dengan bagian sapi yang telah disembelih itu. Sang korban kembali hidup untuk sementara waktu lalu menyebutkan para pembunuhnya ( qataltum nafsan, kalian [bentuk jamak] telah membunuh seseorang). Seluruh masyarakat Bani Israel telah berkonspirasi untuk menutupi siapa pelaku pembunuhan itu ( wallahu mukhrijun ma kuntum taktumun , dan Allah akan mengungkap apa yang kalian [bentuk jamak] tutupi).


Dalam Al-Qur’an, Bani Israel ( Bani Israil) pun disebut sebagai umat Yahudi ( al-yahud ) atau Ahli Kitab ( ahl al-kitab ). Istilah terakhir ini pun berlaku untuk umat Kristen. Kadang-kadang konteks Al-Qur’an menentukan umat mana yang dimaksud, namun kadang-kadang istilah itu dimaksudkan untuk kedua umat. 

Allah pun memberitahu kita bahwa “sekelompok di antara Ahli Kitab” (konteks di sini berarti bahwa kelmpok ini adalah seluruh umat yahudi atau sekelompok di antara mereka) meninggalkan Taurat dan sebagai gantinya menganut lantunan-lantunan para setan dari bangsa jin (ma tatlu ash-shayaatin , Qur’an, al-Baqarah 2:101-102). Lantunan-lantunan ini mungkin dimasukkan ke dalam kitab Talmud, salah satu kitab suci Yahudi.


Lebih dari itu, Allah memberitahu kita bahwa seluruh umat Yahudi (al-yahud) secara kolektif bekerja keras (yas’awna , bentuk jamak) untuk menciptakan fasad (wa yas’awna fil ardi fasadan, Qur’an, al-Ma’idah 5:64). Ini termasuk fasad religius dan semua jenis fasad lainnya. Ahli Kitab yang saleh (orang-orang yahudi yang saleh), sebagai pengecualian dalam ayat ini, adalah orang-orang yang menerima Al-Qur’an (Ali ‘Imran 3:113-115).

Yajuj dan Majuj membawa Bani Israel kembali ke "Tanah Yang Dijanjikan" yaitu Tanah Suci Jerusalem.



Di dalam Surah Al-Anbiya, ayat 21:95-97, Allah SWT menyebutkan sebuah kota yang berhubungan dengan Yajuj dan Majuj.

"Sesungguhnya tidak mungkin atas (penduduk) suatu negeri yang telah Kami binasakan bahwa mereka tidak akan kembali (kepada Kami). Hingga apabila dibukakan (tembok) Ya-juj dan Ma-juj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi. Dan telah dekatlah kedatangan janji yang benar (hari berbangkit), maka tiba-tiba terbelalaklah mata orang-orang yang kafir. (Mereka berkata), "Aduhai, celakalah kami. Sesungguhnya kami adalah dalam kelalaian tentang ini, bahkan kami adalah orang-orang yang zalim." (QS Al-Anbiya, ayat 21:95-97)


Kota itu telah dihancurkan dimana Al-Qur’an menyatakan bahwa penduduk kota itu dilarang kembali ke kota itu sampai syarat-syarat berikut ini terpenuhi:

1. Ya’juj dan Ma’juj telah dilepaskan ke bumi.
2. Ya’juj dan Ma’juj telah menyebar ke seantero bumi. “ Min kulli hadabin yansiluun ”

Ya’juj dan Ma’juj telah beranak pinak dengan keturunan setiap keluarga bangsawan, raja-raja, atau elit penguasa di muka bumi. Mereka telah menyusup ke dalam setiap organisasi (hadab = struktur yang ditinggikan, organisasi). Mereka turun dengan cepat dari setiap ketinggian atau bukit, konteks ini berarti (melakukan serangan atau melakukan peperangan di semua penjuru bumi).



Jelas bahwa Ya’juj dan Ma’juj telah membantu orang-orang dari kota yang telah dihancurkan itu untuk kembali ke kota itu lagi. Bani Israel telah kembali ke Jerusalem dimana dahulu kala mereka telah terusir dari Jerusalem, ketika kota itu dihancurkan, dan mereka dikejar-kejar di seluruh penjuru bumi. Ini menjelaskan mengapa Negara Yahudi Israel diciptakan dan kenyataan bahwa Banu Israel dipaksa untuk kembali ke Jerusalem. Mereka yang telah berkonspirasi membawa kembali Banu Israel ke Jerusalem adalah Yajuj dan Majuj.



Ketika Yajuj dan Majuj telah berhasil mewujudkan semua tujuannya, maka, Janji Kebenaran (Al-Wa’ad Al-Haqq , atau jam ‘j’, hari pembalasan) telah dekat. Ini berarti kembalinya sang Mesiah (Al Masih) Yesus atau Isa (as) untuk yang kedua kalinya setelah Bani Israel menolak & mencapkakannya, bahkan direncanakan untuk disali Maka jika saat hari pembalasan itu tiba, mereka yang tidak beriman pada misi & risalah Yesus atau Isa (as) akan menatap dia dengan mata terbuka lebar pada kebenaran ( shaakhisatun absaarul ladhiina kafaruu) dan menyadari bahwa sudah terlambat bagi mereka untuk menghindari murka Allah.



Allah telah menyatakan bahwa Bani Israel akan menguasai bumi (seperti era emas Kekalifahan Nabi Daud as & putranya Nabi Sulaiman as) sebanyak dua kali. Namun Allah sebanyak dua kali pula mengatakan bahwa Bani Israil melakukan fasaad (Al-Qur’an, Al-Isra, 17:4-8). 


Saat pertama kali mereka berkuasa telah lama terjadi (wa kaana wa’dan maf’uula : dan ini adalah sebuah nubuah yang sudah dilaksanakan). Tak lama lagi, kita akan menyaksikan Bani Israel menjadi penguasa bumi untuk yang kedua kalinya (kalimat “wa’dul aakhirati” di dalam ayat ini berarti “pemenuhan janji yang terakhir [naik menuju kekuasaan]”). 

Seperti dinubuahkan ayat berikutnya ketika ‘naik menjadi penguasa’ untuk yang kedua kalinya terjadi, Banu Israel akan dibawa ke Jerusalem dari berbagai negara oleh ‘pihak lain’ (fa idhaa jaa’a wa’dul aakhirati ji’naa bikum lafiifa , Al-Qur’an, Al-Israa, 17:104).

Al Masih Ad-Dajjal (Messiah Palsu) Memimpin Yajuj dan Majuj 

Dalam pembahasan sebelumnya, pemimpin dari Yajuj dan Majuj pasti berasal dari golongan Banu Israel yang berkitab buatan setan dari golongan jin. Salah satu dari mereka pastinya menjabat sebagai pemimpin yang tertinggi. 

Baca juga: Al Masih Ad-Dajjal (Al-Masih Palsu/Anti Kristus)

Hadits mengkonfirmasi hal ini dan merujuk pada personifikasi Yahudi yang dikenal sebagai Al-Masih (Mesiah) Ad-Dajjal (Pembohong, Peniru, Mengaku-aku) atau Mesiah Palsu (mereka menolak Mesiah yang asli yaitu Yesus atau Isa alaihissalaam). 



Rasulullah (saw) menemukan dan mengidentifikasi dia sebagai Ibn Sayyad, seorang pemuda Yahudi yang bermukim di Medinah. Hadith juga memberitahu kita bahwa Dajjal saat itu juga berada di tempat lain, yaitu di sebuah pulau tertentu. Menjadi jelas bahwa Dajjal tampil dalam berbagai bentuk, tahapan dan berbagai dimensi waktu.

Yajuj dan Majuj sudah menyusup Kedalam Islam


Berdasarkan penjelasan di Al-Qur’an mengenai karateristik dan struktur dari kelompok-kelompok pelaku fasaad, Ibn Mas’ud (ra), sahabat Rasulullah (saw) mengatakan bahwa golongan-golongan Islam yang muncul pada masa beliau sebagai “Yahudinya Islam”. 


Yang beliau maksud adalah bahwa karateristik yang ditunjukkan oleh golongan-golongan Islam itu menyerupai dan sama persis dengan karateristik-karteristik kelompok-kelompok pelaku fasaad dari Banu Israil. Hadist memberitahu kita bahwa semua golongan-golongan Islam itu akan masuk neraka. Hanya mereka yang berpegang teguh pada Al-Qur’an dan As-Sunnah yang akan selamat.

Wajar jika golongan-golongan sub (aliran) Islam ini bersekutu dengan golongan yang memiliki kekuatan dan kekuasaan tertinggi, yaitu kawanan Yajuj dan Majuj. 

Mungkin inilah alasan mengapa Allah melarang Muslim untuk berteman dan bersekutu dengan Yahudi dan Nasrani. Allah memperingatkan bahwa mereka itu teman dan sekutu satu sama lain ( ba’duhum awliyaa’u ba’d , AL-Qur’an, Al-Maidah, 5:51).

Implikasi (konsekuensi)


Terdapat berbagai implikasi  dari munculnya Yajuj dan Majuj terhadap dunia Islam, seperti onsekuensi politik, ekonomi, dan sosial. Integritas Muslim sebagai kesatuan ummah dan jamaahnya Muhammad (saw), sudah lama dihancurkan. Kalifah Islam (pemerintahan pusat) tidak dapat didirikan kembali selama Yajuj dan Majuj memegang kekuasaan penuh di muka bumi. Surah As-Saff, 61:1-14, menjelaskan sejarah bumi dan peristiwa-peristiwa di masa yang akan datang. 

Mereka, yaitu bagian dari Bani Israil, yang telah melawan Musa (as) dan Isa (as) akan berusaha dan bersusah payah untuk memadamkan cahaya Allah. Mereka menawarkan Mesiah Palsu sebagai pengganti Isa (as). Pasukan Yajuj dan Majuj mereka telah menguasai seluruh kolong jagat. Namun Imam Al-mahdi (as) akan memulai perlawanan pertama, dan Isa (as) yang akan mengakhirinya. Kemudian dia akan memerintah bumi dari Jerusalem berdasarkan Islam.


Lepasnya Ya'juj dan Ma'juj dari tempat persembunyian mereka merupakan salah satu tanda semakin dekat- nya hari kiamat. Ketika mereka menguasai dunia, tidak ada yang sanggup menghentikan mereka, termasuk kaum Muslimin yang pada saat itu hidup bersama Nabi Isa as.

Mahkluk bumi terkuat bukanlah Al Masih Ad Dajjal. tetapi Ya’juj dan Ma’juj


Meskipun Dajjal mampu menyuruh langit, dan langitpun menurunkan hujan. Dan menyuruh bumi, lalu bumi menumbuhkan tanaman. Dan memerintahkan bumi yang kering, tandus dan hancur, lalu berkata kepadanya : ’Keluarkan simpananmu!’ Lalu keluarlah harta simpanan (tanah tersebut) seperti ratu-ratu lebah. Dan yang lebih dasyat lagi, Dajjal mampu menghidupkan seorang pemuda yang sebelumnya dia sembelih dengan pedang dan memotongnya menjadi dua seukuran tombak.



Tetapi ajal sang Dajjal akan berada di tangan Nabi Isa Al Masih. Itulah sebabnya jika dua Al Masih berkumpul, maka salah satu Al Masih pasti akan binasa.

Baca juga: Penaklukan Konstantinopel Belum Terjadi

Berbeda dengan Al Masih Ad Dajjal, Ya’juj dan Ma’juj adalah mahluk yang begitu kuat, digdaya dan amat sombong. Tak ada satupun mahkluk di bumi yang akan mempu mengalahkan mereka.
Tidak ada wilayah yang mereka lalui, kecuali telah rusak hancur dan manusia manusianya akan binasa. Bahkan dikisahkan dalam hadist shahih , mereka penyebab keringnya air danau Tiberias yang sekarang masuk wilayah pendudukan Israel.



Nabi Isa sendiripun tidak akan mampu mengalahkan Ya’juj dan Ma’juj . Maka Allah Ta’ala memerintahkan Nabi Isa dan kaum muslimin untuk menyingkir dari setiap jalan yang akan dilalui Ya’juj dan Ma’juj dan kemudian diperintahkan untuk pergi ke Bukit Thursina, yakni salah satu bukit (atau gunung) di Baitul Maqdis.



Dalam hadits An Nawwas bin Sam’an disebutkan bahwa Allah memberitahukan kepada Isa akan keluarnya Ya’juj dan Ma’juj yang tidak ada seorang pun mampu memerangi mereka.

Hingga Allah memerintahkan Isa untuk menjauhkan kaum mukminin dari jalan yang ditempuh Ya’juj dan Ma’juj seraya berfirman : “Kumpulkan hamba hambaKu ke gunung Ath Thur .” [Asyrathu As-Sa’ah, Yusuf Al-Wabil hal. 369]

Maka Nabi Isa dan kaum muslimin menaiki bukit Thur. Dan dibukit atau gunung itulah mereka aman. Karena baik Ya’juj dan Ma’juj serta Dajjal, tidak akan mampu menaiki bukit Thursina. Allah telah memerintahkan para Malaikat untuk menjaga setiap celah di gunung Thursina dari Dajjal dan
Ya’juj Ma’juj .

Tak ada lagi makhluk bumi yang mampu menghentikan mereka. Akan tetapi mereka juga tidak mampu menaiki bukit Thursina, maka mereka bermaksud untuk membantai makhluk langit. Inilah kesombongan yang luar biasa dari Ya’juj wa Ma’juj.



“Kemudian mereka berjalan dan berakhir di Gunung Khumar, yaitu salah satu gunung di Baitul Maqdis . Kemudian mereka berkata : ‘Kita telah membantai penduduk bumi, mari kita membantai penduduk langit.’ Maka mereka melemparkan panah-panah dan tombak-tombak mereka ke langit. Maka Allah kembalikan panah dan tombak tombak mereka dalam keadaan berlumuran darah. 
(HR Muslim)

Dari atas bukit Thur, Nabi Isa memohon keselamatan pada Allah atas keganasan dan kekejiaan Ya’juj dan Ma’juj. (Hadits riwayat Ibnu Majah no. 4079. Dishahihkan Al-Albani rahimahullahu)

Allah mengirim makhlukNya yakni sejenis ulat yang menyerang leher mereka yang menyebabkan mereka binasa seluruhnya seperti kematian satu jiwa. Kemudian Nabi Isa dan para sahabatnya turun ke dataran bumi dan tidak mendapatkan sejengkal tanahpun, kecuali dipenuhi oleh bau busuk dan bangkai mereka.

Mayat-mayat bergelimpangan dan bau busuk menyengat. Untuk membersihkan itu semua, Allah ﷻ mengirim burung-burung seperti onta berleher panjang, lalu mengangkut mereka [bangkai Ya’juj dan Ma’juj] dan melemparkan mereka di tempat yang Allah ﷻ kehendaki.

Kemudian Allah ﷻ menurunkan hujan, yang tidak ada satupun rumah dari kulit domba dapat menahannya, dan tidak juga rumah batu yang kokoh, hingga mencuci permukaan bumi sampai bersih, bagaikan kaca yang berkilau.



Wallahu a’lam bishowab


Referensi:

Az-Zuhaily, Tafsir Al-Munir.

Dr. Thaha Ad-Dasuqy, ‘Aqidatuna Wa Shilatuha Bil Kaun Wal Insan Wal Hayat, Darul Huda, Kairo, 1995.

Syekh Sya’ban ‘Abdulhadi Abu Rabah, Islamiyat, Haqaiq Fi Dzilli Tauhid Al-Ara Al-Islamiyah, Muassasah Al-‘Arabiyah Al-Haditsiyah, Kairo, 1991.


Buku "Jerusalem dalam Al-Quran" Bahasa Indonesia
penulis: Sheikh Imran Hosein

Buku "Sebuah Pandangan Islam-Mengenai Yajuj dan Majuj pada Zaman-Modern" 
Penulis: Sheikh Imran Hosein


Baca jugaDownload Kumpulan Buku Seikh Imran Hosein Bahasa Indonesia (Pdf/Ebook) 
1. Tanda Kiamat Di Dunia Modern
2. Dinar Emas dan Dirham Perak: Islam dan Uang Masa depan.
3. Larangan Riba Didalam Al Quran dan Sunnah
4. Sebuah Pandangan Islam-Mengenai Yajuj dan Majuj pada Zaman-Modern.
6. Jerusalem dalam Al-Quran" 
download klik disini