Laman

Selasa, 06 November 2018

Mengungkap Kejanggalan Pembunuhan Jamal Khashoggi


Pria berusia 59 tahun ini memulai kariernya sebagai wartawan di Saudi setelah lulus dari sebuah universitas AS pada 1985. Jamal Khashoggi meniti karier sebagai seorang reporter saat sudah berteman dengan Osama bin Laden, hingga kemudian menjadi pembangkang terkemuka Arab Saudi yang harus meninggalkan negaranya.

Dari luar negeri, dia menyebarkan pandangan kritis terhadap Pemerintah Saudi lewat kolomnya di koran AS, The Washington Post, dan akun Twitternya yang sangat populer dengan lebih 1,6 juta pengikut.
Sebelum hilang di konsulat Saudi di Istanbul, Turki, keputusan Khashoggi untuk mengasingkan diri membuatnya harus membagi waktunya antara Amerika Serikat (AS), Inggris, dan Turki. Dia meninggalkan Arab Saudi pada September 2017, setelah berbeda pendapat dengan penguasa kerajaan Saudi. Khashoggi dengan berani juga mengkritik Pangeran Salman bersikap otoriter. 

Khashoggi memasuki kantor Konsulat Arab Saudi di Istanbul, Turki, untuk mempersiapkan dokumen terkait rencana pernikahannya dengan perempuan Turki. Sejak memasuki kantor konsulat, dia tak diketahui jejaknya.



Detik-detik Terakhir Jamal Khashoggi Terekam Kamera CCTV dan Keanehan Bukti Apple Watch



Sebelum masuk ke gedung konsulat Arab Saudi di Turki, Khashoggi mengaktifkan fitur perekam pada Apple Watch.

Kabar adanya rekaman Apple Watch awalnya diberitakan surat kabar Turki,Sabah, Sabtu pekan lalu. Pada pemberitaannya yang mengutip sumber penting dalam pemerintah Turki, disebutkan bahwa Jamal Khashoggi sempat merekam audio menggunakan aplikasi di Apple Watch lalu mengunggah rekaman itu ke akun iPhone dan iCloud-nya. Sabahsendiri adalah koran pro pemerintah Turki yang digunakan oleh pejabat keamanan untuk membocorkan informasi.
Rekaman itu juga menyebut bahwa Jamal Khashoggi telah dibunuh dengan cara dimutilasi di konsulat Saudi di Turki. Pembunuhan ini diduga dilakukan secara profesional dan sistematis oleh pembunuh beranggotakan 15 orang yang dikirim oleh Kerajaan Arab Saudi. Namun, pemerintah Saudi membantah keras tuduhan tersebut.

Spekulasi adanya rekaman Apple Watch tentu memunculkan sejumlah tanya. Benarkah misteri kematian Jamal Khashoggi bisa terkuak lewat Apple Watch? Berikut JawaPos.com berikan ulasannya.

Apple Watch dan Fitur Perekaman
Mengutip laman CNBC (Internasional), misteri kematian Jamal Khashoggi yang disebut terekam oleh perangkat smartwatch-nya banyak yang menyangsikan. Pasalnya, jam tersebut sejatinya tidak memiliki fitur perekaman built-in atau bawaan Apple.

Namun seperti namanya smartwatch, ditambah lagi dengan jam tersebut memiliki speaker dan mikrofon untuk kebutuhan telepon, Apple Watch mungkin melakukan perekaman dengan aplikasi tambahan dari pihak ketiga. Beberapa aplikasi tambahan untuk mendukung fitur perekaman tersedia di App Store. Yang paling populer, menurut laman BusinessInsider bernama Just Press Record




Dalam penjelasannya, aplikasi pihak ketiga Just Press Record bisa saja melakukan hal tersebut. Jelas, dalam hal ini Jamal Khashoggi adalah seorang jurnalis. Beberapa perangkat tambahan yang menunjang pekerjaannya mungkin dia pakai. Termasuk penggunaan jam pintar Apple yang kemudian dipasang aplikasi Just Press Record untuk kebutuhan rekaman.

Lebih jauh, Just Press Record adalah perekam audio mobile yang ringkas. Pengguna hanya perlu menekan satu tombol tap untuk memulai rekaman. Transkripsi dan sinkronisasi menggunakan iCloud ke semua perangkat pengguna pun mungkin dilakukan. Bahkan aplikasi ini dapat memulai rekaman baru yang sepenuhnya bebas genggam dengan asisten pintar Apple, Siri.

Terjawab. Jika spekulasi yang menyebut bahwa Apple Watch mungkin merekam kejadian sebelum dan sesudah pembunuhan Jamal Khashoggi, jawabannya adalah bisa. Namun perlu dicatat, seperti yang sudah kami singgung di atas, untuk bisa tersambung ke layanan simpan berbasis awan, iCloud, Apple Watch dan aplikasi perekaman pihak ketiga membutuhkan perangkat lain seperti smartphone Apple, iPhone atau iPad, yang terkoneksi jaringan internet atau koneksi Bluetooth.

Jamal Khashoggi Tidak Membawa iPhone
Rumor yang beredar menyebut bahwa Jamal Khashoggi mungkin mengunggah rekaman karena perangkat Apple Watch dirinya terkoneksi dengan iPhone miliknya. Namun, nyatanya dia tidak membawa smartphone kala memasuki area Kedutaan Arab Saudi di Turki. Ketika itu perangkat iPhone milik Khashoggi dititipkan ke tunangannya, Hatice Cengiz, yang menunggu di luar gedung konsulat.

Koneksi melalui Bluetooth dalam kasus ini pun bisa saja terjadi asalkan jarak antara Jamal Khashoggi dengan kekasihnya tidak lebih dari 10 meter. Pasalnya, jarak efektif koneksi Bluetooth hanya sekitar 10 meter.

Namun, kabar menyebutkan bahwa kekasih Khashoggi itu berada di luar area 10 meter. Sebab, Hatice Cengis berada di luar gedung, sedangkan Khashoggi di dalam gedung. Hal ini menjadikan pairingApple Watch dengan iPhone akan sulit tercapai.


Kemungkinan lain, Apple Watch yang dikenakan Jamal Khashoggi sudah mendukung koneksi internet dengan wifi atau jaringan seluler. Dengan begitu, transfer data Apple Watch ke iCloud sangat mungkin terjadi.

Hal tersebut rupanya tepat dengan Apple Watch yang dikenakan Jamal Khashoggi. Beberapa pengamat menunjukkan foto Khashoggi yang memakai Apple Watch 3. Artinya, Apple Watch versi tersebut sudah mendukung jaringan data seluler sendiri tanpa perlu menggunakan wifi.

Namun, jika benar, hal tersebut justru akan menjadi aneh. Pasalnya, menurut daftar operator Apple sendiri, model Apple Watch yang dikenakan Khashoggi tidak kompatibel dengan jaringan seluler di Turki. Dengan kata lain Apple Watch 3 tidak mendukung jaringan di Turki.

Pertanyaan pun lagi-lagi: bagaimana Khashoggi mengunggah file audio ke iCloud miliknya? Kemungkinan lain untuk jawaban atas pertanyaan tersebut, yakni dengan menggunakan jaringan Wifi.

Untuk perangkat Wifi sendiri tentu membutuhkan akses untuk bisa terhubung. Sementara akses Wifi biasanya membutuhkan kata sandi khusus untuk bisa terhubung. Apalagi Wifi di kompleks konsulat tentu akan sangat ketat karena faktor keamanan. Sebab, wilayah kedutaan sendiri menyandang status ‘Restricted Area’ alias area terbatas.

Status area terbatas pun kadang berlaku pula untuk jaringan internet di dalamnya. Hanya orang-orang tertentu saja yang diberi password untuk bisa mengakses Wifi di konsulat. Jadi, kemungkinan Khashoggi mendapatkan akses WiFi dengan mudah sangat kecil.


Kalaupun Khashoggi benar mengakses Wifi, berarti dia memasukkan kata sandi ketika dalam perjalanan masuk ke area Kedutaan Arab Saudi di Turki. Mengapa?
Diketahui, perangkat lunak arloji terbaru dari Apple, watchOS 5, yang dirilis beberapa minggu lalu memungkinkan pengguna secara manual memasukkan kata sandi Wifi menggunakan fitur ‘Scribble’ pada perangkat. Pengguna menggambar karakter di layar untuk memasukkan teks. Hal ini tentu menjadi tidak mungkin Khashoggi punya waktu untuk melakukan itu jika dia diserang.

Keterangan Tidak Sesuai
Belum selesai sampai di situ, ada lagi kejanggalan laporan dari sumber informasi yang menyebut bahwa kematian Jamal Khashoggi terungkap lewat Apple Watch. Sebab, laporan Sabah mengatakan bahwa pihak Saudi berusaha menghapus rekaman audio menggunakan sidik jari Khashoggi untuk membuka Apple Watch-nya. Padahal, Apple tidak menyediakan fitur sidik jari di perangkat smartwatch-nya. Ya, tidak ada sensor sidik jari di setiap model Apple Watch.


Dengan kata lain perangkat ini hanya dapat dibuka dengan kode sandi. Perangkat Apple yang memiliki fingerprint hanya tersedia pada beberapa model iPhone, iPad, dan MacBook. Sementara Apple Watch tetap terbuka kuncinya selama pemakai menyimpannya dan diikat ke pergelangan tangan setelah memasukkan kode sandi. Kemudian jam tangan akan terkunci lagi setelah dilepas dari pergelangan tangan.

Lalu dari mana data suara rekaman Jamal Khashoggi dapat diketahui? Informasi Sabah sayangnya tidak menyebut apakah sumber pejabat Turki itu memiliki kode sandi Jamal Khashoggi atau tidak. Termasuk kemungkinan memiliki kode sandi iPhone. Sebab, mereka tentu perlu mengakses semua rekaman Apple Watch yang masuk melalui iPhone.



Dibantai di Dalam Konsulat Arab Saudi














Dugaan pembunuhan terhadap Jamal Khashogi, jurnalis warga Arab Saudi pelan-pelan terkuak. Sebuah rekaman berdurasi 11 menit kembali menguak apa yang terjadi kepada Jamal Khashoggi. Khashoggi diduga dibunuh di dalam kantor konsulat Arab Saudi di Istanbul, Turki. Rekaman itu diungkap surat kabar Turki, Yeni Safak.


Yeni Safak mengungkap bahwa Khashoggi diserang saat masuk ke dalam kantor tersebut. 
Audio rekaman itu dipastikan adalah proses terbunuhnya Khasogi. Seperti dikutip Middle East Monitor, Rabu, 17 Oktober 2018. 
Menurut laporan Aljazeera yang mengutip informasi dari aparat penegak hukum Turki,  intelijen Arab Saudi memaki Khashoggi lalu kemudian menyiksanya selama 4 menit pertama setelah dia masuk kantor konsulat.


Sesaat setelah dia duduk di kantor konsulat, sejumlah aparat keamanan lainnya mengikuti Khashoggi dan mulai berbicara kasar padanya.


Setelah itu, terdengar suara teriakan Khashoggi dan menyebut dirinya diserang dengan jarum. Kemudian, suara jurnalis ini lenyap. Dilansir dari DailyMail, Khashoggi dibunuh hanya dalam waktu sekitar 7 menit.


Mutilasi Jamal Khashoggi Berlangsung 7 Menit, Jasadnya Ditempatkan di 5 Koper

Media Sabah, mengutip pejabat Turki yang anonim, melaporkan bahwa tubuh Khashoggi dipotong-potong dan dimasukkan ke dalam lima koper, usai ia dicekik saat memasuki konsulat Arab Saudi di Istanbul, demikian seperti dikutip dari Al Jazeera, Senin (5/11/2018).

Pejabat anonim itu juga mengatakan bahwa kelima koper itu kemudian dibawa ke kediaman konsul jenderal Saudi yang berlokasi dekat dengan konsulat. Lebih lanjut, narasumber itu mengatakan bahwa Maher Mutreb, Salah Tubeigy dan Thaar al-Harbi adalah tiga tokoh kunci dari 15 anggota tim pembunuh yang dilaporkan terlibat dalam pemotongan tubuh Khashoggi dan mengeluarkannya dari tempat kejadian perkara

Mutreb adalah salah seorang asisten Putra Mahkota Arab Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman. Sementara Tubeigy adalah kepala badan forensik Saudi Scientific Council of Forensics, serta berpangkat kolonel angkatan darat Saudi. Sedangkan al-Harbi adalah letnan baru di satuan pengawal kerajaan Saudi. Ia dipromosikan menjadi perwira usai menanggulangi dugaan plot serangan drone di istana putra mahkota di Jeddah tahun lalu.

Laporan Sabah muncul 48 jam setelah Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan dia percaya bahwa perintah untuk membunuh wartawan berasal dari "otorisasi tertinggi" negara Saudi.

Jurnalis Al Jazeera Andrew Simmons yang melaporkan dari Istanbul mengatakan pada hari Minggu, informasi terbaru dari Sabah menambahkan detail proses pembunuhan yang dirumuskan oleh jaksa Turki, yang mengatakan bahwa Khashoggi dicekik dan dipotong-potong segera setelah memasuki gedung konsulat.



Al Jazeera melaporkan bahwa Mutreb, yang merupakan seorang pejabat intelijen senior, tampaknya memimpin operasi itu. Sementara Tubeigy, yang memiliki pengalaman dalam bidang patologi forensik, bertugas untuk melakukan tindakan keji tersebut.

Sementara itu, rekaman CCTV menunjukkan tiga orang bepergian dalam sejumlah kendaraan dari konsulat ke kediaman konsul jenderal 200 meter setelah pembunuhan Khashoggi pada sekitar pukul 3 sore. Kurang dari dua jam kemudian, Mutreb terlihat meninggalkan tempat tinggal konjen, menurut rekaman.



Di tempat tinggal itulah mereka dilaporkan membuang bagian-bagian tubuh Jamal Khashoggi, meskipun tidak diketahui bagaimana hal ini dilakukan. Tapi menurut Al Jazeera, laporan baru dari Sabah bertentangan dengan laporan pejabat Turki lain yang menyebut bahwa jasad Khashoggi dilarutkan menggunakan cairan asam. "Ada pula yang mengatakan bahwa jasadnya dibuang ke sumur di rumah konjen," kata Simmons dari Al Jazeera.

Dengan penyelidikan bersama Turki dan Saudi hanya membuat sedikit kemajuan sejauh ini, Presiden Erdogan pada hari Jumat 2 November menyerukan Arab Saudi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan luar biasa mengenai pembunuhan 59 tahun.

Pihak Kerajaan Arab Saudi awalnya membantah Khashoggi terbunuh di dalam konsulatnya tetapi, setelah tekanan internasional yang intens dan setelah mengubah narasinya berkali-kali, jaksa Saudi mengakui bahwa Khashoggi terbunuh dalam sebuh operasi yang "terencana".

Namun, para pejabat Turki menuduh Saudi gagal menjawab beberapa pertanyaan krusial mengenai kasus itu. Dua di antaranya berhubungan dengan identitas seorang "kolaborator lokal" yang diklaim oleh para pejabat Saudi telah menyerahkan sisa-sisa Khashoggi, serta identitas orang yang memerintahkan pembunuhan itu.



Seorang juru bicara untuk partai Justice and Development Party pimpinan Erdogan mengatakan pada hari Rabu 31 Oktober bahwa pembunuhan Jamal Khashoggi tidak mungkin dilakukan tanpa perintah dari seseorang di posisi senior.

Tim 'Pembersih' Dikirim Saudi untuk Hancurkan Bukti Kasus Khashoggi

Sebuah tim khusus dari Arab Saudi yang beranggotakan pakar kimia dan pakar toksikologi dikirimkan ke Istanbul, Turki, usai wartawan Jamal Khashoggi dibunuh. Tim Saudi itu dilaporkan bertugas untuk menghancurkan bukti-bukti terkait pembunuhan Khashoggi.



Informasi yang disampaikan surat kabar propemerintah Turki, Sabah, seperti dilansir Hurriyet Daily News, Senin (5/11/2018), menyebut bahwa tim Saudi beranggotakan 11 orang tiba di Istanbul pada 11 Oktober atau sekitar sembilan hari setelah Khashoggi dibunuh pada 2 Oktober. Terdapat pakar kimia bernama Abdulaziz Aljanobi dan pakar toksikologi bernama Khaled Yahya Al-Zahrani dalam tim itu. 




"Tim datang ke Istanbul bukan untuk mencari titik terang terkait pembunuh, tapi untuk menghancurkan bukti," sebut sejumlah sumber keamanan yang dikutip surat kabar Sabah dalam laporannya pada Senin (5/11) waktu setempat. 




Kedua pakar asal Saudi itu disebut surat kabar Sabah sebagai 'pembersih'. Dilaporkan sumber keamanan tersebut bahwa kedua pakar Saudi itu mendatangi Konsulat Saudi di Istanbul -- yang menjadi lokasi Khashoggi dibunuh -- setiap hari selama satu pekan, sebelum terbang meninggalkan Turki pada 17 Oktober lalu.




Diketahui juga bahwa otoritas Saudi sempat menolak permintaan otoritas Turki untuk menggeledah Konsulat Saudi yang dilindungi secara diplomatik. Penggeledahan oleh otoritas Turki baru diizinkan oleh Saudi pada 17 Oktober. 



Otoritas Saudi telah mengakui bahwa Khashoggi (60), jurnalis senior dan kolumnis The Washington Post, tewas dalam pembunuhan berencana di Konsulat Saudi di Istanbul pada 2 Oktober. Pengakuan disampaikan Saudi setelah terus menyangkal selama berminggu-minggu.

Terkait penyelidikan kasus Khashoggi, otoritas Saudi telah menahan 18 orang -- termasuk 15 orang anggota tim intelijen Saudi yang dikirimkan ke Istanbul sebelum pembunuhan Khashoggi -- dan memecat lima pejabat yang diyakini terlibat. 

Dalam pernyataan resmi, kantor jaksa Istanbul menyatakan Khashoggi yang diketahui kritis terhadap kebijakan pemerintah Saudi dan putra mahkota Pangeran Mohammed bin Salman (MBS) ini, tewas dicekik kemudian dimutilasi di dalam Konsulat Saudi dan jenazahnya dibuang. 


Namun keberadaan jenazahnya masih misterius hingga kini. Seorang pejabat Turki menuturkan kepada The Washington Post pada 31 Oktober lalu bahwa temuan bukti biologis mengindikasikan jenazah Khashoggi dihancurkan dalam zat asam di halaman Konsulat Saudi atau kediaman resmi Konsul Jenderal Saudi di Istanbul.

Dalam pernyataan terpisah, pekan lalu, Yasin Aktay selaku penasihat Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyebut jenazah Khashoggi 'dilarutkan' usai dimutilasi. "Menurut informasi terbaru yang kami dapatkan, alasan mereka memutilasi jenazahnya adalah lebih mudah untuk dilarutkan. Mereka berniat memastikan tidak ada tanda-tanda jenazah tersisa. Ini yang dipahami dari pernyataan jaksa," sebut Aktay kepada Hurriyet

Laporan surat kabar Sabah yang mengutip sejumlah pejabat yang tidak disebut namanya pada Minggu (4/11) waktu setempat, menyebut jenazah Khashoggi dimasukkan ke lima koper berbeda dan dibawa dari Konsulat Saudi menuju kediaman resmi Konjen Saudi di Istanbul usai dibunuh dan dimutilasi pada 2 Oktober lalu. Jarak antara kediaman Konjen Saudi dengan Konsulat Saudi diketahui mencapai 200 meter.







Sikap Arab Saudi Yang Tidak Konsisten

Arab Saudi awalnya menolak dan mengecam pihak yang menyatakan keterlibatanya dalam kasus kematian Jamal Khashoggi. Namun akhirnya mengakui bahwa wartawan kritis Jamal Khashoggi tewas di konsulat mereka di Istanbul akibat sebuah 'operasi liar' agen rahasia Saudi, namun menekankan tidak ada hubungannya dengan Putra Mahkota Mohammad bin Salman.



Laporan tentang apa yang terjadi pada 2 Oktober itu bertolak belakang dari berbagai pernyataan para pejabat Saudi yang disampaikan sebelumnya.
Di sisi lain, pernyataan itu juga bertentangan dengan yang dikatakan oleh pihak berwenang Turki yang mengklaim bahwa mereka memiliki bukti berupa video dan audio bahwa Khashoggi dibunuh.
Pembunuhan itu, menurut Turki, dilakukan sebuah tim berkekuatan 15 orang yang tiba di Turki tanggal 2 Oktober itu dan bertolak pergi lagi pada hari yang sama.
Menurut Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan di parlemen, Selasa (24/10), pembunuhan itu sudah dirancang dengan rapi sejak jauh hari sebelumnya.
Menyusul kemudian, Presiden AS Donald Trump, yang sebelumnya dinilai agak membela Raja Salman, menyebut bahwa pembunuhan Khashoggi ini adalah kisah 'upaya menutup-nutupi paling parah dalam sejarah.'
Kemudian Raja Salman dan putra mahkota Pengeran Mohammed bin Salman menemui Salah, putra Jamal Khashoggi, dan Sahel, adik Khashoggi di Istana Yamama, Riyadh.

 Suatu keanehan, sikap berubah-ubah Saudi yang mengganti pernyataan sejak penghilangan Khashoggi pertama kali dilaporkan. Pada 20 Oktober, pemerintah Saudi mengeluarkan siaran pers menyusul dilakukannya suatu 'investigasi awal' oleh dinas penuntut umum Saudi.
Dikatakan penyelidikan mereka 'mengungkapkan bahwa terjadi diskusi antara (Khashoggi) dan orang-orang yang bertemu dengannya ... di konsulat Saudi di Istanbul yang berujung pada perkelahian dan adu jotos".

Dalam wawancara dengan Fox News, Menteri Luar Negeri Saudi Adel al-Jubeir untuk pertama kalinya menggunakan istilah 'pembunuhan' dalam menyebut kematian Khashoggi.
"Kami bertekad untuk menemukan semua fakta, dan bertekad untuk menghukum siapa pun yang bertanggung jawab atas pembunuhan ini," katanya.

"Orang-orang yang melakukan ini, melakukannya di luar lingkup kewenangan mereka," katanya. "Bahkan para pemimpin tinggi dinas intelijen kami tidak menyadari kejadian ini," tambahnya. Ia menyebutnya sebagai 'operasi liar'.



Referensi :