Laman

Kamis, 22 November 2018

Sejarah Perang Salib - History of the Crusades

Gagasan untuk menjalankan peperangan demi membela kepercayaan agama merupakan idealisme keagamaan yang tersusun menjadi satu, meskipun demikian berbagai kecenderungan juga mendapat tempat yang layak dalam tujuan perang Salib untuk menguasai kembali tempat suci Yerussalem dengan cara-cara militer.


Karena itu untuk merumuskan sebab-sebab terjadinya Perang Salib, maka perlu menganalisas kondisi pihak Eropa sebelum perang mulai pecah, atau minimal dianalisa walaupun sekilas sikap dan tindakan pihak Eroppa di abad-abad pertengahan. Berangkat dari premis tersebut, maka dapat dinyatakan bahwa sebab- sebab terjadinya erang Salib, adalah sebagai berikut:


a. Faktor Agama
Hilangnya kemerdekaan umat Kristiani untuk beribadah ke Yerussalem. Kondisi ini merupakan kebijakan yang dijalankan pemerintahan Bani Saljuk yang menguasai Yerussalem pada tahun 1076 M. Padahal boleh dikatakan bahwa umat Kristiani sangat fanatic dan beranggapan bahwa berziarah ke Makam Nabi Isa di Yerussalem merupakan amalan yang paling baik dan besar pahalanya. Bani Saljuk telah menjalankan kebijakan-kebijakan yang mempersulit dan bahkan menganiaya umat Kristiani yang akan berziarah ke Yerussalem.


Kebijakan- kebijakan yang merugikan umat Kristiani ini terdengar sampai di Eropa, rakyat Eropa menjadi gempar, gusar dan bersedih hati dan justru dari peristiwa ini menumbuhkan semangat keagamaan dan loyalitas terhadap sesama umat Kristiani untuk memberikan perlindungan dan pembelaan.


Mereka bergerak bersama untuk menuntut balas atas perampasan kemerdekaan dalam menjalankan ajaran agama mereka. Visi mereka satu yaitu merebut Baitul Maqdis dari genggaman kaum Muslimin (Bani Saljuk) dengan keyakinan bila berziarah ke tanah suci mendapat pahala yang besar, sudah barang tentu melepaskan dan memerdekakan Yerussalem dari kekuasaan Kaum Muslimin jauh lebih besar pahalanya.


b. Faktor Politik
Posisi-posisi kunci di sekitar Asia kecil telah di kuasai Bani Saljuk dan bahkan dijadikan sebagai basis kekuatan dan pertahanan. Kondisi ini memposisikan kota Konstantinopel terancam akan jatuh ke tangan umat Islam (Bani Saljuk). Untuk menghindari jatuhnya kota Konstantinopel ke tangan umat Islam, Kaisar Alexius penguasa Byzantium (Konstantinopel) tidak memiliki pilihan lain kecuali meminta
dukungan dan bantuan politik Keuskupan Agung di Roma. 6 Pihak Keuskupan Agung sendiri menyambut baik kerja sama ini, karena mereka juga berkewajiban membela kepentingan religi, di samping itu sesungguhnya kepentingan politik bagi Keuskupan juga sangat menggiurkan.


Karena itu mulailah pihak Keuskupan mengatur rencana kerja perebutan kembali Baitul Maqdis. Tetapi anehnya agenda mereka di awali dengan propaganda perang suci ke dunia Islam oleh Paus Urbanus II. Bila di analisis, Perang suci (Perang demi membela agama) yang didengung-dengungkan Paus Urbanus II ini, tidak lebih dari merealisasikan ambisi politiknya untuk menguasai sebagian daerah yang dikuasai Islam. Karena sesungguhnya kunci dari persoalan ini adalah Bani Saljuk menguasai Baitul Maqdis dengan menerapkan kebijakan yang menyulitkan umat Kristiani untuk beribadah ke sana. Dengan demikian, sejatinya tema propaganda atau kamanye perang suci Paus adalah “pembebesan Baitul Maqdis” bukan perang suci ke dunia Islam.


Berdasarkan analisis di atas, maka disimpulkan bahwa pihak Keuskupan sesungguhnya memiliki ambisi politik untuk menaklukan dunia di bawah kekuasaan gereja, demikian pula dengan bangsawan-bangsawan Eropa tentu memiliki ambisi politik yang tidak kalah besarnya untuk membentuk kerajaan-kerajaan di daerah- daerah yang dikuasai oleh umat Islam


c. Faktor Ekonomi
Adanya keinginana bangsa Barat menguasai tata niaga di kawasan Laut Tengah sekaligus menjadikan kawasan tersebut sebagai sentral perdagangan Barat di Timur. Kawasan ini memang sangat strategis, sebagai pintu pengembangan perdagangan ke arah timur melalui Laut Merah.7 Faktor ekonomi pula yang memotivasi masyarakat Eropa kelas rendahan, karena mereka seringkali mendapat tekanan, dibebani berbagai pajak serta sejumlah kewajiban lainnya dari kerajaan dan gereja.


Sehingga ketika mereka dimobilisasi oleh pihak gereja untuk turut mengambil bagian dalam Perang Salib dengan janji akan mendapat kebebasan dan kesejahteraan yang lebih baik bila dapat memenangkan peperangan, Di samping itu mereka berharap akan mendapat keuntungan ekonomi di daerah-daerah yang ditaklukan dari tangan Islam.8 Motifasi-motifasi tersebut di atas, menyebabkan masyarakat kelas rendahan di Eropa menyambut seruan Perang Salib secara spontan dengan berduyung-duyung melibatkan diri dalam perang.


Berdasarkan penjelasan tersebut di atas, tampak bahwa ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya Perang Salib dan faktor-faktor tersebut terealisasi dengan baik karena didukung oleh beberapa hal sebagai berikut:


d. Lemahnya persatuan umat Islam
Sebelum genderang Perang Salib berbunyi, dunia Islam tamak dalam kondisi lemah. Bani Saljuk (Daulah Salajikah kehilangan kekuatan sepeninggal Malik Syah (1092 M). Perebutan daerah Syiria antara Bani Saljuk dan Bani Fatimiyah tidak dapat dielakkan yang menyebabkan terjadinya permusushan berkepanjangan antara dua kerajaan Islam ini.


Akibatnya dinasti-dinasti Islam khususnya dua dinasti tersebut dalam keadaan lemah karena sudah terkuras kekuatan militer maupun financialnya dalam perang saudara.  Kondisi lemah umat Islam ini merupakan peluang emas bagi dunia Eropa untuk melancarkan serangannya.


e. Berdirinya kerajaan-kerajaan Eropa yang baru.
Bermunculannya kerajaan-kerajaan Eropa yang baru seperti Kerajaan Venesia, Genoa dan berkuasanya bangsa Normandia di selatan Italia dan di Kepulauan Sicilia yang semuanya itu merupakan peluang emas bagi dunia Eropa melancarkan serangannya.



Proses Berlangsungnya Perang Salib

Perang Salib (Holy war) dalam sebagain literature mengungkapkan masa terjadinya antara tahun 1096 sampai 1291. Perang ini dinamakan Perang Salib karena ekspedisi militer Kristen memakai tanda Salib sebagai atribut pemersatu dan sebagai simbol perang suci dalam melakukan penyerangan ke dunia Islam. Menurut analisis penulis, pembesar-pembesar Kristiani memang paham betul emosi keagamaan umat Kristiani. Dengan simbol tanda Salib akan mudah menggugah emosi keagamaan mereka. Terbukti, dalam tiga kali periode penyerangan tersebut, umat Kristiani cukup banyak yang turut ambil bagian dalam perang tersebut. Dalam masa peperangan itu, menang dan kalah silih berganti antara pasukan Islam dan pasukan Salib. Perang Salib berlangsung hampir mencapai dua abad lamanya. Dari waktu yang demikian panjang itu , bisa dibayangkan, betapa banyak korban berjatuhan dari kedua belah pihak.

Bila diukur dari waktu berkangsungnya Perang Salib, secara global dibagi atas
tiga periode, sebagai berikut:

Perang Salib 1 :
disebut periode penaklukan umat Kristinani yang berlangsung dari tahun 1096-1144 M.

Perang Salib 2
: disebut sebagai periode reaksi umat Islam yang berlangsung dari tahun 1144-1192 M.

Perang Salib 3 
: disebut sebagai periode kehancuran pasukan Salib yang berlangsung dari tahun 1192 hingga 1291.


Perang Salib 1 (1096-1144 Masehi).
Seruan Perang Salib yang menggoncang dunia ini, meruakan hasil keraj keras Paus Urbanus II dalam kampanyenya di kalangan Keuskupan Agung. Di samping itu didukung oleh kampanye yang sama dikalangan masyarakat luas yang dilakukan oleh seorang penginjil bernama Peters Amin. Peters Amin sangat gencar dan aktif melakukan kamanye dan boleh di katakan kampanyenya sukses mengngugah emosi keagamaan masyarakat Eropa.


Hasil kerja keras dari dua juru kampanye (jurkam) Perang Salib yaitu Paus Urbanus II dan Peters Amin, maka dimulai pada 1096 tepatnya musim semi , berkumpullah sebanyak 150.000 tentara Eroa yang sebagian besar berasal dari Perancis dan Normandia. Pasukan Perang Salib ini berkumpul di Konstantinopel. Dalam perjalanan mereka menuju Paletina melalui Asia Kecil, banyak pasukan bergabung, sehingga jumlah pasukan mencapai 300.000 orang. Namun sangat disayangkan,
pasukan sebanyak ini tidak dapat menjalankan tugasnya dengan baik, mereka banyak melakukan perbuatan brutal, perampokan, mabuk-mabukan dan perzinahan pada tempat-tempat yang mereka laui.

Tindakan pasukan Salib ini menyebabkan kemarahan bangsa Bulgaria dan Hongaria, yang segera memberikan serangan hingga pasukan Salib berantakan dan sisanya dihadapi langsung oleh pasukan Bani Saljuk. Pada perang pertama ini, rombongan tentara Salib seluruhnya binasa sebelum mereka dapat
membebaskan Baitul Maqdis.11 Reputasi pasukan Salib pertama ini menandakan mereka tidak dibekali pengetahuan strategi perang dan etika perang, dalam hal ini nampaknya Paus Urbanus II dan Peters Amin hanya membekali pasukan Salib tersebut dengan kebencian dan dendam terhadap umat Islam.

Hancurnya pasukan Salib pertama, segera disusul oleh bangkitnya pasukan Salib berikutnya setahun kemudian yaitu pada tahun 1097. Kali ini tentara Salib menyebrang selat Bosor, memasuki Asia Kecil dan memblokade kota Nicea. Selama sebulan kota ini dikepung sampai akhirnya dapat ditaklukan pada tanggal 18 Juni 1097 M. Setahun kemudian pasukan Salib dapat melumpuhkan Raha (Edessa), Syiria Utara hingga Antokia.12 Pada bulan juni 1099, bergerak lagi tentara Salib melanjutkan penyerbuannya. Kali ini sasaran mereka adalah Baitul Maqdis, selama kurang lebih satu bulan mereka mengepung kota suci ini, akhirnya mereka berhasil menguasainya, tepatnya pada tanggal 15 Juli 1099 M.13 Di kota ini mereka bertindak kejam, melakukan pembantaian bukan saja terhadap umat Islam tetapi juga terhadap orang-orang Yahudi dan Nasrani setempat yang tidak mau bekerjasama dengan mereka.



Dengan berhasilnya pasukan Salib menguasai Baitul Maqdis dan kota-kota di sekitarnya, maka mereka dapat mendirikan empat kerajaan Latin, yaitu:

a. Kerajaan Latin I di Edesssa ( 1096 M) yang dipimpin oleh raja Baldwin.
b. Kerajaan Latin II di Antokia (1098 M)yang dipimpin oleh raja Bahemond.
c. Kerajaan Latin III di Baitul Maqdis (1099 M) dipimpin oleh raja Godfrey.
d. Kerajaan Latin IV di Tripolo (1099 M) dipimpin oleh Raymond.15


Berdasarkan informasi di atas, maka dalam periode pertama Perang Salib, umat Islam mengalami kekalahan, sementara pasukan Salib dapat merealisasikan tujuan utamanya yaitu menguasai Baitul Maqdis dari kekuasaan Islam. Menurut analisa penulis, penyebab kekalahan pasukan Islam atas pasukan Salib, antara lain; ketidak siapan pasukan Islam dalam menghadai pasukan Salib dan berkobarnya semangat perang Pasukan Salib untuk merebut Baitul Maqdis dan memperoleh keuntungan ekonomi dalam peperangan.


Perang Salib 2 (1144-1192 Masehi)
Periode ini merupakan periode kebangkitan umat Islam setelah menderita kekalahan melawan kekuatan tentara Salib yang dapat menguasai wilayah Syiria dan Palestina pada tahun 1144 M. Dibawa pimpinan Imad al-Din Zanki, tentara Islam berjuang dengan sungguh-sungguh merebut kembali beberapa kota yang jatuh ketangan tentara Salib antara lain; Aleppo, Hamimah dan kaota-kota lainnya hingga Edessa.

Pada tahun 1146 M Imad al-Din Zanki wafat, maka perjuangan dilanjutkan oleh putranya bernama Nur al-Din Zanki. Dibawah pimpinannya, beberapa kota di sekitar Antokia dapat dikuasainya pada tahun 1149 M. Dua tahun kemudian Pasukan Islam merebut kembali kota di sekitar Edessa dan bahkan tentara Islam sempat menangkap Emir Edessa. Selanjutnya pada tahun 1164 M Nur al-Din Zanki berhasil menaklukan kota Antokia dan menyandera Emir Bahemond III dan sekutunya Raymond III. Keduanya dibebaskan setelah membayar tebusan dalam jumlah besar.


Peperangan dilanjutkan dengan mengerahkan tentara Islam untuk membebaskan Mesir dalam tahun 1196 M. Jatuhnya daerah-daerah kekuasaan tentara Kritiani ke tangan umat Islam memancing emosi tentara Salib untuk mengobarkan Perang salib berikutnya, akan tetapi gerakan mereka mendapat perlawanan sengit dari pasukan Nur al-Din Zanki Nasib pemimpin tentara Salib, Louis IV dan Condrad II melarikan diri dan pulang ke negerinya.

Pada tahun 1174 M, pasukan Islam berkabung atas wafatnya pemimpin tentara Islam terbaik, Nur al-Din Zanki, selanjutnya pimpinan perang di pegang oleh Shalah al- Din al-Ayyubi (seorang pendiri Dinasti Ayyubiah di mesir). Dibawa pimpinannya tentara Islam semakin berjaya; keberhasilan pertama yang dicetak pasukan Islam yaitu keberhasilannya mengembalikan Baitul Maqdis kepangkuan umat Islam dalam tahun 1187 M, mesjid Aqsapun kembali mengumandangkan Azan, sementara pasukan Salib
banyak yang menjadi tawanannya.

Perjuangan tentara Salib selanjutnya dipimpin raja Jerman Frederick Barbarosa, Raja Inggris Richardo dan Raja Perancis Philip August. Pada pertempuran ini, Raja Fredirick tewas, sedangkan Philip dan Richardo berhadapan dengan tentara Islam di Akka. Pasukan Islam berhasil mundur teratur untuk menyusun strategi, sementara pasukan Salib tidak berhasil memasuki kota suci Baitul Maqdis. Peperangan ini berlangsung samai tahun 1192 M.


Keunggulan asukan Salib di Akka, belum dapat memuluskan jalan mereka untuk data segera membebaskan Baitul Maqdis, sebab mereka masih harus melalui perjuangan yang sangat berat menghadapi tentara Islam yang senantiasa menggalang kekuatan. Di samping itu namaknya Raja Richardo merasa berat dan jenuh melanjutkan peperangan dan memilih menawarkan gencatan senjata melaui surat, maka pada tanggal 2 Juli 1192 M lahirlah apa yang disebut dengan “shulh al-Ramlah,” yang berisi dua keseakatan, yaitu:

1. Daerah pantai sekitar Akka dalam kekuasaan tentara Salib
2. Palestina tetap dibawa kekuasaan Islam , akan tetapi jamaah Kristen diizinkan berziarah ke baitul Maqdis dengan persyaratan tidak boleh membawa senjata.

Dengan disahkannya perjanjian tersebut, maka baitul Maqdis tetap berada di tangan umat Islam. Beberapa bulan setelah pengesahan dua kesepakatan tersebut di atas, pada tanggal 3 Maret 1193 M, Salahuddin al-Ayyubi tutup usia dalam usia 55 tahun dan beliau di makamkan di Syiria.


Perang Salib 3 (1193-1291 Masehi)
Skala prioritas pasukan Salib pada periode ini adalah menguasai Mesir. Berdasarkan ertimbangan ekonomi, bahwa jika Mesir dapat di kuasai , mereka dapat memperoleh keuntungan besar dalam peperangan , sebab dari Mesir akan terbuka kesematan untuk memasuki Laut Merah dan mengembangkan perdagangan ke Hindia dan kepulauan Hindia sebelah Timur (sekarang Indonesia).

Beberapa tahun setelah pasukan Salib berhasil menduduki Konstantinopel, pada tahun 1218 M, mereka menyerang Mesir, tetapi tidak berhasil dan hanya dapat menguasai kota Dimyat sebagai pintu gerbang strategi untuk memasuki Mesir. Dalam tahun 1229 M pimpinan tentara Salib Frederick mengadakan perundingan damai dengan Malik al- Kamil penguasa Mesir dari Dinati Ayyubiah. Isi perjanjian tersebut adalah Baitul Maqdis diserahkan ke tentara Salib dan sebagai gantinya Dimyat diserahkan keada
tentara Islam.

Dengan ditandatanganinya perjanjian tersebut, baitul Maqdis kembali kepangkuan pasukan Salib dengan Frederick II sebagai rajanya. Tetai setelah melalui beberapa pertempuran melawan tentara Salib, Baitul Maqdis dapat direbut kembali oleh penguasa Dinasti Ayyubiah, al-Malik al-Shaleh putra al-Malik
pada tahun 1247 M.

Perlawanan tentara Salib dilanjutkan oleh Dinasti Mamalik pada tahun 1263 M. Al-Malik al-Zahir Baybars berhasil menaklukan kota-kota Caesarea dan Akka. Keberhasilan yang sama juga terjadi dalam menaklukan Yaffa dan kota Antokia yang merupakan benteng pertahanan tentara Salib dalam tahun 1271 M.

Perjuangan Baybars dilanjutkan oleh Sultan Qalawun yang memerintah ditahun 1279-1290 M. Dibawa pemerintahannya Laziqiyah dan Tripoli dapat ditaklukan dalam tahun 1289 M. ada tahun itu pula Sultan Qalawun mempersiapkan tentaranya untuk menaklukan daerah-daerah yang masih dikuasai tentara Salib, namun di meninggal sebelum usaha tersebut berhasil. Usahanya dilanjutnya oleh putranya,
Asyraf Khalil yang berkuasa dalam tahun 1290-1293 M.

Pada tanggal 5 April 1291 M, ia menyerang dan mengepung kota Akka dan berhasil menguasai kota tersebut pada tanggal 28 Mei 1291 M. Selanjutnya, kota-kota yang dikuasai tentara Salib satu demi
satu jatuh ketangan pasukan Islam, termasuk Baitul Maqdis. Tanggal 14 Agustus 1291 M kekuasaan tentara Salib sudah lenyap di Timur Tengah. Adapun sisa-sisa tentara Salib, selanjutnya melarikan diri melalui jalan laut dan kebanyakan mereka mengungsi ke Ciprus.

Kemenangan demi kemenangan yang diraih tentara Islam pada periode terakhir ini, sangat didukung oleh pimpinan perang yang tangguh dan berani; beberapa pemimpin tentara Islam yang terakhir yaitu Malik al-Kamil, Shaleh al-Kamil, Sultan Qalawun dan Asyraf Khalil berhasil memberikan kekalahan pasukan Salib. Di samping itu tentara-tentara Islam juga merupakan pasukan-pasukan yang terlatih di
medan perang.


Peranan Salahuddin al-Ayyubi
Salahuddin al-Ayyubi adalah seorang pendiri Dinasti Ayyubiah di Mesir pada tahun 1175 M. Tampilnya Salahuddin memimpin tentara Islam, mengejutkan pasukan Salib, apalagi setelah kemenangannya menguasai Baitul Maqdis pada tahun 1187. 29 Pada peperangan yang terjadi di Hatim, Salahuddin tampil sebagai seorang pimpinan perang yang tangguh dan berani. Keberanian Salahuddin di medan perang dengan istilah “singa yang hendak menerkam mangsanya”


Dibawa pimpinan Salahuddin al-Ayyubi, Pertempuran yang terjadi di Hatim, mendesak tentara Salib untuk mundur dan akhirnya mereka bercerai berai dengan menanggung kekalahan yang tidak terkira. Sepuluh ribu di antara pasukan Salib meninggal dunia. Para kepala dan jenderal-jenderalnya kebanyakan ditawan oleh Salahuddin termasuk di dalamnya Guy de Lusiguon, raja Baitul Maqdis. Negeri Akka Nabbelis, Yaffa, Beirut dan beberapa kota lainnya serta semua benteng pertahanan yang penting, telah terbuka pintunya bagi pasukan Islam dengan tanpa ada perlawanan.


Setelah Salahuddin menguasai Baitul Maqdis, barulah ia tampakkan kehormatan dan sifat kasih sayangnya dengan membebaskan para tawanan itu setelah bersumpah tidak akan mengadakan perlawanan lagi dan semua kekuasaan kaum Salib akan diserahkan kepada Salahuddin. Dari penjelasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa Salahuddin telah mengembalikan citra Islam yang sudah terpuruk melalui keberhasilan-keberhasilannya memukul mundur pasukan Salib. Kesuksesannya dalam peperangan demi peperangan melawan Pasukan Salib merupakan barometer bagi pemimpin-pemimpin tentara Islam sesudah periode Salahuddin dalam mengusir pasukan Salib dari dunia Islam.


Dampak Perang Salib
Sejak terjadinya perang Salib yang pertama, sampai lenyapnya kaum Salib dan kekuasaannya di Timur merupakan suatu peristiwa yang maha penting yang dicatat oleh sejarah. Kisah peristiwa tersebut akan ditransfer terus oleh generasi demi generasi. Perang Salib tidak hanya meninggalkan hasil-hasil yang negative, misalnya kemusnahan dan kehancuran fisik khususnya di Negara-negara Islam, tetapi juga
meninggalkan hasil-hasil yang positif terutama terhadap bangsa Eropa. Sekalipun bangsa Eropa gagal melaksanakan cita-cita utamanya, yaitu pembebasan Palestina dari kekuasaan umat Islam.

Selama kurang lebih tiga Abad berlangsungnya Perang Salib, dampak-dampak
poisitif yang diperoleh bangsa Eropa, antara lain:

1. Bertambahnya wilayah kerajaan Byzantium, sehingga sanggup mengerem dan menghalang-halangi penyerangan Bani Saljuk ke Eropa. Seandainya kerajaan Byzantium goyah, maka besar peluang Bani Saljuk manaklukan sebagian Eropa.

2. Pasukan Salib dapat berkenalan dengan kebudayaan Islam yang sudah sangat maju,31terutama dalam bidang ilmu pengetahuan, sehingga orang Barat berdatangan ke Timur untuk belajar dan menggali ilmu untuk kemudian mereka sebar luaskan di Eropa.

3. Manusia mulai kritis terhadap berita-berita pembukaan negeri baru yang dibawa oleh kaum Salib ke Eropa. Sebagai bukti keinsafas mereka itu ialah perjalanan Marcopolo dalam mencari benua Amerika di abad ke-13 sebagai langkah awal bagi perjalanan Colombus ke Amerika pada tahun 1492.32

4. Kontak perdagangan antara Timur dan Barat semakin pesat. Mesir dan Syiria sangat besar artinya bagi lintas perdagangan Barat. Kekayaan kerajaan dan rakyat kian melimpah ruah. Keadaan seperti ini kian tahun bertambah pesat, sehingga membuk jalan perdagangan sampai ke Tanjung Harapan dan lama
kelamaan perdagangan dan kemajuan Timur berpindah ke Barat.

Dari uraian tersebut di atas, tampaklan bahwa Perang Salib memberikan dampak yang lebih menguntungkan bagi dunia Eropa dan atau dunia Barat. Peperangan ini memberi pengaruh terhadap kemajuan peradaban Eropa. Sebaliknya bagi umat Islam, sekalipun berhasil menghancurkan dan mengusir tentara Salib dari Timur, sebenarnya tidak mendapat manfaat dalam perkembangan budaya dan peradaban, melainkan mendatangkan kehancuran. Karena Perang Salib berlangsung di daerah-
daerah kekuasaan Islam.


Kesimpulan

1. Selain faktor agama yang menjadi pemicu terjadinya Perang Salib, faktor yang
tidak kalah pentingnya adalah ambisi politik dan ekonomi.

2. Perang Salib berlangsung hampir dua abad, kalah dan menang silih berganti
antara pasukan Salib dengan tentara Islam.

3. Salahuddin al-Ayyubi merupakan pimpinan tentara Islam yang sangat popular
dalam Perang Salib. Dia ditakuti sekaligus dikagumi oleh pasukan.
Kesuksesannya dalam memukul mundur Pasukan Salib menjadi barometer bagi
pemimpin-pemimpin tentara Islam kemudian dalam mengudir pasukan Salib
dari Timur.

4. Perang Salib menyebabkan kerugian bagi kedua belah pihak dan khusus bagi
dunia Islam, Perang Salib telah meninggalkan dampak yang negative karena
menyebabkan terjadinya kemusnahan dan kehancuran fisik. Tetapi sebaliknya
bagi dunia Eropa, Perang Salib banyak memberikan sumbangsih bagi
perkembangan peradaban dan budaya Eropa.


Referensi:

Abdul Fattah, Said., Asyur al-Harakat al-Salibiyah, Juz II, Kairo: Maktabat al-Andalus,
1976.

Departemen Agama, Ensiklopedi Islam III, Jakarta: Anda Utama, 1993.

Dewan Redaksi, Ensiklopedia Islam, Jakarta: Ikhtiar Baru Van Hoeve, 1993

Harun, Yahya, Perang Salib dan Pengaruhnya di Eropa, Yogyakarta: Bina Usaha, 1987.

Hitti, Philip, K, The Arabs a Short History, diterjemahkan oleh Ushuluddin Hutagalung
dan O.D.P Sihombing,

Dunia Arab: Sejarah Ribgkas, Cet. VII; Bandung: Sumur Bandung, t.th.

Ibrahim Hasan, Hasan, Tarikh al-Islam, Juz IV, Kairo: Maktabah al-Nahdhah al-
Misriyyah, 1967.

Nasution, Harun, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspek, Jilid I, Jakarta:UI Press, 1985.

Said Abdul Fattah, Asyur, Al-Harakah Ash Shalibiyah, diterjemahkan oleh Muhammad

Marhrus Muslim, Kronologi Perang Salib, Cet I; Jakarta: Fikahati Aneska, 1993.

Shalabi, Ahmad, Mausu’ah al-Tarikh al-Islamy al-Hadharah al-Islamiyah, Mesir:
Maktabah al-Nahdhah, 1977.

Shalabi, Mahmud, Shalah al-Din al-Ayyuby, diterjemahkan oleh mahmadiy, Salahuddin
al-Ayyubi, Pahlawan Perang Salib, Solo: Pustaka Mantiq.Syo’yb, Joesoef,

Sejarah Daulah Abbasiyah, Jilid III, Jakarta: Bulan Bintang, 1977.

Tajuddin, Abdul Rahman, Dirasat Fi al-Tarikh al-Islami, Kairo: Maktabah Al-Sunnahal-
Muhammadiyah, 1953.