Laman

Senin, 26 November 2018

Hawariyun Sahabat Nabi Isa Al-Masih a.s

Hawariyun, dalam Quran mereka digelar sebagai Al-Hawariyun ( ﺍﻟﺤﻮﺍﺭﻳﻮﻥ). adalah beberapa orang sahabat, pengikut, murid setia Nabi Isa Al-Masih a.s. yang sangat taat beragama. Hawariyun sentiasa membenarkan apa yang diajarkan baginda Nabi Isa Al-Masih a.s. kepada Bani Israil, menolong Bani Israil yang telah tercerai berai dan putus asa akhibat penjajahan bangsa pagan Romawi. 



Al-Quran surah Ali Imran; 52 menyebut mereka sebagai Ansharu’llah, yaitu para penolong agama Allah (Mujahid),


فَلَمَّآ أَحَسَّ عِيسَىٰ مِنْهُمُ ٱلْكُفْرَ قَالَ مَنْ أَنصَارِىٓ إِلَى ٱللَّهِ ۖ قَالَ ٱلْحَوَارِيُّونَ نَحْنُ أَنصَارُ ٱللَّهِ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَٱشْهَدْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

falammaa ahassa 'iisaa minhumu lkufra qaala man anshaarii ilaa laahi qaala lhawaariyyuuna nahnu anshaaru laahi aamannaa bilaahi wasyhad bi-annaa muslimuun


Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani lsrail) berkatalah dia: "Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?" Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab: "Kamilah penolong-penolong (agama) Allah, kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri (muslim). 



Selepas menghilangnya Nabi ‘Isa. Lalu mereka menyebar ke segala penjuru negeri Syam, untuk menyantuni kaum du’afah, menyembuhkan orang yang berpenyakitan, memberi sedekah kepada para pengemis, memberi peringatan kepada kaum Yahudi yang me-lampaui batas dalam keagamaan mereka, serta berjihad mempertahankan diri dari yang menentang agama Allah (jalan lurus).




Andariya bin Yunus (Andreas)

Seorang murid Nabi Yahya yang kemudian membantu dakwah Nabi ‘Isa, dan menjadi Hawariyyun pertama, Nabi ‘Isa a.s. 



Namun kaum Nasra-ni menempatkannya pada urutan kedua, dalam daftar al-Hawariyyun.


Syam’un al-Khaifa; bin Yunus (Petrus/Cephas)


Seorang nelayan dari Baitu’s-Saida, negeri al-Jaliliya (sebagian Libanon), yang adalah saudara Andariya bin Yunus). 



Ia mendapat posisi pertama dalam daftar al-Hawariyyun versi Nasrani. Namanya adalah Syam’un bin Yunus, Nabi ‘Isa memberi julukan, Al-Khaifa, yang berarti “batu”.


Ya’qub bin Zabdiya (James/Yakobus {bukan saudara Nabi Yahya})

Nelayan dari Baitu’s-Saida, negeri al-Jaliliya, yang diba’iat oleh Nabi ‘Isa bersama saudaranya, Yahya, sesaat setelah membai’at keluarga Yunus, di pesisir danau Janisrah, sebagai al-Hawariyyun.



Nabi Isa memberi julukan kepada anak-anak Zabdiya dengan sebutan; Bani Ar-Ragas, yang berarti “Anak-anak guruh atau anak Amarah” bersama Yahya bin Zabdiya.


Yahya bin Zabdiya/Yohanes {bukan Nabi Yahya/Yohanes pembabtis bin Nabi Zakaria})


Nelayan Baitu’s-Saida, negeri al-Jaliliya, saudara Ya’qub bin Zabdiya (James/Yakobus). Ia kemudian menjadi al-Hawari yang paling masyur di kalangan pengikut Nabi ‘Isa.



di kalangan pengikut Nabi ‘Isa, sebagai perawi kehidupan al-Masih, yang oleh gereja diakui sebagai Injil Yahya, dan juga menulis kitab Wahyu; sebuah catatan kabar gem-bira tentang kedatangan nabi akhir zaman yang memiliki pedang bermata dua, dan berkendaraan tunggangan putih, tentang umat yang memiliki ki-tab mulia (Al-Qur’an) dan tentang negeri Keselamatan baru yang memiliki Ka’bah (yaitu Makkah).



Falifi al-Jalily (Philip/Filipus)

Filipus berasal dari Betsaida/negeri al-Jalily, kota (kelahiran) Andreas dan Petrus. Ia menempati urutan ke-5 dalam daftar al-Hawariyyun.



Pada malam sebelum Nabi Isa ditangkap, Filipus turut makan Perjamuan Terakhir bersama-sama para murid yang lain.


Ya’qub bin Alifi

Hawariyyun yang berasal dari keluarga pembesar Bani Israil, dan cu-kup dihormati oleh al-Hawariyyun lainnya. Ia menyerukan tentang makan yang Halal dan Haram, sesuai dengan hukum Taurat.


Mattaya al-Lawiy, bin Alifi (Matius/Matthew) Pemungut cukai

Seorang pemukut pajak, yang merujuk kepada perawi riwayat al-Masih, yang diakui oleh gereja sebagai Injil Mattaya. Tapi menurut beberapa pen-dapat penafsir Alkitab, Injil tersebut bukan ditulis oleh Mattayah al-Hawari, tetapi Mattaya lainnya yang tak dikenal. 



Menurut, Injil Barnabas, ia bersa-ma Yusuf Ibnu Nabas, adalah seorang penulis wahyu yang diterima oleh Nabi ‘Isa. Ia termasuk dalam kedua belas Hawariyyun.


Yusuf Ibnu Nabas al-Hawari (Barnabas)

Di antara pengikut nabi ‘Isa yang kemudian, Yusuf as-Siprusi ibnu Nabas, adalah seorang yang tidak kalah pentingnya dikalangan pengikut al-Masih. Beliau adalah seorang yang kaya raya lagi dermawan, dari kalangan suku Lawi, Bani Israil. 



Dalam tradisi Nasrani ia juga sudah menjadi pengi-kut semasa Nabi ‘Isa berdakwah di tengah kaumnya. Yusuf Ibnu Nabas, juga merawi Injil kehidupan al-Masih (Injil Barnabas), yang kemudian oleh kalangan gereja (buatan Paulus) tidak diakui.

Ibnu Nabas menemukan kejanggalan dari setiap dakwah Sya’ul/Paulus, yang bertentangan diameteral dengan ajaran sang Nabi. Akhirnya ia memisah-kan diri dari komunitas yang digagas oleh Sya’ul. Kemudian ia kembali bersama pembantunya yang bernama Yahya ke Siprus.




Semenjak itu, Paulus/Sya’ul dengan surat-suratnya selalu menghujat, dan sa-ngat memusuhi para al-Hawari yang tetap teguh memegang amanat Nabi ‘Isa al-Masih (Islam), dengan fitnahan dan kebohongan. Ya’qub (Yamisi), Syam’un al-Khaifa, Ibnu Nabas, adalah sasaran dari kebenciannya terhadap keteguhan iman Islam para Hawariyyun (Lihat, Galatia; 2: 11-21).



Syam’un al-Kan’ani (Simon orang Kanaan)

Seorang pejuang militan Bani Israil yang menentang pendudukan bangsa Romawi dan kedzaliman penguasa Israil (Yahudi) atas kaum Bani Israil keseluruhan. 



Ia tercatat menjadi anggota kedua belas Hawariyyun.


Yahudza al-Askaryuti; (Yudas Iskariot)

Yahudza al-Askaryuti adalah seorang yang terkenal dengan pengkhi-anatannya kepada Nabi Isa a.s. Dialah yang telah memberitahukan persem-bunyian nabi kepada musuh-musuhnya, di Jaat-Asmani, bukit Zaitun, pada malam jum’at, ketika nabi ‘Isa sedang bermunajat kepada Allah dan meng-hindar dari kebiadaban Kaumnya.



Karena ratap doa nabi yang begitu khusuknya, Allahpun mencurahkan rahmatnya kepada Nabi ‘Isa, dan menyelamatkannya dari kekejian dan pengkhianatan yang telah direncanakan kaumnya. Sehingga orang yang membuat tipu daya, tertipudayai oleh rencana mereka sendiri (dengan izin Allah).


Yahudza at-Tama, bin Daufani (Thomas) 

Seorang yang meragukan pendapat, bahwa Nabi ‘Isa telah wafat di tiang salib dan bangkit dari kematian. 

Sehingga menurut pengikut Sya’ul, ia diberi julukan “Peragu”. Dalam sebuah riwayat, Yahudza at-Tama berdak-wah hingga ke daratan India, dan wafat di sana.


Natsna’il ibnu Tsalami (Bartolomeus/Nathaniel)

Salah seorang yang tercatat menjadi anggota kedua belas Hawariyyun. Nama aslinya adalah Natsna’il. “Ibnu Tsalami”, adalah julukan yang dibe-rikan Nabi ‘Isa kepadanya.





Sahabat Rahasia Nabi Isa Al-Masih a.s Selain Hawariyun:


Nikhadimah (Nikodimus)

Pemilik kediaman yang ada di seberang sungai al-Kidran, di kebun Jaat-Asmani (taman getsamani). Nikodimus termasuk imam besar Farisi (sekte Yahudi selain Sanhedrin). Tidak semua Bani Israel menolak pesan Nabi Isa Al-Masih, Nikodimus termasuk segelintir Bani Israel yang mempercayai dakwah & risalah Nabi Isa Al-Masih, seperti halnya Yusuf Arimatea, Maria Magdalena & Lazarus.

Nikodimus banyak membantu Nabi Isa Al-Masih a.s baik saat berdakwah, maupun saat bersembunyi dari kejaran Bani Israel yang mungkar. Nikodimus memberikan berbagai informasi kepada Nabi Isa Al-Masih mengenai segala rencana jahat para imam besar Yahudi.


Maria Magdalena

Maria terus mengikuti Nabi Isa Al-Masih a.s dengan setia sampai Nabi Isa Al-Masih a.s menghilang.



Maria hadir di persidangan saat Nabi Isa Al-Masih a.s dicecar dengan berbagai tuduhan para imam besar Yahudi yang menuntut agar Pontius Pilatus (gubernur pemerintahan Romawi di Yerusalem) agar menjatuhkan vonis hukuman mati kepada Nabi Isa Al-Masih a.s 


Yusuf Arimatea

Yusuf dari Arimatea Yusuf adalah pengikut Nabi Isa Al-Masih a.s yang tidak setuju dengan keputusan Romawi yang dihasut Yahudi untuk menghukum mati Nabi Isa Al-Masih a.s. Namun secara sendirian tidak dapat mengubah keputusan itu. 




Lazarus (Lazarus dari Betania)


Nama Lazarus berasal dari bahasa Aramik (Ibrani): אלעזר, Elʿāzār, Eleazar, artinya " Allah (telah) menolong". 



Lazarus termasuk sahabat Nabi Isa Al-Masih a.s. Atas izin Allah SWT, Lazarus dibangkitkan kembali setelah 4 hari wafat, melalui mukjizat & doa Nabi Isa Al-Masih a.s dihadapan banyak Bani Israel (atas izin & kehendak Allah SWT), ini membuktikan kebenaran dakwah & risalah Nabi Isa Al-Masih a.s.

Hidangan Turun Dari Langit

Kaum Nabi ‘Isa, adalah kaum duafah, yaitu orang-orang yang kekura-ngan “Makanan”, baik lahir maupun batin (Jiwa). Dalam "Alkitab", Nabi Isa memberi makan ribuan kaum duafah dari masyarakat Bani Israil. Allah menurunkan hidangan yang terdiri dari roti, ikan, delima, dan buah-buahan, serta beragam lainnya.



Ketika al-Hawariyyun meminta sebuah tanda-tanda dari kerasulannya, Nabi ‘Isa memberikan makanan yang datang dari langit (al-Maidah), sebagai-mana dikatakan dalam Alqur’an. 

“Wahai Isa putra Maryam, dapatkah Tuhanmu mengirimkan kepada kami sebuah hidangan dari surga?” Pinta pengikut Isa, atau yang disebut dengan Al Hawariyyun.

Tentu saja permintaan tersebut sangat mengejutkan Nabiyullah Isa. Jika bukan untuk menguji kenabiannya maka para pengikutnya bukan lain ingin menguji kebesaran Allah.

“Takutlah kepada Allah, jika kalian memang beriman,” jawab Isa.

Permintaan “besar” Hawariyyun bermula saat Allah memerintahkan hamba-Nya mengerjakan puasa selama 30 hari. Nabi Isa pun kemudian menyampaikan perintah Allah kepada para muridnya. Maka berpuasalah mereka selama sebulan atau 30 hari. Pada ujung bulan, setelah mengerjakan puasa, para pengikut Isa pun meminta “hadiah”.

Tak tanggung-tanggung, mereka meminta sesuatu yang sangat besar. Mereka menginginkan sebuah hidangan diturunkan dari langit untuk mereka berbuka puasa.

Mendengar permintaan pengikutnya, Isa tak habis pikir. Telah banyak mukjizat yang Allah berikan padanya, namun pengikutnya tak kunjung juga merasa puas. Putra Maryam pun kemudian takut pengikutnya akan seperti umat terdahulu yang meminta sesuatu besar kepada Allah namun berujung pada kekafiran. Dia enggan menyetujui permintaan pengikutnya tersebut.

Namun, para Hawari terus membujuk Nabi Isa. Mereka menginginkan hari raya atas puasa yang telah mereka lakukan dengan turunnya hidangan dari langit. Mereka pun beralasan kepada Isa, “Kami meminta hidangan itu karena kami ingin memakannya dan agar tenteram hati kami, agar keimanan kami menjadi lebih kuat dan supaya kami mengetahui bahwa kau memang menyampaikan hal yang benar dan kami menjadi orang-orang yang menyaksikan hidangan itu,” ujar mereka.

Pengikutnya terus bersikeras, Nabi Isa pun tak sanggup menolak. Dia kemudian bersiap menuju tempat peribadatannya. Mengenakan pakaian bagus, Nabiyullah memohon kepada Allah agar permintaan umatnya dikabulkan.

Dan (ingatlah), ketika Aku ilhamkan kepada pengikut Isa yang setia: “Ber-imanlah kamu kepada-Ku dan kepada rasul-Ku.” Mereka menjawab: “Kami telah beriman dan saksikanlah (wahai rasul) bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang patuh (kepada seruanmu). (Ingatlah), ketika pengikut-pengikut Isa ber-kata: “Hai Isa putera Maryam, sanggupkah Tuhanmu menurunkan hidangan dari langit kepada kami?.” Isa menjawab: “Bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang yang beriman.”Mereka berkata: “Kami ingin memakan hidangan itu dan supaya tenteram hati kami dan supaya kami yakin bahwa kamu telah berkata benar kepada kami, dan kami menjadi orang-orang yang menyaksikan hidangan itu.”

Isa putera Maryam berdoa: “Ya Tuhan kami turunkanlah kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami yaitu orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau; beri rezekilah kami, dan Engkaulah pemberi rezki Yang Paling Utama.”Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menurunkan hi-dangan itu kepadamu, barangsiapa yang kafir di antaramu sesudah (turun hida-ngan itu), maka sesungguhnya Aku akan menyiksanya dengan siksaan yang tidak pernah Aku timpakan kepada seorang pun di antara umat manusia.” (Al-Maidah : 111-115)



Hidangan tersebut terdiri atas roti, ikan, delima dan buah-buahan, dan  beragam lainnya. Aromanya pun sangat harum semerbak. Menerima kasih sayang Allah, Nabi Isa pun kemudian bersujud yang kemudian diikuti para pengikutnya. Lalu para pengikut Isa bertanya, “Wahai Roh Allah, apakah ini makanan dari dunia, ataukah dari surga?”

Nabi Isa dengan sabar menjawab, “Bukankah Allah telah melarang kalian mengajukan pertanyaan macam ini. Hidangan ini dari Ilahi, Allah Maha Berkuasa hanya mengatakan 'jadilah', maka jadilah hidangan ini. Ini adalah tanada dari Allah sekaligus peringatan manusia agar beriman,” ujar Nabi Isa.

Tibalah saat menyantap hidangan. Namun, bukan bersegera memakannya, para pengikut Isa menyuruh nabi mereka memakannya terlebih dahulu. “Kami tidak akan makan sebelum engkau memakannya,” ujar mereka.

Nabi Isa pun menjawab, “Bukankah kalian yang meminta ini sejak awal?” ujarnya. Namun, mereka tetap enggan menyentuh hidangan tersebut. Maka Nabi Isa pun memanggil para fakir miskin dan orang sakit. Mereka diberikan kesempatan menyantap hidangan luar biasa tersebut. Setelah memakannya, tiba-tiba mereka yang sakit menjadi sembuh, yang cacat menjadi normal, yang sekarat menjadi sehat. Melihatnya, para pengikut Isa yang meminta hidangan sejak awal itu pun menyesal tak menyantapnya pertama kali.

Keajaiban Al Maidah pun masih terlihat saat disantap. Meski ribuan orang memakannya, hidangan tersebut tak kunjung habis. Setiap yang memakannya pun mendapat kebaikan yang banyak. Keajaiban Al Maidah ini pun di kemudian hari menjadi satu dari mukjizat Nabi Isa yang disalahartikan pengikutnya. Mereka kemudian melupakan esensi mukjizat nabi Allah dan justru menganggap Isa sebagai putra Allah kemudian menyembahnya.

Kisah Al Maidah ini diberitakan dalam Alquran, bahkan diabadikan menjadi nama surat, yakni surah al-Maidah. 

Sya’ul/Paulus penggagas Kaum Nasraniyyun/Kristen

Di antara kaum Yahudi, ada seorang yang paling memusuhi dakwah Nabi ‘Isa, yaitu seorang yang bernama Sya’ul at-Tarsis, laki-laki yang memim-pin pembantaian keji kepada para pengikut al-Masih. Namun, kemudian ia bertaubat, dan menjadi bagian dari keluarga besar pengikut Nabi ‘Isa, bahkan mendapat posisi penting di mata orang-orang yang mengatakan sebagai pengi-kut al-Masih itu. Ia juga mengaku sebagai al-Hawari yang ke-13, dan mengku sebagai nabi bagi seluruh bangsa yang dikabarkan oleh Nabi ‘Isa, bahkan ia menyebut dirinya, al-Masih. 



Sehingga sebagian besar pengikut al-Masih yang berikutnya, berpaling kepadanya, dan menjadi bagian dari Nasraniyyun. Lalu menjauhi permusyawaratan kaum al-Hawariyyun yang terpilih. Sya’ul juga ikut merajam Kalil Astafani hingga mati, dan setelah itulah namanya menjadi masyur.

Sya’ul inilah yang menggagas Kekristenan yang sebenarnya! Seorang Yahudi yang mengatur segala atribut keagamaan Kristiani dan melembagakan paham Salibiyah di dalam gereja-gereja buatannya.



Sya’ul menyimpang ke negeri orang-orang Samiria, dan ke negeri orang-orang kafir Romawi dan Yunani. Ia menulis surat-surat yang mendominasi Kitab Kristiani, Al-Ahdu al-Jadiid, yaitu; Suratnya kepada Jama’at ar-Rum (Roma), Korintus, Galatia, Efisus, Kolusye, Filifia, Tesaloni dan Ibrani.




Sya’ul memiliki beberapa murid diantaranya, Syilas, dan yang paling masyur adalah Lukas (seorang Tabib) yang dipercaya merawi kisah kehidupan Nabi ‘Isa a.s (yang kemudian diakui oleh gereja sebagai Injil Lukas) dan mera-wi perjalanan dakwah al-Hawariyyun (Kisah para Hawari) yang tentunya me-ngedepankan paham Sya’ul dari pada kebenaran ajaran pengikut ‘Isa yang lain.

Walahu a’lam bi’s-Sawab.