Laman

Sabtu, 10 November 2018

Mengapa Mahluk Hidup (hewan dan tumbuhan) Menggunakan Nama Latin ? Ini Penjelasanya

Binominal atau Nomenklatur menurut kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah penamaan yang dipakai dalam bidang atau ilmu tertentu (sering kali atas dasar kesepakatan internasional) tata susunan dan aturan pemberian nama objek studi bagi cabang ilmu pengetahuan.



Sejarah 

Tata nama dalam biologi telah mengalami perubahan berkali-kali semenjak manusia mencatat berbagai jenis organisme. Plinius dari masa Kekaisaran Romawi telah menulis sejumlah nama tumbuhan dan hewan dalam ensiklopedia yang dibuatnya dalam bahasa Latin. 

Sistem penamaan organisme selanjutnya selalu menggunakan bahasa Latin dalam tradisi pencatatan Eropa . Hingga sekarang sukar dijumpai sistem penulisan nama organisme yang dipakai dalam tradisi Arab atau Tiongkok. Kemungkinan dalam tradisi ini penulisan nama menggunakan nama setempat (nama lokal).

Dalam sejarahnya, banyak pihak yang sempat tidak suka dengan pemilihan bahasa Latin untuk digunakan dalam penamaan ilmiah hewan atau tumbuhan. Selain sudah tidak ada lagi bangsa yang menggunakannya dalam percakapan sehari-hari, bahasa ini terkadang masih cukup sulit untuk diucapkan (pronounciation ). Bahkan oleh orang Eropa yang notabene merupakan wilayah asal dari bahasa Latin.

Pada abad ke-18 Carolus Linnaeus (Karl Line) (1707-1778) seorang ahli biologi dari Swedia telah menemukan klasifikasi tumbuhan (1753) dan klasifikasi hewan (1758). Selain itu beliau juga menciptakan system tatanama makhluk hidup yang disebut system tata nama ganda (binomial nomenklatur), karena itu ia dijuluki Bapak Taksonomi.



Bahasa Latin sendiri berasal dari Latium, sebuah daerah di dekat kota Roma, Italia.
Oleh karenanya pada saat Kekaisaran Romawi muncul, bahasa Latin digunakan sebagai bahasa resminya.

Selanjutnya, dengan berbagai penaklukan yang menandai kejayaan dari kerajaan ini, maka bahasa Latin pun menyebar di daerah-daerah jajahannya. Mulai dari Britania Raya (Kerajaan Inggris) di wilayah barat laut, hingga ke wilayah Palestina yang berada di utara. Ketika kekaisaran Roma runtuh, bahasa ini tidak serta merta ‘runtuh’.


Alasan lain dari dipilihnya bahasa Latin untuk digunakan dalam penamaan makhluk hidup adalah digunakannya bahasa ini di gereja-gereja Eropa. Jadi penggunaannya dapat meningkatkan gengsi bagi nama flora atau fauna tersebut dan yang jelas tidak akan ada yang berani mencaci.

Selain itu, alasan yang terakhir, bahasa Latin juga sering digunakan oleh para kaum terpelajar di perguruan-perguruan tinggi di Eropa. Hal ini akan memudahkan penerapannya ke dalam biologi (bidang ilmu yang sering menggunakannya). Beberapa perguruan tinggi semisal Oxford di Inggris, Sorbonne di Prancis, serta Bologna di Italia masih menggunakan literatur berbahasa Latin dalam pendidikannya.


TATA Nama Binominal

Pemberian nama ilmiah pada setiap makhluk hidup bertujuan agar spesies mudah dikenali dan menghindari kesalahpahaman. Nama ilmiah berlaku secara universal. Tidak seperti nama lokal diman spesies akan disebut berbeda didaerah yang berbeda.

Tata nama binomial atau binomial nomenklatur dalam ilmu biologi merupakan aturan penamaan baku bagi semua organisme (makhluk hidup) yang terdiri dari dua kata ( binomial berarti 'dua nama') dari sistem taksonomi (biologi), dengan mengambil nama genus dan nama
spesies . 


Nama yang dipakai adalah nama baku yang diberikan dalam bahasa Latin atau bahasa lain yang dilatinkan. Aturan ini pada awalnya diterapkan untuk fungi , tumbuhan dan hewan oleh penyusunnya (Carolus Linnaeus), namun kemudian segera diterapkan untuk bakteri pula. 

Sebutan yang disepakati untuk nama ini adalah 'nama ilmiah' ( scientific name). Orang Awam seringkali menyebutnya sebagai "nama latin" meskipun istilah ini tidak tepat sepenuhnya, karena sebagian besar nama yang diberikan bukan istilah asli dalam bahasa latin melainkan nama yang diberikan oleh orang yang pertama kali memberi pertelaan atau deskripsi (disebut deskriptor ) lalu dilatinkan ataupun dari bahasa Latin sendiri.

Penamaan organisme pada saat ini diatur dalam Peraturan Internasional bagi Tata Nama Botani (ICBN) bagi tumbuhan, beberapa alga, fungi, dan lumut kerak, serta fosil tumbuhan; Peraturan Internasional bagi Tata Nama Zoologi (ICZN) bagi hewan dan fosil hewan; dan Peraturan Internasional bagi Tata Nama Prokariota (ICNP). Aturan penamaan dalam biologi, khususnya tumbuhan, tidak perlu dikacaukan dengan aturan lain yang berlaku bagi tanaman budidaya ( Peraturan Internasional bagi Tata Nama Tanaman Budidaya , ICNCP).


Pemberian nama ilmiah utuk setiap jenis spesies dengan menggunakan sistem tata nama ganda, yang disebut binomial nomenklatur. 



Pemberian nama spesies menggunakan dua kata yang mendeskripsikan organisme tersebut. Sistem tata nama binomial nomenklatur mengikuti beberapa kaidah, sebagai berikut:



1. Menggunakan bahasa latin atau bahasa lain yang di latinkan.
2. Terdiri atas dua kata, dimana kata pertama merupakan nama genus, sedangkan kata kedua merupakan nama spesies yang spesifik.
3. Huruf pertama pada kata pertama ditulis dengan huruf besar (uppercase), huruf selajutnya ditulis dengan huruf kecil (lowercase).
4. Nama genus dan nama spesies dicetak miring (italic) atsa digarisbawahi secara terpisah.
5. Nama atau singkatan nama deskriptor dapay dituliskan dibelakang nama spesies, dengan menggunakan huruf tegak dan tanpa garis bawah.


Cara pemberian nama ilmiah berdasarkan sistem binomial nomenclature :





A.Nama Jenis (Spesies)
Berikut adalah cara pemberian nama ilmiah pada tingkat spesies :
  1. Menggunakan bahasa latin atau bahasa lain yang dilatinkan
  2. Nama jenis terdiri dari dua kata. Kata pertama merupakan nama genus yang huruf awalnya ditulis dengan menggunakan huruf kapital. Sedangkan kata kedua merupakan nama penunjuk spesies yang huruf awalnya ditulis menggunakan huruf kecil.
  3. Nama jenis dicetak miring jika menggunakan komputer, atau dapat digaris bawahi secara terpisah jika menggunakan tulisan tangan. 
  4. Nama penemu boleh dicantumkan di belakang spesies. Contoh : Oryza sativaL. (Padi) L menunjukan singkatan dari nama penemunya (L = Carolus Linnaeus)
  5. Jika nama spesies belum diketahui maka dapat menggunakan "sp." (zoologi) atau "spec." (botani). Contoh : Canis sp.

Contoh nama jenis (spesies) :
  • Nama ilmiah padi adalah (Tulisan komputer) atau Oryzasativa (Tulisan tangan). Oryza merupakan nama genus, sedangkansativa  merupakan nama jenis. 

  • Nama ilmiah kelapa adalah Cocos nucifera (Tulisan komputer) atauCocos nucifera (Tulisan Tangan). Cocos merupakan nama genus, sedangkan nucifera merupakan nama jenis.


B.Nama Marga (Genus)
Nama Marga hanya terdiri dari satu kata saja. Nama marga ditulis dengan cetak miring dan huruf awalnya menggunakan huruf besar. Contoh : Felis (Kucing)






C.Nama Suku (Famili)
Nama suku diambil dari nama salah satu marga anggota famili. Terdapat perbedaan tata cara penamaan pada nama suku antara hewan dengan tumbuhan. Pada hewan nama suku ditulis dengan menggunakan nama marga dan dibelakangnya ditambah dengan idae (Nama marga + idae). Sedangkan pada tumbuhan, nama suku ditulis dengan menggunakan nama marga dan dibelakangnya ditambah dengan aceae(Nama marga + aceae).


Contoh nama suku (famili) : Solanum menjadi Solanaceae (Solanum + aceae)


D.Nama Bangsa (Ordo)
Hanya berlaku pada tumbuhan, nama bangsa diambil dari salah satu nama suku dengan mengubah akhiran aceae menjadi ales. Contoh : Zingiberales (Zingiber + ales)




E.Nama Kelas (Classis)
Nama Kelas diambil dari nama suku + nae. Atau juga dapat diambil dari ciri khas suatu organisme tersebut. Contoh : Chlorophyta,




F.Nama Divisi (Filum)
Nama Divisi pada tumbuhan, akhirannya diberikan pyhta atau mycota. Contoh :Antophyta, Eumycota.




Referensi :

Mengapa Nama-Nama Ilmiah Menggunakan Bahasa Latin intisari.grid.id

Sistem Tata Nama Makhluk Hidup - Sridianti.com

Tata nama biologi - Wikipedia

Sistem Tata Nama Ilmiah Mahluk Hidup (Binomial Nomenclature) - D'kings Blogspot