Laman

Rabu, 14 November 2018

Kebohongan Holocaust - Holocaust Denial and Distortion


Setiap tanggal 21 April pukul sepuluh pagi waktu Tel Aviv, orang-orang Zionis bmenghidupkan sirene dan alarm di segenap penjuru Palestina yang dirampas. Seluruh orang Yahudi di Palestina maupun di luar Palesitna.



Mereka berdiri selama satu menit untuk berkabung, sebagaimana yang mereka klaim, atas pembantain 6 juta orang Yahudi oleh Nazi Jerman dengan mengurung dan mengeksekusi mereka di kamar gas di bawah perintah Hitler.



Konon katanya, Holocaust adalah "peristiwa pemusnahan hampir seluruh Yahudi Eropa oleh Nazi Jerman dan kelompoknya selama Perang Dunia II". Orang Yahudi sering menyebut peristiwa ini sebagai Shoah, istilah Ibrani yang berarti malapetaka atau bencana hebat. Holocaust sendiri berasal dari bahasa Yunani, holo yang artinya seluruh, dan caustos yang berarti terbakar.

Secara harafiah, holocaust artinya adalah persembahan api atau pengorbanan religius dengan pembakaran. Konon, Nazi Jerman dipercaya telah memusnahkan sekitar 5,6 sampai 5,9 juta orang Yahudi, setidaknya angka inilah yang selalu didengung-dengungkan dan dikampanyekan oleh Yahudi.

Holocaust tidak lepas dari kebencian Jerman kepada Yahudi. Perang Dunia I (PD I) menyisakan Jerman sebagai pecundang, dan Jerman tanpa tedeng aling-aling menyebut Yahudi sebagai pengkhianat yang membuat negara Bavarian itu hancur. Hal itu diperkuat dengan kejadian pada akhir PD I, sekelompok Yahudi mengobarkan revolusi Bolshevik Soviet di negara bagian Jerman, Bavaria.


Yahudi dianggap sebagai bangsa yang berbahaya. Ketika Nazi naik panggung politik, kebijakan yang menekan Yahudi pun diterapkan. Hak-hak Yahudi dicabut, harta benda mereka disita, rencana untuk mengusir mereka keluar Jerman dirancang, sampai, konon, pemusnahan fisik yang berarti pembantaian.


Musim semi 1941, Nazi mulai membantai Yahudi di Uni Soviet yang dianggap sebagai sumber hidup Bolshevisme. Orang Yahudi disuruh menggali lubang kubur mereka sendiri, kemudian ditembak mati. Musim gugur tahun yang sama, Nazi meluaskan pembantaian ke Polandia dan Serbia.



Kamp pembantaian untuk Yahudi mulai dibangun di Auschwitz, Dachau, Bergen-Belsen. Kamp itu dilengkapi kamar gas dan tungku besar. Mereka menggunakan kamar gas untuk membunuh orang Yahudi. 



Beberapa orang Yahudi dimasukkan ke dalam kamar gas, kemudian gas Zyklon-B, sebuah gas pestisida berbahan dasar asam hidrosianik, dialirkan.





Pemutarbalikan Fakta 

Memang betul, Nazi memperlakukan Yahudi demikian buruk, kejam, dan bengis. Nazi pernah memberlakukan pencabutan hak-hak Yahudi, penawanan di ghetto, kerja paksa, penyitaan harta benda dan deportasi dari Jerman. Namun, sampai saat ini, tak pernah ditemukan satupun dokumen atau masterplan tentang pemusnahan Yahudi di Eropa. Satu lagi, Jerman juga dengan secara tegas menyatakan bahwa jumlah 5,9 atau 6 juta korban merupakan kebohongan.


Berdasarkan data statistik Eropa sebelum Perang Dunia II jumlah total Yahudi di Eropa ialah 6,5 juta jiwa. Artinya Yahudi di Eropa musnah pasca peristiwa Holocaust. 



Data itu pun dengan mengenyampingkan data keimigrasian Eropa yang mencatat gelombang migrasi 1,5 juta Yahudi Jerman periode 1933 – 1945 ke Inggris, Swedia, Spanyol, Australia, China, India, Palestina dan Amerika Serikat.


Pada tahun 1939 berdasarkan data statistik pemerintah Jerman terjadi migrasi 400.000 (empat ratus ribu) Yahudi dari Jerman, dan 480.000 (empat ratus delapan puluh ribu) orang dari Austria dan Cekoslovagia, dan dua juta orang lebih ke Uni Soviet. Migrasi besar-besaran ini merupakan rangkaian dari misi pemukiman Yahudi di Madagaskar, tetapi mereka merubah arah ke berbagai negara, sementara aset mereka tidak berhasil disita. Jika harta mereka berhasil dirampas Nazi saat itu tentu mereka tidak akan menguasai perekonomian dunia seperti hari ini.




Data-data di atas menunjukkan bahwa populasi Yahudi Eropa tidak lebih dari dua juta orang. Hal ini dikuatkan oleh data tahun 1938 yang mana jumlah populasi Yahudi di seluruh dunia 16,5 juta jiwa. 

Jika korban Holocaust benar 6 juta jiwa tentu yang masih hidup tinggal 10,5 juta jiwa. Tetapi data sepuluh tahun setelah peristiwa tersebut, tahun 1948, diumumkan bahwa jumlah orang-orang Yahudi di dunia ialah 18,5 juta jiwa. Jika jumlah korban Holocaust 6 juta jiwa selama Perang Dunia II, mustahil pertumbuhan 10 juta orang yang tersisa dalam sepuluh tahun menjadi 18,5 juta.


Tidak satu teori kependudukan pun membenarkan angka pertumbuhan ini. Dengan demikan Holocaust tidak lebih dari sebuah kebohongan terbesar dalam sejarah; "enam juta orang Yahudi terbunuh", padahal total jumlah mereka di Eropa tidak lebih dari dua juta orang. Di samping itu tidak semua negara Eropa berhasil dikuasai Jerman.



Penolakan Para Pakar dan Ahli Sejarah

Yahudi tentu saja mengambil keuntungan dari kebohongan besar mereka ini. Mereka yang merasa menjadi korban kemudian menuntut mendirikan negara Yahudi, Zionis Israel di atas tanah Palestina. Motif lain adalah untuk meminta ganti rugi kepada Jerman, dan umtuk meraih simpati dunia internasional, meminta dana pembangunan dari negara, dan senantiasa memelihara isu Holocaust. Tak pelak lagi, Israel selalu bersembunyi di balik Holocaust atas semua aksi keji dan biadabnya.

Amerika Serikat, menjadi negara yang paling vokal mengkampayekan Holocaust. Selain memberikan bantuan jutaan $ dollar, mereka juga selalu menjadi pembela setia Israel di forum internasional, contohnya di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB/United Nation). Setiap Israel terpojok, Amerika Serikat selalu memVeto semua kebijakan & keputusan yang dinilai merugikan Israel.



Anggaran belanja tahunan Museum Holocaust Wasingthon yang didirikan oleh pemerintah Federal Amerika Serikat sebesar $ 50.000.000 (lima puluh juta Dolar AS), 60% atau 30 juta berasal dari kas pemerintah Federal (pemerintah pusat AS).



Tak ada penghargaan lebih tinggi melebihi Holocaust di Amerika Serikat.. Sampai-sampai banyak warga Amerika yang lebih mengenal Holocaust dibanding sejarah penting mereka sendiri seperti peristiwa Pearl Harbor, di mana sejarah jatuhnya bom atom oleh Jepang. 




Hasil Riset & Investigasi 
serta Bantahan Para Pakar, Ahli Sejarah & Jurnalis

Banyak bukti yang dikeluarkan oleh ilmuwan barat sendiri yang menjelaskan kebohongan holocaust ini. Historical revisionism adalah bagian dari ilmu sejarah ; yaitu penyelidikan ulang dari accepted history (sejarah yang sudah diterima secara umum) dengan tujuan untuk lebih memperjelas peristiwa tersebut. 


Sebenarnya dari kalangan ilmuwan barat sendiri ada beberapa yang menyangkal adanya Holocaust, di antaranya: Pengarang Perancis Roger Garaudy , Professor Robert Maurisson, Ernst Zundel, David Irving, tetapi hampir semuanya dinyatakan bersalah dan dijebloskan kedalam penjara. Mereka semua harus menjalani hukuman atas keberanian mereka menentang fakta adanya kebohongan Holocaust.


‘’Saya tidak pernah melihat seorang presiden --- siapapun dia --- menentang mereka (Israel). Ini sangat mengejutkan. Mereka selalu mendapatkan apa yang mereka inginkan. Israel mengetahui apa yang sebenarnya yang sedang terjadi di sepanjang waktu. Jika orang-orang Amerika mengerti cengkraman apa yang dimiliki oleh orang-orang ini dalam pemerintahan kami, mereka akan mengangkat senjata. Warga negara kita ternyata tidak mengetahui perihal ini.’’
(Jewish Frontier. Lindbergh and the Jews. By Hal Derner).



Kebungkaman dunia atas "matinya 6 juta orang secara keji" tentu saja bukan hal yang kecil. Namun, anehnya ketika peristiwa ini terjadi dunia seolah bungkam. Negara-negara netral tidak mengecam Nazi, palang merah diam saja, bahkan gereja-gereja pun juga sama. Dari sini saja sudah kelihatan sangat janggal. Kenapa banyak yang diam ketika hal ini terjadi?


Ya tentu saja, karena memang tak pernah ada peristiwa yang semacam itu. Jika memang ada, jangankan 6 juta, 500 ribu orang dibantai tentu sudah menimbulkan huru-hara di seluruh dunia, apalagi ini terjadi di Eropa, di mana mata dunia benar-benar menyorot mereka.

Orang-orang yang meragukan Holocaust terebut di sebagian negara Eropa Barat harus diinterogasi sebagai kriminalis dan dijatuhi hukuman penjara. Peraturan ini dituangkan dalam perundang-undangan resmi yang mereka sebut Undang-Undang Anti Semit. 


Yang bersangkutan kemudian dilarang bekerja di pemerintahan dan memegang jabatan strategis, demikian juga –secara tidak langsung maupun terang-terangan –dengan keluarganya. Jika sebelumnya mereka telah bekerja di instansi tertentu, maka mereka tidak diberi kesempatan untuk meningkatkan karier, sebagai sanksi terhadap antipati mereka kepada Yahudi.

Mahmoud Ahmadinejad, mengatakan "Belum pernah ada tokoh di dunia yang berani secara terang-terangan mengatakan keberadaan holocaust hanya sekedar mitos. Sebab, bagi banyak orang, khususnya di Barat dan Eropa, menolak keyakinan keberadaan Holoucaust pasti dianggap sebagai anti semit (anti Yahudi). 


Mahmoud Ahmadinejad kembali mengatakan "Holocaust, yang diklaim kaum Yahudi sebagai peristiwa pembantaian oleh Nazi Jerman di bawah Adof Hitler di masa Perang Dunia II -kaum Yahudi juga menyebutnya sebagai the final solution- dan dianggap menyebabkan lebih dari enam juta kaum Yahudi dibantai’ di ruang gas di kamp-kamp Auschwitz tak lain hanyalah kebohongan’ tergoranisir dan tercanggih di abad ini".

"Kecuali orang tak tidak waras, bagi kebanyakan orang normal, meyakini lebih dari enam juta kaum Yahudi disiksa dan dibantai adalah sulit dinalar. Bagi yang percaya propaganda murahan seperti ini, membantai jutaan orang -secara matematis membutuhkan 137 orang perjam-nya untuk dibantai-adalah omong kosong yang tak bermutu. Sebab, selama Perang Dunia II, hanya ada segelintir kamp-kamp di Jerman. Selain itu, kota Austchwitz adalah kota kecil. Seharusnya Jerman harus menyediakan ratusan kamp di kota kecil itu" ujar Mahmoud Ahmadinejad.

Pada 1964, Paul Rassinier, korban holocaust yang selamat, menerbitkan The Drama of European Jews yang mempertanyakan apa yang diyakini dari Holocaust selama ini. 



Dalam bukunya, ia mengklaim bahwa sebenarnya tak ada kebijakan pemusnahan massal oleh Nazi terhadap Yahudi, tak ada kamar gas, dan jumlah korban tidak sebesar itu.



Tahun 1933 jumlah Yahudi di Eropa diperkirakan hanya 494 ribu saja. Lalu bagaimana bisa di peristiwa Holocaust yang tak sampai 20 tahun terpautnya dari data terakhir jumlahnya bisa sedemikian banyak? Pastilah ada semacam kengawuran di sini. Kecuali kalau orang-orang Yahudi melakukan kawin massal dan melahirkan anak-anak dengan produktif. Jika pun demikian, setidaknya butuh bertahun-tahun untuk menjadikan angka 494 ribu menjadi 6 juta lebih.




Arthur Butz menulis The Hoax of the 20th Century: The case against the presumed extermination of European Jewry pada 1976. Ia mengklaim bahwa gas Zyklon-B tidak digunakan untuk membunuh orang tapi untuk proses penghilangan bakteri pada pakaian.



Winston Churchill menulis 6 jilid karya monumentalnya, The Second World War, tanpa menyebut tentang program Nazi untuk membantai orang Yahudi. Eisenhower menulir memoarnya, Crusade in Europe , juga tak menyebut tentang kamar gas.

Mengenai kematian massal di Auschwitz, Robert Faurisson, profesor literatur di University of Lyons 2 mengklaim tipus-lah yang membunuh para tawanan itu, sama sekali bukan kamar gas. 



Seorang ahli konstruksi dan instalasi alat eksekusi dari AS, Fred Leuchter, pergi ke Auschwitz dan mengadakan penyelidikan serta tes di tempat itu.



Kesimpulannya adalah kamar gas di Auschwitz tidak mungkin digunakan untuk membunuh orang. Setelah orang-orang ini mempertanyakan kebenaran holocaust, gelombang kritisasi dan penyangkalan terhadap apa yang terjadi di holocaust mulai bangkit. Mereka yang meragukan kebenaran holocaust ini menyebut dirinya sebagai revisionis.

Kamar gas memang ditemukan di Auschwitz. Namun, para revisionis mengklaim bahwa kamar gas beserta Zyklon-B tidak mungkin digunakan untuk eksekusi manusia, melainkan untuk pengasapan pakaian agar bakteri-bakteri di pakaian mati. Dari prosedur kesehatan inilah, mitos pembunuhan dengan kamar gas muncul.



Yang ditemukan hanyalah ruangan kecil tempat memproduksi insektisida dan pestisida. Tidak dipungkiri terjadinya pembakaran tubuh manusia, tetapi dilakukan terhadap mayat korban penyakit typus yang memakan banyak korban pada tahun-tahun terakhir perang karena berkurangnya pelayanan kesehatan setelah hancurnya bunker-bunker bawah tanah milik Jerman.


Tidak masuk akal pula Jerman menghabiskan energi dan bahan bakar yang begitu besar untuk mengeksekusi dan membakar 6 juta orang padahal mereka sangat membutuhkan energi dan bahan bakar di front-front tempur melawan Sekutu.


Anggota Kongres dari Partai Republik, Arthur Jones, menegaskan, peristiwa Holocaust tidak pernah terjadi. Ia menilai peristiwa yang selalu diklaim orang Yahudi itu sebagai salah satu "kebohongan paling hitam dalam sejarah. Ini merupakan kebohongan paling hitam dalam sejarah. Jutaan dolar dikeruk oleh kaum Yahudi dengan menceritakan kisah kesulitan dan kemalangan mereka di buku-buku, film, drama, dan TV," ujar Jones.



Hingga detik ini, tidak ada dokumen resmi soal Holocaust. Tidak ada satu dokumen pun yang menjelaskan tentang rencana pemusnahan Yahudi. Bahkan di Jerman tidak pernah ditemukan rencana Nazi untuk menumpas jutaaan Yahudi. 


Buku yang dikarang & ditulis para pemimpin yang melawan Jerman Nazi seperti Winston Churcill di 6 jilid Second World War, Eisenhower yang berjudul Crusade in Europe , dan 3 jilid buku nya de Gaulle yang berjudul MÃcmoires de guerre;  tidak ada satupun dari halaman buku itu yang menyebutkan 6 juta orang yahudi tewas, kamar gas, dan genosida membunuh semua yahudi. tidak ada sama sekali.


Bahkan buku Mein Kampf yang dikarang sendiri oleh Hitler, tidak pernah menyebutkan akan memberantas Yahudi. Padahal, pimpinan sekaliber Hitler pastilah akan selalu memiliki catatan penting untuk strategi-stateginya. Dalam bukunya tersebut, Hitler hanya mengucapkan "Final Solution" (mengusir Yahudi dari tanah Eropa, bukan membunuh mereka semua).




Klaim Foto dan Dokumentasi "Holocaust"

Pengadilan kejahatan perang paling terkenal setelah Perang Dunia II adalah pengadilan “besar” atas penjahat perang Jerman yang dilaksanakan di Nuremberg, Jerman. Pejabat terkemuka rezim Nazi diadili di depan Mahkamah Militer Internasional (IMT) di Nuremberg, di hadapan hakim-hakim dari Inggris, Prancis, Uni Soviet, dan Amerika Serikat. 



Sepanjang pengadilan Nuremberg, film yang dibuat Nazi Jerman tentang diri mereka sendiri justru berubah menjadi bukti kejahatannya. Sejak kemunculan pertama Partai Nazi di tahun 1920an, lewat invasi militer Perang Dunia II. Selain film dan foto resmi yang diproduksi atas perintah pemerintah Nazi, tentara dan polisi Jerman juga banyak memotret dan membuat potongan film operasi Jerman terhadap kaum Yahudi dan warga sipil lainnya.



Foto utama yang dijadikan barang bukti genosida Yahudi pada Mahkamah Nurnberg tidak lain adalah foto korban bombardir pesawat sekutu di kota Dresden Jerman tanggal 13-15 Februari 1945.



Keterangan di atas dikuatkan oleh sejarawan Prancis Paul Rassinier yang waktu itu bertugas di salah satu kamp yang disebutnya sebagai kamp produktif penyangga perang dalam bukunya The Drama of The European Jews. Dalam bukunya tersebut Rassinier mengemukakan keterangan yang mengejutkan. 


Menurutnya dokumentasi-dokumentasi yang dipublikasikan kepada dunia sebenarnya merupakan bagian dari arsip pemerintah Jerman sendiri. Foto-foto itu oleh Pemerintah Jerman dimaksudkan untuk mendokumentasikan dan mempublikasikan buruknya wabah kelaparan dan penyakit Typus di Jerman, khususnya pada tahun terakhir berlangsungnya perang. 


Foto utama yang dijadikan barang bukti genosida Yahudi pada Mahkamah Nurnberg tidak lain adalah foto korban bombardir pesawat-pesawat sekutu di kota Dresden Jerman tanggal 13-15 Februari 1945.



Peristiwa itu sendiri termasuk menimbulkan kerusakan terparah selama Perang Dunia II; 9.000 ton yang dijatuhkan ke kota tersebut meratakan 24.866 buah rumah dari 28.410 rumah yang ada waktu itu, menghancurkan 72 sekolah, meluluhlantakkan 22 rumah sakit, 18 gereja, 5 gedung teater, 50 bank, 61 hotel, dan 31 pusat perdagangan. Diperkirakan 25.000 – 35.000 orang meregang nyawa menjadi korban.

Publikasi fiktif penggelembungan jumlah korban ini disokong oleh siasat Uni Soviet yang berkepentingan untuk meluaskan pengaruh dan kekuasaannya di Eropa menggantikan Jerman, di samping menutupi kejahatan mereka terhadap tawanan perang.


Sungguh janggal, orang-orang yang mengaku selamat dari genosida Holocaust justru melakukan hal yang serupa terhadap bangsa Palestina. Bagaimana korban kejahatan kemanusiaan bisa berproses menjadi penjahat yang lebih sadis?

n

Referensi :

Donald L. Niewyk, ed. The Holocaust: Problems and Perspectives of Interpretation, D.C. Heath and Company, 1992.

Tom Smith, "The Polls--A Review: The Holocaust Denial Controversy." Public Opinion Quarterly 59 (Summer 1995)

Gord McFee, " why 'Revisionism' isn't ," The Holocaust History Project (accessed June 8, 2005).

Buku "The Six Million: Fact or Fiction"
oleh Peter Winter

Buku "Diplomasi Munafik Zionis Israel
oleh Paul Findley

Buku "The Holocaust Industry"
oleh Norman Finkelstein


Buku "The Myth of the Extermination of the Jews"
oleh Carlo Mattogno


Holocaust: Misteri Yahudi Yang Penuh Kebohongan - Era Muslim

5 Alasan ini Bisa Jadi Bukti Jika Holocaust Murni Kebohongan Belaka - Boombastis.com

Arthur Jones: Holocaust, Kebohongan Paling Hitam dalam Sejarah - Republika.co.id

HOLOCAUST REKAYASA PEMBANTAIAN YAHUDI : oleh: Syaikh Mamduh Farhan al-Buhairy Kisahislam.net