Laman

Kamis, 29 November 2018

Nabi Yusya' bin Nun (Joshua) as


Yusya‘ bin Nūn ( Arab: ﻳﻮﺷﻊ, Ibrani : יְהוֹשֻׁעַ Yehoshua/Joshua adalah salah seorang nabi yang memimpin Bani Israel memasuki tanah Palestina. Nabi Yusya' bin Nun merupakan keturunan dari Ifrosun bin Yusuf AS bin Ya'kub AS bin Ishaq AS bin Ibrahim AS.

Nama Nabi Yusya’ a.s. tidak disebutkan secara eksplisit di dalam Al-Qur'an, akan tetapi beliaulah yang mendampingi Musa ketika keduanya berjalan hingga bertemu dengan Nabi Khidir a.s. seperti yang tertuang dalam sebuah ayat di Surah Al-Kahfi :


ﻭَﺇِﺫْ ﻗَﺎﻝَ ﻣُﻮﺳَﻰ ﻟِﻔَﺘَﻯﻪُ ﻟَﺂ ﺃَﺑْﺮَﺡُ ﺣَﺘَّﻰٓ ﺃَﺑْﻠُﻎَ ﻣَﺠْﻤَﻊَ ﭐﻟْﺒَﺤْﺮَﻳْﻦِ ﺃَﻭْ ﺃَﻣْﻀِﻰَ ﺣُﻘُﺒً

Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya: "Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun." (Q.S. Al-Kahfi [18]: 60)


Menjelang akhir hayatnya, Nabi Musa a.s. menyadari bahwa saat-saat yang ditunggu telah tiba bagi kaumnya untuk memasuki tanah yang dijanjikan, meskipun tanpa kehadiran dirinya. Melalui bimbingan Allah SWT, Nabi Musa pun mempersiapkan seorang Yusya' bin Nun a.s., sebagai pemimpin Bani Israil menggantikan dirinya.



Sepeninggal Nabi Musa, Nabi Yusya memulai persiapan untuk memasuki Yerusalem, dengan cara menembus Benteng Kota Yerikho pun mulai dilakukan. Ia kemudian mengirim dua orang pengintai untuk mengamati wilayah kota itu. Hampir saja kedua pengintai itu tertangkap oleh pasukan Yerikho jika tidak diselamatkan oleh seorang wanita tuna susila bernama Rahab.

Dari wanita ini pulalah diketahui bahwa penduduk Kota Yerikho sebenarnya lebih takut kepada kaum Bani Israil yang mereka anggap memiliki kesaktian atau kekuatan gaib lantaran dukungan dari Yang Maha Kuasa. 

Rahab, sang wanita itu, mengatakan, "Kengerian menghinggapi kami karena Tuhan telah mengeringkan Laut Merah bagi kalian. Ketika kami mendengarnya, ciutlah hati kami dan jatuhlah semangat tiap-tiap orang dari kami, sebab Tuhan kalian adalah Penguasa langit dan bumi."

Kemudian saat yang lama dinantikan itu pun tiba, Nabi Yusya' a.s. mempersiapkan kaumnya untuk berangkat menjelang takdir penaklukan Yerusalem.

Rasulullah SAW pernah menjelaskan ihwal persiapan perang suci ini di dalam sebuah hadits:

"Salah satu dari nabi telah melakukan perang suci. Ia berkata kepada kaumnya: 'Barangsiapa yang telah menikahi seorang perempuan dan berkehendak untuk bercampur dengannya namun belum terlaksana; lalu mereka yang sedang membangun rumah namun belum menegakkan atap rumahnya; juga mereka yang telah membeli kambing-kambing dan unta-unta yang hamil dan menunggu kelahirannya, mereka itu tidak akan ikut (untuk berperang) bersamaku.' — HR. Muslim 19/4327
Nabi Yusya' mensyaratkan bahwa mereka yang ikut berperang bersamanya adalah mereka yang tidak terbuai hatinya dengan pernak-pernik dunia. Karena bukanlah jumlah prajurit yang dicari, melainkan keikhlasan dalam melaksanakan jihad ini.

Nabi Yusya berkata kepada kaumnya, "Sucikan dan teguhkanlah niatmu, sebab besok Tuhanmu akan melakukan perbuatan yang ajaib di antara kamu." Nabi Yusya' berkata kepada para imam, "Bawa dan usung Tabut Perjanjian, berjalanlah kalian di depan."



Dalam syariat Bani Israel, mengusung Tabut adalah simbol bahwasanya peperangan ini adalah sebuah perintah dari Allah SWT dan hanya dapat dilakukan dengan kekuatan-Nya semata, bukan oleh kekuatan sendiri.

Maka dimulailah perjalanan suci yang didasari atas keyakinan dan ketakwaan ini. Para imam, sembari mengangkat Tabut, berjalan di barisan terdepan memimpin pergerakan kaum Bani Israil. Sementara itu, Allah SWT telah mempersiapkan sebuah mukjizat yang tak disangka-sangka. 

Sesampai di tepi Sungai Yordan, tatkala para imam mulai mencelupkan kakinya ke dalam air untuk menyeberang, tiba-tiba aliran sungai terhenti dan terbukalah jalan kering melintasi sungai di depan mereka, persis seperti tatkala Allah SWT menyiapkan jalan kering bagi Musa dan pengikutnya membelah Laut Merah.

Pasukan Bani Israil pun menyeberangi sungai yang lebar dan dalam itu, tanpa mengalami kesulitan yang berarti. Sebelum sampai di seberang sungai, Nabi Yusya' a.s. menerima petunjuk dari Allah SWT agar memerintahkan wakil dari masing-masing suku Bani Israil — yakni sebanyak 12 suku — untuk mengambil 12 batu yang menjadi bekas injakan para imam ketika melintas di tengah sungai, untuk dibawa ke pinggir sungai dan diletakkan di tempat mereka akan bermalam.

Duabelas batu adalah simbol yang kerap dipakai untuk menandai sebuah kejadian yang spektakuler, terutama pada masa Kerajaan Yehuda sebelum kekuasaan Raja Yosiah (Ulangan 27: 1-8). Hal semacam juga pernah terjadi pada Nabi Ilyas (Elia) a.s. yang menggunakan 12 batu untuk membangun altar, sebagai tempat berkurban atau persembahan di Gunung Karmel.

Sesampai di pinggir Sungai Yordan, tepatnya di wilayah bernama Gilgal di perbatasan Yerikho, batu-batu itu pun diletakkan dengan formasi khusus, melingkar tepat di tempat para pimpinan keduabelas suku berkumpul bersama Nabi Yusya'. Hal ini dimaksudkan — sebagaimana tertulis di Kitab Yosua — sebagai pengingat bagi anak cucu mereka nanti bahwa Allah SWT telah menjadikan, di depan mata mereka sendiri, jalan kering melintasi Sungai Yordan kepada kaum Bani Israil dalam peperangan ini.

Mereka pun berkemah di Gilgal. Di sana, mereka melakukan ibadah pensucian (thaharah) dengan melakukan sunat (khitan) — yakni bagi mereka yang merupakan keturunan dari bapak atau kakek mereka yang telah melakukan pelarian dari Mesir bersama Musa a.s.

Penaklukan Yerikho

Berita tentang kedatangan pasukan Bani Israil kian santer menyebar ke seluruh negeri. Begitu pun semua pemimpin di Kanaan, mereka langsung ketakutan tatkala mendengar bagaimana Allah SWT lagi-lagi membantu Bani Israil dengan membuatkan jalan kering di perairan. Gerbang Yerikho yang besar dan kokoh itu pun ditutup rapat-rapat, tak seorang pun dapat keluar atau masuk.

Dalam Kitab Yosua dikisahkan bagaimana Nabi Yusya' dijanjikan kemenangan dan menerima petunjuk agar memerintahkan semua orang berjalan mengelilingi benteng kota itu selama enam hari, sementara para imam ditugaskan meniup trompet sangkakala yang terbuat dari tanduk domba. Di hari ketujuh, dinding benteng raksasa itu runtuh dan para prajurit Nabi Yusya' merangsek masuk ke dalam kota.

Demikianlah, ketika tangan Allah beserta sebuah jamaah, maka segala sesuatunya berada dalam genggaman dan pengaturan-Nya. Perkara meruntuhkan tembok tebal yang dijaga oleh pasukan yang gagah perkasa, tidaklah sulit bagi-Nya. Tugas para hamba-Nyalah untuk senantiasa tertib menjaga syariat dan aturan yang telah Allah tetapkan.

Dikabarkan pula oleh Rasulullah SAW di sebuah hadits bahwa tatkala Nabi Yusya' menembus Benteng Yerikho, matahari sempat dibuat berhenti beredar oleh Allah SWT. Hari itu, yakni Hari Jumat, berlangsung lebih lama dari yang semestinya. Hal ini dilakukan untuk memberi kesempatan kepada Nabi Yusya' beserta kaumnya menyelesaikan amanahnya, karena keesokan harinya sudah masuk Hari Sabat (Sabtu) di mana di hari itu, sesuai syariat yang diturunkan melalui Nabi Musa, Bani Israil diperintahkan untuk berhenti beraktivitas.

Maka ia (Yusya') berangkat hingga mendekati kota kira-kira pada waktu Ashar. Ia kemudian berkata kepada matahari, 'Hai matahari, engkau tengah menjalankan tugasmu dan aku pun sedang menjalankan tugas dari Allah. Maka, wahai Tuhanku, hentikanlah matahari!' Dan matahari pun berhenti sejenak hingga Allah mengaruniakan kemenangan kepadanya." — HR Muslim 19/4327

Hari ketujuh, setelah tembok Yorikho runtuh, Nabi Yusya' dan pasukannya menyerbu masuk ke dalam kota, dan membumihanguskan seluruh isi kota tanpa tersisa, kecuali rumah yang dihuni oleh Rahab dan keluarganya — yaitu, sang perempuan yang pernah membantu beberapa prajurit Nabi Yusya' a.s. dahulu tatkala mereka hampir tertangkap dalam tugas pengintaian. Mereka juga dilarang untuk mengambil bahan-bahan makanan atau barang-barang, kecuali emas, perak, tembaga dan besi.


Riset arkeologis oleh beberapa ahli, di antaranya oleh Dr. Garstang yang menjadi Direktur Departemen Zaman Purbakala di Palestina, menemukan banyak sisa pasokan gandum di beberapa titik yang bercampur dengan abu di kota itu. Hal ini menjelaskan bahwasanya kota itu pernah terbakar, sementara pasokan gandum masih banyak.


Penelitian Dr. Garstang ini juga memberi indikasi sebuah proses penaklukan kota yang sangat cepat, karena dalam sebuah taktik perang yang umum dalam menghadapi musuh yang berlindung di dalam benteng yang kokoh, strategi yang biasa digunakan adalah memblokade dan membuat lapar seluruh isi kota terlebih dahulu selama sekian waktu untuk melemahkan perlawanan.

Masih banyaknya cadangan makanan juga menandakan bukti bahwa pasukan Nabi Yusya' a.s. tidak mengambil benda-benda lain kecuali yang telah diperintahkan berupa emas, perak, tembaga dan besi.


Referensi:

Nabi Yusya' bin Nun : Sang Penakluk Baitul Maqdis Qudusiyah.org