Laman

Selasa, 01 Januari 2019

Sejarah Kerajaan Kotawaringin dan Istana Kuning Pangkalanbun


Dalam Hikayat Banjar dan Kakawin Negarakretagama, disebut Kerajaan Kota Beringin (Kuta-Ringin) karena Sultan pertama, Pangeran Adipati Antakasuma melihat banyak pohon ringin (beringin) yang membentuk kuta (pagar).

Naskah Negarakretagama

Dalam bahasa Banjar kuno, 
Kuta berarti kota, sedangkan Ringin berarti beringin.


Sebelum berdirinya Kerajaan Kotawaringin, Raja-raja Banjar sebagai penguasa sepanjang pantai selatan dan timur pulau Kalimantan telah mengirim menteri-menteri atau ketua-ketua untuk menyebarkan agama Islam kepada penduduk serta suku setempat yang tinggal di sepanjang bantaran sungai Arut hingga hulu sungai Lamandau (Kotawaringin Lama).

Sungai Arut jaman dulu  
Kesultanan Kotawaringin didirikan oleh Pangeran Adipati Antakasuma yang merupakan salah seorang putra Raja Banjar ke IV Sultan Mus'tainubillah. Pangeran Adipati Antakasuma memerintah dari tahun 1615-1630 M dengan dibantu Mangkubumi Kyai Gede.

Pangeran Adipati Antakasuma 

Ibukota Kesultanan Kotawaringin semula berada di Kotawaringin Lama (hulu Sungai Lamandau). Disitulah Pangeran Adipati Antakasuma mendirikan Istana Kesultanan Kotawaringin dengan nama Astana Al - Nursari.

Astana Al - Nursari di Kecamatan Kotawaringin Lama

Kemudian pada masa pemerintahan Sultan Imanudin, tahun 1814 ibukota kesultanan dipindahkan dari Kotawaringin Lama ke Pangkalan Bun. Sultan Imanudin mendirikan sebuah istana  yang diberi nama Astana Indra Sari yang lebih populer kini disebut Istana Kuning sebagai pusat pemerintahan.

Astana Indra Sari (Istana Kuning)

Sebelumnya Sultan Imannudin mencari lokasi yang stategis dan cocok untuk membangun istana yang baru. Sultan Imannudin melakukan perjalanan ke Kahayan, Mendawai, Sampit, Sembuluh, Pembuang, hingga akhirnya Sultan Imannudin berhenti di sebuah dermaga atau pangkalan, beliau bertanya:

'pongkalan (pangkalan/tempat singgah) siapa ini?

Dijawab orang yang ada di situ,
"pangkalan ini kepunyaan si Bu'un"
(Buun adalah nama orang dari suku Dayak. Rumah milik Buun berada di muara sungai Arut).


Akhirnya Sultan Imannudin menamakan tempat yang dia singgahi tersebut dengan nama Pongkalan Bu'un (sekarang jadi Pangkalan Bun). Sultan Imannudin mengatakan, siapapun saja bisa datang dan tinggal di sini tapi harus bisa beradaptasi dan menyesuaikan diri. Hal tersebut dinyatakan dalam sebuah amanah yang berbunyi:

"Kudirikan Negeri Sukabumi Kutaringin baru Pangkalan Bu’un untuk anak-anaku, cucu-cucuku, keturunanku dan orang-orang yang mau berdiam di negeriku dalam pangkuan Kesultanan Kutaringin"

Setelah Sultan Imannudin wafat,  digantikan oleh Dipati Gading. Setelah Dipati Gading wafat, digantikan oleh Pangeran Panembahan Anum yang memerintah dari tahun 1655-1682.

Sultan Kotawaringin yang keempat adalah Pangeran Prabu yang memerintah dari tahun 1682-1699 M dengan Mangkubumi Pangeran Dira. Setelah Pangeran Prabu wafat, digantikan oleh Pangeran Dipati Tuha yang memerintah dari tahun 1699-1711 M dengan Mangkubumi Pangeran Cakra.

Sultan Kotawaringin yang keenam adalah Pangeran Penghulu yang memerintah tahun 1711-1727 M. Seluruh sultan, mulai Sultan kedua hingga Sultan keenam dimakamkan di Kotawaringin lama.


Sultan Kotawaringin yang ketujuh adalah Pangeran Ratu Bengawan yang memerintah dari tahun 1727-1761 M. Pada masa pemerintahan Pangeran Ratu Bengawan, Kesultanan Kotawaringin mengalami masa keemasan dengan melimpahruahnya hasil bumi dan lakunya hasil kerajinan dari Kotawaringin di pasar.

Mangkubumi Pangeran Paku Negara dengan Pangeran Ratu Anum Kesumayuda Tuha menggantikan Pangeran Ratu Bengawan sebagai sultan kedelapan, beliau memerintah dari tahun 1761-1805 M.

Pada masa Mangkubumi Pangeran Paku Negara dengan Pangeran Ratu Anum inilah di bangun pesantren di Danau Gatal Kanan dan Danau Gatal Kiri (desa Rungun sekarang) sebagai tempat mendidik putra-putri kesultanan.

Pada masa Sultan kesembilan Pangeran Sultan Imanudin, ibu kota Kesultanan Kotawaringin dipindahkan ketepian sungai Arut yang diberi nama Sukabumi Indra Sakti yang kemudian dikenal sebagai Pangkalan Bu’un dan Istana Kedua didirikan sekitar sungai Arut, yang kini dikenal dengan nama Istana Kuning.

Empat bangunan di Istana Kuning menandakan asal dari istri Sultan Kutaringin ke-9 yakni 1 Dayak, 1 China, dan 2 Melayu.


Bangunan paling kanan dinamakan Bangsal dengan arsitektur rumah Betang atau rumah khas Dayak, di sebelahnya Balai Rumbang (motif rumah China), dan 2 bangunan khas Melayu menjadi satu yaitu Keraton Dalam Kuning dan Balai Pahaderan.


Dua istri Sultan Imannudin dari Melayu, Keratonnya di Dalam Kuning. Ini yang paling disukai Sultan, jadi satu dengan Balai Pahaderan. Balai Pahaderan terlihat lebih menyerupai aula. Sementara Keraton Dalam Kuning dulunya adalah tempat tinggal Raja. Saat ini di dalam Keraton hanya berisi barang-barang sisa peninggalan Kesultanan.


Di tengah-tengah terdapat kain bercorak kuning hijau yang dipasang di tembok. Ada tombak-tombak, guci, lukisan wajah raja-raja Kesultanan dari yang pertama hingga saat ini yang ke-15, dan juga replika kereta kencana terparkir di dalamnya.


Tahun 1949 Kerajaan Kutaringin bergabung dengan NKRI, namun karena pihak Belanda masih ingin kembali menjajah, Raja ke-14 Kutaringin Pangeran Kesuma Anum Alamsyah bersama istri dan anak-anaknya berangkat ke Surakarta (Solo).

Pangeran Kesuma Anum Alamsyah 

Pangeran Kesuma Anum Alamsyah menghadap Bung Karno di Pendopo Agung Yogyakarta yang waktu itu Ibukota Negara. Pangeran Kesuma Anum Alamsyah menyatakan tekadnya mendukung NKRI dengan menyatukan sistem pemerintahan Kesultanan Kutaringin bergabung dalam wilayah NKRI. Presiden Soekarno mengangkat Pangeran Kesuma Anum Alamsyah menjadi Wedana di daerah Sukoharjo, Karasidenan Surakarta (sekarang Solo).

Bung Karno berjanji akan mengembalikan Pangeran Kesuma Anum Alamsyah ke daerah asalnya dan Kutaringin akan mendapat status daerah Istimewa seperti DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta) dengan sebutan Swaparaja Kotawaringin. Namun hingga Soekarno lengser, janji tersebut tak pernah terwujud.

Pangeran Kesuma Anum Alamsyah memiliki beberapa orang anak, diantaranya putra kembar, yang bernama Pangeran Alidin Sukma Alamsyah dan Pangeran Muasjidinsyah.

Foto: 
Pangeran Muasjidinsyah (kiri) 
Sultan Kesuma Anum Alamsyah (tengah) 
Pangeran Alidin Sukma Alamsyah (kanan)

Pangeran Alidin Sukma Alamsyah dinobatkan jadi Sultan ke-15 Kerajaan Kotawaringin tahun 2010.

Penobatan Sultan ke-15 Kerajaan Kotawaringin Alidin Sukma Alamsyah tahun 2010

Adik Kandung sekaligus saudara kembar Pangeran Alidin Sukma Alamsyah, Pangeran Muasjidinsyah kembali pulang ke Pangkalan Bun dari Solo usai Istana Kuning terbakar pada tahun 1986. Hingga kini, Ia tinggal di rumah yang berada tepat di sebelah Istana Kuning.

Pangeran Muasjidinsyah

Kebakaran tersebut kabarnya dilakukan oleh seorang wanita yang hilang akal bernama Draya. Peristiwa tersebut menghanguskan seluruh bangunan Istana Kuning berikut isinya.


Pemugaran baru dilakukan pada tahun 2000, tentu bangunannya sudah tidak sama seperti dulu. Istana tua ini mulai difungsikan untuk kegiatan pariwisata dan perkantoran dengan tujuan mengakrabkan istana dengan masyarakat setempat.

"Kami memang sudah nggak punya apa-apa, gara-gara kebakaran itu. Beda dengan Kerajaan Yogya yang masih punya banyak aset. Tapi yang penting tanamkan rasa ikut memiliki, saling menjaga, seperti falsafah Adipati Raden Aryo," 
ujar Pangeran Muasjidinsyah

Di dalam istana ini hampir tak ada isinya. Ukuran bangunan-bangunannya yang besar dan luas semakin menambah kesan kosong istana tersebut. Akan tetapi, Anda masih dapat dilihat sejumlah lukisan raja-raja terdahulu yang berderet rapi di salah satu pojok ruangan.


Terdapat pula berbagai peninggalan bersejarah berupa perabotan, senjata tradisional, serta sebuah kereta kencana yang biasa digunakan keluarga kerajaan zaman dulu untuk berkeliling. Kereta kuda tersebut adalah kereta kuda replika yang dipesan dari Jawa sebagai pengganti kereta kencana yang hancur terbakar.


Meski bangunan yang sekarang adalah hasil pemugaran namun mengingat muatan sejarah dan budaya yang dimilikinya maka hingga kini Istana Kuning terus dikunjungi wisatawan lokal hingga luar negeri.

Astana Indra Sari (Istana Kuning) Pangkalanbun tahun 2000, setelah mengalami pemugaran, pasca terbakar tahun 1986.  
Pangeran Muasjidinsyah biasa dipanggil 'Ama' oleh masyarakat Kotawaringin barat. Oleh pihak-pihak birokrasi sendiri, Ama juga sangat dihormati, Pangeran Ama diajak bergabung dengan tim sukses Ujang Iskandar saat dulu maju sebagai Bupati Kobar di periode pertama.

Meskipun sang Kakak yang menjabat sebagai sultan ke-15 Kotawaringin, namun Sosok Pangeran Ama sendiri di Kobar dan wilayah Kalteng cukup punya peran. Ama Dianggap sebagai tokoh daerah, hampir seluruh masyarakat sekitar menjadikan pangeran Ama sebagai panutan. Pria yang pembawaannya santai ini dianggap berjasa di Kobar karena dapat merangkul suku-suku yang berselisih di wilayahnya.


Berkat Ama, kerusuhan yang melibatkan pertikaian antara Suku Dayak dengan Suku Madura tidak jadi pecah seperti yang terjadi di Sampit. Konflik kedua kubu bisa diredam & diminimalisir. Meski sesekali mengkritisi pemerintahan, Ama terlihat tetap rendah hati. Usia Ama memang sudah tak muda lagi, namun semangatnya membela kebenaran menular kepada setiap orang yang berbincang dengannya.

Baca juga: 
Sejarah Kota Sampit - Dari Jaman Kerajaan Sakai Sungai Sampit, Kerajaan Banjar, Penjajahan Belanda, Kerajaan Kotawaringin, Hingga Jadi Ibukota Kabupaten Kotawaringin Timur setelah Kemerdekaan Indonesia 



Referensi:

Istana Kuning, Jejak Tersisa dari Kerajaan Kutaringin - KOMPAS.com

Sejarah Kesultanan Kotawaringin dan Asal Mula Nama Pangkalan Bun - SINDOnews.com

Kisah Pangeran Ama, Penjaga Istana Kuning Kerajaan Kutaringin yang Tak Jumawa - Detik News

Melihat Istana Kuning Milik Kesultanan Kutaringin yang Eksotis di Pangkalan Bun - Detik News