Laman

Jumat, 25 Januari 2019

Konspirasi Krisis Ekonomi Venezuela - Kudeta Politik Amerika Serikat, Oposisi Deklarasi Juan Guaido sebagai Presiden Sementara menggantikan Nicolas Maduro


Krisis ekonomi dan inflasi di Venezuela mencapai 1 Juta Persen (Agustus 2018), membuat sebagian warga  Venezuela terpaksa mengkonsumsi daging busuk untuk bertahan. 1 kilogram daging dibanderol dengan harga 9.500.000 Bolivar (sekitar Rp 557 ribu).


Tahun 2018, menurut IMF, inflasi di Venezuela mencapai satu juta persen. Mata uang Bolivar Venezuela begitu ambruk nilainya jadi hampir tidak berharga. 1 US Dollar setara dengan 6,3 juta Bolivar.


Hal tersebut membuat Presiden Venezuela, Nicolas Maduro menerbitkan uang baru, menggantikan mata uang lama 'strong bolivar. Mata uang baru tersebut memangkas lima angka 0 di belakang mata uang lama. Jadi 1 juta bolivar kini menjadi hanya 10 bolivar.


Mata uang ini diluncurkan pada Senin 20 Agustus 2018 lalu. Imbasnya, sehari setelah mata uang itu diluncurkan banyak toko yang sengaja tutup untuk melakukan penyesuaian. Tujuan dari penerbitan mata uang baru ini adalah untuk menormalkan transaksi sehari-hari ketika negara tersebut berjuang melalui hiperinflasi yang sudah terjadi selama bertahun-tahun.

Mata uang baru juga dipatok ke petro, mata uang digital yang dikeluarkan oleh pemerintah Venezuela yang banyak dianggap ilegal. Warga Venezuela  diperbolehkan menukar uang lama dengan baru ke bank, tapi dibatasi hanya 10 bolivar baru per hari.

10 Bolivar 
Namun kebijakan Nicolas Maduro menjadi sebuah blunder fatal. Justru nilai mata uang Bolivar semakin terpuruk. Sangking merosot dan tidak ada nilai mata uang negara ini.


Untuk membeli satu gulung tisu toilet saja harus merogoh kocek sebesar 2,6 juta bolivar. Artinya Biaya yang dikeluarkan untuk menerbitkan uang jauh lebih mahal dianding untuk membeli tisu toilet di warung.


Pemadaman listrik, kekurangan pangan dan kebutuhan pokok sehari-hari merupakan kejadian sehari-hari bagi warga Venezuela. Bahkan sejumlah penduduk makan daging busuk dan mengais makanan dari tempat sampah untuk bertahan hidup.

Satu kilogram daging segar di Venezuela dijual seharga 30% gaji minimum warga, sementara daging busuk harganya hanya sekitar 1% dari jumlah gaji.

Pemadaman listrik bahkan bisa terjadi 10 kali per hari. Hal tersebut membuat sayuran, ikan, daging serta bahan makanan lainnya cepat membusuk karena tak ada mesin pendingin akibat listrik yang padam secara rutin.

Pemadaman listrik juga menganggu operasional di rumah sakit dan banyak peralatan yang rusak dibiarkan begitu saja. Pasien-pasien pun juga sangat terganggu, tidak terkecuali mereka yang sakit parah. Kamar mayat juga terdampak karena mesin pendingin tak berfungsi. Banyak jenazah yang membusuk karena pemadaman listrik yang terus menerus terjadi.

Venezuela Hospital 
Sebelum mengalami krisis Venezuela termasuk negara kaya dengan hasil minyak yang melimpah. Krisis perlahan mulai melanda semenjak kematian mantan presiden Venezuela Hugo Chavez. Puncak krisis terjadi ketika harga minyak dunia anjlok, padahal pemerintahan Venezuela hanya bergantung pada hasil minyak. Presiden yang baru, Nicolas Maduro mengeluarkan kebijakan memproduksi mata uang baru dalam skala besar di tengah krisi membuat ekonomi semakian anjlok.

Hugo Chavez & Nicolas Maduro 
Inflasi dan krisis Venezuela disebut-sebut merupakan rekayasa Amerika Serikat. Agresi internasional yang dipimpin Amerika Serikat diduga merupakan salah satu keputusan dekrit Presiden Barack Hussein Obama.

Dalam dekrit Barack Hussein Obama itu disebutkan "Venezuela merupakan suatu ancaman tidak biasa bahkan luar biasa terhadap keamanan nasional dan politik luar negeri Amerika Serikat.


Dari Elit internal Venezuela sendiri, upaya para oposisi pemerintah dan kelompok kanan untuk mengkudeta pemerintahan Venezuela yang sah, dilancarkan lewat apa yang  dusebut sebagai perang ekonomi yang telah mereka galakkan sejak pendahulu Maduro, Hugo Chavez, meninggal pada Maret 2013.

Untuk menciptakan kondisi krisis dan kaos, membuat distribusi barang dan kebutuhan dasar kacau atau tidak stabil. Kalangan oposisi yang terus mengupayakan referendum bekerja sama dengan para kapital di dalam negeri serta perusahaan multinasional dalam menciptakan gejolak kebutuhan pokok. Padahal, Venezuela memiliki sumber daya untuk memproduksi dan menyediakan kebutuhan pangan bagi 30 juta jiwa rakyatnya.

Upaya-upaya destabilisasi seperti sekarang ini pernah dilakukan kelompok-kelompok penentang pemerintah pada 2014. Semua aksi sabotase dan upaya-upaya yang dilakukan kelangan oposisi dan kelompok kanan internasional untuk merusak stabilitas di negaranya sebagai agresi internasional terhadap kepentingan Venezuela.

Sementara itu, koalisi oposisi Democratic Unity Roundtable (MUD) bersumpah akan terus melancarkan protes. Dalam protes kemarin, MUD menyeru kepada pendukungnya untuk menuju gedung Mahkamah Agung yang melarang protes di dekat kantor pusat Dewan Pemilihan Nasional.


Amerika Serikat bersama dengan beberapa pihak Oposisi Venezuela membentuk sebuah organisasi yang dikenal dengan nama Organization of American States (OEA). Organisasi ini dibentuk dan dimanfaatkan oposisi untuk melakukan intervensi kepada Venezuela. Bahkan, sekretaris Jenderal OEA, Luis Almagro Sudah melakukan pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, John Kerry untuk melakukan konspirasi, menggunakan media untuk membangun intervensi internasional terhadap Venezuela.

Luis Almagro 
24 Januari 2019, Pemimpin oposisi Juan Guaido mendeklarasikan diri sebagai presiden interim atau sementara Venezeula. Dengan demikian, negara warisan Hugo Chavez ini memiliki dua presiden karena Nicolas Maduro sudah lebih dulu dilantik sebagai presiden yang sah berdasarkan konstitusi di negara tersebut.

Juan Guaido
Krisis politik di negara Amerika Latin ini jadi sorotan masyarakat internasional setelah Amerika Serikat dan Brasil mengakui Guaido sebagai presiden interim Venezuela dan tidak mengakui Maduro sebagai pemimpin negara tersebut.

Dualisme kepemimpinan ini telah direspons militer setempat. Menteri Pertahanan Vladimir Padrino mengatakan militer negaranya akan terus mempertahankan konstitusi dan kedaulatan nasional. Dia menegaskan bahwa militer tidak akan menerima "presiden yang dipaksakan".


Sikap Paman Sam yang dianggap ikut campur urusan dalam negeri Venezuela membuat Presiden Maduro memutuskan hubungan diplomatik dengan negara yang dipimpin Presiden Donald Trump itu.


Maduro juga mengusir para diplomat Washington, di mana para diplomat tersebut harus hengkang dari Caracas dalam waktu 72 jam. Maduro mengatakan bahwa Amerika Serikat membuat "kesalahan besar" dengan mengakui Guaido sebagai presiden interim. Guadio saat ini tercatat sebagai pemimpin Kongres atau Parlemen yang dikuasai kubu oposisi.

Maduro telah diambil sumpah jabatan sebagai presiden pada bulan ini setelah menang pemilu. Namun, Amerika Serikat dan negara Barat lainnya menganggap pemilu tersebut tidak sah di mana kubu oposisi memboikot.
Ribuan orang di Venezuela telah melakukan protes menentang Maduro.


Donald Trump dalam sebuah pernyataan mengumumkan dukungan Amerika Serikat untuk Guaido. Saat berbicara dengan wartawan, Trump memberikan tanggapan yang tidak jelas ketika ditanya apakah mempertimbangkan opsi militer atau tidak di Venezuela.

Keputusan Maduro untuk memutuskan hubungan diplomatik itu juga dipicu tindakan Wakil Presiden Trump itu mengirim rekaman video dirinya kepada orang-orang Venezuela yang menyebut Maduro sebagai seorang diktator tanpa klaim sah atas kekuasaan.

Kudeta politik terhadap Persiden Venezuela, Nicolas Maduro tidak muncul secara tiba-tiba, tetapi sudah direncanakan sejak jauh-jauh hari. Usaha tersebut juga bukan yang pertama.

Sejak tahun 1999, Amerika Serikat selalu berusaha untuk melemahkan dan menggulingkan Nicolas Maduro  dan presiden Venezuela sebelumnya, Hugo Chaves, saat Amerika Serikat di bawah kepemimpinan George W Bush.

Hugo Chavez 
Kini Washington bukan hanya mendukung kubu oposisi, tetapi juga memobilisasi sekutunya di Amerika Latin melawan Nicolas Maduro, Presiden Venezuela dan menuntut pengunduran dirinya atau menggulingkannya.

Nicolas Maduro
Setelah Amerika Serikat, sejumlah negara Amerika Latin termasuk Peru, Chili, Kolombia, Paraguay, Brasil dan Argentina menyatakan Guaido sebagai presiden sementara negara tersebut.

Sejumlah pejabat Amerika Serikat dari pemerintahan Donald Trump dikabarkan bertemu dengan perwira tinggi militer Venezuela secara diam-diam. Mereka diduga merencanakan kudeta terhadap Presiden Venzuela, Nicolas Maduro. Rencana kudeta tersebut diungkap dalam laporan The New York Times, Sabtu (8/9/2018).


Dalam laporan tentang rencana kudeta terhadap Nicolas Maduro telah direncanakan sejak 2017 silam. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump berdalih, itu dilakukan untuk mengatasi krisis berkepanjangan.

Upaya kudeta seperti yang dilaporkan  The New York Times, Sabtu (8/9/2018) bahkan disertai  dengan upaya pembunuhan Maduro saat terjadi ledakan drone pada 4 Agustus silam. Saat itu, presiden yang menggantikan Hugo Chavez tersebut sedang menghadiri parade militer.

Setidaknya ada tiga gerakan dari tentara Venezuela yang berusaha menggulingkan pemerintahan Maduro. Kudeta dilakukan pada musim panas 2017, Maret dan Mei 2018, tapi tidak ada satu pun rencana tersebut yang berhasil.


Referensi:

Inflasi Venezuela 1 Juta Persen, Harga Daging 9,5 Juta, Popok Bayi 8 Juta
TRIBUNnews.com

Venezuela Terbitkan Uang Baru, 1 Juta Bolivar jadi 10 Bolivar
Detik News

Krisis Venezuela: Warga makan daging busuk untuk bertahan
BBC News Indonesia

Inflasi Merayap: Venezuela di Ambang Pintu Kehancuran Ekonomi
IDN Times

Ada Konspirasi Kacaukan Venezuela
MediaIndonesia.com

Venezuela tuding Amerika Serikat dalang krisis
Merdeka.com

Ada Dua Presiden di Venezuela, Ini Sikap Militer
SINDOnews.com 

Niat Trump Kudeta Maduro, Berhasilkah?

Republika.co.id