Laman

Kamis, 10 Januari 2019

Sejarah Islam di Filipina - Manila (Fi Amanilah)

Nama Manila, ibu kota Filipina tersebut berasal dari kata "Fi Amanillah" (Bahasa Arab) yang berarti di bawah lindungan Allah. 

Masjid Dimaukom (Masjid Pink) Kota Datu Saudi Ampatuan Maguindanao, Filipina Selatan. Dibangun tahun 2011 atas instruksi Samsodin Dimaukom (walikota) Datu Saudi Ampatuan.

Islam Filipina telah ada sejak abad 13. Filipina sendiri waktu itu belum berbentuk negara menjadi Republik Filipina. Ia hanya sebentuk kepulauan rumpun melayu yang dijadikan tempat berniaga para pedagang muslim dan persinggahan para ulama dari Gujarat, India, dan Timur Tengah. Untuk pertama kalinya, mereka menempati Kepulauan Sulu.


Karim ul 'Makhdum, seorang mubaligh (pendakwah) Islam pertama dari Arab mencapai Kepulauan Sulu di Filipina dan menyebarkan agama Islam di Filipina.

Kedatangan pedagang Muslim dari Teluk Persia dan Pantai Malabar di India Selatan, dan para pengikutnya dari beberapa kesultanan dan kerajaan dalam Kepulauan Melayu. Sultan Islam dari Brunei Darrussalam dan Johor sudah terlebih dahulu menempati wilayah tersebut.


Selain itu, para musafir muslim Melayu juga terus berdatangan, dan mendirikan kesultanan di bagian Filipina, selain suku Sulu, yaitu Suku Palawan dan Mindanao. Diantara mereka adalah para da’i dari pulau Kalimantan yang kebetulan berdekatan dengan Sulu. Maka berkembanglah dengan pesatnya kehidupan muslim di tiga daerah ini.


Pertumbuhan Islam cukup signifikan di Filipina. Komunitas-komunitas Filipina Muslim telah membangun masjid baru dan sekolah-sekolah agama, dan jumlah jamaah haji dari Filipina terus meningkat.

Tahun 1565, penjajah Spanyol berhasil menaklukan Manila dan beberapa daerah di kepulauan Filipina. Spanyol berniat mengubah Filipina menjadi wilayah Katolik.


Tiga kesultanan, yakni Sulu, Maguindanao dan Bayan yang menentang dan melawan sekuat tenaga rencana penjajahan bangsa Spanyol itu. Namun, kota Manila yang saat itu diperintah oleh kerabat Sultan Brunei Darussalam dengan begitu mudahnya direbut Spanyol.


Selain menggunakan kekerasan dan persekusi, Spanyol menundukkan muslim secara halus dengan hadiah-hadiah. Orang-orang Spanyol dapat memperluas kedaulatannya ke seluruh perkampungan (barangay) Filipina yang terpencar-pencar secara luas. Nama Filipina sendiri diambil dari nama Raja Philipe, salah satu raja Spanyol yang sempat berkuasa. Meskipun begitu, mereka tak mampu menaklukan kesultanan-kesultanan di Selatan.

Suku Moro sendiri adalah umat Islam di bagian Selatan Filipina. Struktur pemerintahannya sendiri masih berpusat pada seorang Sultan; pemimpin agama dan pemerintahan yang terikat dengan hukum Islam. Adapun datu di kalangan mereka dipercaya sebagai tokoh masyarakat yang sangat terpengaruh.

Datu-lah yang juga memainkan peranan penting ditengah komunitas muslim. Moro hingga tahun 80-an. Di banyak tempat, para datu-lah yang menjalankan administrasi pemerintahan yang menggunakan syari’at Islam. Demikian sekilas kaum muslim Moro. Dengan model kepemimpinan Islam yang kuat tersebut, tentu saja kaum indo-Kristen bertambah semangat ingin menundukkan mereka.

Ratusan tahun kemudian, ketika masa senja kolonial Spanyol mulai surut dan Amerika datang menggantikan Spanyol. Perang Moro masih terus berlangsung. Meskipun dengan bentuk dan isi yang berbeda, namun tetap bertujuan sama.

Semua ini berawal pada tahun 1898 tatkala Spanyol menyerahkan Filipina kepada Amerika Serikat setelah penandatanganan Perjanjian Paris. Keluar dari mulut macan, masuk mulut buaya. Begitulah gambaran yang tepat untuk melukiskan perjuangan muslim Moro.

Sejak penaklukan Spanyol, Islam mengalami penurunan drastis sebagai kepercayaan monoteistik dominan di Filipina akibat pengenalan Katolik Roma oleh para misionaris Spanyol.


Superioritas militer Amerika Serikat memaksa para datu yang gigih untuk tunduk pada kekuasaan Amerika Serikat. Para pejabat Amerika sendiri membiarkan Islam dan hukum adat Moro tak tersentuh, asal tidak bertentangan dengan konstitusi Amerika Serikat.

Mengetahui bakal terjajah kembali, meski bentuk penjajagannwa tak tampak oleh mata, orang-orang Moro mulai kritis dan mengajukan beberapa usulan. Ketika orang-orang Filipina mulai dilatih untuk mempersiapkan pemerintahan sendiri menuju kemerdekaan, para sultan, datu, dan pemimpin agama Islam mengajukan petisi kepada para pejabat Amerika agar wilayah mereka tidak diikutkan pada negara merdeka yang direncanakan.

Mereka menginginkan tetap berbeda dari Filipina Kristen, bertahan dibawah perlindungan Amerika sampai mereka dapat mendirikan negara sendiri yang terpisah.

Puncaknya ketika Republik Filipina resmi didirikan pada tahun 1946, orang-orang Moro dimasukkan dalam struktur politik tanpa konsultasi dan izin mereka. Tentu saja hal tersebut menuai protes tajam dari orang-orang Moro.

Banyak pelanggaran hukum dan ketertiban yang mengkhawatirkan terjadi di wilayah Moro. Hingga komite Senat Filipina, pada tahun 1951, menyimpulkan bahwa faktor yang menyebabkan situasi tersebut adalah karena kebanyakan orang Moro tidak mengidentifikasi diri mereka dengan bangsa Filipina atau tidak setuju dengan kebijakan nasional.

Terlebih pada tahun 50-an, ketika Amerika dan orang-orang Spanyol mendorong gelombang migrasi kaum Nasrani (Kristen) dari Utara ke kawasan Selatan, tempat muslim Moro menetap dan berkembang biak, pelbagai konflik agama merebak dari hari ke hari. Rata-rata mereka berasal dari ratusan kepala keluarga etnis Ilongo, Ilocano, Tagalog dan lain-lainnya. Mulai dari persoalan tanah, mata pelajaran sekolah hingga tempat ibadah menjadi bahan sengketa di antara mereka.

Karena itu, untuk mencegah konflik berkepanjangan dan merangkul kaum minoritas muslim, pada tahun 1956 pemerintah Filipina membentuk Komisi Integrasi Nasional yang selanjutnya digantikan oleh office of Muslim Affairs and Cultural Communities. Inilah organisasi yang mengurusi kepentingan muslim Filipina.

Meski niat mulia itu sudah terwujud, namun permusuhan antara orang-orang Moro dan Indio-Kristen masih terus bergolak. Terutama sekali pada tahun 70-an, saat satu organisasi teroris Nasrani bernama Ilagas terbentuk. Awalnya organisasi ini beroperasi di Cotabatos.


Perlahan-lahan gerakan ini semakin menyebar. Kaum muslim lantas membentuk gerakan perlawanan yang diberi nama Blackshirt untuk menghadang kemunculan teroris tersebut. Hal serupa terjadi juga di wilayah Lanao. Di sana, kelompok muslim bernama Barracuda melakukan perlawanan terhadap Ilagas. Dan, konflik pun terus meruyak dari satu daerah ke daerah lainnya.

Konflik-konflik di atas sebetulnya diperburuk oleh beberapa faktor, antara lain; membanjirnya pemukiman Kristen ke wilayah-wilayah Muslim secara tak terkendali; penelantaran nasional yang terus-menerus terhadap aspirasi ekonomi dan pendidikan bangsa Moro; diskriminasi yang terang-terangan dalam melayani kaum muslim dikantor-kantor pada tingkat nasional; hilangnya kekuasaan politik para pemimpin Moro di daerah kekuasaan mereka semula; konflik tajam mengenai tanah antara penduduk Moro dan Kristen.

Sejumlah alasan inilah yang secara progresif meningkatkan pertikaian bersenjata antara kelompok Kristen dan Moro dimana kepolisian atau tentara biasanya memihak pada pihak yang pertama. Tak aneh, bila orang-orang Moro meneriakkan isu “pembersian etnis” untuk menarik simpati Dunia Muslim.

Maka ketegangan itu mengalami puncaknya pada tahun 1972. Kala itu, saat Presiden Ferdinand Marcos tengah menerapkan hukuman mati dengan diikuti usaha-usaha melucuti senjata orang-orang Moro, muncul pemberontakan secara terbuka.


Gerakan pembebasan yang paling mendapat dukungan luas ialah Front Pembebasan Nasional Moro (MNLF) dengan kelompok militer mereka, Tentara Bangsa Moro (BMA) yang dipimpin oleh Nur Misuari, mantan pengajar dari Universitas Filipina.

Anggota Pembebasan Nasional Moro (MNLF)

Organisasi inilah yang kemudian banyak mendapat sambutan dunia Islam. Baik media massa cetak maupun elektronik dari pelbagai negara pernah menceritakan aktifitas revolusioner-radikal MNLF.


Propaganda media memang luar biasa. Beberapa negara Islam turut prihatin atas nasib orang-orang Moro. Maka, Organisasi Konferensi Islam (OKI) bersama mediasi Libya mempengaruhi pemerintah Filipina dan MNLF guna menandatangani Perjanjian Tripoli pada 1976, yang memberi suatu bentuk otonomi khusus bagi tiga bekas provinsi yang berpenduduk Muslim.


Namun, baik otonomi yang diberikan oleh rezim Presiden Marcos pada 1977 maupun otonomi di bawah pemerintahan Corazon Aquino pada 1989 tidak memuaskan harapan OKI dan tuntutan MNLF. Tak heran, pada tahun itu pula, MNLF memperbaharui tuntutannya untuk memisahkan diri dari Filipina sambil mencari status keanggotaan OKI.

Terobosan paling signifikan adalah ketika wilayah otonomi Muslim Mindanao terwujud pada tahun 1990 yang secara langsung memberikan peluang bagi kaum Muslim untuk mengatur beberapa aspek pemerintahan di luar bidang Keamanan dan Luar Negeri. Itu pun karena Mindanao termasuk salah satu daerah yang susah ditundukkan penjajah.


Menurut statistik CIA World Factbook, yang melakukan sensus tahun 2010, populasi agama di Filipina adalah:

Katolik 80.6%, Protestan 8,2%, Agama Suku (penganut kepercayaan lokal) 2%, agama lainya 1,9%, Atheis 1%.

Philipins Religion Population (2010), statistic by  CIA World Factbook  
Sedangkan populasi Muslim di Filipina berjumlah 5,6 %. Mayoritas Muslim di Filipina menganut Islam Sunni dari aliran yurisprudensi Shafi, dengan minoritas Syiah dan Ahmadiyyah.



Referensi:

"Religious Demographic Profile — Philippines" . The PEW forum on Religion & Public Life. 

2013 Report on International Religious Freedom (Laporan). United States Department of State. July 28, 2014. SECTION I. RELIGIOUS DEMOGRAPHY.

RP closer to becoming observer-state in Organization of Islamic Conference . (2009-05-29). The Philippine Star . Retrieved 2009-07-10, "Eight million Muslim Filipinos, representing 10 percent of the total Philippine population, ...".

McAmis, Robert Day (2002).
Malay Muslims: The History and Challenge of Resurgent Islam in Southeast Asia . Wm. B. Eerdmans Publishing. hlm. 18–24, 53–61.
ISBN 0-8028-4945-8

Islam In Philiphins
Islamawareness.net

People and Society PHILIPPINES
CIA (Central Intelligence Agency World Factbook) 2010 est.

"Kerinduan orang-orang moro" . TEMPO- Majalah Berita Mingguan. Diakses tanggal 23 June 1990.

Ibukota Manila, dulu bernama “Fi Amanilah”
Eramuslim.com

Muslim di Filipina Minoritas di Negeri Sendiri
Republika.co.id

Islam di Filipina
Wikipedia bahasa Indonesia

Agama di Filipina
Wikipedia Bahasa Indonesia