Laman

Rabu, 02 Januari 2019

Hadist Fitnah Akhir Zaman dari Dzurriyah Keturunan Nabi (Habaib)

Fitnah besar akhir jaman akan menerpa umat Islam. Banyak hadis yang diriwayatkan Rasulullah SAW yang berisi fitnah besar itu. Salah satunya adalah Fitnah yang datang dari Dzurriyah, yaitu akhlak dari para keturunan Rasulullah yang akan jadi fitnah akhir zaman.

ﺣَﺪَّﺛَﻨَﺎ ﻳَﺤْﻴَﻰ ﺑْﻦُ ﻋُﺜْﻤَﺎﻥَ ﺑْﻦِ ﺳَﻌِﻴﺪٍ ﺍﻟْﺤِﻤْﺼِﻲُّ ﺣَﺪَّﺛَﻨَﺎ ﺃَﺑُﻮ ﺍﻟْﻤُﻐِﻴﺮَﺓِ ﺣَﺪَّﺛَﻨِﻲ ﻋَﺒْﺪُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺑْﻦُ ﺳَﺎﻟِﻢٍ ﺣَﺪَّﺛَﻨِﻲ ﺍﻟْﻌَﻠَﺎﺀُ ﺑْﻦُ ﻋُﺘْﺒَﺔَ ﻋَﻦْ ﻋُﻤَﻴْﺮِ ﺑْﻦِ ﻫَﺎﻧِﺊٍ ﺍﻟْﻌَﻨْﺴِﻲِّ ﻗَﺎﻝَ ﺳَﻤِﻌْﺖُ ﻋَﺒْﺪَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺑْﻦَ ﻋُﻤَﺮَ ﻳَﻘُﻮﻝُ ﻛُﻨَّﺎ ﻗُﻌُﻮﺩًﺍ ﻋِﻨْﺪَ ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻓَﺬَﻛَﺮَ ﺍﻟْﻔِﺘَﻦَ ﻓَﺄَﻛْﺜَﺮَ ﻓِﻲ ﺫِﻛْﺮِﻫَﺎ ﺣَﺘَّﻰ ﺫَﻛَﺮَ ﻓِﺘْﻨَﺔَ ﺍﻟْﺄَﺣْﻠَﺎﺱِ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﻗَﺎﺋِﻞٌ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﻣَﺎ ﻓِﺘْﻨَﺔُ ﺍﻟْﺄَﺣْﻠَﺎﺱِ ﻗَﺎﻝَ ﻫِﻲَ ﻫَﺮَﺏٌ ﻭَﺣَﺮْﺏٌ ﺛُﻢَّ ﻓِﺘْﻨَﺔُ ﺍﻟﺴَّﺮَّﺍﺀِ ﺩَﺧَﻨُﻬَﺎ ﻣِﻦْ ﺗَﺤْﺖِ ﻗَﺪَﻣَﻲْ ﺭَﺟُﻞٍ ﻣِﻦْ ﺃَﻫْﻞِ ﺑَﻴْﺘِﻲ ﻳَﺰْﻋُﻢُ ﺃَﻧَّﻪُ ﻣِﻨِّﻲ ﻭَﻟَﻴْﺲَ ﻣِﻨِّﻲ ﻭَﺇِﻧَّﻤَﺎ ﺃَﻭْﻟِﻴَﺎﺋِﻲ ﺍﻟْﻤُﺘَّﻘُﻮﻥَ ﺛُﻢَّ ﻳَﺼْﻄَﻠِﺢُ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﻋَﻠَﻰ ﺭَﺟُﻞٍ ﻛَﻮَﺭِﻙٍ ﻋَﻠَﻰ ﺿِﻠَﻊٍ ﺛُﻢَّ ﻓِﺘْﻨَﺔُ ﺍﻟﺪُّﻫَﻴْﻤَﺎﺀِ ﻟَﺎ ﺗَﺪَﻉُ ﺃَﺣَﺪًﺍ ﻣِﻦْ ﻫَﺬِﻩِ ﺍﻟْﺄُﻣَّﺔِ ﺇِﻟَّﺎ ﻟَﻄَﻤَﺘْﻪُ ﻟَﻄْﻤَﺔً ﻓَﺈِﺫَﺍ ﻗِﻴﻞَ ﺍﻧْﻘَﻀَﺖْ ﺗَﻤَﺎﺩَﺕْ ﻳُﺼْﺒِﺢُ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞُ ﻓِﻴﻬَﺎ ﻣُﺆْﻣِﻨًﺎ ﻭَﻳُﻤْﺴِﻲ ﻛَﺎﻓِﺮًﺍ ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﺼِﻴﺮَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﺇِﻟَﻰ ﻓُﺴْﻄَﺎﻃَﻴْﻦِ ﻓُﺴْﻄَﺎﻁِ ﺇِﻳﻤَﺎﻥٍ ﻟَﺎ ﻧِﻔَﺎﻕَ ﻓِﻴﻪِ ﻭَﻓُﺴْﻄَﺎﻁِ ﻧِﻔَﺎﻕٍ ﻟَﺎ ﺇِﻳﻤَﺎﻥَ ﻓِﻴﻪِ ﻓَﺈِﺫَﺍ ﻛَﺎﻥَ ﺫَﺍﻛُﻢْ ﻓَﺎﻧْﺘَﻈِﺮُﻭﺍ ﺍﻟﺪَّﺟَّﺎﻝَ ﻣِﻦْ ﻳَﻮْﻣِﻪِ ﺃَﻭْ ﻣِﻦْ ﻏَﺪِﻩِ  

Abdullah bin Umar berkata, "Saat kami duduk-duduk di sisi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam , beliau bercerita tentang fitnah, panjang lebar beliau bercerita seputar fitnah itu hingga beliau menyebutkan tentang fitnah Al Ahlas. Seorang laki-laki lalu bertanya, 


"Wahai Rasulullah, apa itu fitnah Al Ahlas?" 

Beliau menjawab: 
"Adanya permusuhan dan peperangan, kemudian fitnah sarra' yang asapnya muncul dari bawah kedua kaki seorang laki-laki ahlu-bait ku (keturunan Nabi). Ia mengaku berasal dari keturunan ku padahal bukan (tidak diakui Nabi). Wali-wali ku adalah orang yang bertaqwa. Kemudian orang-orang akan berdamai pada seorang laki-laki layaknya pangkal paha yang bertumpuk di tulang rusuk (kesepakatan yang semu). Kemudian akan muncul fitnah seorang yang buta (dengan kekuasaan), tidak seorang pun dari umat ini kecuali ia akan mendapat satu tamparan di mukanya (bencana kerusakan darinya). Ketika fitnah itu telah dianggap usai, namun fitnah tersebut justru berkelanjutan. Seorang laki-laki yang paginya beriman menjadi kafir di waktu sore,sehingga manusia akan menjadi dua kelompok; 
sekelompok orang yang beriman dan tidak ada kemunafikan dalam keimanannya, dan sekelompok orang yang penuh kemunafikan dan tidak ada keimanan padanya. Jika kondisi kalian sudah begitu,maka tunggulah munculnya Dajjal pada hari itu atau keesokan harinya (dekat kemunculannya)."
Hadits Riwayat Abu Dawud No. 4242, Bab dzikrul fitan wa dalailuha. 


Gelar Sayid, gelar Habib, diberikan orang. Sama halnya dengan kiai. Siapa yang memberi gelar kiai? Umat yang hormat sama dia.

Bagi Umat, ada keistimewaan pada orang-orang yang mempunyai tali keturunan dengan Rasulullah, ada keistimewaan. Keistimewaan itu suka atau tidak suka harus Anda akui.

Catatan literatur-literatur Indo-Eropa, Indo-Tionghoa, Indo-Arab,  jarang sekali orang ditulis namanya dengan gelar “Habib”, paling cuma “sayid” saja.

Karena syaratnya, bahwa dia harus orang alim, di samping keturunan [Nabi]. Harus orang alim. Habib itu orang yang mengasihi dan dikasihi.

“Mengasihi” dalam bahasa Arab itu artinya “Muhib”. Kalau “yang dikasihi” itu “Mahbub”. Kalau “Habib”, bisa berarti subjek bisa berarti objek.

Jadi, “Habib” tidak boleh bertepuk sebelah tangan, hanya mau dicintai tapi tidak mencintai orang, apalagi memaki terhadaptyang tidak sependapat dengannya, hingga menyebar menyebar kebencian.

Orang jaman dulu tidak meminta dirinya dipanggil habib, dan juga tidak menolak (ketika dipanggil habib).

Bahkan sampai sekarang, sebenarnya ada orang-orang yang punya garis keturunan dari Nabi, punya pengabdian yang besar, tidak dikenal sebagai sayid.

Gelar Habib atau Sayid hanya karena garis keturunan, tidak akan banyak manfaatnya kalau dia berakhlak buruk.

Orang dengan gelar Habib atau Sayid tidak otomatis pasti akan masuk surga (Auto Surga). Walau ia memiliki nasab (keturunan) yang mulia. Nasabnya itu tidak bisa mengejar derajat mulia di sisi Allah.

ﻭَﻟِﻜُﻞٍّ ﺩَﺭَﺟَﺎﺕٌ ﻣِﻤَّﺎ ﻋَﻤِﻠُﻮﺍ

"Dan bagi masing-masing mereka derajat menurut apa yang telah mereka kerjakan" (QS. Al-An’aam [6]: 132 dan Al-Ahqaf [46]: 19).

Karena kedudukan mulia di sisi Allah adalah timbal balik dari amalan yang baik, bukan dari nasab (HR. Muslim no. 2699, hadits dari Abu Hurairah).

Nabi Muhammad SAW sendiri berkata kepada Fathimah, putri Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam) saja tidak bisa ditolong oleh beliau.

Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata :

ﻗَﺎﻡَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﺣِﻴﻦَ ﺃَﻧْﺰَﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﺰَّ ﻭَﺟَﻞَّ ‏( ﻭَﺃَﻧْﺬِﺭْ ﻋَﺸِﻴﺮَﺗَﻚَ ﺍﻷَﻗْﺮَﺑِﻴﻦَ ‏) ﻗَﺎﻝَ ‏« ﻳَﺎ ﻣَﻌْﺸَﺮَ ﻗُﺮَﻳْﺶٍ – ﺃَﻭْ ﻛَﻠِﻤَﺔً ﻧَﺤْﻮَﻫَﺎ – ﺍﺷْﺘَﺮُﻭﺍ ﺃَﻧْﻔُﺴَﻜُﻢْ ، ﻻَ ﺃُﻏْﻨِﻰ ﻋَﻨْﻜُﻢْ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺷَﻴْﺌًﺎ ، ﻳَﺎ ﺑَﻨِﻰ ﻋَﺒْﺪِ ﻣَﻨَﺎﻑٍ ﻻَ ﺃُﻏْﻨِﻰ ﻋَﻨْﻜُﻢْ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺷَﻴْﺌًﺎ ، ﻳَﺎ ﻋَﺒَّﺎﺱُ ﺑْﻦَ ﻋَﺒْﺪِ ﺍﻟْﻤُﻄَّﻠِﺐِ ﻻَ ﺃُﻏْﻨِﻰ ﻋَﻨْﻚَ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺷَﻴْﺌًﺎ ، ﻭَﻳَﺎ ﺻَﻔِﻴَّﺔُ ﻋَﻤَّﺔَ ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻻَ ﺃُﻏْﻨِﻰ ﻋَﻨْﻚِ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺷَﻴْﺌًﺎ ، ﻭَﻳَﺎ ﻓَﺎﻃِﻤَﺔُ ﺑِﻨْﺖَ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﺳَﻠِﻴﻨِﻰ ﻣَﺎ ﺷِﺌْﺖِ ﻣِﻦْ ﻣَﺎﻟِﻰ ﻻَ ﺃُﻏْﻨِﻰ ﻋَﻨْﻚِ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺷَﻴْﺌًﺎ 

Rasulullah SAW bersabda : 
"Wahai orang Quraisy -atau kalimat semacam itu-, selamatkanlah diri kalian sesungguhnya aku tidak dapat menolong kalian sedikit pun dari Allah. Wahai Bani ‘Abdi Manaf, sesungguhnya aku tidak dapat menolong kalian sedikit pun dari Allah. Wahai ‘Abbas bin ‘Abdul Muthollib, sesungguhnya aku tidak dapat menolongmu sedikit pun dari Allah. Wahai Shofiyah bibi Rasulullah, sesungguhnya aku tidak dapat menolongmu sedikit pun dari Allah. Wahai Fathimah puteri Muhammad, mintalah padaku apa yang engkau mau dari hartaku, sesungguhnya aku tidak dapat menolongmu sedikit pun dari Allah" 
HR. Bukhari no. 2753 dan Muslim no. 206