Laman

Selasa, 25 Agustus 2015

Misteri Naskah Laut Mati - Apakah Ini Injil Apokrip (Injil yang Disembunyikan)


Penemuan tulisan-tulisan tangan berbahasa Ibrani dan Aramaik kuno di propinsi Qumran, paska Perang Dunia II telah memicu antusiasme para Ahli Sejarah Kitab Suci untuk mendapatkan informasi tentang naskah-naskah tersebut.

Ketika Perang Dunia II hampir reda, tepatnya pada bulan Februari tahun 1947, ditemukan gua pertama dekat Laut Mati.

Ketika itu Palestina di bawah perwalian Inggris dan Jerusalem masih dalam genggaman rakyat Palestina.Awalnya, Muhammad Ad-Dib, seorang anak gembala kehilangan seekor domba miliknya. Ia berasal dari suku Ta'amirah yang mendiami wilayah yang membentangdari Jerusalem hingga tepian Laut Mati.

Dalam usaha menemukan dombanya yang tersesat, anak gembala itu naik ke sebuah batu cadas. Dari tempat itu ia melihat celah sempit darisebuah tebing yang berhadapan dengan lereng gunung. Dipungutnya sebuah batu, ia lemparkan batu itu ke dalam gua dan sekonyong­-konyong terdengar beturan batu yang dilemparkannya dengan benda-benda yang tampaknya terbuat dari bahan tembikar.

Gembala kecil itu kemudian menaiki lereng gunung dan mengintip dari atas. Dalam suasana remang-remang, Muhammad menyaksikan sejumlah perabot dari tembikar yang tersusun rapi di lantai gua.Esok paginya, Muhammad kembali ke gua diikuti beberapa orang kawan.

Dan benar, di dalam gua itu mereka menemukan seperangkat perabot dari tembikar dan tujuh gulungan tulisan tangan.Dalam waktu singkat, naskah manuskrip tulisan tangan itu telah dipamerkan untuk dijual oleh pedagang barang antik di Jerusalem, bernama Kando.Ia membeli barang itu dari seorang penduduk Ta'amirah.

Athanasius Samuel, Kepala Biara Katolik Saint Markus di Swiss yang pada saat itu sedang berada di Jerusalem membeli 4 buah manuskrip, sedangkan 3 buah lainnya dibeli oleh Profesor Eliezer Sukenik dari University of Hebrew di Jerusalem.

Ketika Perang Arab - Israel berkecamuk, menyusul proklamasi berdirinya Negara Israel pada tanggal 15 Mei 1948, Atanasius khawatir akan nasib naskah-naskah kuno yang dibelinya.Ia berniat mengirimkan ke-empat naskah itu ke Amerika Serikat untuk dijual di sana. Namun akhirnya naskah-naskah itu dibeli oleh Yigael Yadin (anak Profesor Sukenik­)dengan harga seperempat juta US dollar atas nama Hebrew University di Jarusalem.

Dengan demikian, tujuh naskah temuan pertama itu berada dalam kepemilikan Hebrew University di Israel.Ketika dicapai kesepakatan damai Arab-Israel pada 7 November 1949, kawasan Qumran dan sepertiga bagian utara wilayah Laut Mati menjadi wilayah teritorial Kerajaan Hashemit Jordania, sehingga dengan demikian pihak berwenang di Jordan dapat dengan leluasa melancarkan rangkaian ekspedisi arkeologis guna melacak keberadaan manuskrip kuno yang masih tersisa.

Meskipun di pihak lain warga Ta'amirah merahasiakan keberadaan gua-­gua misterius itu, namun pada akhirnya pihak berwenang Jordan berhasil menemukannya pada akhir bulan Januari 1949.

Dari tempat itu ia melihat celah sempit darisebuah tebing yang berhadapan dengan lereng gunung. Dipungutnya sebuah batu, ia lemparkan batu itu ke dalam gua dan sekonyong­-konyong terdengar beturan batu yang dilemparkannya dengan benda-benda yang tampaknya terbuat dari bahan tembikar.Gembala kecil itu kemudian menaiki lerenggunung dan mengintip dari atas.

Dalam suasana remang-remang, Muhammad menyaksikan sejumlah perabot dari tembikar yang tersusun rapi di lantai gua.Esok paginya, Muhammad kembali ke gua diikuti beberapa orang kawan. Dan benar, di dalam gua itu mereka menemukan seperangkat perabot dari tembikar dan tujuh gulungan tulisan tangan.

Dalam waktu singkat, naskah manuskrip tulisan tangan itu telah dipamerkan untuk dijual oleh pedagang barang antik di Jerusalem, bernama Kando.Ia membeli barang itu dari seorang penduduk Ta'amirah.

Athanasius Samuel, Kepala Biara Katolik Saint Markus di Swiss yang pada saat itu sedang berada di Jerusalem membeli 4 buah manuskrip, sedangkan 3 buah lainnya dibeli oleh Profesor Eliezer Sukenik dari University of Hebrew di Jerusalem.

Ketika Perang Arab - Israel berkecamuk, menyusul proklamasi berdirinya Negara Israel pada tanggal 15 Mei 1948, Atanasius khawatir akan nasib naskah-naskah kuno yang dibelinya.Ia berniat mengirimkan ke-empat naskah itu ke Amerika Serikat untuk dijual di sana. Namun akhirnya naskah-naskah itu dibeli oleh Yigael Yadin (anak Profesor Sukenik­)dengan harga seperempat juta US dollar atas nama Hebrew University di Jerusalem.

Dengan demikian, tujuh naskah temuan pertama itu berada dalam kepemilikan Hebrew University di Israel.Ketika dicapai kesepakatan damai Arab-Israel pada 7 November 1949, kawasan Qumran dan sepertiga bagian utara wilayah Laut Mati menjadi wilayah teritorial Kerajaan Hashemit Jordania, sehingga dengan demikian pihak berwenang di Jordan dapat dengan leluasa melancarkan rangkaian ekspedisi arkeologis guna melacak keberadaan manuskrip kuno yang masih tersisa.

Meskipun di pihak lain warga Ta'amirah merahasiakan keberadaan gua-­gua misterius itu, namun pada akhirnya pihak berwenang Jordan berhasil menemukannya pada akhir bulan Januari 1949.

Menyusul penemuan lokasi gua-gua Qumran, pihak berwenang Jordan segera melancarkan ekspedisi pencarian di dalamgua-gua tersebut.

Di bawah pengawasan G.L. Harding, seorang ilmuwan berkebangsaan Inggris yang yang menjabat sebagai Direktur Departemen Arkeologi Jordan bersama Pendeta Roland de Vaux direktur French Dominican I'Ecole Biblique, di Jerusalem Timur, ekspedisi itu berhasil menemukan ratusan potongan-potongan kecil di dalamgua berikut benda-benda kuno dari tembikar, kain dan benda-benda dari kayu.Benda-benda antik tersebut tentu sangat membantu upaya menentukan masa sejarah tulisan-tulisan tangan dari zaman kuno itu.

Namun sayangnya, ekspedisi kali ini tidak dilanjutkan hingga mencakup wilayah Khirbat (Dataran di bawah lokasi gua) kecuali pada bulan November 1951, di mana diketemukan puing-puing perkampungan kuno yang didiami oleh para pengikut sekte Esenes, di dalamnya juga diketemukan benda-benda kuno romawi.

Antara lain adalah kepingan uang logam, yang dari masa pembuatannya mengindikasikan bahwa gua-gua tersebut dihuni oleh orang-orang tertentu hingga berkobarnya gerakan pemberontakan Yahudi melawan penguasa Romawi antaratahun 66 - 70 M, yang berakhir dengan pembumihangusan kota Jerusalem dan diusirnya bangsa Yahudi dari kota tersebut dan wilayah-wilayah lain di sekitar Jerusalem.

Karena tamak untuk mendapatkan keuntungan-keuntungan materi, penduduk Ta'amirah menjelajahi hampir seluruh kawasan tepi Laut Mati guna menemukan manuskrip-manuskrip lain yang diperkirakan masih tersembunyi di gua-gua wilayah pegunungan.

Pada bulan November 1952, seorang warga Badui Ta'amirah berhasil menemukan gua lain yang tersimpan di dalamnya sejumlah besar gulungan manuskrip yang telah lapuk dan menjadi potongan­potongan kecil. Ia kemudian menjualnya kepada pihak berwenang di Jordan.

Cara pencarian yang dilakukan oleh penduduk Ta'amirah itu kemudian ditiru oleh pemerintah Jordan untuk melakukan eksplorasi di gua­gua Laut Mati dalam upaya menemukan naskah-­naskah yang masih tersisa.

Puncaknya, pada tahun 1965, ditemukan sekumpulan gua yang terdiri dari dua belas buah, juga di wilayah Qumran. Gua-gua baru yang berhasil ditemukan itu selanjutnya diberi nomor sesuai urutan penemuan.Warga Ta'amirah menemukan gua nomor 1, 4, dan 6, sedangkan tujuh gua laiinnya ditemukan oleh pihak berwenang Jordan.

Pater De Voux, selanjutnya ditunjuk menjadi Penanggung jawab Ekspedisi Arkeologis Jordan dalam upaya menemukan naskah-naskah kuno di Qumran, merangkap Penanggung Jawab proyek penyiapan dan penerjemahan Naskah.Oleh de Foux, potongan-potongan naskah yang berhasil diketemukan di Gua Nomor-1 diserahkan kepada Dominique Partolemi dan Millick, keduanya partner kerja de Foux di French Dominican I'Ecole Biblique. Penerbitan naskah terjemahan dilakukan oleh Oxford University pada tahun 1955.Menyusul sesudah itu, pada tahun 1961, terjemahan manuskrip yang diketemukan di gua kawasan Muraba'at, arah selatan Qumran, oleh Josef T.

Milik, telah dipublikasikan pula.Bagian ke-empat dari manuskrip Muraba'at yang berisikan kitab-kitab Mazmur yang berasal dari temuan di gua nomor 11 itu dipublikasikan pada tahun 1965. Sedangkan bagian kelima yang merupakanpotongan-potongan yang berasal dari gua nomor 4 diterbitkan pada tahun 1968.

Pada perkembangan berikutnya, diketemukan pula manuskrip-manuskrip kuno di gua-gua lain di luar kawasan Qumran, antara lain di wilayah Mird, arah barat daya Qumran, Muraba'at (arah tenggara Qumran) dan Masada, sebuah benteng kuno Yahudi di selatan Laut Mati yang dikuasai pemerintah Israel.

Dalam usaha menemukan manuskrip-manuskrip kuno itu, penduduk Qumran tidak puas dengan pencarian di Qumran saja, mereka bahkan telah menjelajahi hampir seluruh kawasan pegunungan yang membentang sepanjang kawasan pantai Laut Mati.

Pada bulan 0ktober tahun 1951 lagi-lagi seorang warga Badui Ta'amirah menemukan sejumlah manuskrip dalam bahasa Ibrani dan Yunani di sebuah gua dikawasan oase Muraba'at, kurang lebih 15 km selatan gua Qumran yang pertama, laluia menjual naskah temuan itu kepada pihak berwenang Jordan.Pada saat yang sama, sejumlah warga Ta'amirah lainnya menemukan sebagian tulisan-tulisan kristiani di wilayah Mird, dekat Qumran, di antaranya tertulis dalam bahasa Suryani.


Sebuah tim ekspedisi yang beranggotakan para arkeolog Israel di bawah pimpinan Yigael Yadin, juga melakukan pencarian naskah kuno antara tahun 1963 - 1965, khususnya di bekas-bekas peninggalan di benteng Masada, dalam wilayah kekuasaan Israel, arah timur laut kota Arikha (AI-Khalil), dan berhasil menemukan beberapa buah naskah kuno.Namun yang menjadi sorotan kita di sini adalah tulisan-tulisan kuno yang berasal dari Qumran, yang diyakini merupakan peninggalan orang­orang sekte Esenes, bukan tulisan-tulisan Yudaisme dan Kristen yang ditemukan di luar Qumran.Pecahnya Perang Arab - Israel tahun 1967 menyebabkan jatuhnya wilayah Tepi Barat ke dalam cengkeraman pemerintah pendudukan Israel, begitu juga museum Jerusalem, tempat di simpannya manuskrip-manuskrip kuno.

Tidak ada yang terlepas dari penguasaan pihak berwenang Israel selain sebuah manuskrip tembaga, sebab pada saat itu, naskah berada di Amman, Jordan. Dan semenjak saat itu, semua aktifitas publikasi naskah kuno praktis terhenti.

Tidak terdapat satu naskahpun (meskipun sedikit) dari sumber-sumber sejarah masa kini yang menyebutkan secara pasti periode yang dikatakan bahwa Yesus pernah hidup di masa itu.Bahkan sebaliknya, Kitab-kitab Perjanjian Baru sendiri, sebagai rujukan satu-satunyatetang kehidupan Yesus ­memberikan kepada kita inforamsi yang kontradiktif berkenaan dengan kehidupan dan kematian Yesus.

Injil Matius menyebutkan bahwa Yesus dilahirkan pada masa pemerintahan KaisarHerodus, yang mangkat pada tahun ke-4 SM.

Sedangkan Injil Lukas menetapkan kelahiran al-Masih pada masa sensus penduduk oleh Romawi, yakni tahun ke-enam kelahiran al-Masih.

Perbedaan juga muncul berkenaan denganmasa berakhirya kehidupan al-Masih di bumi. Berdasarkan keterangan-keteranganyang didapat dari kitab-kitab Injil, ada yangmenetapkan pada tahun ke­-30, tahun ke-33 dan ada pula yang menetapkannya pada tahun ke-36.

Keyakinan terdahulu menegaskan bahwa para penulis Injil itu adalah para murid dan sahabat yang hidupsemasa al-Masih, dan mereka menjadi saksi hidup atas maklumat yang mereka tulis.Akan tetapi, saat sekarang ini menjadi jelas bahwa tidak seorangpun dari para penulis Injil itu yang pernah bertemu Yesus.Para penulis itu tanpa terkecuali bersandarpada riwayat-riwayat yang mereka dengar dari orang lain atau dari penafsiran-penafsiran mereka terhadap tulisan-tulisan kuno.

Para penulis itu tanpa terkecuali bersandarpada riwayat-riwayat yang mereka dengar dari orang lain atau dari penafsiran-penafsiran mereka terhadap tulisan-tulisan kuno.Berdasarkan pada kenyataan ini, maka penemuan tulisan-tulisan kuno yang mendahului atau semasa dengan zaman kehidupan Yesus di kawasan yang hanya berjarak beberapa kilometer dari kota Jerusalem, yang disebut-sebut sebagai kota tempat meninggalnya al-Masih, telah membangkitkan kembali harapan untuk menemukan sumber-sumber pengetahuan untuk menyingkap tabir misteri dan hakikat persoalan dalam sejarah institusi agama Kristen dan keterkaitannya dengan jemaat-jemaat Yahudi yang ada pada masa itu.

Jelas, bahwa tulisan-tulisan tangan itu berkaitan erat dengan kelompokJudeo-Kristen yang dikenal sebagai Kaum Esenes, yang memiliki seorang guru bijak dengan sifat dan karakter yang tidak berbeda dengan al-Masih.

Misteri itu Kini Dalam Genggaman Israel dan Pihak Vatican (Katolik)
 
Hal itu tentu saja sangat beralasan, karenawmenimbulkan rasa cemas dan khawatir dari pihak otoritas agama dan institusi-institusi Yahudi maupun Kristen.


mengingat bahwa naskah berbahasa Ibrani paling kuno yang ada saat ini dari Kitab-kitab Perjanjian Lama berasal dari abad ke-10 M.Selain bahwa naskah-naskah tersebut menyimpan perbedaan-perbedaan cukup besar jika dihadapkan dengan naskah-naskah septuagintal Yunani yang berhasil diterjemahkan di Alexandria pada abad ke-13 SM.

Namun kecemasan itu lebih mengarah pada kekhawatiran akan terjadinya penyelewengan dan perubahan yang tidak saja berkenaan dengan hakikat sejarah, tetapi juga meyangkut penafsiran teks-teks keagamaan berikut maknanya.Berdasarkan alasan demikian ini, maka semenjak pemerintah Israel menduduki kota Jerusalem Lama paska Perang Juni 1967, usaha-usaha penerbitan masuskrip Laut Mati secara praktis terhenti. Sementara di sana masih tersisa lebih dariseparuh yang belum sempat diterbitkan.

Penemuan tulisan-tulisan tangan berbahasa Ibrani dan Aramaik kuno di propinsi Qumran, paska Perang Dunia II telah memicu antusiasme para Ahli Sejarah Kitab Suci untuk mendapatkan informasi tentang naskah-naskah tersebut.

Naskah Laut Mati merupakan perkamen dan gulungan kulit, papirus, dan tembaga bertuliskan teks-teks berbahasa Ibrani, Yunani, dan Aramaik, yang ditemukan pada 1947 oleh seorang penggembala di gua Qumran, dekat Laut Mati.

Naskah ini terdiri dari 30 ribu fragmen dari 900 manuskrip, yang memuat beberapa teks kuno dari abad 3 SM hingga tahun 70 M.

Di antaranya memuat teks injil, dan salah satu yang tertua adalah salinan teks Sepuluh Titah Tuhan (Ten Commandments).

Perkembangan Yudaisme dari periode Hellenistic dan persinggungannya dengan sejarah awal Kristen.

Otoritas benda antik Israel (Israel Antiquities Authority/ IAA) telah menunjuk Google untuk mendigitalisasi kumpulan naskah laut mati.

Naskah ini dikhawatirkan tak tahan lagi untuk difoto, karena paparan cahaya dan udara bisa berakibat fatal terhadap naskah-naskah itu.

Naskah Laut Mati berupa teks-teks berbahasa Ibrani, Aram, Yunani, dan Nabatea, berupa perkamen tetapi beberapa teks ditulis pada papirus dan perunggu. Naskah ini kemungkinan digunakan antara tahun 408 SM hingga 318 Masehi, koin perunggu yang ditemukan di situs bergambar John Hyrcanus (135-104 SM) dan berlanjut hingga memasuki periode peperangan pertama antara Yahudi dan Romawi tahun 66 hingga 73 M.

Naskah yang ditemukan di Qumran mencakup seluruh Alkitab Ibrani, kecuali kitab Ester sekitar 1000 tahun lebih tua dari naskah kuno yang sebelumnya pernah ditemukan.

Sejarawan dan arkeolog terus berusaha membuktikan bahwa naskah kuno Qumran tetap tidak berubah selama hampir 2000 tahun terakhir.

Naskah Laut Mati secara tradisional ditulis sekte Yahudi kuno yang disebut Essenes, dimana pendapat ini ditentang dan teori lain menyebutkan bahwa naskah ditulis para imam Yerusalem, Zadok, atau kelompok Yahudi yang tidak diketahui.

Pihak Vatikan (Roma Katolik) menghalangi penerbitan naskah Laut Mati, Khususnya buku 'The Dead Sea Scrolls Deception' karya Michael Baigent dan Richard Leigh diterbitkan pada tahun 1990-an, menyatakan bahwa beberapa naskah dengan sengaja disimpan selama puluhan tahun untuk menutupi teori negatif tentangsejarah Keristen Awal.

Khususnya spekulasi Eisenman, kehidupan Yesus (pbuh) sengaja dimitoskan Paulus, kemungkinan adalah seorang agen Romawi yang memalsukan pertobatannya dari Saulus guna menggerogoti pengaruh penyembahan mesianik anti Romawi diwilayah tersebut.

Penerbitan terjemah naskah Laut Mati pada akhir tahun 1990-an dan awal tahun 2000-an telah mengurangi kredibilitas argumen, dimana kebanyakan ahli sekular maupun religius merasa bahwa dokumen ini lebih tertuju pada Yahudi, dan bukan Kristen.Naskah Pseudepigrapha, komposisi agama non-Alkitab, dan Apocrypha yang dianggap non-alkitabiah oleh orang-orangYahudi dan beberapa organisasi Kristen, tetapi diterima secara sekunder atau sepenuhnya kanonik oleh Gereja lain.

Catatan ini diawetkan dan diturunkan dalam beberapa terjemahan bahasa, tetapi beberapa versi salinan mengalami tingkat perubahan ditangan juru bahasa dan penyalin, walaupun saat ini beberapa salinan tersedia dalam bahasa asli agar naskah kuno bisa diterjemahkan.

Beberapa naskah Laut Mati sudah mengalami kehancuran ataupun rusak sehingga tidak semua teks berhasil diidentifikasi. Naskah yang berhasil diidentifikasi terbagibagi menjadi tiga kelompok yaitu:
1.Sekitar 40 persen merupakan salinan teks Alkitab Ibrani
2.Sekitar 30 persen merupakan teks dari Bait Suci Periode Kedua, dan tidak dikanonisasi dalam Alkitab Ibrani seperti Kitab Henokh, Yobel, Kitab Tobit, Kebijaksanaan Sirakh, Mazmur 152-155.
3.Sekitar 30 persen merupakan naskah sektarian sebelumnya yang tidak diketahui dokumen sejarah, menjelaskanaturan dan kepercayaan dari kelompok tertentu atau kelompok Yudaisme yang lebih besar.

Naskah Laut Mati menambahkan substansi dan periode sejarah dimana Kristen dan Rabbinik Yudaisme berasal, mengungkapkan salah satu segi dari spiritual diantara berbagai pihak YudaismePalestina pada waktu itu, dimana gejolak memuncak dan reinterpretasi kebenaran dari dasar agama Yahudi.

Naskah yang ditemukan memiliki format berbeda, diantaranya berisi fragmen kitab Yesaya, komunitas dan aturan masyarakat, naskah Komentari Kitab Habakuk, teks Perang, nyanyian syukur, dan Genesis Apocryphon.

Pada abad pertama dan kedua para Rabbinik tidak diizinkan menulis tentang keagamaan untuk diturunkan kepada anak cucu Yahudi, kecuali jika sepenuhnya sesuai dengan ortodoksi meskipun beberapa diantaranya disimpan pihak Gereja.

Pihak pemerintah Israel berupaya untuk membungkam suara-suara yang datang dari segala penjuru (yang paling lantang justru dari para ilmuan Israel sendiri).Untuk berkelit dari desakan terus­ menerus itu, pemerintah Israel merencanakan sebuah aksi simbolis. Pihak berwenang di Depertemen Arkeologi Israel mengirimkan gambar-gambar potografi yang diklaim sebagai telah mewakili seluruh naskah yang ada di musium Rockefeller di Jerusalem, kepada Universitas Oxford di Inggris dan kepada sebuah universitas di Amerika Serikat.Selanjutnya pemerintah Israel berpura-pura seolah-olah geram dan melancarkan aksi protes ketika universitas yang dimaksud menerjemahkan dan mempublikasikan gambar-gambar photografi manuskrip tersebut tanpa izin resmi dari pemerintah Israel.Drama simbolis pemerintah Israel ini, agaknya dimaksudkan untuk memberi kesan seolah-olah semua naskah manuskrip telah diterjemahkan dan dipublikasikan, sehingga dengan demikiantidak akan ada lagi alasan pihak manapun untuk mendesak pemerintah Israel agar memperlihatkan semua naskah kuno yang ada di tangannya.Bisa dipastikan bahwa di sana masih ada sejumlah naskah yang potongan­-potongannya masih belum terpublikasikan, dan oleh pihak-pihak tertentu sengaja dirahasikan keberadaannya, agar dengan demikian ia akan dilupakan kembali oleh sejarah.

Referensi:

Disadur dari Misteri Naskah Laut Mati.
Diterjemahkan dari Judul Asli Makhtutat al Bahri al Mayit
Karya : Ahmad Osman Copyright Maktabatu as Syuruq, Cairo 

  • Dead Sea Scrolls Uncovered - First Complete Translation and Interpretation, by Robert Eisenman and Michael Wise.
  • The Dead Sea Scrolls in English, by G Vermes
  • The War Scroll found in Qumran Cave 1, by Eric Matson, image courtesy of wikimedia commons.