Wahabi & Salafi memiliki argumen sendiri dan berbeda dengan mayoritas muslim di dunia tentang letak Najd. Wahabi & Salafi mengklaim bahwa letak Najd berada di Irak. Berbeda dengam kebanyakan Ulama baik itu Sunni, Sufi, Ahlul Sunah wal jamaah dan lainnya, mengidentifikasi bahwa Najd terletak di Arab Saudi. Tentu saja dengan hujjah yang berdasar, dari hadist shahih, fakta serta catatan sejarah.
Najd terletak wilayah di pusat negara Arab Saudi dan merupakan tempat di mana ibukota negara tersebut, berada. Najd juga merupakan bagian tengah dari Semenanjung Arab. Najd adalah sebuah daerah dataran tinggi dengan ketinggian 762 hingga 1.525 meter di atas permukaan laut. Bagian timur wilayah ini ditandai dengan perkampungan-perkampungan oasis , sedang di daerah Najd lainnya sedikit didiami oleh suku nomaden Badui. Orang yang berasal dari Najd disebut Najdi dalam bahasa Arab.
Dari segi Lughah/Etimologi Najd bermakna tempat yang berdataran tinggi. Lawannya disebut Ghour yaitu tempat yang berdataran rendah. Benar Peristiwa pembunuhan keji kaum Khawarij terhadap cucu Rasulullah Saw, imam Husein r.a terjadi di Karbala, Irak. Namun Khawarij yang dimaksud dalam hadist Rasulullah Saw bukan Irak.
Saat ini wilayah Najd secara administratif terbagi di empat provinsi di negara Arab Saudi yaitu Ha'il, Qasim, Riyadh dan sebagian Syarqiyah. Wilayah Najd tidak termasuk atau di luar wilayah kekhalifahan Islam Turki Utsmani/Ottoman (1299–1923 M). Najd pada waktu itu di bawah kekuasaan Dinasti Kerajaan Saud yang bernama Kesultanan Najd.
Pada tahun 1926, Kesultanan Najd di bawah pemerintahan Raja Abdul Aziz ibnu Saud memperluas wilayahnya dan menaklukkan Kerajaan Hijaz milik Dinasti Bani Hasyim yang pada waktu itu merupakan penjaga Dua Tanah Suci (Haramain) yakni Mekkah dan Madinah.
Setelah Kerajaan Najd dan Hijaz disatukan, Abdul Aziz bin Saud menjadi rajanya. Pada 23 September 1932, wilayah utama kekuasaan Dinasti Saud yakni Al-Hasa, 'Asir, Qatif, Najd dan Hijaz disatukan menjadi Kerajaan Arab Saudi dan akhirnya Najd menjadi salah satu provinsi dari Kerajaan Arab Saudi.
Ulama dari berbagai mazhab (terutama Syafi'i, Hanafi, dan Hanbali) serta akademisi sejarah Islam yang mengaitkan fenomena munculnya gerakan Wahhabi di Najd (Arab Saudi) dengan hadits-hadits Fitnah Najd.
Syaikh Sulaiman bin Abdul Wahhab (abang kandung Muhammad bin Abdul Wahhab sendiri) menjadi ulama pertama yang menentang ajaran adiknya. Dalam bukunya, beliau menyitir hadits-hadits tentang Fitnah Najd dan memperingatkan umat Islam agar tidak mengikuti pemikiran yang keluar dari wilayah Najd tersebut karena dinilai membawa fitnah perpecahan dan mudah mengkafirkan sesama Muslim.
Al-Allamah Sayyid Ahmad Zaini Dahlan (Wafat 1304 H / 1886 M) Mufti Mazhab Syafi'i di Makkah, dengan eksplisit menyatakan bahwa kemunculan Muhammad bin Abdul Wahhab dari Najd (Jazirah Arab) dan gerakan perang/pengkafiran yang dibawanya merupakan wujud nyata dari ramalan Nabi SAW mengenai fitnah dan "tanduk setan" (qarn ash-shaythan) yang keluar dari arah Najd.
Syaikh Ibn Abidin al-Hanafi (Wafat 1252 H / 1836 M) ulama pakar fikih Hanafi asal Damaskus ini menyebut pengikut Muhammad bin Abdul Wahhab yang keluar dari Najd sebagai kelompok pembangkang/Khawarij zaman modern yang menghalalkan darah umat Islam yang tidak sejalan dengan mereka.
Syaikh Muhammad Zahid al-Kautsari (Wafat 1371 H / 1952 M) Wakil Syaikhul Islam di era Kesultanan Utsmaniyah (Ottoman) dan ulama besar Al-Azhar, beliau secara tegas mengaitkan hadits Fitnah Najd dengan kemunculan paham-paham radikal dan pengkafiran yang bersumber dari wilayah Najd Arab Saudi.
Kelompok-kelompok ulama ini melihat dari sudut pandang geografi murni (karena Najd adalah nama spesifik kawasan tengah Jazirah Arab/Riyadh) serta dampak fenomena keagamaan yang muncul di kemudian hari dari wilayah tersebut.
Muhammad bin Abdul Wahhab lahir, tumbuh, dan menyebarkan gerakannya dari kawasan Uyainah / Diriyah di Najd (Arab Saudi). Gerakan tersebut pada awal kemunculannya membawa kekacauan pertumpahan darah antar-sesama Muslim di Arab dan tuduhan syirik/kafir kepada mayoritas umat Islam yang tidak sekelompok—hal yang diidentikkan para ulama sebagai bentuk fitnah (huru-hara keagamaan) yang dimaksudkan dalam hadits.
Saat Rasulullah SAW berada di Madinah, beliau berdoa kepada Allah agar memberkahi Syam dan Yaman. "Syam Kami" yang dimaksud Rasulullah SAW adalah kawasan yang saat ini bernama Lebanon, Palestina dan Suriah. Sedangkan "Yaman Kami" adalah yang sekarang bernama Republik Yaman.
Dari Abdullah bin Umar r.a., bahwa ia mendengar Rasulullah SAW berdiri di dekat minbar lalu bersabda:
"Ketahuilah, sesungguhnya fitnah itu ada di sini! Ketahuilah, sesungguhnya fitnah itu ada di sini, dari arah terbitnya tanduk setan."
(Dan dalam riwayat lain disebutkan: "Ya Allah, berkahilah negeri Syam kami. Ya Allah, berkahilah negeri Yaman kami." Para sahabat bertanya, "Dan (bagaimana) dengan Najd kami, wahai Rasulullah?" Beliau bersabda: "Di sanalah tempat terjadinya gempa-gempa bumi dan berbagai fitnah, dan dari sanalah tanduk setan akan muncul.")
Arah Timur: Dalam riwayat lain, Nabi Muhammad SAW mengucapkan kalimat ini sambil menghadap ke arah timur (arah timur dari Madinah).
"Tanduk Setan" (Qarn asy-Syaitan): Metafora dalam bahasa Arab yang berarti kekuatan, kelompok, atau tokoh besar yang menjadi sumber keburukan, pengikut setan, atau sumber kekacauan.
Zalazil (Gempa/Goncangan): Sebagian ulama mengartikannya secara harfiah (gempa bumi), namun mayoritas ulama tafsir/hadits mengartikannya secara kiasan sebagai goncangan fitnah, huru-hara, dan kekacauan besar yang mengguncang kestabilan umat Islam.
orang Najd yang meminta Nabi agar memberkahi Najd. Namun berdasarkan fakta sejarah, saat itu dakwah Nabi belum mencapai Irak. Selain itu ucapan Nabi tentang tanduk setan (ﻗﺮﻥ / qorn) itu sesuai dengan miqat haji orang-orang Najd di QORN yang artinya TANDUK.
Najd yang dimaksud Rasulullah Saw adalah Najd sekarang yang berada tepat di sebelah timur Madinah. Bukan Irak yang berada di utara. Najd yang disebut Nabi adalah Najd yang kita kenal sekarang. Bukan Irak Jika pun orang Iraq yang hadir, tentu mereka minta agar IRAK yang diberkati. Bukan Najd !
Posisi Nabi saat hadits yang menyebut tempat fitnah ada di sebelah TIMUR dan tempat MATAHARI TERBIT adalah di MADINAH. Madinah dan Riyadh (Najd) letaknya sejajar sekitar 24 derajad lintang utara. Sementara Kufah / Najaf terletak di 32 derajad lintang utara. 8 derajad lebih utara dari kota Madinah.
Wahabi & Salafi bisa saja berdalih kalau Irak juga terletak di timur madinah dengan alasan kanan Madinah adalah timur dan kiri Madinah adalah barat tetapi dalih tersebut tertolak dengan penjelasan arah yang dimaksud adalah timur matahari terbit. Irak tidak terletak pada arah timur matahari terbit. Siapapun yang berada di Madinah dan menyaksikan arah terbitnya matahari kemudian ia menelusuri jalan dengan arah tersebut maka ia akan sampai di Najd bukan di Irak.
Dari segi Lughah/Etimologi Najd bermakna tempat yang berdataran tinggi. Lawannya disebut Ghour yaitu tempat yang berdataran rendah. Dengan penjelasan dari sisi lughahnya semakin menguatkan bahwa yang dimaksud Najd dalam hadits tersebut adalah Najd Hijaz atau daerah sekitar Riyadh, karena Riyadh merupakan dataran tinggi sedangkan Irak dataran rendah.
Tidak ada hadits yang menerangkan Najd adalah Irak, yang ada hanyalah riwayat tentang timbul fitnah dari orang-orang seperti Dzul Khuwaishirah, kabilah Bani Tamim dari Najd. Jika ada periwayatan tentang irak maka perlu perhatikan hukum matan, sanad dan rawinya. Jelas cacat dan tidak bisa dijadikan hujjah.
Selain menunjukkan nama tempat tersebut, Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] juga menyebutkan ciri-ciri orang atau penduduk di tempat tersebut. Diantaranya Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] menyebutkan kalau orang-orang disana [tempat munculnya fitnah] adalah orang yang berhati sombong dan angkuh termasuk pengembala unta atau dikenal dengan sebutan Ahlul wabar.
Tempat munculnya fitnah adalah tempat pada arah timur matahari terbit dimana orang-orang disana dikenal sebagai pengembala unta, orang yang berhati kasar sombong dan angkuh yang merupakan tabiat kebanyakan dari ahlul wabar atau arab badui. Ahlul wabar bisa diartikan sebagai orang arab badui karena tempat tinggal mereka terbuat dari al wabr atau bulu. Di masa Nabi.
Nabi SAW telah memberitakan akan datangnya Faham Wahabi ini dalam beberapa hadits, ini merupakan tanda kenabian beliau SAW dalam memberitakan sesuatu yang belum terjadi. Seluruh hadits-hadits ini adalah shahih, sebagaimana terdapat dalam kitab shahih BUKHARI & MUSLIM dan lainnya. Diantaranya: “Fitnah itu datangnya dari sana, fitnah itu datangnya dari arah sana,” sambil menunjuk ke arah timur (Najd). (HR. Muslim dalam Kitabul Fitan)
Hadis riwayat Anas bin Malik ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: Tidak ada satu negeri yang tidak dimasuki Dajjal, kecuali Mekah dan Madinah, dan tidak ada satu jalan di Madinah, kecuali terdapat malaikat yang berbaris menjaganya. Maka Dajjal singgah di daerah rawa, kemudian Madinah bergoncang tiga kali goncangan, sehingga seluruh orang kafir dan munafik keluar dari sana menuju ke tempat Dajjal. (Shahih Muslim No.5236)
Abad ke-18 berdiri sebuah aliran yang konon "memurnikan ajaran Islam dengan memurnikan Tauhid dan menghidupkan Sunnah" yang dipelopori oleh Muhammad bin Abdul Wahab. Pengikut aliran ini
dinamakan Wahabi lebih tepatnya Wahhabisme (dinisbatkan dari nama pendirinya; Muhammad bin Abdul WAHAB). Saat ini Wahhabisme merupakan aliran Islam yang dominan di Arab Saudi dan Qatar. Gerakan ini berkembang di dunia Islam melalui pendanaan masjid, sekolah dan program sosial.
Referensi:
Syaikh Sulaiman bin Abdul Wahhab
Karya: Ash-Shawa'iq al-Ilahiyyah fi ar-Radd 'ala al-Wahhabiyyah (Petir-Petir Ilahi untuk Menolak Wahhabisme).
Al-Allamah Sayyid Ahmad Zaini Dahlan (Wafat 1304 H / 1886 M)
Menulis kitab Fitnatul Wahhabiyyah (Fitnah Gerakan Wahhabi) dan Ad-Durar as-Saniyyah fi ar-Radd 'ala al-Wahhabiyyah.
Syaikh Ibn Abidin al-Hanafi (Wafat 1252 H / 1836 M)
Karya: Radd al-Muhtar 'ala ad-Durr al-Mukhtar (Hasyiyah Ibn Abidin - Kitab Fikih Utama Mazhab Hanafi).
Syaikh Muhammad Zahid al-Kautsari (Wafat 1371 H / 1952 M)
Karya: Maqalat al-Kautsari



