Laman

Senin, 02 November 2026

Dimana Allah menurut Ahli Sunnah Asyariah ?

Akidah mazhab Ahlussunnah wal Jamaah aliran Asy'ariyah (Imam Abu Hasan al-Asy'ari) mengenai sifat Al-Uluw (ketinggian) Allah dan keberadaaan-Nya dirumuskan dengan prinsip mensucikan Allah dari sifat-sifat makhluk (tanzih) dan menolak paham hulul (menempati tempat) atau ittihad. 


Imam al-Asy'ari dan para pengikutnya (seperti Imam al-Baqillani, Imam al-Juwaini, Imam al-Ghazali, hingga Imam al-Qurthubi) menegaskan bahwa Allah SWT ada sebelum diciptakannya tempat (baik langit, bumi, arasy, maupun ruang hampa). Setelah Allah menciptakan alam semesta, Allah tetap ada sebagaimana sifat-sifat ke-Azalian-Nya—yakni tidak terikat, dibatasi, atau dilingkupi oleh tempat. 

Imam al-Asy'ari menegaskan bahwa Allah Ta'ala bersemayam di atas ‘Arasy dengan cara yang layak bagi keagungan-Nya, bukan dengan makna sentuhan (mumasah), menempati (hulul), atau diliputi oleh ruang (tahayyuz). 


Dalam Al-Qur'an terdapat ayat-ayat yang menunjukkan ketinggian Allah, seperti:

“Ar-Rahman ‘alal-‘arsyi istawa” (Allah Yang Maha Pemurah bersemayam di atas ‘Arasy) — [QS. Thaha: 5]

“Yakhafuuna Rabbahum min fawqihim” (Mereka takut kepada Tuhan mereka yang ada di atas mereka) — [QS. An-Nahl: 50]


Dalam menyikapi ayat-ayat ini, ulama Asy'ariyah terbagi menjadi dua metode utama yang sah dalam Ahlussunnah:

Metode Tafwid (Menyerahkan Makna Hakiki): Mengimani bahwa ayat tersebut benar adanya sesuai keagungan Allah, namun menyerahkan makna hakikat kayfiyat-nya (bagaimana bentuknya) kepada Allah semata, tanpa menyerupakan-Nya dengan makhluk (bi la kaifa wala tasybih). Allah tinggi secara makna/derajat kekuasaan (uluw al-qahr wal-qadar), bukan tinggi dalam arti fisik yang menempati arah atas (uluw al-makan).

Metode Takwil (Penafsiran Kontekstual): Menafsirkan kata-kata tertentu sesuai kaidah bahasa Arab. Misalnya, kata istiwa diartikan sebagai penguasaan atau kekuasaan (istila'), bukan berarti Allah duduk atau bersemayam secara fisik di atas Arasy. 

Asy'ariah sangat keras menolak pandangan kelompok Mujassimah (yang menyerupakan Allah dengan makhluk) dan Musyabihah yang meyakini bahwa Allah berada di suatu tempat tertentu di atas langit secara fisik (seperti meyakini Allah duduk di atas Arasy atau menempel pada Arasy).

Bagi mazhab Asy'ariyah, meyakini Allah berada di suatu tempat berarti menetapkan sifat "butuh kepada tempat" bagi Allah, padahal Allah Maha Kaya (al-Ghani) dari segala makhluk dan alam semesta. 

Jika ditanya "Di mana Allah menurut Asy'ari?", jawaban teologis mazhab ini adalah: Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah. Allah tidak di bumi, tidak pula di langit dalam arti menempati ruang, karena Allah adalah Pencipta tempat itu sendiri dan keberadaan-Nya tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. 

Allah sudah ada sebelum tempat dan arah itu diciptakan. Karena Allah tidak berubah (tahayyul), maka setelah tempat diciptakan pun, Allah tetap berada sebagaimana keberadaan-Nya sebelum ada tempat (tanpa membutuhkan tempat).

Mengikat Allah dengan arah (misalnya mengatakan "Allah berada di atas secara fisik") menurut beliau berarti membatasi Allah (tahsiz) dan menyerupakan-Nya dengan benda/jasad (tasybih/tajsim).

Allah Ta'ala tidak diliputi oleh tempat, tidak dibatasi oleh arah, tidak disentuh oleh 'Arasy maupun langit. 'Arasy tidak memikul-Nya, melainkan 'Arasy dan para pemikulnya diangkat oleh kekuasaan-Nya... Dia ada sebelum diciptakan-Nya tempat dan zaman, dan Dia sekarang tetap berada sebagaimana ada-Nya semula.


Referensi: 

Kitab Karya Imam Abu Hasan al-Asy'ari (Pendiri Mazhab Asy'ariyah) - Al-Ibanah 'an Ushuli d-Diyanah (الإبانة عن أصول الديانة). 

Imam al-Ghazali (450–505 H) — Ihya' Ulumuddin & Qawa'id al-'Aqa'id.

Imam Al-Baqillani (338–403 H) — Al-Inshaf fi Ma Yajibu I'tiqaduhu wa La Yajuzu al-Jahlu Bihi. 

Imam Fakhruddin ar-Razi (544–606 H) — Asas al-Taqdis & Tafsir al-Kabir (Mafatih al-Ghaib).

Imam al-Juwaini (419–478 H) — Al-Irsyad ila Qawali' al-Adillah fi Ushul al-I'tiqad.