Laman

Rabu, 01 April 2015

Terungkap, Dusta Perang Atas Nama Kemanusiaan - Skenario Perang Dunia 3

Sebuah peristiwa bersejarah, apalagi peristiwa itu termasuk kejahatan kemanusiaan seperti pemboman Hiroshima, Jepang, 6 Agustus 1945 seharusnya berisi refleksi, perenungan atau apapun kampanye untuk dunia yang damai. Tapi rupanya tidak ada dalam kamus Pemerintah Amerika Serikat (AS). Justru titimangsa pemboman Hiroshima itu dijadikan pertemuan untuk membahas rencana 'jahat' berikutnya yang disebut-sebut para ahli dan pengamat sebagai persiapan menuju Perang Dunia III. 


Sangat mengerikan, pertemuan di Markas Komando Strategis Angkatan Udara Offutt Omaha, Nebraska, pada 6 Agustus 2003 itu dihadiri para eksekutif senior kompleks industri nuklir dan kompleks industri militer. Pertemuan antara kontraktor, ilmuwan dan para pembuat kebijakan pertahanan itu menyiapkan panggung untuk pengembangan generasi baru nuklir yang 'lebih kecil', 'lebih aman' dan 'lebih dapat dipergunakan'. Nuklir tersebut akan dipergunakan untuk perang nuklir pada abad ke-21. Yang lebih mengerikan, industri persenjataan, militer dan pertahanan ini oleh Amerika diswastanisasi. Kontraktor selain memproduksi persenjataan dan nuklir generasi terbaru, juga terlibat dalam pengambilan keputusan. Perusahaan swasta yang terlibat dalam industri nuklir adalah Lockheed Martin, General Dynamics, Northrop Grunman, Raytheon dan Boeing. Secara logika ekonomi, keterlibatan swasta tentu yang paling dicari adalah keuntungan yang berlipat.


Nah, untuk mendapat keuntungan itu tentu produksinya harus berkelanjutan dan massal. Barang akan terus menumpuk bila tidak didistribusikan atau bila tidak digunakan. Begitu juga dengan bom nuklir. Tentu keuntungan lain yang dibidik sifatnya jangka panjang seperti gas dan minyam bumi. Atas dasar logika ini maka harus dicari panggung perang nuklir atasnama negara liar atau negara pemasok terorisme. Istilah 'lapangan' atau 'panggung teater' dalam konsep Amerika sudah jelas dan terpolakan yaitu Iran, Suriah dan negara-negara di Afrika Utara seperti Libya dan Sudan. Inilah negara-negara yang masih kaya dengan cadangan gas dan minyak bumi. Negara lain yang juga menjadi sasaran tidak langsung perang Amerika dan sekutunya sejatinya adalah Rusia dan China. Kedua negara itu tidak hanya bersekutu tetapi juga berinvestasi di negara kaya minyak seperti Iran dan Sudan. Sejumlah perusahaan raksasa minyak Amerika tentu tidak senang bila perusahaan minyak milik Rusia dan China mendapat porsi dan 'keistimewaan' di negara-negara muslim tersebut. Sangat beralasan bila Amerika Serikat dan konco-konconya sampai saat ini terus mengincar Iran. Amerika rupanya sangat tergiur dengan cadangan minyak bumi dan gas alam global Iran yang mencapai kurang lebih 10 persen. Iran menduduki urutan ketiga setelah Arab Saudi (25 persen) dan Irak (11 persen). Praktis kedua negara yang disebut terakhir itu sudah dikuasai Amerika. 


Membaca buku karya Michel Chossudovsky ini pembaca dituntun dan sekaligus ditunjukkan latar belakang, fakta, sekaligus skenario perang nuklir terbatas atasnama perang kemanusiaan dan pencegahan terorisme. Iran yang disebut 'bankir pusat terorisme' awalnya menjadi sasaran pertama perang nuklir. Tapi rupanya Amerika ciut nyali. Iran dinilai memiliki pertahanan yang tangguh dan bisa melakukan serangan balik dengan kekuatan nuklirnya. Skenario menyerang Iran untuk sementara ditunda. Amerika dan sekutunya lebih memilih mengobrak- abrik negara-negara yang dianggap lemah seperti Libya, Sudan dan Suriah. Rencana menyerang Iran dari udara sebelumnya secara terang-terangan disampaikan Wakil Presiden Dick Cheney pada Juni 2005. Serangan itu disebut rencana darurat dan serangan udara berskala besar terhadap Iran menggunakan senjata taktis konvensional dan nuklir. Yang mengerikan dari rencana Cheney itu adalah justifikasi didasarkan pada asumsi terlibatnya Iran dalam serangan teroris terhadap Amerika 'yang belum terjadi'. (halaman 49) Chossudovsky yang melakukan penelitian untuk buku ini selama sepuluh tahun juga mengungkap media arus utama bersekongkol dengan pemerintahnya. Tidak hanya menjelek- jelekkan negara-negara Islam dan berstandar ganda tetapi juga banyak memutar-balikkan fakta. Untuk kasus Iran misalnya media Amerika selalu menyebut rencana serangan ke Iran atas dua alasan. Pertama, Iran dituduh memiliki senjata pemusnah massal. Kedua, Iran dianggap pemasok terorisme Islam. Lalu bagaimana dengan Jerman dan Israel yang sama-sama memproduksi dan memiliki hulu ledak nuklir? Anehnya, mereka tidak dianggap sebagai 'kuasa nuklir'. 



Dusta media barat juga sangat terang- benderang ketika memunculkan kontroversi pernyataan Presiden Iran Mahmud Ahmadinejad soal 'Israel dihapus dari peta'. Padahal istilah itu sebenarnya tidak pernah ada. Kabar burung itu sengaja dibuat-buat media Amerika untuk mendiskreditkan kepala Pemerintahan Iran dan menjustifikasi untuk menyerang Iran. Pada dasarnya apa yang dikemukakan Ahmadinejad adalah perubahan 'rezim' di Tel Aviv bukan penghapusan Israel dari peta. Media Amerika salah atau sengaja melakukan penyesatan dalam menerjemahkan istilah rezim dalam bahasa Parsi.


Dalam buku setebal 238 halaman ini, sangat terlihat bahwa Chossudovsky sangat antiperang. Namun dia sangat menyangsikan dengan lembaga swadaya masyarakat ataupun kelompok antiperang. Beberapa LSM sangat tergantung pada badan-badan pendanaan publik maupun pribadi seperti Yayasan Ford, Rockefeller dan McCarthy. Raksasa minyak Rockefeller, misalnya akan dengan murah hati melalui yayasannya mendanai jaringan antikapitalis atau antiperang progresif serta pemerhati lingkungan hidup (berlawanan dengan raksasa minyak). 


 Tujuan akhirnya adalah mengontrol para LSM tersebut. Karena itu secara khusus Chossudovsky di Bab VI lebih percaya bahwa untuk mencegah dan menghentikan perang yang sangat mengerikan itu lebih percaya pada kekuatan akar rumput daripada kelompok antiperang. Demonstrasi antiperang tidak cukup. Yang diperlukan adalah pengembangan jaringan anti perang 'akar rumput' atau rakyat kecil di seluruh negara baik secara nasional maupun internasional. Perang dapat dicegah apabila rakyat dengan tegas menkonfrontir kebijakan pemerintahnya, menekan legislatifnya, pemerintah kota dan juga desa mengenai bahaya perang nuklir. Kesimpulan utama setelah membaca buku ini sangat simpel: musuh utama keamanan global sejatinya adalah kolaborasi jahat kelompok NATO-AS- Israel. 


Sumber: The Centre for Research on Globalisation (CRG)