Laman

Tampilkan postingan dengan label Kisah Nabi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Nabi. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 Juni 2019

Kisah Para Nabi dan Rasul PDF

Karya: Ibnu Katsir 
Pentahqih: Abu Fida' Ahmad bin Bahrudin 
Taqhih Hadist Berdasarkan Takrij Syaikh Muhammad Nasiruddin al-Abani 
Penerbit: Pustaka As-Sunah


Biografi singkat Ibnu Katsir

Makkah merupakan tempat pertama turunnya Al-Qur’an. Dari sinilah Nabi pertama kali menerima wahyu dari Allah, melalui malaikat Jibril kemudian mengajarkannya kepada para sahabat. Dari Nabi para sahabat menerima bacaan Al-Qur’an dan mereka berlomba-lomba penuh antusias menghafal setiap ayat yang disampaikan oleh Nabi. Dari para sahabat, para tabi’in menerima bacaan Al-Qur’an dan kemudian mereka mengajarkannya kepada generasi berikutnya.

Hingga lahirlah generasi qur’ani yang menetap di Makkah dan menjadi salah satu imam qira’at sab’ah. Salah satu generasi tabi’in yang dikenal piawai dalam bidang ilmu Al-Qur’an dan qira’atnya adalah Imam Ibnu Katsir.Ia merupakan imam yang fasih, pandai berorasi, dan cerdik. Pembawaannya tenang dan berwibawa. Selain sebagai imam dalam bidang ilmu Al-Qur’an dan qira’at, beliau juga dikenal sebagai qadli (hakim) di Makkah. Tidak ada seorang pun yang meragukan kepaiawaiannya dalam bidang ilmu Al-Qur’an dan qira’atnya.

Nama lengkapnya adalah Abdullah bin Abdullah bin Zadan bin Fairuz bin Hurmuz. Sebagian riwayat mengatakan bahwa beliau dikenal dengan sebutan Ibnu Katsir al-Dari, dinisbatkan kepada bani Abdi al-Dar. Sebagian riwayat yanglain mengatakan bahwa kata “al-Dari” dinisbatkan pada sebuah tempat di Bahrain. (Bedakan dengan ahli tafsir kenamaan, Ibnu Katsir al-Bashri ad-Dimasyqi, red).

Beliau lahir pada tahun 45 H dan menetap di sana hingga remaja di Makkah. Secara fisik, Imam Ibnu Katsir ini memiliki fisik yang tinggi, berisi, gelap kulitnya, biru bola matanya, putih rambut dan jenggotnya. 

Sebagai tabi’in generasi awal yang tinggal di Makkah, Imam Ibnu Katsir pernah berjumpa dengan beberapa parasahabat, di antaranya adalah Abdullah bin Zubair, Abu Ayyub al-Ansari, Anas bin Malik, Mujahid bin Jabar, dan Darbas pembantu (asisten) Abbas.

Ibnu Katsir kemudian diberi kepercayaan untuk menjadi khatib pada masjid di kota Mizza yang didirikan oleh amir Bahauddinal-Marjadi. Ia juga dipercaya untuk mengajar mata kuliah hadits dan ilmu hadits menggantikan posisi adz-Dzahabi yang meninggal dunia. Selanjutnya ia diangkat menjadi rektor Darul Hadits al-Asyrafiyah menggantikan Taqiuddin as-Subki yang wafat pada tahun 756 H.

Sebagai ulama ia banyak menghasilkan karya-karya ilmiah dari berbagai disiplin ilmu Islam, seperti tafsir, hadits, juga sejarah. Diantaranya kitab Tafsir al-Quran al-Adzim yang dikenal dengan nama tafsir Ibnu Katsir; Jamiul masanid was Sunan, sebanyak 8 jilid yang berisi tokoh-tokoh perawi hadits; at Ma’rifatus Tsiqat wad Dhu’afa, sebanyak 5 jilid yang berisi nama-nama perawi yang kuat dan yang lemah; Mukhtashar kitab Muqaddimah Ibnu shallah; al-Ba’is al-Hadits, berisi masalah ilmu hadits. Sedangkan dalam bidang sejarah ia menghasilkan kitab: al-Bidayah Nihayahs 14 jilid; al-Fashal fi sirah ar-Rasul; Thabaqat asy-Syafi’iyah. Dalam bidang fiqh beliau menulis al-fi Thalabil Ijtihad.

Ibnu Katsir wafat pada bulan Sya’ban tahun 774 H, bertepatan dengan bulan Februari 1373 M. Beliau dimakamkan di Damaskus, bersebelahan dengan makam gurunya Ibnu Taimiyah.


Nama File: Kisah Para Nabi dan Rasul oleh Ibnu Katsir
Jenis File: PDF (465 halaman)
Ukuran: 38 Mb

Download via MediaFire


Selasa, 08 Januari 2019

Nabi Musa Gagap (tidak fasih berbicara) ?

Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan mukjizat kepada para Nabi. Allah Ta’ala menurunkan mukjizat yang berbeda-beda kepada setiap Nabi yang diutus-Nya.

Nabi Musa a.s adalah utusan Allah Swt. Selain diberi mukjizat, sebagai seorang manusia, nabi Musa a.s tentu juga memiliki kekurangan. 

Nabi Musa (Film The Ten Comandments)  
Cerita tentang ketidaklancaran Nabi Musa dalam berbicara tidak hanya bisa kita temukan dalam Al-Qur’an, tetapi juga di dalam Al Kitab Perjanjian lama (Yahudi & Kristen), di mana Nabi Musa secara jelas menunjukkan dirinya tidak lancar berbicara yang oleh banyak pihak ditafsirkan gagap berbicara.

Kekurangan nabi Musa a.s adalah kekakuan lisannya manakala berbicara. Maka dari itu, agar bisa memenuhi perintah Allah Swt. untuk berdakwah kepada Firaun, yang telah melampaui batas (QS Thaha : ayat 24). 


Fir’aun juga mengejek ucapan Nabi Musa tidak jelas:

أَمْ أَنَا۠ خَيْرٌ مِّنْ هٰذَا الَّذِى هُوَ مَهِينٌ وَلَا يَكَادُ يُبِينُ 

Bukankah aku lebih baik dari orang (Musa) yang hina ini dan yang hampir tidak dapat menjelaskan (perkataannya)?
(QS Az-Zukhruf : ayat 52)


Kondisi Nabi Musa -‘alaihis salam- tidak ada pengaruhnya untuk menyampaikan risalah dan berdakwah, itu bukan termasuk aib bagi Nabi Musa -‘alaihis salam. 

Para ahli tafsir menerangkan bahwa nabi Musa a.s adalah utusan Allah Swt. yang memiliki kekurangan sebagaimana manusia pada umumnya. Kekurangan nabi Musa a.s adalah kekakuan lisannya manakala berbicara. Maka dari itu, agar bisa menyampaikan risalah & perintah Allah SWT untuk berdakwah kepada Firaun, nabi Musa a.s memanjatkan doa.  


Nabi Musa juga memohon kepada Allah supaya saudaranya Harun dijadikan pembantu beliau, karena lidahnya lebih fasih bicara dari pada lidah beliau. 

Doa tersebut diabadikan oleh Allah Swt. di dalam Al Quran, surah Thaha: 20 ayat 25-31 dan surah Al Qashash: 28  ayat 34). 

قَالَ رَبِّ اشْرَحْ لِى صَدْرِى 
Dia (Musa) berkata, "Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku,
(QS Thaha : ayat 25) 

وَيَسِّرْ لِىٓ أَمْرِى 
dan mudahkanlah untukku urusanku (QS Thaha : ayat 26) 

وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِّن لِّسَانِى 
dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, (QS Thaha : ayat 27)  

يَفْقَهُوا قَوْلِى 
agar mereka mengerti perkataanku,
 (QS Thaha : ayat 28)  

وَاجْعَل لِّى وَزِيرًا مِّنْ أَهْلِى 
dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, (QS Thaha : ayat 29)   

هٰرُونَ أَخِى 
(yaitu) Harun, saudaraku,
 (QS Thaha : ayat 30)  

اشْدُدْ بِهِۦٓ أَزْرِى 
teguhkanlah kekuatanku dengan (adanya) dia  (QS Thaha : ayat 31)


وَأَخِى هٰرُونُ هُوَ أَفْصَحُ مِنِّى لِسَانًا فَأَرْسِلْهُ مَعِىَ رِدْءًا يُصَدِّقُنِىٓ ۖ إِنِّىٓ أَخَافُ أَن يُكَذِّبُونِ 
Dan saudaraku Harun, dia lebih fasih lidahnya daripada aku, maka utuslah dia bersamaku sebagai pembantuku untuk membenarkan (perkataan)ku; sungguh, aku takut mereka akan mendustakanku."
(QS Al-Qasas : ayat 34)

Nabi Musa dan Nabi Harun  
Allah membebaskan Kalimullah Musa dari tuduhan Bani Israil. Mereka menuduh Nabi Musa mempunyai aib pada fisiknya. Kesulitan berucap pada lisan Nabi Musa –‘alaihis salam- tidak termasuk aib sejak awal (bawaan lahir).  

Kekurangan tersebut bersifat baru. Hal yang sama juga menimpa para Nabi dan Rasul Allah lainya. Mereka juga terkadang tersakiti, terkena (luka), sehingga menyebabkan ada kekurangan fisik. Sebagaimana juga telah terjadi kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keempat gigi depan beliau patah pada saat perang Uhud. 

Ada dua pendapat berbeda, tentang  kekakuan lisan yang dialami nabi Musa.

Pendapat Pertama
Nabi Musa seperti itu disebabkan oleh karena di waktu kecilnya beliau pernah diuji oleh Fir’aun antara memilih roti atau bara api yang menyala. Sebab sebelumnya Nabi Musa kecil menarik jenggot Fir’aun sampai ia murka. Dia curiga itulah bayi yang nanti bila sudah dewasa akan menghancurkan kekuasaannya. 


Nabi Musa kecil diuji dengan roti dan bara api. Bila ia memilih roti berarti ia bayi yang cerdas, yang akan menghancurkan kerajaannya, tapi bila ia memilih bara api berarti ia seorang bayi biasa yang tidak mengerti apa-apa.

Atas izin Allah, Nabi Musa kecil justru memilih bara api dan memakannya hingga lidahnya melepuh terbakar, yang mengakibatkan ia tidak bisa bicara dengan jelas sampai dewasa. 

Pendapat Kedua
Para kritikus sejarah yang menjelaskan bahwa Nabi Musa diejek Fir’aun bicara tidak jelas karena bahasa beliau sudah tercampur dengan bahasa asing.

Sejak kecil sampai pada usia beliau meninggalkan negeri Mesir menuju tanah Madyan, beliau bicara dengan dua bahasa; Ibrani (bahasa bangsa Yahudi) bahasa ibunya dan bahasa Qibti (bahasa bangsa Mesir kuno).
Beliau bicara dengan Fir’aun dengan menggunakan bahasa Qibti ini.

Ketika beliau tinggal bertahun-tahun di negeri Madyan, kedua bahasa itu beliau tinggalkan sama sekali. Beliau bicara dengan bahasa bangsa Madyan, yaitu bahasa Arab.


Menurut ahli sejarah, karena sudah 10 tahun (ada juga yang berpendapat 18 tahun), nabi Musa tidak bicara dengan bahasa ibunya sama sekali, jadi secara natural, bahasa aslinya akan tercampur dengan aksen bahasa Arab yang beliau gunakan.

Akibatnya di saat beliau kembali ke Mesir sebagian kalimat-kalimat yang digunakan Nabi Musa di Madyan tercampur baur dengan bahasa Qibti dan Ibrani yang sudah lama ia tinggalkan.

Kedua hal itulah yang menurut ahli sejarah menjadi kendala Nabi Musa,  yang kemudian meminta kepada Allah supaya hal itu dihilangkan. 

Wallahu a’la wa a’lam. 


Referensi:

BENARKAH NABI MUSA BERLISAN CADEL?
Rumah Zakat Org 

40- Jihad bukan hanya untuk membela diri 
Ifta.net
Fatwa Ibnu Baz (Lembaga Pusat Fatwa dan Riset Ilmiah)  

Senin, 07 Januari 2019

Musailamah Nabi Palsu - Kemenangan Muslimin di Perang Yamamah, Tewasnya Musailamah al-Kazzab (sang pembohong)

Musailamah alias Musailamah al-Kazzab (Musailamah si Pembohong)  adalah seorang yang mengaku sebagai nabi pada zaman Nabi Muhammad menyampaikan risalah Islam di jazirah arab.

Musailamah (Film Omar Umar bin Khattab Episode 20)   
Musailamah lahir di Yamamah, sebuah desa yang sekarang ini disebut al-Jibliyah. Dekat dengan Uyainah di lembah Hanifah wilayah Najd. Musailamah merupakan keturunan bani Hanifah (salah satu suku terbesar di jazirah Arab yang berdomisili di Yamamah).

Musailamah (Film Omar Umar bin Khattab Episode 20)  
Para Ulama dan sejarawan berbeda pendapat tentang nama Musailamah. Ada yang mengatakan ia adalah Musailamah bin Hubaib al-Hanafi. Yang lain mengatakan Musailamah bin Tsamamah bin Katsir bin Hubaib al-Hanafi. Ada yang mengatakan kun-yahnya adalah Abu Tsamamah. Ada pula yang menyebutnya Abu Harun.

Musailamah telah memiliki pengikut sebelum wahyu kerasulan datang kepada Nabi Muhammad SAW.  Sesudah Nabi Muhammad SAW mendapat wahyu kerasulan, Musailamah tetap mengklaim bahwa dirinya adalah seorang nabi yang berbagi tugas dengan Nabi Muhammad SAW. Musailamah juga mengklaim memiki mukjizat, padahal hal tersebut adalah praktek sihir yang ia miliki.

Tahun 9 Hijriyah, tokoh-tokoh bani Hanifah yang berjumlah beberapa belas orang laki-laki, termasuk Musailamah dan Haudzah bin Ali al-Hanafi (penguasa Yamamah beragama Nasrani) datang menemui Rasulullah SAW yang saat itu berada di Madinah. Musailamah menyatakan diri sebagai seorang Muslim, bahkan membangun Masjid di Yamamah.

Namun disaat yang bersamaan, Musailamah juga mempelajari sihir, dan menyatakan itu sebagai mukjizat. Musailamah juga menyatakan bahwa ia juga memperoleh "wahyu dari Allah dan berbagi wahyu dengan Nabi Muhammad SAW".

Dengan kemampuan sihirnya, Musailamah membuat sebagian orang percaya bahwa ia juga adalah seorang nabi, hingga beberapa orang menerimanya sebagai nabi bersama dengan Nabi Muhammad SAW.

Musailamah mengaku mendapat wahyu, menyusun ayat-ayat, yang dinyatakan sebagai kitab tandingan Al-Quran. Sebagian besar ayat-ayat buatan Musailamah memuji keunggulan sukunya, Bani Hanifah, atas Bani Quraisy.

Musailamah adalah seseorang yang memiliki kepribadian yang kuat (strong personality). Pandai bicara, tutur katanya lembut namun menipu. Selain itu Musailamah juga pandai menarik simpati.

Orang-orang Yamamah yang mengikuti Musailamah begitu fanatik, mereka bangga orang-orang dari keluarga Rabiah bersaing dengan keluarga Mudhar. Yakni keturunan Rabiah juga punya nabi sebagaimana keturunan Mudhar punya nabi, yakni Nabi Muhammad SAW. Pengakuan kenabian terhadap Musailamah sangat dipengaruhi fanatisme kabilah dan sentimen antar suku.

Perlahan-lahan pengaruh dan wewenang Musailamah terhadap orang-orang dari sukunya semakin menguat. Musailamah menghapuskan kewajiban untuk melaksanakan salat serta memberikan kebebasan untuk melakukan perzinahan dan konsumsi Khamr (minuman keras).

Musailamah mengumumkan kenabiannya (nabi palsu), Rasulullah SAW berada di Mekah. Musailamah mengutus orang-orang pergi ke Mekah untuk mendengarkan Alquran. Kemudian kembali ke Yamamah untuk membacakannya kepadanya. Setelah itu ia menirunya atau memperdengarkan ulang ke hadapan orang-orang sambil mengklaim itu adalah kalamnya.


Rasa percaya diri Musailamah kian bertambah. Semakin jauhlah kesesatannya. Ia mulai memposisikan diri sebagai seorang utusan Allah. Ia meniru Nabi Muhammad SAW yang berdakwah melalui surat kepada para raja dan penguasa. Saking percaya dirinya, ia mengirim surat kepada Nabi Muhammad SAW pada akhir tahun 10 Hijriyah:

ﻣِﻦْ ﻣُﺴَﻴْﻠِﻤَﺔَ ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠَّﻪِ، ﺇﻟَﻰ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠَّﻪِ : ﺳَﻠَﺎﻡٌ ﻋَﻠَﻴْﻚَ، ﺃَﻣَّﺎ ﺑَﻌْﺪُ، ﻓَﺈِﻧِّﻲ ﻗَﺪْ ﺃُﺷْﺮِﻛْﺖُ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺄَﻣْﺮِ ﻣَﻌَﻚَ، ﻭَﺇِﻥَّ ﻟَﻨَﺎ ﻧِﺼْﻒَ ﺍﻟْﺄَﺭْﺽِ، ﻭَﻟِﻘُﺮَﻳْﺶٍ ﻧِﺼْﻒَ ﺍﻟْﺄَﺭْﺽِ، ﻭَﻟَﻜِﻦَّ ﻗُﺮَﻳْﺸًﺎ ﻗَﻮْﻡٌ ﻳَﻌْﺘَﺪُﻭﻥَ

“Dari Musailamah seorang rasulullah kepada Muhammad seorang rasulullah. Keselamtan atasmu, amma ba’du: 

Sungguh aku sama denganmu dalam kerasulan ini. Bagi kami bagian bumi tertentu dan bagi Quraisy bagian bumi lainnya. Akan tetapi orang-orang Quraisy adalah kaum yang melampaui batas.” 

Musailamah menggunakan pilihan kata yang indah untuk menipu orang-orang. Musailamah menyebut Nabi Muhammad sebagai orang yang melampaui batas. Karena ingin menguasai seluruh jazirah Arab. Sementara ia mengklaim bahwa dirinya adalah orang yang bijak karena "berbagi tugas kenabian dengan Rasulullah SAW".

Rasulullah SAW pun membalas surat Musailamah:

ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤَﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣِﻴﻢِ، ﻣِﻦْ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠَّﻪِ، ﺇﻟَﻰ ﻣُﺴَﻴْﻠِﻤَﺔَ ﺍﻟْﻜَﺬَّﺍﺏِ : ﺍﻟﺴَّﻠَﺎﻡُ ﻋَﻠَﻰ ﻣَﻦْ ﺍﺗَّﺒَﻊَ ﺍﻟْﻬُﺪَﻯ . ﺃَﻣَّﺎ ﺑَﻌْﺪُ، ﻓَﺈِﻥَّ ﺍﻟْﺄَﺭْﺽَ ﻟﻠَّﻪ ﻳُﻮﺭَﺛُﻬَﺎ ﻣَﻦْ ﻳُﺸَﺎﺀُ ﻣِﻦْ ﻋِﺒَﺎﺩِﻩِ، ﻭَﺍﻟْﻌَﺎﻗِﺒَﺔُ ﻟِﻠْﻤُﺘَّﻘِﻴﻦَ

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Dari Muhammad utusan Allah kepada Musailamah sang pendusta. 
Keselamatan bagi mereka yang mengikuti petunjuk, amma ba’du:

Sesungguhnya bumi (ini) kepunyaan Allah; dipusakakan-Nya kepada siapa yang dihendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” 

Setelah membaca surat itu, Musailamah membunuh dan memutilasi Habib bin Zaid radhiallahu ‘anhu, sahabat Rasulullah SAW yang bertugas mengantarkan surat Rasulullah SAW tersebut.

Habib bin Zaid (Foto Istimewa) 
Musailamah menyiksa Habib hingga utusan Rasulullah tersebut menjemput syahidnya. Algojo terus juga memotong-motong tubuh berkali-kali sesuai perintah Musailamah.


Walaupun dalam kondisi sekarat, dengan iman yang teguh, bibir Habib tetap mengucap

”Aku mengakui sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah!”

Merasa diatas angin, Musailamah menjadikan wilayah Yamamah sebagai tanah haram. Musailamah menyusun sajak (kata-kata) yang ia sebut sebagai "wahyu".

Al-Mutasyammas bin Muawiyah, paman dari al-Ahnaf bin Qais, pernah mendengar sajak-sajak Alquran palsu yang dibacakan oleh Musailamah. Setelah keluar dari majelis Musailamah ia berkomentar,

“Sungguh ia seorang pendusta”. Al-Ahnaf juga mengomentari, “Dia bukanlah nabi yang sebenarnya. Bukan pula seorang yang pintar dalam berpura-pura menjadi nabi”. 

Untuk menguatkan posisinya, Musailamah menikahi seorang perempuan dari bani Tamim. Kabilah besar lainnya di masyarakat Arab. Perempuan itu adalah Sajah binti al-Harits bin Suwaid at-Tamimiyah.

Wanita ini memiliki kesamaan dengan Musailamah, sama-sama mengaku nabi. Ia mengajak kaumnya bani Tamim dan paman-pamannya dari kabilah Taghlib dan kabilah-kabilah Rabi’ah lainnya. Bersatulah kelompok besar ini dalam fanatisme kesukuan mengklaim sebuah kedustaan. Kemudian mereka menantang kekhalifahan Abu Bakar di Madinah.

Perang Yamamah 


Sesudah Rasulullah SAW wafat, Abu Bakar As-Shiddiq radhiallahu ‘anhu dibaiat kaum muslimin, menggantikan posisi Rasulullah SAW sebagai Amirul Mukminin (Khalifah).

Abu Bakar As- Siddiq (Film Omar ibnu Khat Episode 20)   

Abu Bakar radhiallahu ‘anhu melihat adanya bahaya besar yang mengancam Islam bila fitnah Musailamah tak segera dipadamkan. Abu Bakar beserta para jenderal perang muslim, Umar bin Khatab, Khalid bin Walid, Abbad bin Bisyir, al-Barra bin Malik, hingga Abdullah bin Raba, ikut terjun dalam membela agama Allah dalam perang Yamamah, yang terjadi antara kaum Muslim dan kaum murtad itu.

Ketika pasukan muslimin dan pasukan Musailamah Al-Kadzdzab berhadap-hadapan, Musailamah berkata kepada pasukannya:

“Hari ini adalah hari kecemburuan. Jika kalian kalah pada hari ini maka istri-istri kalian akan menjadi tawanan dan mereka akan menjadi budak. Oleh karena itu, berperanglah kalian untuk membela kedudukan dan melindungi wanita-wanita kalian.” 

Dengan pasukan besar, tidak kurang dari 100.000 orang, 12.000 pasukan kaum muslimin di awal peperangan. Mereka berhasil memorak-morandakan pertahanan kaum muslimin. Mereka menerobos barisan tentara-tentara Allah hingga berhasil masuk ke dalam kemah panglima Khalid bin al-Walid. Istri Khalid hampir tewas dalam peristiwa itu.


Melihat pasukan Muslim terdesak, saat itulah, 'Abbad bin Bisyir naik ke atas bukit dan dengan lantang berseru kepada pasukan Muslim:

"Pecahkan sarung-sarung pedangmu dan tunjukkan kelebihan kalian!"


Mendengar seruan pembakar semangat itu, mental juang pasukan Muslim terdongkrak. Sekitar 400 orang dari golongan Anshar menyerbu barisan musuh.

Kaum murtad yang tadinya jumawa kini kebingungan dan lari ke belakang. Sampailah mereka di kebun. Kebun ini digunakan Musailamah sebagai benteng pertahanan. Namun, pasukan Muslim yang sudah merangsek masuk tak terbendung. Kedua belah pihak saling berjibaku.

Kecamuk Perang Yamamah kian memanas. Teriakan pengobar semangat, amarah, dan jeritan luka menggema dimana-mana. Gemerincing dan denting pedang saling menghantam.

Khalid bin Walid, pertempuran Yamamah (Film Omar Umar bin Khattab Episode 20) 

Desir suara anak panah dan tombak membelah angin. Jihad yang berat tiadalah arti selain lumuran debu. Di kaki, tangan, dan wajah. Jasad-jasad terhempas ke bumi berpisah dengan nyawanya.


Hingga salah seorang sahabat Rasulullah SAW,  al-Barra bin Malik mengeluarkan ide;

“Letakkan aku dalam baju besi. Kemudian angkat dengan ujung tombak. Angkatlah, hingga aku bisa mencapai ujung atas pagar. Lalu lemparkanlah aku ke dalam kebun. Akan kubukakan pintu dari dalam”.

Awalnya, orang-orang menolak usulan al-Barra. Mereka khawatir akan keselamatannya. Sampai akhirnya mereka mengangkatnya dan melemparnya ke dalam kebun.

Al-Barra pun masuk ke dalam kebun. Keberanian, keahlian dalam bela diri dan menggunakan senjata mengantakan al-Barra ke pintu gerbang setelah ia membunuh 15 orang. Pintu gerbang kebun yang terkunci berhasil dibuka.

al-Barra bin Malik  (ilustrasi) 
Kebun yang awalnya menjadi benteng Musailamah. Kini menjadi kebun kematian untuknya. Kaum muslimin berlari membanjiri kebun. Setelah semuanya masuk, al-Barra menutup kembali pintu tersebut dan melemparkan kuncinya ke seberang pagar. Sehingga tidak ada satu pun yang bisa keluar.


Pasukan Musailamah al-Kadzab kian terpojok. Sampai akhirnya tewaslah si nabi palsu, Musailamah al-Kadzab, di tangan Wahsyi bin Harb bekas budak Jabir bin Muth’im dan seorang mujahid dari anshar, Abu Dujanah Simak bin Khirasyah radhiallahu ‘anhu.

Tewasnya Musailamah meruntuhkan mental pengikutnya. Kebanggaan dan kesombongan mereka serta merta raib dalam situasi itu. Mereka seolah-olah tersadar dari sihir, bingung tak berbuat sesuatu pun.

Battle of Yamama (ilustration)

Akhirnya mereka menyerah. Setelah sejumlah 21.000 dari mereka tewas dalam pertempuran. Dan ada yang mengatakan 500 atau 600 atau bahkan 1200 kaum muslimin syahid. Jumlah korban yang besar.

Perang Yamamah 
Setelah perang usai, orang-orang bani Hanifah didatangkan ke Madinah untuk bertemu dengan Abu Bakar radhiallahu ‘anhu.

Khalifah Abu Bakar As- Siddiq
(Foto: Republika.co.id)  
Mereka diminta bercerita tentang kenabian Musailamah. Abu Bakar bertanya tentang sajak yang dibuat Musailamah. Mereka menyebutkan beberapa contoh di antaranya. Lalu Abu Bakar berkomentar,
“Subhanallah!! Celaka kalian! Kalimat-kalimat tersebut bukanlah berasal dari Tuhan bahkan orang yang baik (sekalipun). Bagaimana hal itu bisa membimbing kalian?” 
(Tarikh ar-Rusul wa al-Muluk oleh ath-Thabari, 3:281-301, al-Bidayah wa an-Nihayah oleh Ibnu Katsir, 6:237 & 324, Thabaqat al-Kubra oleh Ibnu Saad, 3:377, dan al-Ishabah oleh Ibnu Hajar, 3:15)


Referensi:

Tarikh ar-Rusul wa al-Muluk oleh ath-Thabari 

al-Bidayah wa an-Nihayah oleh Ibnu Katsir

Thabaqat al-Kubra oleh Ibnu Saad

Musailamah Si Nabi Palsu: Perang Yamamah (bagian 1 dan 2) 
KisahMuslim.com 

Menjemput Syahid di Perang Yamamah
Republika.co.id. 

Kisah Perang Yamamah 
Muslimah.Or.Id  

Musailamah al-Kazzab
Wikipedia Bahasa Indonesia 

Pertempuran Yamamah 
Wikipedia Bahasa Indonesia  

Minggu, 23 Desember 2018

Tanda-Tanda Kiamat Yang Sudah Terjadi Pada Wanita di Akhir Zaman

Tanda-Tanda Kiamat Yang Sudah Terjadi, Terutama Yang Kini Dialami Para Wanita di Akhir Zaman

"Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Kiamat: ‘Kapankah terjadinya.’ Katakanlah: ‘Sesungguhnya pengetahuan tentang hari Kiamat itu adalah pada sisi Rabb-ku; tidak seorang pun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru-haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba.’ Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah: ‘Sesungguhnya pengetahuan tentang hari Kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.
(QS Al-A’raaf: 187)

Ketika Rasulullah SAW ditanya oleh malaikat Jibrail alaihi salam, mengenai kapankah terjadinya hari akhir, beliau menjawab:

"Tidaklah yang ditanya lebih tahu dari pada yang bertanya. Kemudian Rasul menyebutkan beberapa ciri hari akhir, yaitu: seorang budak wanita melahirkan majikannya dan manusia saling bermegah-megahan dalam membangun". (HR. Bukhari)

Rasullullah SAW mengatakan, ketika Isra Mi'raj, beliau melihat Kebanyakan Penghuni Neraka adalah Wanita

“Aku melihat ke dalam Surga maka aku melihat kebanyakan penduduknya adalah fuqara (orang-orang fakir/miskin) dan aku melihat ke dalam neraka maka aku menyaksikan kebanyakan penduduknya adalah wanita.”
(HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas dan)


Rasullullah SAW mengatakan Pengikut Dajjal yang paling banyak adalah wanita. Karena mereka cepat terpengaruh dan ketidaktahuan yang menimpa mereka. Sebagaimana disebutkan dalam hadits Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Dajjal akan turun ke Mirqonah (nama sebuah lembah) dan mayoritas pengikutnya adalah kaum wanita, sampai-sampai ada seorang yang pergi ke isterinya, ibunya, putrinya, saudarinya dan bibinya kemudian mengikatnya karena khawatir keluar menuju Dajjal”.
(HR. Ahmad 2: 67. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan. Musnad Ahmad 7 : 790 dengan tahqiq Ahmad Syakir, dan beliau berkata, “isnadnya Shahih.”) 




Baca juga: 
Wanita di Akhir Zaman - Pengikut Dajjal dan Penghuni Neraka Kebanyakan adalah Wanita


Rasullullah SAW mengatakan Wanita di Akhir Zaman akan sombong dan berpaling dari ketaatan kepada Allah dan suaminya.

"Setiap kali mereka keluar, syaitan akan memperhatikannya.”
(HR Bazzar dan At-Tirmizi)

"Wanita-wanita yang berpakaian tetapi sesungguhnya mereka telanjang, melenggak-lenggokkan kepala mereka karena sombong dan berpaling dari ketaatan kepada Allah dan suaminya.
(HR. Muslim dan Ahmad dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu)


Rasulullah saw ketika ditanya tentang kebanyakan hal-hal yang dapat memasukan manusia (khususnya wanita) ke dalam neraka, beliaupun menjawab:

“Akibat Mulut dan kemaluan!” (HR Tirmidzi)


Rasullullah SAW mengatakan Wanita di Akhir Zaman Kufur Terhadap Suami dan kebaikannya. Padahal yang harus dilakukan oleh seorang istri ialah bersyukur terhadap apa yang diberikan suaminya. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

“Allah tidak akan melihat kepada wanita yang tidak mensyukuri apa yang ada pada suaminya dan tidak merasa cukup dengannya.”
(HR. Nasa’i di dalam Al Kubra dari Abdullah bin ‘Amr. Al Insyirah fi Adabin Nikah halaman 76)



Rasullullah SAW bersabda:
“Pada akhir zaman, perempuan
akan berpakaian seperti lelaki”.

Saya harap wanita tidak marah kepada saya. Itu adalah nubuat dari Rasullullah SAW, ucapan seorang Nabi & Rasul yang diberkahi Allah SWT. Rasullullah SAW mengatakan bahwa Perempuan akan berpakaian seperti lelaki. Apakah anda sudah melihat sabda Rasullullah SAW sudah terjadi ? Apa anda sudah melihat perempuan mengenakan jas, bergaya maskulin ? Apakah anda sudah melihat perempuan memakai celana jeans?

Jas dan dasi kini adalah pakaian kerja yang wajib dikenakan perempuan. Apakah anda pernah melihat Perempuan kini memakai dasi ? Ketika jam istirahat kerja tiba, biasanya perempuan berdasi tersebut menyantap makanan cepat saji di McDonalds.


Lalu mengapa kebanyakan para Ulama, Mufti, Seikh, Mufti, Sarjan Islam & Ustad secara misterius seolah bungkam mengenai hal ini? Mengapa ini tidak lagi terdengar di khutbah jumat atau acara-acara ceramah ?

Justru beberapa diantara mereka berdalih, ini adalah era emansipasi wanita. Jika ada yang memprotes, maka orang tersebut akan dikecam habis-habisan, dikatakan melakukan diskriminasi, islam garis keras, intoleran, anti pancasila, melanggar hak asasi manusia dan sebagainya.

Mengapa perempuan berpakaian seperti lelaki? Agar perempuan bisa menjalankan peran fungsional lelaki di masyarakat.Kini perempuan harus bekerja sepanjang hari, kemudian dia pulang ke rumah pada sore hari, menghadapi kemacetan jalan di sore hari, demi meniti karirnya, kemudian ia pulang kerumah dengan membawa koper dan laptop.


Saat perempuan bekerja sebagai karyawan kantor atau perusahaan, tentu dia punya bawahan lelaki. Maka, dia tidak bisa bersikap & berbicara kepada mereka dengan suara feminin (lembut), suaranya harus tegas.

Namun, ketika wanita sibuk bekerja meniti karirnya, siapa yang mengurus dan merawat anak-anaknya ?

Tenang saja, kini banyak jasa penitipan anak. Cukup membayar dengan sejumlah uang, maka mereka yang mengurusnya. Jadi kita tinggal menjemput mereka saja usai pulang bekerja disore hari.


Namun, apa dampak itu semua terhadap tumbuh kembang dan prilaku anak, yang tidak mendapatkan kasih sayang dan bimbingan seorang ibu ? Apa yang akan dilakukanya ketika ia sudah tumbuh menjadi dewasa ?

Ketika anak tersebut dewasa, maka sang ibu memasuki usia senja. Tebak apa yang dilakukan anak itu terhadap ibunya yang sudah renta?

Karena dirasa mengganggu, merepotkan & menjadi beban,maka Anak-anaknya yang sudah menjadi dewasa dan sukses itu menaruhnya di sebuah tempat bernama Panti Jompo, yang bagaikan tempat rongsokan manusia.

Apakah kita tidak melihat bagaimana kini nasib sebagian para manula (manusia lanjut usia) yang diabaikan anak-anaknya? Mereka harus menghabiskan sisa hidupnya di Panti Jompo ?


Anda tahu tempat besi rongsokan? Saat mobil sudah rusak tidak bisa dipakai lagi, anda menaruh mobil di tempat besi rongsokan.

Saat umat muslim melihat itu, harusnya air mata kita bercucuran. Bahwa 1400 tahun yang lalu, Nabi bersabda hal ini akan terjadi.

Hadis sahih dari Ibnu Abbas, dia berkata : “ Rasulullah SAW melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki .” ( HR. Bukhari)

Laknat artinya terusir dan dijauhkan dari rahmat Allah.

Allah melarang wanita muslim untuk bercita-cita menjadi seperti lelaki. Demikian juga lelaki dilarang untuk bercita-cita menjadi seperti wanita. Dalam Al Qur’an dikatakan :

ﻭَﻟَﺎ ﺗَﺘَﻤَﻨَّﻮْﺍ ﻣَﺎ ﻓَﻀَّﻞَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺑِﻪِ ﺑَﻌْﻀَﻜُﻢْ ﻋَﻠَﻰ ﺑَﻌْﺾٍ ﻟِﻠﺮِّﺟَﺎﻝِ ﻧَﺼِﻴﺐٌ ﻣِﻤَّﺎ ﺍﻛْﺘَﺴَﺒُﻮﺍ ﻭَﻟِﻠﻨِّﺴَﺎﺀِ ﻧَﺼِﻴﺐٌ ﻣِﻤَّﺎ ﺍﻛْﺘَﺴَﺒْﻦَ ﻭَﺍﺳْﺄَﻟُﻮﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻣِﻦْ ﻓَﻀْﻠِﻪِ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻛَﺎﻥَ ﺑِﻜُﻞِّ ﺷَﻲْﺀٍ ﻋَﻠِﻴﻤًﺎ

” Dan janganlah kalian menginginkan apa yang Allah karuniakan terhadap sebahagian dari kalian lebih dari apa yang diberikan kepada sebagian yang lain. Bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan dan bagi wanita ada pula bagian dari apa yang mereka usahakan. Dan mintalah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Mengetahui segala sesuatu.” (QS. An Nisa : 32).


Rasullullah SAW kembali bersabda dalam hadits Shahih Muslim nomor 2128, bab al-Libas (ﻛﺘﺎﺏ ﺍﻟﻠﺒﺎﺱ ﻭﺍﻟﺰﻳﻨﺔ) bahwa perempuan akan berpakaian tapi telanjang. Apa makna dari sabda nabi, tentang perempuan akan berpakaian tapi telanjang?


Pakaian wanita  yang dimaksud adalah pakaian yang tipis, trasnparan, pendek (mini), ketat (membentuk lekuk tubuh) dan segala pakaian yang tidak menutup aurat, yang mengundang nafsu birahi kaum adam atau bahkan nafsu birahi wanita lesbi. Nabi kita yang diberkahi, 1400 tahun yang lalu telah menyabdakan itu.

Sebaliknya, mengapa lelaki berpakaian & berdandan seperti perempuan? Mengapa Rasulullah SAW dalam Sunnahnya mengajarkan agar pria memanjangkan jenggot?


Jika lelaki ingin berdandan seperti perempuan, hal pertama yang harus dia lakukan adalah mencukur habis jenggotnya. Hal ini bukan kebetulan. Kini peradaban Barat sekuler modern mencukur habis jenggot mereka.

Allah menciptakan perempuan untuk menarik pria. Saat Rasulullah membangun masjid, anda tahu dalam syariat, dalam sholat, lelaki berposisi di depan, perempuan di belakang.


Alasanya, anda tahu Rasulullah bersabda bahwa saat perempuan bersujud, maka perempuan bersujud lebih lama daripada lelaki. Ini adalah perintah Nabi (saw). Mengapa?

Rasulullah SAW bersabda:
“Beberapa lelaki mungkin tidak punya cukup kain untuk menutupi dirinya. Dan jika perempuan mengangkat kepala terlalu cepat akan nampak bagian yang tidak diinginkan”.

Maka Rasulullah SAW menempatkan lelaki di depan dan perempuan di belakang. Dan memerintahkan perempuan agar bersujud lebih lama.

Jika perempuan didepan, Anda (para pria) tidak bisa konsentrasi beribadah. Karena perempuan mahluk cantik dan Allah menciptakan lelaki tertarik kepada wanita.  Jika ada lelaki yang tidak punya keinginan terhadap perempuan, ada yang salah dengan lelaki tersebut, beri dia tiket ke Disney Land yang ada di negeri Paman Sam

Kembali ke topik, jika lelaki berpakaian menyerupai perempuan, salah satu tujuannya untuk memikat lelaki lainnya. Detik ini, diberbagai belahan bumi lain, sudah banyak negara yang melegalkan pernikahan sesama jenis.


Pihak yang lantang bersuara menentang hal tersebut tentu akan dikecam habis-habisan. Dikatakan melanggar hak asasi manusia para LGBT, mencampuri privasi orang lain, bahkan muncul sebuah istilah yang membuat kita shock, yakni "Homophobia".

Dalam Islam, sejak zaman Nabi Adak dan Hawa,  pernikahan adalah antara lelaki dan wanita, dan itu adalah ibadah.


Apa yang terjadi jika manusia menikah sesama jenis ? Tentu tidak menghasilkan keturunan, dan mengancam eksistensi kelangsungan umat manusia, inilah kejahatan manusia yang sebenarnya.

Pria dan wanita memang diciptakan untuk hidup berdampingan dan berpasang-pasangan. Meski begitu, jumlah populasi antara wanita dan pria yang tak seimbang dapat menyebabkan sejumlah ketimpangan.

Lagi, Rasulullah SAW bersabda, Di Akhir Zaman, 1 Orang Lelaki Diikuti 40 Wanita.

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al ‘Alaa’ telah menceritakan kepada kami Abu Usamah dari Buraid dari Abu Burdah dari Abu Musa radliallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu’alaihiwasallam bersabda:

“Pasti akan datang pada manusia suatu zaman yang ketika seseorang berkeliling membawa shadaqah emas, lalu ia tidak mendapati seseorang yang mau menerimanya lagi. Lalu akan terlihat satu orang laki-laki akan diikuti oleh empat puluh orang wanita, yang mereka mencari kepuasan dengannya karena sedikitnya jumlah laki-laki dan banyaknya wanita.”

Tahun 2016, negara Estonia berpenduduk sekitar 1,3 juta jiwa. Jumlah Pria di negara ini hanya 0,84%, sedangkan jumlah wanitanya 99,16%.

Rusia, negara yang memiliki penduduk 143 juta jiwa, jumlah Pria di negara ini hanya 0,86%, sedangkan jumlah wanitanya 99,14%.

Tahun 2014, Jumlah penduduk Ukraina adalah sekitar 45 juta jiwa. jumlah Pria di Ukraina hanya 0,98%. Sedangkan jumlah wanita 99,02%.

Tanda akhir zaman lainnya yang diberitahu Rasulullah SAW adalah Jika Penyanyi-penyanyi wanita sudah menjamur, maraknya perzinahan, banyaknya orang yang menghalalkan musik dan minuman keras, maka tunggulah bencana.


Dalam Shahih Bukhari rahimahullah, beliau berkata:
telah berkata Hisyam bin Ammar (ia berkata) : telah menceritakan kepada kami Shidqah bin Khalid, kemudian beliau menyebutkan sanadnya hingga Abi Malik Al-Asy’ari Radhiyallahu ‘anhu, bahwa dia mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya:

“Sungguh akan ada hari bagi kalangan umat kaum yang menghalal kan perzinaan, sutera, minuman keras, dan alat-alat musik."(HR Bukhari)

Masya Allah, apakah semua yang dikatakan Rasullullah SAW yang kini sedang terjadi hanyalah kebetulan kebetulan semata? 

Senin, 17 Desember 2018

Nabi Hanzhalah (Hanzholah) as


Hanzhalah (Arab: ﺣﻨﻈﻠﺔ , Hanzholah) adalah seorang nabi yang diutus oleh Allah kepada Penduduk Rass. Menurut Ibnu Hazmi, Nabi Hanzhalah bin Shafwan seorang rasul dari Bani Israil, keturunan Yahuda bin Nabi Yakub as.

Menurut Ibnu Jurayj dari Ibnu 'Abbas bahwa Penduduk Rass adalah penduduk salah satu kampung di Tsamud. As-Sadi mengatakan, Penduduk Rass adalah sisa-sisa Kaum Tsamūd. Sedangkan menurut pendapat Ibnu Abi Hatim dan cendikiawan muslim lainnya mengatakan, bahwa penduduk itu terletak di Azerbaijan.

“Dan (kami binasakan) kaum ‘Aad dan Tsamud dan penduduk Rass dan banyak (lagi) generasi-generasi di antara kaum-kaum tersebut. Dan kami jadikan bagi masing-masing mereka perumpamaan dan masing-masing mereka itu benar-benar telah Kami binasakan dengan sehancur-hancurnya.” 
(QS. al-Furqaan[25]: 38-39)

Penduduk Rass adalah kaum menyembah berhala. Berhala yang mereka sembah ini adalah pohon-pohon yang bernama Sanobar. Dalam ritualnya, orang-orang Rass tak hanya bersujud kepada pohon tersebut, melainkan menciptakan hari-hari besar di mana di dalamnya pesta-pesta luar biasa diadakan.

Tak hanya memotong hewan-hewan ternak, mereka juga melakukan kemaksiatan yang luar biasa. Konyolnya, setelah melakukan itu mereka pun berdoa bersama-sama mengharapkan pengampunan dan keberkahan hidup. Bukan kepada Tuhan, melainkan Sanobar.

Tuhan pun mengutus Nabi Hanzhalah untuk memperingatkan orang-orang ini dari kesesatan mereka. Sayangnya, ajakan sang nabi tidak pernah dihiraukan malah orang-orang Rass makin menjadi-jadi.

Kota tempat Nabi Hanzhalah tinggal tersebut, terdapat sebuah gunung tinggi yang bernama Gunung Falaj. Gunung tersebut dijadikan tempat berlindung sejenis burung yang sangat besar yang diberi nama ʿanqā’. Apabila burung itu terbang, ia bisa menutupi matahari seperti layaknya awan.

Lehernya seperti leher unta, memiliki empat sayap, dua panjang dan dua lagi pendek. Bulunya berwarna-warni, suka mengangkat kuda , unta , gajah yang mati, dan binatang yang lainnya dengan cakarnya dan membawanya ke gunung tempat berdiamnya.

Ketika burung tersebut kian membahayakan manusia, ia menyambar penduduk lalu dibawa ke atas gunung dan mereka dijadikan santapan bagi anak-anaknya yang baru menetas, maka penduduk kota tersebut mengadukannya kepada Hanzhalah bin Shafwan.

Mendengar pengaduan tersebut, Hanzhalah berdoa agar Allah membinasakan ʿanqā’.

Dia berdoa, “Ya Allah, matikanlah binatang tersebut dan putuskanlah keturunannya.” 

Setelah itu, burung besar tersebut jatuh kemudian terbakar bersama anak-anaknya hingga tak ada lagi bentuknya.

Bukannya semakin yakin akan kebesaran Allah dan semua dakwah Nabi Hanzhalah, kaum Rass malah mengingkari janji mereka.

Puncaknya, sang nabi berdoa agar Tuhan melenyapkan Sanobar-Sanobar yang ada di daerah ini. Doa sang nabi terkabul dan pohon-pohon yang jadi sesembahan ini pun kering dan akhirnya mati.

Hal tersebut membuat orang-orang Rass geram, lalu dengan serta merta menangkap nabi Hanzhalah untuk kemudian diperlakukan dengan cara yang biadab. Mereka menggali sumur lalu menaruh sang nabi di sana. Tak sampai situ, orang-orang juga menutup mulut sumur tersebut dengan sebuah batu besar.

Tidak ada seorangpun dari kaum Rass yang mau beriman kepada Allah, kecuali seorang budak hitam.

Budak hitam itu melihat kejadian tersebut dan hanya bisa menolong Nabi Hanzhalah dengan memberinya makan, kemudian menutup kembali sumur tersebut. Budak itu memberi nabi makan setiap habis mencari kayu bakar di hutan.

Pada suatu hari, budak itu sedang mencari kayu bakar. Merasa lelah dan ngantuk, budak itu memutuskan untuk tidur sejenak.

Dalam sebuah riwayat, budak itu tertidur selama tujuh tahun lamanya, sehingga ia tidak sempat memberi makan Hanzhalah. Dia menyangka kalau dirinya baru tidur sebentar. Ketika hendak memberi makan Hanzhalah, ia tidak menemukannya di dalam sumur. Rupanya Allah telah mencabut nyawa Nabi Hanzhalah dan kemudian membangunkan kembali budak hitam itu.

Selama budak itu tertidur, Allah telah membinasakan kaum Rass seperti yang dikisahkan dalam surat Al-Furqan ayat 38. 

Allah sengaja menidurkan budak hitam itu agar ia tidak melihat azab mengerikan yang menimpa kaum Rass dan juga agar dia tidak menyaksikan sang Nabi yang ia imani meninggal dunia. 

Nabi Yesaya (Asya'yaa/Isaiah) as - Nabi Yang Digergaji (Dimutilasi) Yahudi


Yesaya (Ibrani : Ysya'yahu ; Arab: ﺃﺷﻌﻴﺎﺀ Asya'yaa ; Latin: Isaiah) adalah seorang nabi yang diutus Allah kepada Bani Israel, sekitar tahun 740 SM. Nabi Yesaya adalah putra dari Nabi Amos (Amshoya).

Ketika Nabi Yesaya diutus, Bani Israil pun tengah dipimpin seorang raja yang saleh, Hizkia (Hezekiah). Itulah salah satu masa kedamaian bangsa Yahudi di Yerussalem.

Selain berdakwah kepada Bani Israel, Nabi Yesaya menjadi penasihat bagi Hizkia juga menjadi penasehat kerajaan. Nabi Yesaya memberikan saran baik ataupun melarang hal buruk bagi kerajaan Yahudi. Tak jarang pula beliau juga turut mengambil keputusan segala urusan bagi Bani Israil.

Suatu hari, Raja Hizkia ditimpa sebuah penyakit. Kakinya terkena infeksi yang berat sangat. Kematian sudah ada dihadapannya. Sementara raja sakit, rombongan pasukan Raja Babilonia, Sennacherib (Sinharib) dikabarkan tengah menuju Yerussalem. Mereka bermaksud menyerbu negeri pimpinan Hizkia dengan 60 ribu pasukan.

Raja Hizkia pun kebingungan. Ia khawatir rakyatnya tewas sia dan negerinya porak poranda. Namun ia tak dapat melakukan apa-apa dengan penyakit yang tengah dideritanya. Ia pun meminta nasihat kepada Yesaya, apa yang harus ia lakukan.

“Apakah Allah memberikan wahyu kepada Anda mengenai pasukan Sanherib?” Tanya raja, lemas.

“Allah belum memberikan wahyu apapun kepadaku tentang itu,” jawab Yesaya.

Setelah beberapa hari, Yesaya mendapat perintah dari Allah agar Hizkia bersedia turun tahta dan mengangkat raja baru sebagai penggantinya untuk menghadapi serangan Babilonia. Pasalnya, takdir ajal telah dekat dengan Hizkia. Dengan berat hati, Yesaya pun mengatakannya pada sang raja. Namun raja dengan lapang dada menerimanya.

Raja Hezkia kemudian segera menghadap kiblat kemudian menengadahkan tangan berdoa. Dengan hati yang tulus, sang raja memanjatkan doa, “Ya Tuhan dari segala Tuhan, Ya Raja dari segala raja…. Ya Tuhan yang penuh kebajikan dan penyanyang, Yang tidak tidur dan tidak mengantuk, Yang dapat mengalahkan segala sesuatu… Ingatlah hambaMu ini atas apa yang telah hamba perbuat bagi bangsa Israel. Dan Engkau tentu lebih mengetahuinya, Engkau mengetahui setiap perbuatan hamba dan segala rahasia hamba,” ujar Raja Hezkia, menangis, meminta belas kasih dari Allah Ta’ala.

Allah pun menjawab doa raja yang saleh itu. Kepada Yesaya Allah berfirman bahwa Dia sangat senang Hezkia memanjatlkan doa kepadaNya. Allah pun memperpanjang usia Hizkia hingga 15 tahun lagi. Mendapat wahyu itu, Yesaya pun segera member kabar kepada sang raja dengan gembira.

Mendengar kabar tersebut, Raja Hezkia pun segera menyungkur sujud dan memanjatkan syukur. “Ya Tuhan, Engkau memberikan kerajaan bagi siapa yang Engkau kehendaki. Engkau mengangkat kedudukan siapa saja yang Engkau kehendaki. Engkau mengetahui segala hal ghaib dan nyata. Engkau adalah Al Awwal dan Al Akhir, Engkau memberikan rahmat dan menjawab orang-orang yang kesulitan,” ujar Hezkia memuji Tuhan seluruh alam.

Usai sujud syukur, Yesaya meminta sang raja untuk mengusap kaki yang infeksi dengan sari daun Ara. Dengan kehendak Allah, penyakit raja sembuh seketika. Tak hanya menyembuhkan oenyakit raja, Allah pun menolong Bani Israil dengan mengalahkan tentara Sanherib. Tiba-tiba di pagi hari, seluruh pasukan mati tergeletak, kecuali sang Raja Sanherib dan kelima tangan kanannya, termasuk Nebukadnezar. Mereka dibelenggu selama 70 hari, kemudian dipulangkan ke Babilonia. Saat kembali, Raja Sanherib pun menanyakan hal aneh yang terjadi pada mereka.

Para tukang sihir negeri itu pun mengatakan kepadanya, “Kami bercerita tentang Tuhan dan nabi mereka, tapi Anda tak pernah mendengarkan kami. Mereka adalah bangsa yang memiliki Tuhan,” ujar para tukang sihir. Sang raja Babilonia pun berkidik, ia kemudian merasa sangat takut akan Allah.

Sementara di Yerussalem, setelah perpanjangan usia yang diberikan Allah, Raja Hezkia pun menemui ajalnya. Pasca meninggalnya Hezkia, Yerussalem porak poranda.

Kondisi Bani Israil sangat buruk. Yesaya yang masih hidup di tengah mereka pun tetap mendakwahkan tauhid dan menyeru Bani Israil agar tetap di jalan Allah. Ia mengingatkan Bani Israil untuk tetap mengingat Allah meski kondisi negara carut marut.
Namun salah satu sifat Yahudi adalah menentang para nabi.

Meski Yesaya selalu menjadi wali bagi mereka, bangsa Israil itu justru marah kepadanya. Mereka geram dengan ceramah Yesaya. Mereka pun kemudian memusuhi nabiyullah dan berencana membunuhnya.

Hingga suatu hari, Yesaya tengah melewati sebuah pohon. Sementara Bani Israil mengejarnya untuk membunuhnya. Lalu tiba-tiba pohon yang dilewati sang utusan Allah itu terbuka. Yesaya pun masuk dan berlindung di dalam pohon.

Namun Setan melihat Yesaya masuk ke dalam pohon. Syaithan pun kemudian membuah jubah sang nabi terjepit sehingga terlihat oleh Bani Israil. Melihatnya, Bani Israil pun segera mengambil gergaji kemudian menggergaji pohon itu. Yesaya pun wafat (syahid) dibunuh oleh umatnya sendiri.

Kisah Nabi Yesaya tersebut tak tercantum dalam Al Qur’an, pun tak dikabarkan oleh Rasulullah. Dalam ajaran Islam, nama Yesaya juga tak termasuk dalam nama 25 nabi yang harus diketahui. Hanya saja, Ibnu Katsir memasukkan kisah Yesaya tersebut dalam kitabnya “Qashshashul Anbiya”.

Menurut Ibn Katsir, mengutip dari riwayat Muhammad Ibn Ishaq, Nabi Yesaya merupakan nabi yang muncul sebelum era Nabi Zakaria dan Yahya.  Nabi Yesaya bahkan salah satu nabi yang bernubuat mengenai Nabi Isa dan Nabi Muhammad Rasulullah. Silahkan merujuk kembali kitab Ibn Katsir tersebut.

Dalam Alkitab Kristen, Perjanjian lama Yahudi, Nabi Yesaya menggambarkan bahwa Nabi yang akan datang (Nabi Muhammad) adalah buta huruf.

Dan apabila kitab itu diberikan kepada seorang yang tidak dapat membaca dengan mengatakan:" Baiklah baca ini" maka ia akan menjawab:"Aku tidak dapat membaca." (Yesaya 29:12)


Referensi:

Kisah Nabi yang Digergaji Yahudi - Republika Online

Nabi Samuel (Shamu`ayl) as


Samuel (Arab: ﺻﻤﻮﺋﻴﻞ Shamu` ayl) adalah salah satu nabi Bani Israel. Samuel adalah keturunan dari Nabi Yusuf bin Nabi Yaʿqub.

Arti nama Samuel adalah "nama-Nya adalah Allah" (shema berarti namanya dan El berarti Allah). Hal ini sesuai dengan nazar (janji) Hana kepada Allah untuk menyerahkan anak yang akan dilahirkannya menjadi seorang nazir (abdi/pelayan) bagi Allah. Untuk mengingat janjinya itulah, Hana menamai anaknya "Shemuel".
Terjemahan harfiah lain dari Samuel ialah Allah mendengar (Shema berarti mendengar dan El berarti Allah).

Dalam kitab perjanjian lama Yahudi (Samuel 1:20) dikatakan bahwa Hana menamai anaknya dengan nama tersebut untuk mengenang permohonannya kepada Allah akan seorang anak, dan Allah mendengarnya.

Nabi Samuel diutus Allah kepada Bani Israil sekitar dua abad setelah Nabi Musa wafat. Ketika itu Bani Israil hidup tercerai-berai setelah negaranya ditaklukan bangsa Palestina (Filistin) Mereka benar-benar terusir dari negaranya sendiri.

Tabut, kotak tempat menyimpan kitab Taurat, yang merupakan benda keramat Bani Israil, juga jatuh kepada tangan orang-orang Palestina. Benda pusaka ini diturunkan tuhan sejak masa Nabi Musa dan di wariskan kepada turunan Bani Israil. Dibawah naungan Tabut itulah mereka hidup aman dan tentram.

Namun, suasana sejahtera dan damai itu justru membuat mereka melupakan ajaran Nabi Musa. Mereka mengubah ajaran agama sesuai dengan kemauan dan kebutuhan yang hanya sesaat. Akibatnya, kehidupan rohani mereka jauh menyimpang dari ajaran Nabi Musa, moral mereka rusak berat.

Dalam situasi seperti inilah mereka terusir dari kampung halamannya oleh serbuan tentara Palestina. Bani Israil kocar-kacir. Selama dua abad kehidupan mereka benar-benar nista.Tidak ada diantara mereka yang mampu tampil kedepan sebagai pemimpin untuk mempersatukan kembali bangsa yang tercerai-berai itu.

Nabi Samuel pernah diminta oleh kaumnya untuk memilih seorang pemimpin dari kalangannya. Pada akhirnya terpilihlah Thalut yang memiliki profesi seorang petani.

Namanya tidak disebutkan dalam Al-Qur’an, tetapi referensi telah dibuat oleh Allah dalam surah Al Baqarah, ayat 247 -248 tanpa menyebutkan namanya.

Nabi mereka mengatakan kepada mereka: ”Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu”. Mereka menjawab:”Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak” Nabi (mereka) berkata: ”Sesungguhnya Allah telah memilihnya menjadi rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa”. Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui. (QS. Al Baqarah, 2:247) 

Dan Nabi mereka mengatakan kepada mereka:”Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja, ialah kembalinya tabut kepadamu, di dalamnya terdapat ketengan dari Tuhanmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun; tabut itu dibawa oleh malaikat. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda bagimu, jika kamu orang yang beriman. (QS. Al Baqarah, 2:248). 

Minggu, 16 Desember 2018

Raja Dzulkarnain Bukan Alexander Agung

Kerajaan Dzulkarnain a.s adalah pemerintahan adikuasa yang tak terkalahkan dengan teknologi yang tak terbatas (innaa makkanna lahuu fil ardi wa aataynahu min kulli shay’in sababaa, 
(Al-Qur’an, Al-Kahfi, 18:84). 


Kerajaannya disebut At-Tababi’ah. Dijuluki Dzulkarnain (Pemilik dua tanduk), karena kekuasaannya yang sangat luas, mulai ujung tanduk matahari di Barat sampai Timur.

Menurut Ibnu Abbas, ia adalah seorang raja yang shalih.  Dia mengalahkan semua bangsa yang ada saat itu, dari ujung Barat sampai ujung Timur, dimana ia menghargai mereka-mereka yang shaleh dan menghukum mereka-mereka yang menindas (tidak adil) dan tidak bermoral.
(Al-Qur’an, Al-Kahfi, 18:85-91) 

Dzulkarnain mengambil jalan yang lain kemudian beliau mendapati dua buah pegunungan. Maka pegunungan yang terletak antara laut hitam dan laut kaspia hanya ada pegunungan Kaukasus. Dan beliau mendapati sebuah kaum yang bahasanya susah dimengerti oleh bangsa lain. Maka kaum yang ada dibalik pegunungan itu dan susah dimengerti pembicaraanya adalah bangsa georgia.

Kemudian bangsa ini meminta tolong kepada Dzulkarnain.  Masyarakat yang menjadi korban ya’juj dan Ma’juj meminta Dhul Qarnain untuk merubah (taj’ala ) celah memisahkan mereka dengan Ya’juj dan Ma’juj (baynana wa baynahum , barisan gunung yang memiliki celah sebagai jalan tembus) menjadi sebuah penghalang (saddan , Al-Qur’an, Al-Kahfi, 18:94).

Dia menjawab: “a j’al baynakum wa baynahum radman,” saya akan menambal celah diantara kalian dan mereka (Al-Qur’an, Al-Kahfi, 18:95). 

Dzulkarnain a.s menutup celah di barisan pegunungan itu dengan besi yang dipanaskan dan dicairkan yang kemudian sesudah mengering dilapisi dengan perunggu yang dipanaskan dan dicairkan. Penghalang bagi Yajuj dan Majuj terdiri dari barisan gunung dan tambalan celah yang dibuat oleh Dzulkarnain a. s (Al-Radm). 


Dzulkarnain a. s tidak menyerang Ya’juj dan Ma’juj dan menaklukan mereka seperti apa yang ia lakukan terhadap para penindas lainnya yang telah ia taklukan.

Tetapi, dia tidak melakukannya dan menyetujui permintaan untuk merubah barisan gunung itu menjadi penghalang untuk Ya’juj dan Ma’juj dengan menambal celah yang terdapat di barisan gunung itu (Al-Qur’an, Al-Kahfi, 18:95).

Ini berarti bahwa Dzulkarnain a. s mengetahui bahwa Ya’juj dan Ma’juj tidak dapat dikalahkan oleh manusia, walaupun oleh dirinya sendiri sebagai adikuasa dunia yang memiliki teknologi unggul yang tak terbatas. Ini juga berarti bahwa Ya’juj dan Ma’juj memiliki kapasitas dan kemampuan untuk menjadi satu-satunya penguasa dunia di kemudian hari.   

Baca juga: Runtuhnya Tembok Dzulkarnain dan Keluarnya Yajuj dan Majuj

Apakah sosok Dzulkarnain yang disebutkan dalam Alquran sama dengan Alexander the Great (Alexander yang Agung) seperti kerap dipahami oleh mayoritas umat Nasrani? 

Ibnu Katsir, dalam kitabnya Al-Bidayah Wan Nihayah menjelaskan, meski plot cerita yang hakpir sama, yaitu kekuasaannya membentang dari Barat sampai ke Timur, namun keduanya adalah sosok yang jelas berbeda. 

Menurut Ibnu Katsir, Zulkarnain adalah nama gelar (julukan) bagi seorang penglima penakluk sekaligus raja saleh, yang selalu mengajak manusia untuk menyembah Allah. Iskandar mendapat julukan “Zulqarnain” yang secara harfiah “Zul” berarti “memiliki” dan “Qarnain” berarti “dua tanduk”. Maksudnya, Iskandar yang memiliki kekuasaan antara Timur dan Barat.   

Sedangkan Alexander yang Agung adalah pemimpin di abad ke-3 Sebelum Masehi (SM) yang menaklukkan dunia dari daratan Yunani, Laut Tengah, Mesir,Asia Minor, Persia hingga India Utara. Nama tersebut diabadikan menjadi kota di Mesir, Iskandariah (Alexandria). 

Alexander Agung the bukan Dzulkarnain seperti yang disebutkan dalam Alquran (QS. Al-Kahfi: 83-98).

Lagi pula, Nama 'Dzulkarnain' yang ada didalam Alquran hanya disebut Zulkarnain, tanpa Iskandar di depannya. Sehingga tidak ada dasarnya sama sekali, jika kemudian beranggapan bahwa Dzulqarnain adalah sosok Alexander, karena sekedar berdalil bahwa Iskandar merupakan Bahasa Arab dari kata Alexander. 

Imam Al-Qurthubi dalam kitab tafsirnya yang populer, tafsir Al-Qurthubi, lebih banyak menceritakan akhlak  Dzulkarnain dengan menyebutkan bahwa sejak masih kecil dan selama masa pertumbuhannya, ia memiliki akhlak yang sangat mulia. Atas segala kesalehannya, Allah mengaruniakan kepadanya segala kelebihan yang dimiliki oleh seorang pemimpin.

Saat itu, cita-citanya memimpin negeri yang kuat telah dicapai. Allah lalu memerintahkan untuk menyeru manusia kepada agama tauhid.

Dzulqarnain lebih dahulu masanya (daripada Alexander) adalah apa yang diriwayatkan oleh Al-Fakihi dari jalan ‘Ubaid bin ‘Umair –seorang tabi’in kibar (senior)– bahwa Dzulqarnain menunaikan haji dengan berjalan kaki.

Hal ini kemudian didengar oleh Ibrahim ‘alaihissalam, sehingga beliau menemuinya.  Sayangnya, setelah  Dzulkarnain meninggal dunia, imperium besar itu terpecah-belah karena ketamakan pengikut/penguasa sesudahnya yang kerap berebut kekuasaan. 

Nabi Danial (Daniel) as

Dalam agama Islam, nama Nabi Daniel tidak termasuk salah satu dari 25 nabi yang wajib diketahui.


Namun demikian, para Ulama dan ahli sejarah mengatakan, beliau adalah seorang Nabi yang diutus kepada bani Israel. Nabi Daniel termasuk di antara keturunan Nabi Daud as. Kisah Nabi Daniel juga dituliskan dalam Alkitab Nasrani di Kitab Perjanjian Lama dan Yahudi.

Imam ats-Tsa’laby sebagaimana dikutip oleh Muhammad bin Iyas Abul Barakat al-Hifny dalam bukunya Bada’iuz Zuhur fi Waqai’ ad-Duhur (hal.192-194) menuturkan, pada jaman dahulu, terdapat seorang raja Babil (Babilonia) yang terkenal jahat & bengis, raja itu bernama Bakhtashir (Nebukadnezar).

Ketika Bakhtashir (Nebukadnezar) datang ke Yerusalem, dia membunuh orang-orang Bani Israil dan merebut secara paksa Baitul Maqdis serta menawan banyak orang dari mereka. Di antara mereka yang ditawan adalah Nabi Danial.

Tertangkapnya Nabi Danial tidak lepas dari peran dan pengkhianatan kaumnya yang mendustakan risalah dan dakwahnya.

Setelah berhasil menangkap Nabi Danial, Raja Bakhtashir (Nebukadnezar) memerintahkan prajuritnya agar melemparkan Nabi Danial kesebuah lubang besar dan dalam (menyerupai sebuah gua) yang berisikan beberapa ekor singa yang sengaja dibuat lapar.

Allah mencegah mulut-mulut singa itu untuk memangsanya bahkan sampai Danial berdiri dengan kedua kakinya di atas kepala singa-singa yang sudah tunduk dan tidak lagi membahayakan itu. Kemudian Allah ta’ala mengirim Nabi Irmiya (Yeremia) untuk mengeluarkan Danial dari lubang tersebut, sehingga Nabi Danial dapat terbebas dari kesulitan ini dan menumpas orang yang ingin membinasakan dirinya.

Dari Abdullah bin Abi al-Hudail, dia berkata, “Nebukadnezar telah melatih dua singa untuk berburu dan meletakkannya di dalam sebuah sumur. Kemudian dia menggiring Danial dan melemparkannya pada binatang tersebut. Tetapi kedua singa itu tidak menerkamnya. Maka Danial tinggal di dalam sumur dalam jangka waktu yang dikehendaki Allah. Lalu dia ingin makan dan minum sebagaimana manusia lainnya.

Maka Allah ta’ala memerintahkan melalui wahyu kepada Nabi Irmiya (Yeremia) untuk menyediakan makanan dan minuman untuk Danial.

Maka dia berkata, ‘Ya Rabbi, aku sekarang berada di tanah suci (Baitul Maqdis, Yerusalem), sementara Danial berada di kota Babilonia di tanah Irak.’

Lalu Allah mewahyukan lagi kepadanya, ‘Siapkanlah apa yang telah Aku perintahkan kepadamu; karena Aku akan kirim utusan yang akan membawamu ke sana beserta apa yang kau persiapkan.’

Akhirnya Yeremia pun melaksanakan perintah tersebut dan Allah mengirim utusan yang membawanya serta makanan yang dipersiapkannya, hingga dia sampai di depan mulut sumur tersebut.


Yeremia berkata, 'Wahai Danial, Apakah engkau dapat mendengar suaraku ini?'

Lalu Danial berkata, Siapa engkau?’

Yeremia menjawab, ‘Aku Irmiya.’

Danial berkata, ‘Kenapa kau datang kemari?’

Irmiya menjawab, ‘Aku diutus oleh Tuhanmu untuk menemuimu.’

Danial berkata, “Apakah Dia menyebut namaku?”

Irmiya menjawab, ‘Ya.’

Danial berkata, ‘Segala puji bagi Allah yang tidak melupakan orang yang mengingatNya. Segala puji bagi Allah yang tidak pernah mengecewakan orang yang berharap kepadaNya. Segala puji bagi Allah yang barangsiapa bertawakal kepadaNya, niscaya Dia akan memberi kecukupan kepadanya. Segala puji bagi Allah yang barangsiapa menaruh kepercayaan penuh kepadaNya, niscaya tidak akan Dia pasrahkan urusannya pada yang lain. Segala puji bagi Allah yang telah membalas kebaikan dengan kebaikan dan membalas keburukan dengan ampunan. Segala puji bagi Allah yang telah membalas kesabaran dengan keselamatan. Segala puji bagi Allah yang telah menyingkap kesulitan kita setelah ditimpa musibah. Segala puji bagi Allah, Dia-lah yang kami percayai, ketika kami berprasangka buruk atas amalan-amalan kami. Segala puji bagi Allah, Dia-lah harapan kami, ketika semua cara tertutup di hadapan kami.”

Daniel (bahasa Ibrani : דָּנִיּאֵל, Modern Daniyyel Tiberias Dāniyyêl ; "Allah adalah hakimku"; Arab: ﺩﺍﻧﻴﺎﻝ,
Dâniyal atau Danial ) adalah seorang nabi dari Bani Israel.

Menurut al-Hifny dalam kitab Badai’uz Zuhurnya (hal 194, 195), Jasad Nabi Danial ditemukan di era kekhalifahan Umar bin Khattab.

Jasad Nabi Daniel ditemukan oleh sahabat khalifah Umar bin Khattab yang bernama Abu Musa Al-Asy’ariy, ketika berjihad melawan bangsa Tartar di daerah Hurmuzan

Setelah Bangsa Tartar berhasil dilumpuhkan, Amer bin Ash, Amer dan para tentara melihat ada tempat bersembunyi yang dikunci dengan gembok besi. Kemudian mereka membukanya, dan ternyata di dalamnya ada lobang kecil yang ditutup dengan marmer berwarna hijau yang ditutup dengan marmer berwarna hijau lainnya. Begitu dibuka, ternyata di dalamnya ada jenazah seorang laki-laki dengan kain kafan yang ditenun benang emas, dengan badan yang sangat besar.

Abu Khalid Ibnu Dinar yang mendapatkan informasi dari Abul Aalia yang mengatakan jasad tersebut telah meninggal 300 tahun yang lalu, akan tetapi jasadnya masih utuh dan tidak membusuk sedikit pun, padahal sebelumnya daerah tersebut kerap dilanda banjir besar.

Kejadian itu dilaporkan kepada Khalifah Umar. Sebagai seorang Amirul mukminin, Umar bin Khattab memerintahkan Abu Musa Al-Asy’ariy untuk memyembunyikam kuburan tersebut.


Khalifah Umar tidak ingin orang-orang menjadi musrik, lalu berdoa kepada kuburan tersebut.

Umar segera memerintahkan Amr bin Ash untuk mengkafani kembali jenazah tadi, dan meminta untuk dikuburkan disebuah tempat yang tidak dapat dijangkau oleh orang-orang.

Diriwayatkan oleh Ibu Abi Syaibah dengan dari sahabat Anas,
“Tatkala mereka (Abu Musa Al-Asy’Ariy) menaklukan tustur, mereka menemukan jasad seseorang yang hidungnya panjang. Penduduk Hurmuzan ber-isti’anah (minta bantuan) dan meminta hujan dengan perantara jasad tersebut. Abu Musa segera menulis surat kepada Umar bin Khattab. Umar membalas surat: ‘Sesungguhnya ini (jasad tersebut) adalah nabi di antara para nabi. Api tidak akan membakar jasad para Nabi dan bumi tidak akan merusaknya. Hendaklah engkau dan salah seorang sahabatmu menguburkannya di tempat yang tidak ada serorang pun yang mengetahuinya kecuali kalian berdua’. Kemudian aku dan Abu Musa pergi untuk menguburkannya.”

Cara menyembunyikan kubur tersebut yakni mengali 13 lubang kubur di sungai (airnya dibendung sementara) lalu menguburkannya pada salah satu lubang di malam hari sehingga tidak ada yang mengetahui di mana kubur beliau.

Diriwayatkan Al-Baihaqy dalam Dala-ilun Nubuwwah,
“Dari Khalid bin Dinar dari Abu ‘Aliyah, “Aku berkata kepada Abu Aliyah, ‘Apa yang kalian lakukan pada jasad nabi tersebut?’. Abu ‘Aliyah berkata, kami menggali di sungai (airnya dibendung sementara) sebanyak 13 lubang kubur yang terpisah-pisah. Pada saat malam hari, kami menguburkannya dan kami ratakan semua kubur tersebut agar manusia tidak mengetahui dan tidak menggalinya kembali.”

Ibnu Katsir juga menjelaskan bahwa jasad tersebut adalah nabi Daniel karena bisa diperkirakan dari waktu kematiannya dan kabar mengenai kapan masa hidupnya.

“Waktunya dekat dengan waktu kehidupan nabi Daniel. Apabila pasti nabi Daniel mala ini sesuai dengan perkaranya (Lama meninggal dan waktu ditemukan jasadnya).”

Setelah situasi dirasa cukup aman, Amr bin Ash lalu membuatkan kuburan lagi di kota Iskandariyah (Alexandria, Mesir). di tempat itulah jasad tersebut dikebumikan. Pada lokasi itu, dibangun sebuah masjid yang diberi nama, Masjid Nabi Daniel.



Ada juga pendapat lain yang menyatakan lokasi Masjid Daniel, diantaranya adalah:

1. Susa dan Mala Amir di Iran.
2. Babilonia Kirkuk.
3. Muqdadiyah di Irak.
4. Samarkand Uzbekistan.

Wallahu A ’ lam