Laman

Selasa, 20 Oktober 2026

Kesesatan Nur Muhammad

Kemunculan konsep Nur Muhammad—serta tuduhan penyelewengan di dalamnya—memiliki akar sejarah yang panjang dalam perkembangan pemikiran Islam, khususnya dalam dunia tasawuf. 

Paham Wahdatul Wujud (Kesatuan Wujud) yang diusung oleh kaum Batiniah (Al-Bathiniyyah)—serta kelompok-kelompok ekstrem sufistik/heterodoks (ghulat)—merupakan salah satu doktrin yang paling keras ditolak dan dikritik oleh mayoritas ulama fikih, ushul, dan akidah (Ahlus Sunnah wal Jama'ah).

Meskipun istilah Wahdatul Wujud secara histori juga melekat pada tradisi tasawuf filosofis (seperti Ibnu 'Arabi), penerapan dan pemaknaan konsep ini di tangan kelompok Batiniah radikal/ekstrem mengalami penyimpangan ontologis dan teologis yang sangat jauh.

Konsep kesatuan wujud dirumuskan secara panteistik atau panteisme-materialistis (hululiyyah/ittihadiyyah). Konsep ini menghilangkan Batas Khaliq (Pencipta) dan Makhluq (Ciptaan). Mereka menganggap bahwa tidak ada keberadaan yang terpisah antara Tuhan dan alam semesta. Alam Semesta dan manusia dipandang sebagai wujud Tuhan itu sendiri yang sedang mengejawantah (tajalli atau emanasi).

Konsep ini identik dengan Pengkultusan Tokoh / Imam secara Berlebihan (Ghuluw). Para pimpinan spiritual atau imam kelompok Batiniah diposisikan sebagai wujud Tuhan yang tampak (pengejawantahan Tuhan). Pengikutnya dituntut untuk tunduk secara mutlak, karena menaati pimpinan Batiniah disamakan dengan menaati Tuhan secara langsung.

Konsep Nur Muhammad ini terpapar dari falsafah Platonisme (khususnya Neoplatonisme) dan Syi'ah Isma'iliyah merupakan dua pilar utama yang membentuk struktur berpikir kelompok Batiniah (Al-Bathiniyyah), tasawuf falsafi, serta gerakan kredo-politik pada era keemasan Islam (abad ke-8 hingga ke-12 M).


Konsep Nur Muhammad mengarahkan kepada Tujuan tertinggi manusia dalam sistem filsafat Plotinus adalah "kembali dan menyatu" dengan Yang Asali (The One) atau manunggaling kaula gusti. Juga dalam doktrin Batiniah-Isma'iliyah, penyatuan ini dicapai melalui pengetahuan rahasia (gnosis / irfan) yang ditransfer oleh Imam kepada pengikutnya, bukan semata-mata dengan mengamalkan ibadah fisik/syariat.

Ajaran Nur Muhammad menyimpang karena bertentangan dengan Al-Qur'an secara tegas menyebutkan bahwa Nabi Muhammad ﷺ adalah manusia biasa dari bangsa manusia, bukan diciptakan dari cahaya:

"Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku..." (QS. Al-Kahfi: 110). 


Dari Umar bin Khattab RA, Rasulullah SAW bersabda: 


«لاَ تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ، فَقُولُوا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ»


Artinya: "Janganlah kalian mengagung-agungkanku secara berlebihan sebagaimana kaum Nasrani mengagungkan (Isa) putra Maryam. Aku hanyalah seorang hamba-Nya, maka katakanlah: 'Hamba Allah dan Rasul-Nya'." (HR. Bukhari no. 3445)

Dalam Hadis Shahih Riwayat Muslim, Rasulullah ﷺ menjelaskan bahan dasar penciptaan makhluk: 

"Malaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari nyala api, dan Adam diciptakan dari apa yang telah dijelaskan kepada kalian (tanah)." (HR. Muslim no. 2996).  

Gagasan bahwa ada satu entitas pertama yang memancar dari Tuhan lalu menciptakan seluruh alam (Emanasi) diambil dari filsafat Yunani/Parsi kuno, bukan dari wahyu Islam. 

Ajaran Nur Muhammad Mendewakan Rasulullah secara Berlebihan (Ghuluw). Meskipun Nabi Muhammad ﷺ memiliki kedudukan terpuji (al-Maqam al-Mahmud) dan nur hidayah (cahaya petunjuk ajaran), menganggap beliau diciptakan dari Zat Allah atau menjadi bahan baku pembuatan alam semesta dianggap merusak pemurnian tauhid. 

Gagasan paling awal mengenai Nur Muhammad tidak ditemukan dalam Al-Qur'an maupun Hadis-hadis Shahih (Kutubut Tis'ah). Wacana ini mulai diperkenalkan secara sistematis dalam literatur sufistik oleh dua tokoh:  

Sahl al-Tustari (w. 283 H / 896 M), beliau salah satu sufi awal yang menafsirkan Ayat Nur (QS. An-Nur: 35). Al-Tustari mengutarakan bahwa sebelum penciptaan alam semesta, Allah menciptakan pilar cahaya dari Nur-Nya yang dinamakan cahaya Muhammad. 

Mansur Al-Hallaj (w. 309 H / 922 M): Dalam karyanya Kitab at-Thawasin, Al-Hallaj memperjelas gagasan ini. Beliau menggambarkan Nur Muhammad sebagai wujud azali (pra-eksistensi) yang menjadi sumber ilmu dan petunjuk bagi para nabi sebelum Nabi Muhammad dilahirkan. 

Konsep ini mengalami transformasi besar dan dinilai menyimpang dari akidah arus utama (Ahlus Sunnah wal Jama'ah) ketika dipadukan dengan filsafat Neoplatonisme dan ajaran Wahdatul Wujud Ibnu 'Arabi (w. 638 H / 1240 M).

Penyebaran Hadis Palsu: Pada rentang abad ini, mulai beredar luas riwayat-riwayat palsu (mawdhu') untuk menjustifikasi ajaran tersebut, di antaranya yang paling terkenal adalah:  

"Wahai Jabir, sesungguhnya Allah menciptakan sebelum segala sesuatu adalah Nur Nabimu dari Nur-Nya..."

(Para ulama pakar hadis seperti Imam al-Asqalani, al-Suyuthi, al-Albani, dan al-Lakhnawi sepakat menyatakan bahwa hadis Jabir tentang Nur Muhammad ini palsu dan tidak memiliki sanad yang sah).


Dua tokoh sentral dalam sejarah tasawuf, yaitu Imam al-Junaid al-Baghdadi (pionir tasawuf Sunni awal) dan Imam al-Ghazali (puncak penyelarasan tasawuf dan syariat), tasawuf yang benar adalah tasawuf yang terikat penuh oleh Al-Qur'an dan Sunnah, serta tidak pernah melanggar batas-batas Syariat. Keduanya menolak tegas tasawuf fiktif, ekstrem, atau batiniah yang mengabaikan hukum lahiriah.


Syaikhul Islam Imam al-Ghazali (dalam Ihya' 'Ulumiddin dan Fadha'ih al-Bathiniyyah) serta Imam asy-Shatibi (dalam al-I'tisham) menyusun kaidah tegas untuk membentengi umat dari konsep Wahdatul Wujud yang melampau ini. Menurut Imam al-Ghazali, Setiap Hakikat yang Menyelesihi Syariat adalah Kebatilan. 


Menurut Imam al-Ghazali, para Nabi dan Rasul—manusia yang paling tinggi tingkat pencapaian spiritualnya—tetap melaksanakan shalat dan ibadah fisik hingga akhir hayatnya. Maka klaim bahwa "beban ibadah gugur karena sudah fana" adalah kekufuran yang nyata. Syariat (zahir) dan Hakikat (batin) bagaikan jasad dan ruh. Mengambil batin saja tanpa zahir (seperti paham Batiniah) adalah kesesatan, sebagaimana mengambil zahir tanpa batin adalah kefasikan/kerusakan. 



Referensi: 


Kitab Imam al-Ghazali - Faḍā'iḥ al-Bāṭiniyyah wa Faḍā'il al-Mustaẓhiriyyah 


Kitab Imam al-Ghazali - Al-Mushtaṣfā min 'Ilm al-Uṣūl (المنقذ من الضلال) - Al-Munqidh min ad-Dalah 


Kitab Imam al-Ghazali - Tahafut al-Falasifah 


Kitab Imam al-Qusyairi - Ar-Risalah al-Qusyairiyah karya Imam al-Qusyairi yang menukil riwayat Al-Junaid al-Baghdadi 


Kitab Ibnu Hajar al-Asqalani - Fathul Bari 


Kitab Abu Mansur al-Baghdadi - Al-Farq bain al-Firaq 


Kitab Al-Hafiz Ibnu al-Jauzi - Tablis iblis 


Kitab Syaikh Ala'ud Daulah as-Simnani - Al-Urwah li Ahl al-Khilwah wa al-Jalwah


Kitab imam As Suyuthi - Tarikh al-Khulafa'


Kitab Ibnu Khaldun - al-‘Ibar, wa Diwan al-Mubtada’ wa al-Khabar fi Ayyam al-‘Arab wa al-‘Ajam wa al-Barbar, wa Man Asarahum min Dzawi as-Sulthan al-Akbar (sering disingkat menjadi Kitab al-‘Ibar). 


Kitab Imam Al-Qurtubi - Al-Jami' li Ahkam 


Kitab Ibnu Hajar al-Haitami - Tanbih al-Ghabi fi Tanzih Ibn 'Arabi 


Kitab Ibnu Taimiyah - Majmu' al-Fatawa, seperti Ar-Radd 'ala Al-Ittihadiyyin 


Kitab Imam Ibnu Hajar al-Haitami - Fatawa al-Haditsiyyah 


Kitab Ibnu al-Qayyim - Majmu' al-Fatawa & Madarij as-Salikin


Kitab Abu Mansur al-Baghdadi - Al-Farq bain al-Firaq 


Mansur Al-Hallaj: Dalam karyanya Kitab at-Thawasin, Al-Hallaj 


Kitab Syaikh Mustafa Sabri (Mufti terakhir kerajaan Utsmaniyah) - al-'Aql wa al-'Ilm wa al-'Alam

Senin, 22 Juli 2024

Dry Valleys, Tempat Yang Tak Diguyur Hujan Hampir 2 Juta Tahun

Dry Valleys, yang berada di Antartika, menjadi terkering di Bumi. Luasnya sekitar 4.800 kilometer persegi. Selain tak pernah diguyur hujan jutaan tahun, tempat ini juga sama sekali tidak memiliki air, es, dan bahkan salju.

Penyebab nihilnya curah hujan di wilayah tersebut karena pengaruh angin Katabati—angin pegunungan yang sangat lembab yang bergerak turun dan menjauhi lembah. 

Bentuk pegunungan itu mengubah jalur es yang menuju ke laut. Karena perubahan jalur es ini, air tidak mencapai Dry Valleys dan hujan pun tidak turun di sana. 

lmuwan sering melakukan penelitian di wilayah ini untuk mempelajari berbagai aspek lingkungan ekstrem, mikroorganisme yang dapat bertahan hidup di sana, serta implikasi bagi astrobiologi dan studi tentang planet lain.

Kehadiran manusia di Dry Valleys biasanya hanya dalam bentuk ekspedisi ilmiah yang bersifat sementara dan dilengkapi dengan perlengkapan khusus untuk bertahan hidup di kondisi ekstrem tersebut.

Dry Valleys di Antarktika. Antarktika merupakan benua yang tidak dimiliki oleh satu negara pun dan diatur oleh Perjanjian Antarktika, sebuah kesepakatan internasional yang ditandatangani oleh 54 negara per 2021.

Perjanjian tersebut mengatur bahwa Antarktika hanya digunakan untuk tujuan damai dan ilmiah serta melarang aktivitas militer di benua tersebut.

Meskipun beberapa negara mengeklaim wilayah di Antarktika, klaim ini tidak diakui secara internasional dan tidak memengaruhi status Dry Valleys sebagai bagian dari wilayah yang diatur oleh Perjanjian Antarktika. 


Sumber:

https://international.sindonews.com/read/1419791/45/mengenal-dry-valleys-tempat-di-bumi-yang-tak-diguyur-hujan-hampir-2-juta-tahun-1721527659?showpage=all

Minggu, 14 Juli 2024

Manfaat Lupa Bagi Otak

Mayoritas dari kita menganggap lupa sebagai kegagalan ingatan. Dengan demikian, lupa dianggap sebagai kesalahan.

Lupa adalah sebuah proses yang digunakan otak untuk menghilangkan ingatan dengan tujuan menjaga ingatan agar tetap berfungsi secara optimal. Lupa dapat meningkatkan aspek adaptif sistem memori, dalam arti bahwa otak sebenarnya hanya menyimpan apa yang dianggap berguna untuk tugas-tugas besar yang ada, untuk meningkatkan peluang kelangsungan hidup.

Kehilangan informasi membuat kita memang benar-benar lupa. Hal ini terjadi karena kita memang tidak pernah menyimpan informasi itu sejak kita menerimanya. Biasanya informasi yang sering tidak kita simpan adalah hal yang detail & kita anggap penting saja

Sistem memori otak dirancang untuk memastikan kita hanya menyimpan respons terbaik, maka mungkin kita hanya perlu memilih, misalnya, dari empat pilihan, dan peluang untuk melakukan hal yang benar menjadi jauh lebih tinggi.

Misalnya, seseorang mengalami situasi yang memungkinkan ada 20 kemungkinan reaksi berdasarkan katalog peristiwa masa lalu yang komprehensif dan tidak selektif, namun sebenarnya hanya dua yang efektif, sehingga kemungkinan besar ia akan memilih tindakan yang salah.


Referensi: 

Kompas.com - Ahli Jelaskan Pentingnya Lupa bagi Sistem Memori

Kamis, 11 Juli 2024

Hannibal Directive - Hannibal Protocol

Prosedur Hannibal atau Protokol Hannibal adalah arahan atau instruksi yang mengizinkan militer menggunakan kekuatan apa pun yang diperlukan untuk mencegah tentara atau warga sipil ditangkap dan disandera kemudian dibawa ke wilayah musuh. 

Yang dimaksud dengan "menggunakan kekuatan apa pun" termasuk menembak mati sesama pasukan tentara atau warga sipil. Hal ini lebih dipilih sebagai opsi, dibandingkan militer atau warga sipil dijadikan sandera oleh pihak musuh kemudian dijadikan sebagai alat negosiasi atau tebusan.

Asal-usul istilah Hannibal menurut beberapa sumber mengatakan bahwa nama tersebut diambil dari seorang jenderal Kartago yang memilih untuk meracuni dirinya sendiri alih-alih menjadi tawanan Romawi pada tahun 181 sebelum masehi.



Rabu, 05 Juni 2024

Sejarah Nama Pulau Kalimantan & Kenapa Disebut Borneo

Kemasyhuran Kalimantan telah muncul sejak berabad-abad silam. Setidaknya ditandai oleh adanya Kerajaan Kutai pada ke-6 dan banyak kerajaan setelahnya. Eksistensi Kalimantan telah dicatat para penjelajah, salah satunya Tome Pires, pelayar asal Portugis.

Berawal dari pelayaran sebuah kapal bernama Borneo dengan kapten kapalnya bernama De Barito yang merupakan seorang Portugis. Namun dalam perjalanannya, kapal itu karam di pulau bernama Kambang (kini terletak di tengah Sungai Barito, Kalimantan Selatan). 

Dari situlah kemudian nama kapal itu dijadikan nama pulau tempat karamnya kapal tersebut, Borneo. Lalu, sungai tempat Pulau Kambang berada, yang melintas di Pulau Borneo atau Kalimantan, dinamakan pula Sungai Barito. 

Brunei berasal dari kata “Burni: (bahasa Sansekerta yang artinya kesibukan). Kata “Brunei” atau “Burney”. Brunei adalah daerah yang terletak di sisi utara Kalimantan, yang kini merupakan sebuah negara berdaulat dengan nama Brunei Darussalam. 

Kerajaan Sriwijaya mencatat bahwa Brunei terkait dengan kata “Porunai ”. Nama ini terkait dengan koloni orang-orang India yang bermukim di sekitar daerah tersebut. 

Oleh orang Portugis, kata “Brunei” atau “Burney” itu diucapkan Borneo. Penyebutan nama pulau ini oleh orang Portugis lalu diikuti orang-orang Eropa lain. Alhasil orang kulit putih dari benua Eropa dan Pulau Inggris menyebutnya sebagai Borneo juga.

Sedangkan menurut Barbara Charlton dan John Tietjen dalam The Facts on File Dictionary of Marine Science: “Asal-usul nama Kalimantan tidak jelas. Di Sarawak, istilah Kelamantan, mengacu pada masyarakat pemakan sagu di Kalimantan bagian utara". 

Seorang sejarahwan: Tome Pires dalam "Suma Oriental" menjabarkan bahwa Tahun 1512-1515 pulau Kalimantan terkenal sebagai penghasil komoditi sagu, beras, ikan, dan daging. Orang-orang dari daerah tersebut kala itu berdagang dengan orang Malaka. Selain beras, ikan dan sagu, Kalimantan juga menghasilkan emas, madu, kamper, dan lilin. Dari Malaka, para pedagang asal Kalimantan membawa kain, manik-manik kaca, dan mutiara. 

Referensi: Historia.id - Kenapa Kalimantan Disebut Borneo?