Laman

Sabtu, 24 Oktober 2026

Sejarah Assassin (Hashashin/Hassasin)

Asasiyun (bahasa Arab yang berarti "orang-orang yang memegang asas/dasar keimanan" menurut mereka). Kelompok Assassin (atau dikenal dalam sejarah Islam sebagai Hassasin atau Al-Hashashiyun atau Nizari Ismailiyah) adalah salah satu gerakan faksi paling misterius, ditakuti, dalam sejarah Abad Pertengahan.  

Game Assassin's Creed secara langsung terinspirasi dari Hashashin (atau Hassasin). Meskipun terinspirasi dari Hashashin, Ubisoft sebagai developer mengubah banyak elemen untuk kebutuhan cerita di game ini.

Hassasin bukan sekadar kelompok pembunuh bayaran biasa, melainkan sebuah gerakan keagamaan dan politik bawah tanah yang menggunakan taktik teror serta pembunuhan politis (assassination) secara terstruktur untuk melawan dominasi kekaisaran besar pada masa itu. 

Metode yang mereka gunakan dirancang khusus sebagai metode doktrinal dan perang psikologis, di mana keberhasilan misi tidak hanya diukur dari terbunuhnya korban, tetapi juga dari dampak ketakutan yang ditimbulkannya. 

Senjata Utama: Belati (Dagger/Khangar). Secara doktrin, agen Hassasin yang dipanggil Fida'i (orang yang siap mengorbankan nyawa) dilarang keras menggunakan senjata jarak jauh seperti panah, racun dari jarak jauh, atau serangan mendadak yang sembunyi-sembunyi dari kegelapan tanpa menampakkan diri. Penggunaan belati membutuhkan jarak yang sangat dekat (close combat). 

Ini adalah bentuk unjuk keberanian dan kepastian bahwa korban benar-benar tewas. Pembunuhan dilakukan dengan menikam bagian vital (leher atau dada) secara terbuka di depan umum untuk menegaskan pesan politik kelompok. 

Metode lain adalah melakukan penyusupan (Infiltrasi) dan Penyamaran Jangka Panjang. Para agen Fida'i tidak menyerang secara terburu-buru. Mereka adalah master penyamaran (undercover agent) abad pertengahan yang dilatih dengan kesabaran luar biasa. Menyusup ke Lingkaran Dalam: Seorang Fida'i bisa menyamar menjadi pelayan istana, pengawal pribadi, pedagang, pemuda penuntut ilmu, bahkan pengikut sufi (dervish). Bertahan Bertahun-tahun: Mereka kerap menyamar selama berbulan-bulan hingga berhitung tahun di istana target untuk membangun kepercayaan total.

Penguasaan Bahasa dan Budaya. Mereka dibekali kemampuan linguistik yang tinggi, menguasai berbagai dialek bahasa Arab, Persia, hingga bahasa Eropa (Latin/Prancis) untuk menyusup ke kemah-kemah Tentara Salib.

Salah satu elemen paling mematikan dari taktik Hassasin adalah lokasi eksekusi yang sengaja dipilih di tempat paling ramai dan terjaga ketat: Di Dalam Masjid atau Istana: Mereka sering menyerang target saat Shalat Jumat di masjid agung, di tengah majelis istana, atau saat parade militer.

Dampak Psikologis (Teror): Ketika seorang Raja, Perdana Menteri, atau Jenderal dibunuh di tengah kawalan ratusan prajurit bersenjata, pesan yang sampai kepada penguasa lain adalah: "Tidak ada tempat yang aman bagi kalian jika kami sudah menargetkannya."

Doktrin Tanpa Rencana Melarikan Diri (No Escape Doctrine). Para Fida'i tidak dilatih untuk melarikan diri setelah mengeksekusi targetnya. Siap Mati (Mati Syahid menurut Keyakinan Mereka): Setelah menikam target, Fida'i biasanya tidak langsung kabur, melainkan berdiri tegak atau melawan prajurit pengawal hingga mereka sendiri tewas terbunuh di tempat. 

Elemen Penggentar: Keberanian mati tanpa rasa takut ini membuat para penguasa Abad Pertengahan sangat ketakutan. Menghadapi musuh yang ingin bertahan hidup itu biasa, tetapi menghadapi musuh yang bertujuan untuk mati bersama korban adalah hal yang sangat mengerikan bagi para penguasa masa itu.

Hassasin tidak selalu membunuh targetnya. Kadang-kadang mereka hanya mengirimkan peringatan dingin untuk memaksa musuh tunduk atau membatalkan niat menyerang benteng mereka. Kasus Terkenal (Sultan Ahmad Sanjar dari Seljuk & Shalahuddin Al-Ayyubi): Sultan Ahmad Sanjar yang berniat menyerang Alamut terbangun di kamar tidurnya yang dijaga ketat. Di samping bantalnya, ia menemukan sebuah belati khas Hassasin yang tertancap di lantai beserta gulungan surat. Sultan Ahmad Sanjar pun langsung membatalkan rencana ekspedisi militernya dan memilih berdamai.

Kelompok ini berakar dari pecahan sekte Syiah Ismailiyah. Pada tahun 1094 M, terjadi perebutan kekuasaan di dalam Kekhalifahan Fatimiyah di Kairo, Mesir, terkait siapa yang berhak menjadi Imam penerus al-Mustanshir Billah. 

Hasan al-Sabbah (Hassan-i Sabbah), seorang tokoh misionaris cerdas asal Persia, mendukung Nizar (putra sulung sang khalifah). Ketika faksi Nizar tersingkir dan dibunuh/dipenjara oleh wazir (perdana menteri) saingannya, Hasan al-Sabbah melarikan diri ke Persia (Iran) dan mendirikan gerakan bawah tanah yang independen, yang kemudian dikenal sebagai Syiah Ismailiyah An-Nizariyah. 

Pada tahun 1090 M, Hasan al-Sabbah berhasil merebut sebuah benteng strategis yang hampir tak tertembus di puncak Pegunungan Elburz, Persia Utara, yang bernama Benteng Alamut ("Sarang Elang").  

Dari tempat inilah Hasan—yang dijuluki sebagai Syeikh al-Jabal atau "Orang Tua dari Gunung"—membangun negara kecil berbentuk jaringan benteng terisolasi di tengah wilayah musuh utama mereka: Kesultanan Seljuk yang berhaluan Sunni, serta kemudian Dinasti Abbasiyah dan para Tentara Salib. 

Karena jumlah mereka sangat sedikit dan dikelilingi oleh musuh-musuh militer yang jauh lebih kuat (seperti Seljuk), Hasan al-Sabbah mengembangkan doktrin perang asimetris melalui infiltrasi dan pembunuhan terarah tokoh yang ditarget secara diam-diam (targeted assassination). 

Pasukan Fida'i (Fedain): Para agen rahasia yang dilatih secara khusus untuk menyusup ke jantung musuh. Mereka rela menyamar selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun di istana musuh (sebagai pelayan, pengawal, atau sufi).  

Efek Psikologis: Target utama mereka bukanlah rakyat biasa, melainkan para tokoh penting: sultan, perdana menteri, panglima perang, hingga ulama besar yang menentang ideologi mereka.

Pesan Politik: Pembunuhan sering kali dilakukan di tempat publik yang sangat dijaga ketat (seperti di dalam masjid saat shalat Jumat) menggunakan belati. Tujuannya bukan sekadar membunuh target, melainkan mengirim pesan teror psikologis bahwa tidak ada pemimpin yang aman. Para agen ini hampir tidak pernah melarikan diri; mereka biasanya siap mati setelah menjalankan misi demi keyakinan mereka. 

Di bawah kepemimpinan penerus Hasan, pengaruh kelompok ini meluas hingga ke wilayah pegunungan di Suriah, dengan benteng utama seperti Masyaf dan Al-Qadmus.  

Di Suriah, tokoh mereka yang paling terkenal adalah Rasyiduddin Sinan (dikenal oleh Tentara Salib sebagai "The Old Man of the Mountain" versi Suriah). Hubungan mereka dengan Tentara Salib dan penguasa Muslim setempat (seperti Nuruddin Zanki dan Shalahuddin al-Ayyubi) sangat kompleks—penuh intrik, aliansi sementara, serta beberapa kali percobaan pembunuhan (seperti upaya pembunuhan terhadap Shalahuddin al-Ayyubi yang gagal).


Kejatuhan dan Akhir Riwayat

Kejayaan negara bayangan Assassin berakhir pada pertengahan abad ke-13 akibat dua kekuatan besar. Serangan Mamluk: Di wilayah Suriah, pemimpin Mamluk bernama Baybars berhasil menaklukkan benteng-benteng Assassin satu per satu pada tahun 1270-an dan menjadikan mereka sebagai kekuatan militer bayaran di bawah kendali Kesultanan Mamluk.

Invasi Mongol (1256 M): Di Persia, pasukan Mongol di bawah pimpinan Hulagu Khan menyerbu dan menghancurkan Benteng Alamut. Pustaka berharga dan naskah-naskah rahasia di perpustakaan Alamut dibakar (meskipun sebagian sempat diselamatkan oleh sejarawan Juvayni). Dengan jatuhnya Alamut, kedaulatan politik kelompok Nizari Ismailiyah runtuh total. 

Meskipun kekuatan militer dan tradisi pembunuhan politik mereka telah punah ratusan tahun lalu, sekte Nizari Ismailiyah tetap bertahan hingga hari ini. Berbeda jauh dengan sejarah kelam nenek moyang mereka di Abad Pertengahan, komunitas Nizari Ismailiyah modern bertransformasi menjadi komunitas Muslim yang damai, sekuler, filantropis, dan saat ini dipimpin oleh seorang Imam warisan keturunan mereka, yaitu Aga Khan.  


Referensi:

Al-Kamil fit-Tarikh (الكامل في التاريخ) – Karya Ibn al-Athir

Tarikh al-Rusul wal-Muluk / Lanjutan oleh Sibt ibn al-Jauzi – Mir'at al-Zaman 

Siyar A'lam al-Nubala' & Tarikh al-Islam – Karya Imam Adz-Dzahabi 

Kitab al-Radd 'alal-Batinijjah / Fada'ih al-Batinijjah – Karya Imam Al-Ghazali 

Tarikh-i Jahangushay (Sejarah Penakluk Dunia) – Karya Ala-ad-Din Ata-Malik Juvayni 

Jami' al-Tawarikh (Kompilasi Sejarah) – Karya Rashid al-Din Hamadani 

Buku Petualangan Marco Polo (Travels of Marco Polo) – Karya Marco Polo 

Gesta Francorum & Catatan William dari Tirus (Historia Rerum in Partibus Transmarinis Gestarum)

Fasl dar Bayan-i Shinakht-i Imam

Fasl bi-Fasl (Karya-karya puitis dan biografi Rasyiduddin Sinan di Suriah) 

The Assassins: A Radical Sect in Islam – Bernard Lewis

The Ismailis: Their History and Doctrines – Farhad Daftary (Cambridge University Press)