Laman

Sabtu, 31 Oktober 2026

Kitab Darmogandul - Serat Darmogandul

Serat Darmogandul adalah salah satu karya sastra tembang Jawa (macapat) bergenre pesimisme/kritik sosial-keagamaan yang ditulis pada abad ke-19 (sekitar tahun 1870-an) di Jawa Tengah, pasca-Perang Diponegoro.

Nama "Darmogandul" merujuk pada bentuk dialog fiktif antara seorang murid bernama Darmogandul dan gurunya yang bernama Kalamwadi. 

Serat Darmogandul mengajarkan pandangan kejawen murni, di mana Tuhan dianggap ada di dalam diri manusia (manunggaling kawula gusti), dan ibadah lahiriah dianggap tidak penting dibanding olah batin dan pemahaman asal-usul diri (sangkan paraning dumadi). 

Narasi Serat Darmogandul mengisahkan kembali era transisi dari Kerajaan Majapahit (Hindu-Buddha) menuju Kesultanan Demak (Islam). Teks ini sangat kritis terhadap Raden Patah dan Wali Sanga yang dituduh membelot dari Prabu Brawijaya V.

Para peneliti sastra Jawa (seperti G.W.J. Drewes dan Prof. Ras) sepakat bahwa Serat Darmogandul bukanlah catatan sejarah otentik abad ke-15, melainkan karya sastra abad ke-19 yang ditulis dengan nama samaran (pseudonym). 

Penulis Serat Darmogandul adalah Anonim (tidak diketahui). Karya ini dikaitkan dengan nama samaran Kalamwadi atau karya pujangga Surakarta/Kediri (beberapa mengaitkannya dengan Ki Ngabehi Ranggawarsita atau kelompok intelektual Jawa kontemporer saat itu). Kondisi Sosial Abad ke-19: Teks ini lahir di tengah tekanan kolonialisme Belanda dan ketegangan budaya antara kelompok santri (pengikut Islam ortodoks) dan kelompok abangan/kejawen yang merasa identitas serta tradisi leluhur Jawa terdesak. 

Penulis kitab ini menggunakan teknik permainan kata (pelesetan) yang tajam dan kerap vulgar untuk menghujat, menyelewengkan & mendistorsi istilah-istilah Arab/Islam (misalnya menafsirkan kata Mekah, Kutbah, atau Syahadat dengan kiasan organ tubuh atau filosofi Jawa lokal). 

Karya ini dilarang beredar di era kolonial dan Orde Baru karena berpotensi memicu konflik keagamaan. Para ulama (seperti Buya Hamka) memandang Darmogandul sebagai bentuk provokasi anti-Islam dan pemutarbalikkan sejarah masuknya Islam di Jawa. 


Penghujatan Terhadap Islam 

Contoh Narasi: Kewajiban syariat seperti shalat, puasa, zakat, hingga khitan dicap sebagai ajaran yang tidak masuk akal atau hanya sebagai "kulit" luar yang kosong makna.

Dalam dialog di dalam serat tersebut, ibadah lahiriah sering kali direndahkan dan dipertentangkan secara ekstrem dengan klaim bahwa "kejawen" atau olah batin jauh lebih tinggi derajatnya daripada hukum Islam. 

Islam digambarkan sebagai Penjajahan Budaya dan Politik. Alih-alih melihat masuknya Islam sebagai dakwah, Serat Darmogandul menarasikan Islam di Jawa sebagai hasil dari intrik politik, kudeta, dan perebutan kekuasaan yang merusak tatanan luhur Majapahit. 

Tokoh-tokoh penyiar Islam awal (seperti Wali Songo dan Raden Patah) digambarkan secara negatif—bukan sebagai tokoh suci, melainkan sebagai pihak yang menyingkirkan Prabu Brawijaya V melalui cara-cara yang dicitrakan licik, sehingga memicu hilangnya peradaban asli Nusantara. 

Berikut beberapa contoh dari sekian banyaknya penghujatan terhadap islam dalam Darmogandul yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia: 






















Referensi:

Judul buku: Islam dan Kebatinan by Prof H.M. Rasjidi

Manusia Jawa dan Kejawen – Prof. Dr. Koentjaraningrat

Buku Pintar Aliran Kebatinan dan Ajarannya – Petir Abimanyu

Perkembangan Kebatinan di Indonesia - by Buya Hamka