Laman

Sabtu, 24 Oktober 2026

Sejarah Assassin (Hashashin/Hassasin)

Asasiyun (bahasa Arab yang berarti "orang-orang yang memegang asas/dasar keimanan" menurut mereka). Kelompok Assassin (atau dikenal dalam sejarah Islam sebagai Hassasin atau Al-Hashashiyun atau Nizari Ismailiyah) adalah salah satu gerakan faksi paling misterius, ditakuti, dalam sejarah Abad Pertengahan.  

Game Assassin's Creed secara langsung terinspirasi dari Hashashin (atau Hassasin). Meskipun terinspirasi dari Hashashin, Ubisoft sebagai developer mengubah banyak elemen untuk kebutuhan cerita di game ini.

Hassasin bukan sekadar kelompok pembunuh bayaran biasa, melainkan sebuah gerakan keagamaan dan politik bawah tanah yang menggunakan taktik teror serta pembunuhan politis (assassination) secara terstruktur untuk melawan dominasi kekaisaran besar pada masa itu. 

Metode yang mereka gunakan dirancang khusus sebagai metode doktrinal dan perang psikologis, di mana keberhasilan misi tidak hanya diukur dari terbunuhnya korban, tetapi juga dari dampak ketakutan yang ditimbulkannya. 

Senjata Utama: Belati (Dagger/Khangar). Secara doktrin, agen Hassasin yang dipanggil Fida'i (orang yang siap mengorbankan nyawa) dilarang keras menggunakan senjata jarak jauh seperti panah, racun dari jarak jauh, atau serangan mendadak yang sembunyi-sembunyi dari kegelapan tanpa menampakkan diri. Penggunaan belati membutuhkan jarak yang sangat dekat (close combat). 

Ini adalah bentuk unjuk keberanian dan kepastian bahwa korban benar-benar tewas. Pembunuhan dilakukan dengan menikam bagian vital (leher atau dada) secara terbuka di depan umum untuk menegaskan pesan politik kelompok. 

Metode lain adalah melakukan penyusupan (Infiltrasi) dan Penyamaran Jangka Panjang. Para agen Fida'i tidak menyerang secara terburu-buru. Mereka adalah master penyamaran (undercover agent) abad pertengahan yang dilatih dengan kesabaran luar biasa. Menyusup ke Lingkaran Dalam: Seorang Fida'i bisa menyamar menjadi pelayan istana, pengawal pribadi, pedagang, pemuda penuntut ilmu, bahkan pengikut sufi (dervish). Bertahan Bertahun-tahun: Mereka kerap menyamar selama berbulan-bulan hingga berhitung tahun di istana target untuk membangun kepercayaan total.

Penguasaan Bahasa dan Budaya. Mereka dibekali kemampuan linguistik yang tinggi, menguasai berbagai dialek bahasa Arab, Persia, hingga bahasa Eropa (Latin/Prancis) untuk menyusup ke kemah-kemah Tentara Salib.

Salah satu elemen paling mematikan dari taktik Hassasin adalah lokasi eksekusi yang sengaja dipilih di tempat paling ramai dan terjaga ketat: Di Dalam Masjid atau Istana: Mereka sering menyerang target saat Shalat Jumat di masjid agung, di tengah majelis istana, atau saat parade militer.

Dampak Psikologis (Teror): Ketika seorang Raja, Perdana Menteri, atau Jenderal dibunuh di tengah kawalan ratusan prajurit bersenjata, pesan yang sampai kepada penguasa lain adalah: "Tidak ada tempat yang aman bagi kalian jika kami sudah menargetkannya."

Doktrin Tanpa Rencana Melarikan Diri (No Escape Doctrine). Para Fida'i tidak dilatih untuk melarikan diri setelah mengeksekusi targetnya. Siap Mati (Mati Syahid menurut Keyakinan Mereka): Setelah menikam target, Fida'i biasanya tidak langsung kabur, melainkan berdiri tegak atau melawan prajurit pengawal hingga mereka sendiri tewas terbunuh di tempat. 

Elemen Penggentar: Keberanian mati tanpa rasa takut ini membuat para penguasa Abad Pertengahan sangat ketakutan. Menghadapi musuh yang ingin bertahan hidup itu biasa, tetapi menghadapi musuh yang bertujuan untuk mati bersama korban adalah hal yang sangat mengerikan bagi para penguasa masa itu.

Hassasin tidak selalu membunuh targetnya. Kadang-kadang mereka hanya mengirimkan peringatan dingin untuk memaksa musuh tunduk atau membatalkan niat menyerang benteng mereka. Kasus Terkenal (Sultan Ahmad Sanjar dari Seljuk & Shalahuddin Al-Ayyubi): Sultan Ahmad Sanjar yang berniat menyerang Alamut terbangun di kamar tidurnya yang dijaga ketat. Di samping bantalnya, ia menemukan sebuah belati khas Hassasin yang tertancap di lantai beserta gulungan surat. Sultan Ahmad Sanjar pun langsung membatalkan rencana ekspedisi militernya dan memilih berdamai.

Kelompok ini berakar dari pecahan sekte Syiah Ismailiyah. Pada tahun 1094 M, terjadi perebutan kekuasaan di dalam Kekhalifahan Fatimiyah di Kairo, Mesir, terkait siapa yang berhak menjadi Imam penerus al-Mustanshir Billah. 

Hasan al-Sabbah (Hassan-i Sabbah), seorang tokoh misionaris cerdas asal Persia, mendukung Nizar (putra sulung sang khalifah). Ketika faksi Nizar tersingkir dan dibunuh/dipenjara oleh wazir (perdana menteri) saingannya, Hasan al-Sabbah melarikan diri ke Persia (Iran) dan mendirikan gerakan bawah tanah yang independen, yang kemudian dikenal sebagai Syiah Ismailiyah An-Nizariyah. 

Pada tahun 1090 M, Hasan al-Sabbah berhasil merebut sebuah benteng strategis yang hampir tak tertembus di puncak Pegunungan Elburz, Persia Utara, yang bernama Benteng Alamut ("Sarang Elang").  

Dari tempat inilah Hasan—yang dijuluki sebagai Syeikh al-Jabal atau "Orang Tua dari Gunung"—membangun negara kecil berbentuk jaringan benteng terisolasi di tengah wilayah musuh utama mereka: Kesultanan Seljuk yang berhaluan Sunni, serta kemudian Dinasti Abbasiyah dan para Tentara Salib. 

Karena jumlah mereka sangat sedikit dan dikelilingi oleh musuh-musuh militer yang jauh lebih kuat (seperti Seljuk), Hasan al-Sabbah mengembangkan doktrin perang asimetris melalui infiltrasi dan pembunuhan terarah tokoh yang ditarget secara diam-diam (targeted assassination). 

Pasukan Fida'i (Fedain): Para agen rahasia yang dilatih secara khusus untuk menyusup ke jantung musuh. Mereka rela menyamar selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun di istana musuh (sebagai pelayan, pengawal, atau sufi).  

Efek Psikologis: Target utama mereka bukanlah rakyat biasa, melainkan para tokoh penting: sultan, perdana menteri, panglima perang, hingga ulama besar yang menentang ideologi mereka.

Pesan Politik: Pembunuhan sering kali dilakukan di tempat publik yang sangat dijaga ketat (seperti di dalam masjid saat shalat Jumat) menggunakan belati. Tujuannya bukan sekadar membunuh target, melainkan mengirim pesan teror psikologis bahwa tidak ada pemimpin yang aman. Para agen ini hampir tidak pernah melarikan diri; mereka biasanya siap mati setelah menjalankan misi demi keyakinan mereka. 

Di bawah kepemimpinan penerus Hasan, pengaruh kelompok ini meluas hingga ke wilayah pegunungan di Suriah, dengan benteng utama seperti Masyaf dan Al-Qadmus.  

Di Suriah, tokoh mereka yang paling terkenal adalah Rasyiduddin Sinan (dikenal oleh Tentara Salib sebagai "The Old Man of the Mountain" versi Suriah). Hubungan mereka dengan Tentara Salib dan penguasa Muslim setempat (seperti Nuruddin Zanki dan Shalahuddin al-Ayyubi) sangat kompleks—penuh intrik, aliansi sementara, serta beberapa kali percobaan pembunuhan (seperti upaya pembunuhan terhadap Shalahuddin al-Ayyubi yang gagal).


Kejatuhan dan Akhir Riwayat

Kejayaan negara bayangan Assassin berakhir pada pertengahan abad ke-13 akibat dua kekuatan besar. Serangan Mamluk: Di wilayah Suriah, pemimpin Mamluk bernama Baybars berhasil menaklukkan benteng-benteng Assassin satu per satu pada tahun 1270-an dan menjadikan mereka sebagai kekuatan militer bayaran di bawah kendali Kesultanan Mamluk.

Invasi Mongol (1256 M): Di Persia, pasukan Mongol di bawah pimpinan Hulagu Khan menyerbu dan menghancurkan Benteng Alamut. Pustaka berharga dan naskah-naskah rahasia di perpustakaan Alamut dibakar (meskipun sebagian sempat diselamatkan oleh sejarawan Juvayni). Dengan jatuhnya Alamut, kedaulatan politik kelompok Nizari Ismailiyah runtuh total. 

Meskipun kekuatan militer dan tradisi pembunuhan politik mereka telah punah ratusan tahun lalu, sekte Nizari Ismailiyah tetap bertahan hingga hari ini. Berbeda jauh dengan sejarah kelam nenek moyang mereka di Abad Pertengahan, komunitas Nizari Ismailiyah modern bertransformasi menjadi komunitas Muslim yang damai, sekuler, filantropis, dan saat ini dipimpin oleh seorang Imam warisan keturunan mereka, yaitu Aga Khan.  


Referensi:

Al-Kamil fit-Tarikh (الكامل في التاريخ) – Karya Ibn al-Athir

Tarikh al-Rusul wal-Muluk / Lanjutan oleh Sibt ibn al-Jauzi – Mir'at al-Zaman 

Siyar A'lam al-Nubala' & Tarikh al-Islam – Karya Imam Adz-Dzahabi 

Kitab al-Radd 'alal-Batinijjah / Fada'ih al-Batinijjah – Karya Imam Al-Ghazali 

Tarikh-i Jahangushay (Sejarah Penakluk Dunia) – Karya Ala-ad-Din Ata-Malik Juvayni 

Jami' al-Tawarikh (Kompilasi Sejarah) – Karya Rashid al-Din Hamadani 

Buku Petualangan Marco Polo (Travels of Marco Polo) – Karya Marco Polo 

Gesta Francorum & Catatan William dari Tirus (Historia Rerum in Partibus Transmarinis Gestarum)

Fasl dar Bayan-i Shinakht-i Imam

Fasl bi-Fasl (Karya-karya puitis dan biografi Rasyiduddin Sinan di Suriah) 

The Assassins: A Radical Sect in Islam – Bernard Lewis

The Ismailis: Their History and Doctrines – Farhad Daftary (Cambridge University Press) 

Selasa, 20 Oktober 2026

Kesesatan Konsep Wahdatul Wujud danNur Muhammad

Kemunculan konsep Nur Muhammad—serta tuduhan penyelewengan di dalamnya—memiliki akar sejarah yang panjang dalam perkembangan pemikiran Islam, khususnya dalam dunia tasawuf. 

Paham Wahdatul Wujud (Kesatuan Wujud) yang diusung oleh kaum Batiniah (Al-Bathiniyyah)—serta kelompok-kelompok ekstrem sufistik/heterodoks (ghulat)—merupakan salah satu doktrin yang paling keras ditolak dan dikritik oleh mayoritas ulama fikih, ushul, dan akidah (Ahlus Sunnah wal Jama'ah).

Meskipun istilah Wahdatul Wujud secara histori juga melekat pada tradisi tasawuf filosofis (seperti Ibnu 'Arabi), penerapan dan pemaknaan konsep ini di tangan kelompok Batiniah radikal/ekstrem mengalami penyimpangan ontologis dan teologis yang sangat jauh.

Konsep kesatuan wujud dirumuskan secara panteistik atau panteisme-materialistis (hululiyyah/ittihadiyyah). Konsep ini menghilangkan Batas Khaliq (Pencipta) dan Makhluq (Ciptaan). Mereka menganggap bahwa tidak ada keberadaan yang terpisah antara Tuhan dan alam semesta. Alam Semesta dan manusia dipandang sebagai wujud Tuhan itu sendiri yang sedang mengejawantah (tajalli atau emanasi).

Konsep ini identik dengan Pengkultusan Tokoh / Imam secara Berlebihan (Ghuluw). Para pimpinan spiritual atau imam kelompok Batiniah diposisikan sebagai wujud Tuhan yang tampak (pengejawantahan Tuhan). Pengikutnya dituntut untuk tunduk secara mutlak, karena menaati pimpinan Batiniah disamakan dengan menaati Tuhan secara langsung.

Konsep Nur Muhammad ini terpapar dari falsafah Platonisme (khususnya Neoplatonisme) dan Syi'ah Isma'iliyah merupakan dua pilar utama yang membentuk struktur berpikir kelompok Batiniah (Al-Bathiniyyah), tasawuf falsafi, serta gerakan kredo-politik pada era keemasan Islam (abad ke-8 hingga ke-12 M).ll

Konsep Nur Muhammad mengarahkan kepada Tujuan tertinggi manusia dalam sistem filsafat Plotinus adalah "kembali dan menyatu" dengan Yang Asali (The One) atau manunggaling kaula gusti. Juga dalam doktrin Batiniah-Isma'iliyah, penyatuan ini dicapai melalui pengetahuan rahasia (gnosis / irfan) yang ditransfer oleh Imam kepada pengikutnya, bukan semata-mata dengan mengamalkan ibadah fisik/syariat.

Ajaran Nur Muhammad menyimpang karena bertentangan dengan Al-Qur'an secara tegas menyebutkan bahwa Nabi Muhammad ﷺ adalah manusia biasa dari bangsa manusia, bukan diciptakan dari cahaya:

"Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku..." (QS. Al-Kahfi: 110). 

Dari Umar bin Khattab RA, Rasulullah SAW bersabda: 

«لاَ تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ، فَقُولُوا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ»

Artinya: "Janganlah kalian mengagung-agungkanku secara berlebihan sebagaimana kaum Nasrani mengagungkan (Isa) putra Maryam. Aku hanyalah seorang hamba-Nya, maka katakanlah: 'Hamba Allah dan Rasul-Nya'." (HR. Bukhari no. 3445)

Dalam Hadis Shahih Riwayat Muslim, Rasulullah ﷺ menjelaskan bahan dasar penciptaan makhluk: 

"Malaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari nyala api, dan Adam diciptakan dari apa yang telah dijelaskan kepada kalian (tanah)." (HR. Muslim no. 2996).  

Gagasan bahwa ada satu entitas pertama yang memancar dari Tuhan lalu menciptakan seluruh alam (Emanasi) diambil dari filsafat Yunani/Parsi kuno, bukan dari wahyu Islam. 

Ajaran Nur Muhammad Mendewakan Rasulullah secara Berlebihan (Ghuluw). Meskipun Nabi Muhammad ﷺ memiliki kedudukan terpuji (al-Maqam al-Mahmud) dan nur hidayah (cahaya petunjuk ajaran), menganggap beliau diciptakan dari Zat Allah atau menjadi bahan baku pembuatan alam semesta dianggap merusak pemurnian tauhid. 

Gagasan paling awal mengenai Nur Muhammad tidak ditemukan dalam Al-Qur'an maupun Hadis-hadis Shahih (Kutubut Tis'ah). Wacana ini mulai diperkenalkan secara sistematis dalam literatur sufistik oleh dua tokoh:  

Sahl al-Tustari (w. 283 H / 896 M), beliau salah satu sufi awal yang menafsirkan Ayat Nur (QS. An-Nur: 35). Al-Tustari mengutarakan bahwa sebelum penciptaan alam semesta, Allah menciptakan pilar cahaya dari Nur-Nya yang dinamakan cahaya Muhammad. 

Mansur Al-Hallaj (w. 309 H / 922 M): Dalam karyanya Kitab at-Thawasin, Al-Hallaj memperjelas gagasan ini. Beliau menggambarkan Nur Muhammad sebagai wujud azali (pra-eksistensi) yang menjadi sumber ilmu dan petunjuk bagi para nabi sebelum Nabi Muhammad dilahirkan. 

Konsep ini mengalami transformasi besar dan dinilai menyimpang dari akidah arus utama (Ahlus Sunnah wal Jama'ah) ketika dipadukan dengan filsafat Neoplatonisme dan ajaran Wahdatul Wujud Ibnu 'Arabi (w. 638 H / 1240 M).

Penyebaran Hadis Palsu: Pada rentang abad ini, mulai beredar luas riwayat-riwayat palsu (mawdhu') untuk menjustifikasi ajaran tersebut, di antaranya yang paling terkenal adalah:  

"Wahai Jabir, sesungguhnya Allah menciptakan sebelum segala sesuatu adalah Nur Nabimu dari Nur-Nya..."

(Para ulama pakar hadis seperti Imam al-Asqalani, al-Suyuthi, al-Albani, dan al-Lakhnawi sepakat menyatakan bahwa hadis Jabir tentang Nur Muhammad ini palsu dan tidak memiliki sanad yang sah).

Dua tokoh sentral dalam sejarah tasawuf, yaitu Imam al-Junaid al-Baghdadi (pionir tasawuf Sunni awal) dan Imam al-Ghazali (puncak penyelarasan tasawuf dan syariat), tasawuf yang benar adalah tasawuf yang terikat penuh oleh Al-Qur'an dan Sunnah, serta tidak pernah melanggar batas-batas Syariat. Keduanya menolak tegas tasawuf fiktif, ekstrem, atau batiniah yang mengabaikan hukum lahiriah.

Syaikhul Islam Imam al-Ghazali (dalam Ihya' 'Ulumiddin dan Fadha'ih al-Bathiniyyah) serta Imam asy-Shatibi (dalam al-I'tisham) menyusun kaidah tegas untuk membentengi umat dari konsep Wahdatul Wujud yang melampau ini. Menurut Imam al-Ghazali, Setiap Hakikat yang Menyelesihi Syariat adalah Kebatilan. 

Menurut Imam al-Ghazali, para Nabi dan Rasul—manusia yang paling tinggi tingkat pencapaian spiritualnya—tetap melaksanakan shalat dan ibadah fisik hingga akhir hayatnya. Maka klaim bahwa "beban ibadah gugur karena sudah fana" adalah kekufuran yang nyata. Syariat (zahir) dan Hakikat (batin) bagaikan jasad dan ruh. Mengambil batin saja tanpa zahir (seperti paham Batiniah) adalah kesesatan, sebagaimana mengambil zahir tanpa batin adalah kefasikan/kerusakan. 

Kenapa banyak umat islam tertarik? 

Bagi sebagian orang, hal ini terasa jauh lebih memesona dan "sakral" dibandingkan harus bersusah payah menghafal dalil, mempelajari isu akidah, ibadah & hukum (fiqih). 

Cerita tentang karomah, kesaktian, atau kedekatan luar biasa para wali dengan Tuhan menghadirkan unsur wonder (rasa kagum) yang tinggi. Hal ini memenuhi kebutuhan manusia akan keajaiban dan bukti nyata kekuasaan Tuhan yang kasat mata. 

Konsep wali dan laduni menawarkan nuansa cinta kasih (mahabbah), kedamaian batin, dan kebebasan dari kerumitan birokrasi hukum agama. Ini terlihat lebih "merangkul dan menyejukkan hati"

Jalan Pintas Menuju Makrifat dan Ketenangan Batin. Di tengah tekanan hidup modern yang kompleks, manusia sering mencari pelarian atau solusi spiritual instan.

Ilmu laduni menjanjikan "pencerahan seketika" (instant enlightenment), sementara fiqih dan akhlak menuntut proses transformasi diri yang panjang, konsisten, dan penuh disiplin (mujahadah). Jalan mistis terasa lebih romantis dan emosional. 

Pengaruh Budaya Lokal dan Tradisi Mistis. Jauh sebelum Islam datang, masyarakat telah memiliki tradisi spiritual yang menghargai orang-orang sakti, dukun sakti, atau pertapa linuwih. Ketika Islam masuk melalui pendekatan kultural dan tasawuf (oleh para Wali Songo, misalnya), figur wali lokal sering kali dianalogikan atau diresapi dengan kearifan lokal tersebut, sehingga konsep "wali" dan "karomah" sangat akrab dan mengakar kuat di hati masyarakat.

 

Referensi: 

Kitab Imam al-Ghazali - Faḍā'iḥ al-Bāṭiniyyah wa Faḍā'il al-Mustaẓhiriyyah 

Kitab Imam al-Ghazali - Al-Mushtaṣfā min 'Ilm al-Uṣūl (المنقذ من الضلال) - Al-Munqidh min ad-Dalah 

Kitab Imam al-Ghazali - Tahafut al-Falasifah 

Kitab Imam al-Qusyairi - Ar-Risalah al-Qusyairiyah karya Imam al-Qusyairi yang menukil riwayat Al-Junaid al-Baghdadi 

Kitab Ibnu Hajar al-Asqalani - Fathul Bari 

Kitab Abu Mansur al-Baghdadi - Al-Farq bain al-Firaq 

Kitab Al-Hafiz Ibnu al-Jauzi - Tablis iblis 

Kitab Syaikh Ala'ud Daulah as-Simnani - Al-Urwah li Ahl al-Khilwah wa al-Jalwah

Kitab imam As Suyuthi - Tarikh al-Khulafa'

Kitab Ibnu Khaldun - al-‘Ibar, wa Diwan al-Mubtada’ wa al-Khabar fi Ayyam al-‘Arab wa al-‘Ajam wa al-Barbar, wa Man Asarahum min Dzawi as-Sulthan al-Akbar (sering disingkat menjadi Kitab al-‘Ibar). 

Kitab Imam Al-Qurtubi - Al-Jami' li Ahkam 

Kitab Ibnu Hajar al-Haitami - Tanbih al-Ghabi fi Tanzih Ibn 'Arabi 

Kitab Ibnu Taimiyah - Majmu' al-Fatawa, seperti Ar-Radd 'ala Al-Ittihadiyyin 

Kitab Imam Ibnu Hajar al-Haitami - Fatawa al-Haditsiyyah 

Kitab Ibnu al-Qayyim - Majmu' al-Fatawa & Madarij as-Salikin

Kitab Abu Mansur al-Baghdadi - Al-Farq bain al-Firaq 

Mansur Al-Hallaj: Dalam karyanya Kitab at-Thawasin, Al-Hallaj 

Kitab Syaikh Mustafa Sabri (Mufti terakhir kerajaan Utsmaniyah) - al-'Aql wa al-'Ilm wa al-'Alam

Senin, 22 Juli 2024

Dry Valleys, Tempat Yang Tak Diguyur Hujan Hampir 2 Juta Tahun

Dry Valleys, yang berada di Antartika, menjadi terkering di Bumi. Luasnya sekitar 4.800 kilometer persegi. Selain tak pernah diguyur hujan jutaan tahun, tempat ini juga sama sekali tidak memiliki air, es, dan bahkan salju.

Penyebab nihilnya curah hujan di wilayah tersebut karena pengaruh angin Katabati—angin pegunungan yang sangat lembab yang bergerak turun dan menjauhi lembah. 

Bentuk pegunungan itu mengubah jalur es yang menuju ke laut. Karena perubahan jalur es ini, air tidak mencapai Dry Valleys dan hujan pun tidak turun di sana. 

lmuwan sering melakukan penelitian di wilayah ini untuk mempelajari berbagai aspek lingkungan ekstrem, mikroorganisme yang dapat bertahan hidup di sana, serta implikasi bagi astrobiologi dan studi tentang planet lain.

Kehadiran manusia di Dry Valleys biasanya hanya dalam bentuk ekspedisi ilmiah yang bersifat sementara dan dilengkapi dengan perlengkapan khusus untuk bertahan hidup di kondisi ekstrem tersebut.

Dry Valleys di Antarktika. Antarktika merupakan benua yang tidak dimiliki oleh satu negara pun dan diatur oleh Perjanjian Antarktika, sebuah kesepakatan internasional yang ditandatangani oleh 54 negara per 2021.

Perjanjian tersebut mengatur bahwa Antarktika hanya digunakan untuk tujuan damai dan ilmiah serta melarang aktivitas militer di benua tersebut.

Meskipun beberapa negara mengeklaim wilayah di Antarktika, klaim ini tidak diakui secara internasional dan tidak memengaruhi status Dry Valleys sebagai bagian dari wilayah yang diatur oleh Perjanjian Antarktika. 


Sumber:

https://international.sindonews.com/read/1419791/45/mengenal-dry-valleys-tempat-di-bumi-yang-tak-diguyur-hujan-hampir-2-juta-tahun-1721527659?showpage=all

Minggu, 14 Juli 2024

Manfaat Lupa Bagi Otak

Mayoritas dari kita menganggap lupa sebagai kegagalan ingatan. Dengan demikian, lupa dianggap sebagai kesalahan.

Lupa adalah sebuah proses yang digunakan otak untuk menghilangkan ingatan dengan tujuan menjaga ingatan agar tetap berfungsi secara optimal. Lupa dapat meningkatkan aspek adaptif sistem memori, dalam arti bahwa otak sebenarnya hanya menyimpan apa yang dianggap berguna untuk tugas-tugas besar yang ada, untuk meningkatkan peluang kelangsungan hidup.

Kehilangan informasi membuat kita memang benar-benar lupa. Hal ini terjadi karena kita memang tidak pernah menyimpan informasi itu sejak kita menerimanya. Biasanya informasi yang sering tidak kita simpan adalah hal yang detail & kita anggap penting saja

Sistem memori otak dirancang untuk memastikan kita hanya menyimpan respons terbaik, maka mungkin kita hanya perlu memilih, misalnya, dari empat pilihan, dan peluang untuk melakukan hal yang benar menjadi jauh lebih tinggi.

Misalnya, seseorang mengalami situasi yang memungkinkan ada 20 kemungkinan reaksi berdasarkan katalog peristiwa masa lalu yang komprehensif dan tidak selektif, namun sebenarnya hanya dua yang efektif, sehingga kemungkinan besar ia akan memilih tindakan yang salah.


Referensi: 

Kompas.com - Ahli Jelaskan Pentingnya Lupa bagi Sistem Memori

Kamis, 11 Juli 2024

Hannibal Directive - Hannibal Protocol

Prosedur Hannibal atau Protokol Hannibal adalah arahan atau instruksi yang mengizinkan militer menggunakan kekuatan apa pun yang diperlukan untuk mencegah tentara atau warga sipil ditangkap dan disandera kemudian dibawa ke wilayah musuh. 

Yang dimaksud dengan "menggunakan kekuatan apa pun" termasuk menembak mati sesama pasukan tentara atau warga sipil. Hal ini lebih dipilih sebagai opsi, dibandingkan militer atau warga sipil dijadikan sandera oleh pihak musuh kemudian dijadikan sebagai alat negosiasi atau tebusan.

Asal-usul istilah Hannibal menurut beberapa sumber mengatakan bahwa nama tersebut diambil dari seorang jenderal Kartago yang memilih untuk meracuni dirinya sendiri alih-alih menjadi tawanan Romawi pada tahun 181 sebelum masehi.