Laman

Jumat, 30 Oktober 2026

Para Sufi yang mengkafirkan Ibnu Arabi

Para Sufi Tasawuf yang mentakfir Ibnu Arabi 

Ibnu Arabi

Tasawuf falsafi tidak boleh dibiarkan bebas tanpa kontrol fikih dan akidah zahir, karena dikhawatirkan dapat merusak pemahaman tauhid masyarakat awam. Ala‘ud-Daulah as-Simnani (wafat 736 H / 1336 M), seorang sufi besar terkemuka dari tarekat Kubrawiyah asal Persia, memang dikenal sebagai salah satu kritikus paling tajam terhadap pemikiran Ibnu Arabi (Syikh al-Akbar), khususnya konsep Wahdatul Wujud (Kesatuan Wujud). 

Simnani sangat memegang teguh prinsip transendensi Allah (tanzih) dan berpendapat bahwa pemahaman Ibnu Arabi mengenai Wahdatul Wujud dapat mengarah pada paham panteisme atau penyatuan makhluk dengan Sang Pencipta (hulul dan ittihad). 

Menurut Simnani, pengalaman makrifat tertinggi seorang sufi bukanlah Wahdatul Wujud (menyaksikan bahwa wujud makhluk adalah wujud Allah itu sendiri), melainkan apa yang ia sebut sebagai Wahdatul Syuhud (Kemanunggalan dalam Kesaksian).

Dalam pandangan Wahdatul Syuhud, sang sufi memang merasa "fana" (lebur kesadarannya) dan hanya melihat Allah di dalam hatinya, namun secara hakikat, makhluk tetaplah makhluk dan Khaliq tetaplah Khaliq. Batas antara pencipta dan ciptaan tetap terpisah secara tegas. 

Kritik Simnani tidak hanya disuarakan secara internal, tetapi juga melalui dialog terbuka lewat surat-menyurat dengan para pengikut atau pembela pemikiran Ibnu Arabi pada masa itu, salah satunya adalah Abdurrazzaq al-Qasani (seorang komentator utama karya-karya Ibnu Arabi). 

Simnani secara terbuka memperingatkan agar umat Islam berhati-hati dalam memahami ungkapan-ungkapan ekstase (syathahat) Ibnu Arabi yang dinilainya menyimpang dari akidah Ahlus Sunnah secara tekstual. 

Izzuddin bin 'Abdussalam (w. 660 H) Dikenal luas sebagai Sultanul Ulama (Rajanya para Ulama) dan memiliki akar dalam dunia tasawuf (murid dari Syekh Abul Hasan asy-Syadzili). Beliau dengan tegas mencap Ibnu Arabi sebagai "setan bisu" (syaithan akhras) dan menganggap kitab Fushush al-Hikam penuh dengan kebohongan serta kesesatan yang nyata. 

Burhanuddin al-Biqa‘i (w. 885 H) Seorang ulama yang juga memiliki kecenderungan tasawuf dan sangat keras menentang pemikiran Ibnu Arabi. Ia bahkan menulis kitab khusus untuk mengkafirkan Ibnu Arabi, seperti Tahdzir al-‘Ibad min Ahl al-Inad. 

Izzuddin bin 'Abdussalam (Fiqih & Hakikat Syariat): Beliau adalah otoritas tertinggi dalam bidang fikih, ushul fikih, dan hadis di masanya, yang juga menempuh jalur tasawuf yang bersih dari unsur-unsur panteistik (beliau berguru pada mazhab tasawuf Asyadziliyah awal). Baginya, batasan antara Khaliq (Pencipta) dan makhluk harus dijaga secara mutlak tanpa kompromi bahasa.

Izzuddin bin 'Abdussalam dikenal sangat tegas dalam menjaga kemurnian syariat dan akidah Ahlus Sunnah di Mesir dan Syam. Ketika gagasan-gagasan Ibnu Arabi (khususnya dari kitab Fushush al-Hikam) mulai menyebar, Izzuddin secara terbuka mengecamnya.

Julukan "Setan Bisu": Sejarah mencatat bahwa Izzuddin pernah melontarkan kritik yang sangat pedas terhadap Ibnu Arabi. Beliau memandang sebagian ungkapan dalam kitab-kitab Ibnu Arabi sebagai kesesatan yang nyata, dan menyebut para pengikut atau pembela pandangan tersebut sebagai orang-orang yang tidak memiliki kecemburuan terhadap agama.

Izzanudin Menolak Menganggap Ibnu Arabi Wali. Berbeda dengan ulama lain yang mentakwil atau memposisikan Ibnu Arabi sebagai wali besar yang sedang mengalami syathahat (ekstase mabuk spiritual), Izzuddin bin 'Abdussalam menolak status kewalian Ibnu Arabi berdasarkan karya-karyanya yang dianggap bertentangan dengan prinsip tanzih (penyucian Allah dari sifat makhluk).


Referensi: 

Rasa'il dan Fatwa 'Ala'ud-Daulah as-Simnani

Penulis: ‘Ala’ud-Daulah as-Simnani (w. 736 H) — seorang sufi besar tarekat Kubrawiyah. 

Misra' al-Tasawwuf (مصرع التصوف - "Runtuhnya Tasawuf")

Penulis: Burhanuddin al-Biqa‘i  

Tanbih al-Ghabiy ‘ala Takfir Ibn ‘Arabi (تنبيه الغبي على تكفير ابن عربي - "Peringatan bagi Orang yang Lalai atas Pengkafiran Ibnu Arabi")  

Penulis: Burhanuddin al-Biqa‘i. (w. 885 H).